KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 199: GODAAN CINTA


__ADS_3

    Hari Minggu itu, Taman Anggrek Nirwana lebih ramai pengunjung bila dibandingkan hari kemarinnya. Kalau pada hari Sabtu, Rini yang dibantu anak-anaknya dari pagi hingga sore tidak berhenti meladeni tamu yang berdatangan untuk berkunjung di Taman Anggrek Nirwana, kini di hari Minggu, tamu itu seperti laron atau rayap terbang yang keluar dari sarangnya di awal musim penghujan. Banyak sekali, hingga tak terhitung. Mobil wisata VW antik keluar masuk di halaman Taman Anggrek Nirwana. Halaman parkirpenuh dengan mobil pribadi dan sepeda motor. Walau tidak semua pengunjung yang datang ke Taman Anggrek Nirwana itu membeli, tetapi mereka tertarik dengan berita di media sosial yang mengatakan jika di Taman Anggrek Nirwana terdapat jenis anggrek yang sangat mahal dengan harga mencapai ratusan juta rupiah.


    Itulah kekuatan media sosial. Entah dari mana sumbernya, yang jelas berita tentang harga anggrek yang mencapai ratusan juta rupiah itu sudah memenuhi berbagai media sosial, mulai dari facebook, instagram, maupun WA grup dari berbagai kalangan. Itu yang menyebabkan Taman Anggrek Nirwana menjadi viral di masyarakat.


    Rini sendiri tidak tahu siapa yang memosting pertama kali, dari mana mereka mendapatkan berita-berita itu. Tetapi yang beredar, baik yang berupa foto maupun video, jelas sekali dan tidak salah, itu adalah koleksi bunga anggrek milik Rini yang ada dalam green house khusus. Versinya ada bermacam-macam. Foto maupun video dari berbagai sudut pengambilan. Berarti yang memosting tidak hanya satu orang. Tetapi sudah beberapa orang yang menyebarkan berita tersebut.


    Viralnya berita tentang anggrek dengan harga ratusan juta yang ada di Taman Anggrek Nirwana, tidak membuat Rini jengkel atau marah. Tetapi justru membuat ia semakin senang, karena ada yang mempromosikan dagangannya. Tentu Taman Anggrek Nirwana semakin dikenal oleh masyarakat dari berbagai penjuru. Meskipun orang-orang yang berdatangan ke Taman Anggrek Nirwana itu hanya berniat menyaksikan anggrek dengan harga ratusan juta. Hanya melihat saja, tidak beli.


    Walau niat awalnya hanya ingin melihat, namun kenyataannya, setelah sampai di Taman Anggrek Nirwana, ketika menyaksikan hamparan bunga anggrek yang indah dan menawan, akhirnya mereka tertarik juga untuk membeli. Terutama kaum hawa, yang mudah tergoda oleh pesona bunga. Dan yang pasti, orang-orang yang berdatangan itu memberi rezeki bagi Rini yang jumlahnya tidak sedikit.


    Ramainya Taman Anggrek Nirwana, tentu memberikan dampak yang baik bagi Kampung Nirwana. Para sopir wisata bertambah senang karena semakin banyak tamu berarti penghasilan mereka semakin bertambah. Para pengelola usaha kecil lain, seperti tempat membatik, butik, maupun pengrajin lainnya juga menjadi ramai dan laris. Demikian juga Taman Awang-awang, yang semakin ramai dengan pengunjung dari berbagai daerah. Tentu ini akan menambah pendapatan, tidak hanya pemasukan untuk pengelolanya, tetapi juga bagi para pedagang kuliner. Tentu keuntungan mereka semakin besar.


    Mendengar hal ini, Pak Lurah menjadi senang. Ternyata Ibu Rini yang disuruh membeli tanah saudaranya itu bisa memanfaatkan lahan yang dahulunya nganggur tidak terawat, kini menjadi ramai dan meningkatkan perekonomian Kampung Nirwana. Pak Lurah tidak menyangka jika Ibu Rini yang hanya seorang janda sudah tua bisa membangun tempat yang indah dan menawan tersebut.


    Demikian juga Mas Wawan, orang yang berperan dalam pembangunan Taman Anggrek Nirwana tersebut, ia bangga dan senang karena hasil karyanya sudah bisa menarik wisatawan. Paling tidak, Kampung Nirwana bertambah satu lagi obyek wisatanya. Demikian juga Nirwana Homestay, pasti semakin ramai oleh para penginap. Sehingga tanggungan keuangan yang harus dibayarkan kepada pemilik modal bisa segera terlunasi. Tentunya juga akan meningkatkan penghasilan bagi para karyawannya.


    Bahkan pihak pengelola Nirwana Homestay, kini sudah menambah karyawan untuk bekerja di penginapan, mulai dari mengurusi taman, tenaga kebersihan, serta tenaga keamanan. Pihak pengelola juga meminta kepada bagian kebersihan, untuk memberi servis kepada para tamu yang menginap dengan melakukan pencucian mobil. Tentu ini menambah senangnya para tamu yang membawa mobil.


    Terlepas dari senangnya masyarakat Kampung Nirwana yang obyek wisatanya bertambah dengan dibangunnya Taman Anggrek Nirwana, Rini yang tadinya hanya ingin menyelamatkan anggrek-anggrek milik suaminya, kini justru sibuk dengan bisnis anggreknya. Tak pelak, anak dan menantunya jadi kepikiran kepada ibunya.


