KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 113: HISTERIS


__ADS_3

    Setelah lama Yayan mencari papah angkatnya, tidak juga ketemu, tentu membuat dirinya putus asa. Lantas Yayan berdiri memandangi lautan lepas. Kembali ia menyaksikan ikatan-ikatan pelepah pisang. Ia teringat, pelepah-pelepah pisang yang disusun menjadi tulisan itulah petunjuk awalnya.


    Yayan langsung mengamati secara saksama. Pelepah pisang itu tidak terbawa ombak. Berarti pelepah pisang itu diikat oleh tali agar tidak terbawa arus maupun termakan gelombang. Berarti tali itu ada yang mengikatkan. Nah, berarti ditempat tali itu diikatkan, di situlah orang yang minta pertolongan berada.


    Yayan berlari mencari sumber ikatan pertanda itu.Dan ternyata benar. Ada tali dari robekan pelepah pisang yang saling terikat cukup panjang.


    "Ini dia .... Ini pasti tali yang diikat oleh orang yang membuat tulisan minta tolong." gumam Yayan.


    Karena tali tambang yang diikatkan pada tubuhnya tidak sampai pada tempat ikatan tali berada, maka Yayan melepas ikatan tambang itu. Agar tali tambang itu tidak hilang, maka Yayan mengikatkan tali tambang tersebut dengan tali yang terbuat dari robekan pelepah pisang. Lantas Yayan melangkah menuju tempat ikatan tali itu berada. Tali gedebog pisang itu hanya diikatkan pada karang batu yang ada di pinggir jurang.


    "Papah Yudi ...! Papah Yudi ...! Papah Yudi ...!!" Yayan kembali berteriak.


    Berkali-kali Yayan berteriak. Tetapi nihil, tidak menemukan jawaban. Yayan kecewa. Tidak menemukan orang yang ia cari. Lantas Yayan kembali ke bawah tempat orang-orang lain yang ikut membantu di atasnya.


    "Mas Bagas ...!! Tidak ketemu, Mas ...!" teriak Yayan dari bawah.


    "Hah ...?! Tidak ketemu ...?!" sahut Bagas dari atas lereng.


    "Waduh ...?! Terus bagaimana, Mas?!" tanya salah satu karyawan yang ikut.


    "Saya mau ikut turun, membantu mencari, ya ...?!" sahut yang satu lagi.


    "Ya sudah, kalian berdua turun. Merambat dari tambang bisa kan?" kata Bagas yang mulai gelisah juga.


    "Bisa, Mas .... Cuman segitu tok, kok .... Tidak terlalu tinggi. Toh kalau jatuh, di bawah juga air. Tidak masalah." jawab dua orang itu yang langsung memegang tambang dan merambat turun.


    Dan setelah sampai di bawah tebing, mereka berdua langsung disambut oleh ombak yang datang. Cukup besar dan lumayan untuk menghempaskan dua orang yang langsung terjatuh di tepi samudera.


    "Hati-hati, Mas ...!" teriak yayan yang sudah tahu kondisinya.


    "Iya, tidak apa-apa ..., cuman basah oleh air laut kok, malah tambah sehat." sahut orang yang terjatuh tadi.


    "Bagaimana? Sudah ada tanda-tanda?" tanya yang satunya.


    "Ikatan talinya ada di sebelah sana .... Tapi saya cari di sana belum ketemu.


    "Ayo kita cari bersama lagi." sahut orang yang baru turun.


    Lantas mereka bertiga berjalan bersama menyusuri sisi tebing yang langsung berbatasan dengan samudera. Terkadang tubuhnya terhempas gelombang, terkadang harus melompat dari batu karang yang satu ke batu karang yang lain, bahkan juga terkadang harus jatuh ke dasar pantai. Makanya pakaian mereka pada basah.