    "Mah ..., Mamah tidak capai ngurusi kebun anggrek seluas ini? Mana tamunya banyak lagi ...." kata Silvy pada ibunya.

__ADS_1


    Rini tersenyum lebar. Tentu pertanyaan anaknya itu ada benarnya. Tetapi rasa senang dalam hati, itu mengalahkan segalanya. Capai akan tidak terasa jika hatinya senang.


    "Silvy ..., yang namanya kerja ya pasti capek .... Tapi Mamah senang kok .... Setidaknya buat kesibukan Mamah agar tidak melamun setiap hari. Apalagi Mamah sendirian di Jogja. Kalau tidak punya kegiatan, Mamah bisa stres. Kalau Mamah sibuk seperti ini kan bisa lupa dengan berbagai masalah yang menyakitkan. Hehe ...." kata Silvy pada anak-anaknya, saat makan siang bersama.


    "Iya ..., Mah .... Tapi kalau pengunjung yang datang sebanyak ini ..., kan Mamah terlalu berat untuk meladeni semua pembeli ...." kata Silvy yang lagi-lagi kasihan menyaksikan ibunya yang terlalu sibuk.


    "Nah, Mamah justru punya ide ...." sahut Rini.


    "Apa, Mah ...?" tentu Silvy penasaran.


    "Bagaimana kalau kalian tinggal di Jogja saja, bantu Mamah ...?!" kata Rini pada anak-anaknya.


    "Iya .... Kalian tinggal di sini sekalian. Nanti jumlah anggreknya kita tambah lagi. Toh lahan ini masih sangat luas. Masih bisa kita kembangkan lagi ...." kata Rini pada anak-anaknya.


    "Tapi kerja kami bagaimana, Mah ...?" sahut anak-anaknya.


    "Lhoh ..., kan jadi pengusaha anggrek di sini .... Hasilnya lebih besar, lho ...." goda Rini yang tentu ingin anak-anaknya pindahke Jogja.


    "Sayang kerjaan kami di Jakarta, Mah ...." kata Yayan.


    "Jakarta terlalu ramai. Terlalu keras untuk hidup. Terlalu banyak tuntutan. Di Jogja lebih nyaman, tenteram, damai dan ..., enak segala-galanya." kata Rini memberi iming-iming.

__ADS_1


    "Tapi kami sudah mulai mapan untuk hidup di Jakarta, Mah ...." kilah Yayan.


    "Iya, Mamah tahu .... Tapi kalau usaha anggrek kita dikembangkan lebih besar lagi ..., pasti juga akan memberikan penghasilan yang cukup untuk kalian. Apalagi Mamah sudah tua, siapa lagi yang akan meneruskan usaha Mamah ini, kalau bukan kalian. Kalau kalian mau memulai meneruskan dan mengembangkan usaha Mamah ini, saya justru kepikiran untuk membuat laboratorium pembibitan di sini. Kemarin ngobrol-ngobrol sama pemilik anggrek yang di Malang, yang memasok anggrek ke Mamah, dia bilang kalau kita punya laboratorium pembibitan, untungnya akan jauh lebih besar." jelas Rini pada anak-anaknya.


    "Benar itu, Mah ...?!" tanya Silvy yang ragu-ragu.


    "Ya, benar lah .... Buktinya, itu pengusaha anggrek yang dari Malang itu ..., dia bisa mengirim anggrek ke mana-mana. Mamah saja, sekali belanja satu truk box, harus mengeluarkan uang sepuluh sampai lima puluh juta. Di sini, Mamah bisa jual dalam waktu hanya sekitar dua minggu sudah habis. Mamah harus belanja lagi." kata Rini yang meyakinkan kepada anak-anaknya.


    "Iya juga, ya .... Apalagi kalau bisa mengembangkan anggrek Mamah yang langka itu, pasti untungnya lebih besar ya, Mah ...." kata Silvy yang tertarik dengan cerita ibunya.


    "Nah .... Tapi kalau Mamah bangun laboratorium, tidak mungkin Mamah yang ngembangkan. Kalian yang masih muda ...." sahut Silvy.


    "Iya juga .... Tapi kami kan belum paham tentang anggrek, Mah ...." kilah Yayan.


    "Ya belajar, lah .... Kalau memang kalian berniat, nanti Mamah minta tolong kepada pemilik kebun anggrek yang ada di Malang untuk mengajari kalian. Mamah juga pengin ke sana, untuk melihat kebun anggrek yang katanya sangat luas dan modern itu." kata Rini yang tentu menarik bagi anak-anaknya.


*******


    Yayan dan Silvy, akhirnya mengundurkan diri dari kantor kerjanya. Alasannya ia mau menemani ibunya yang tinggal di Jogja sendirian. Padahal sebenarnya, Yayan maupun Silvy, tergoda oleh iming-iming ibunya untuk mengelola kebun anggrek yang sudah dirintis oleh ibunya. Yayan dan Silvy mulai jatuh cinta dengan anggrek. Tentu karena usaha anggrek dilihat sangat menjajikan. Apalagi saat menyaksikan sendiri ibunya yang menerima penghasilan cukup besar dari para pembeli yang berdatangan tiada henti.


    Akhirnya, Silvy dan Yayan harus meninggalkan Jakarta dan berpindah ke Jogja, karena tergoda cintanya pada bunga-bunga indah nan menawan yang terhampar di Taman Anggrek Nirwana. Rini senang, karena anak-anaknya sudah memutuskan untuk memperbesar usahanya. Tentu Taman Anggrek Nirwana akan semakin menawan.

__ADS_1


__ADS_2