__ADS_1


    Ya, memang tebing jurang itu berbatasan langsung dengan samudera. Hanya pada saat air laut surut, di pinggir jurang masih terlihat ada tanah berpasir serta batu-batu karang yang memecah gelombang. Tetapi saat sore, matahari mau tenggelam, mulai datang gelombang pasang yang akan menutupi daratan di bawah jurang itu. Orang-orang yang tinggal di pantai sudah paham gejala alam tersebut. Makanya mereka cepat-cepat untuk menyusuri pantai mencari Mas Yudi, menghindari air pasang.


    "Mana tempat talinya?" tanya yang ikut menolong.


    "Di sana, Mas ...." jawab Yayan sambil menunjuk tempat tali yang terikat.


    Mereka bertiga lantas bergegas menuju tempat yang terdapat tali. Lantas menarik tali yang terbuat dari pelepah pisang yang dirobek-robek itu. Pelepah pisang dengan rumput yang membentuk tulisan 'HELP' itu dari tengah laut tertarik ke pinggir pantai.Sungguh ide yang brilian. Betul-betul orang cerdas yang bisa membuat ini, memanfaatkan sampah yang ada di pinggir pantai, lantas diikat untuk menjadi sebuah tulisan sebagai tanda untuk meminta tolong.


    Selanjutnya tiga orang itu mencari keberadaan Yudi. Tentu di dasar jurang tempat tali tulisan itu diikatkan. Yudi tidak ditemukan. Tetapi dua orang pekerja Taman Awang-awang yang ikut turun, menemukan ada robekan pakaian. Tepatnya robekan baju. Walau hanya lembaran kecil robekan baju yang mereka temukan itu, tetapi dua orang karyawan ingat betul bahwa kain robekan itu adalah baju yang dikenakan Yudi kemarin. Ya, mereka yakin, itu robekan baju Yudi.


    "Ini ..., ini sobekan baju Mas Yudi ...!" kata salah satu orang itu sambil menunjukkan sesobek kain yang dia temukan.


    "Iya, betul ...! Berarti benar, Mas Yudi kemarin terjatuh di sini." sahut yang satu membenarkan.


    "Nah, ini juga .... Ada potongan lengan baju yang kemarin dikenakan Mas Yudi. Betul ..., saya ingat, ini baju yang dikenakan Mas Yudi. Ini bajunya Mas Yudi ...!" teriak yang menemukan potongan lengan baju.


    "Nah, sekarang pertanyaannya, Papah Yudi ada di mana?!" tanya Yayan.


    "Pasti di sekitar sini. Ayo kita cari lagi!" sahut salah satu karyawan itu. Lantas mereka bergegas mencari lagi.


    "Papah Yudi ...! Papah Yudi ...!!"


    "Mas Yudi ...! Mas Yudi ...!!"


    "Mas Yudi ...! Mas Yudi ...!!"


    Mentari sudah bergeser mendekati cakrawala langit barat. Tidak lama lagi akan tenggelam. Air laut sudah mulai naik. Gelombang samudera sudah semakin besar. Karang-karang di dasar jurang sudah mulai tertutup air pasang. Tiga orang yang mencari Yudi tidak mungkin lagi untuk melanjutkan pencarian di dasar jurang. Tentu takut akan terbawa gelombang.


    Lantas salah seorang dari karyawan yang berada di bawah, segera menarik tali tambang yang dipakai untuk turun tadi. Memberi tahu kepada orang-orang yang ada di atas, jika yang di dasar jurang akan naik.


    "Mas Bagas ..., air laut sudah pasang, kami sudah tidak sanggup untuk mencari lagi, takut diterjang gelombang. Ini kami mau naik." kata yang berada di bawah.


    "Iya ..., iya ...! Ayo naik satu-satu, talinya diikatkan ke pinggang, nanti ditarik bersama!" sahut Bagas yang ada di atas jurang.


    "Siap, Mas ...! Tarik ...!" suara yang dari bawah minta ditarik.


    "Oke ...! Pegangan ...! Tarik ....!" teriak Bagas memberi aba-aba yang menarik tambang.


    Dan yang ditarik, seketika sudah sampai di atas. Selanjutnya ikatan tali pada pinggangnya dilepas, dan dilemparkan ke bawah untuk menyeret yang lain.

__ADS_1


    "Ini talinya ...!" teriak orang itu sambil melemparkan tali ke bawah.


    Begitu selanjutnya, orang-orang yang berada di dasar jurang diseret ke atas. Dan ketiganya sudah sampai di atas.


    "Mas Bagas ..., ini sobekan baju Mas Yudi. Tapi orangnya tidak ketemu. Bagaimana, Mas ...?!" tanya orang yang membawa sobekan baju Yudi.


    "Ya, kita bawa .... Nanti kita laporan ke Badan SAR, biar dibantu untuk mencari." jawab Bagas.


    "O, ya ..., Mas Bagas. Kalau begitu sekarang kita segera naik, sebelum matahari tenggelam ..., nanti terburu gelap." kata salah seorang yang ikut.


    "Ya, betul .... Ayo kita segera naik." sahut Bagas yang langsung mengajak rombongannya naik ke atas.


    Mereka pun naik ke puncak bukit, tanpa hasil. Belum menemukan Yudi.


    Di Taman Awang-awang sisi timur, begitu melihat rombongan yang mencari Yudi sudah terlihat menaiki bukit, Rini dan Silvy langsung berlari menemui rombongan itu.


    "Bagaimana ...?!" tanya Rini yang langsung menemui Bagas.


    "Belum ketemu, Bu .... Ini cuma menemukan sobekan kain dari bajunya Mas Yudi saja. Mas Yudi-nya tidak ketemu ...." jawab Bagas yang lemas.


    "Yudi tidak ketemu ...!! Huk ..., huk ...,  huk .... Yudi ..., kamu di mana, Yud ....Huk ..., huk ...,  huk ...." Rini menangis sejadi-jadinya sambil memukuli pundak Bagas.


    "Sabar, Ibu Rini .... Kami mau lapor minta bantuan ke Tim SAR. Semoga Mas Yudi segera ketemu." kata Bagas meminta kepada Rini agar bersabar.


    "Mamah ..., sabar, Mah .... Pasti Papah Yudi ketemu." Silvy memeluk mamahnya, yang tentu juga ikut menangis.


    "Sabar, Mah .... Pasti ketemu. Kita doakan Papah Yudi, Mah, biar diberikan keselamatan ...." kata Yayan yang ikut memapah ibu mertuanya, dan menuntun menuju gazebo, untuk diistirahatkan.


    Ada yang memberi minum kepada Rini. Ada juga yang memijit-mijit kaki dan tangannya. Silvy dan Yayan masih memeluk mamahnya, khawatir kalau terjadi apa-apa.


    Bagas maklum, tentu ia tahu perasaan Rini jika kehilangan Yudi. Yudi sudah pernah cerita, jika Rini sangat mencintai Yudi. Tentu ketika mengetahui Yudi belum diketemukan, Rini akan sangat kehilangan.


    Suasana menjadi sangat sedih. Semua orang yang tadi ikut mencari, jadi melongo saat menyaksikan kesedihan Rini. Mereka jadi ikut merasa kehilangan Yudi, orang yang selama ini sudah banyak menolong mereka.


    Orang-orang yang berwisata di Taman Awang-awang langsung mengerubung tempat tersebut, ingin tahu apa yang terjadi. Terutama terheran dengan Rini yang menangis tidak karuan. Kencang dan mengharukan.


    Ya, Rini sangat terpukul. Sangat kehilangan Yudi. Apalagi sesaat setelah orang-orang mengatakan bahwa Yudi adalah orang kaya yang sangat baik, yang tidak mau memamerkan kekayaannya, bahkan memberikan harta bendanya untuk membantu para tetangganya, untuk memajukan kampungnya. Tetapi hari ini, berita tentang Yudi yang hilang dan belum ditemukan itu sungguh sangat menyedihkan. Memukul perasaan Rini yang baru bangga. Tentu Rini tidak sanggup menerima kenyataan itu. Hatinya sedih. Betul-betul terpukul. Stres.


    "Yudi tidak boleh hilang ...!! Yudi harus ketemu ...!!" Rini berteriak histeris.

__ADS_1


__ADS_2