KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 215: APAKAH ANEH?


__ADS_3

    Setelah selesai membuatkan sketsa rencana laboratorium pembibitan anggrek, Yudi langsung mencari Wawan. Tentu untuk menyampaikan sketsa dan meminta Wawan yang melaksanakan pembangunannya di tempat Rini. Selain itu, Yudi juga ingin menyampaikan masalah administrasi terkait penginapan Nirwana Homestay. Ada hal urgen terkait penginapan Nirwana Homestay, yaitu penginapan milik Yuna. Untuk membahas itu, maka Yudi ingin bertemu dengan Wawan di ruang administrasi Nirwana Homestay.


    "Gimana kabarnya, Mas Yudi ...?" tanya Wawan pada Yudi, saat bertemu di ruang administrasi Nirwana Homestay.


    "Baik, Mas Wawan .... Mas Wawan sehat, kan?" balas Yudi.


    "Alhamdulillah baik, Mas Yudi. Wah ..., Mas Yudi lama di Jepang, ya .... Enak ya, Mas ..., tinggal di Jepang?" tanya Wawan yang tentu ingin tahu.


    "Ya, seperti itulah, Mas Wawan .... Kalau enak di Jepang pasti saya tidak mau pulang ke jogja, Mas ...." sahut Yudi.


    "Berarti enak di sini, Mas?" tanya Wawan lagi yang menganalogkan jawaban Yudi.


    "Yah, seperti pepatah .... Seenak-enak hujan emas di negeri orang, tetap masih lebih enak hujan batu di negeri sendiri." kata Yudi yang mengibaratkan enaknya di Jogja.


    "Walah, Mas Yudi itu lho ..., pinter kalau buat kiasan." sahut Wawan.


    "Mas Wawan ..., ini saya menyampaikan sketsa rencana laboratorium anggrek dari Ibu Rini. Saya minta tolong dibangunkan yang bagus, agar nanti bisa menjadi obyek wisata juga, stidaknya wisata edukasi bagi orang-orang yang ingin belajar mengembangkan anggrek." kata Yudi memesan pada Wawan.


    "Iya, Mas Yudi .... Makanya waktu saya buat kebun anggreknya itu, saya coba meniru ilmu Mas Yudi, memberi sentuhan keindahan agar ada nilai seninya. Tapi ..., ya maklum, Mas .... Tentu saya tidak ada apa-apanya dengan Mas Yudi." kata Wawan menjelaskan pembangunan rumah Rini.


    "Jangan merendah .... Itu sudah sangat bagus. Waktu pertama kali saya melihat, kala itu baru saja pulang dari Jepang, belum tahu kalau itu milik Rini, saya kagum dengan bangunan itu. Ternyata yang membangun adalah insinyur muda berbakat penuh kreativitas. Saya bangga padamu, Mas Wawan." kata Yudi yang memuji Wawan.


    "Iya, yang ngajari kan Mas Yudi juga ...." sahut Wawan.


    "Ini begini, Mas Wawan ..., untuk pendapatan penginapan dari homestay milik Mbak Yuna mohon untuk bisa dimasukkan ke rekening saya." kata Yudi pada Wawan, yang tentu juga didengar oleh pegawai administrasi.


    "Waduh, sudah ada pemindahan keuangan apa belum, ya ...? Sebentar, Mas Yudi ..., saya tanya bagian administrasi dahulu." kata Wawan yang langsung memanggil pegawai administrasi, "Mbak Wulan ..., sini sebentar ...." panggil Wawan kepada pegawai administrasi yang bernama Wulan tersebut.


    "Iya, Mas ...." sahut perempuan itu yang kemudian menemui Yudi dan Wawan yang duduk di ruang administrasi, tempat yang biasa dipakai untuk melayani pesanan penginapan kepada para tamu Nirwana Homestay.


    "Ini kami mau tanya, apakah sudah ada pemasukan untuk dana sewa homestay ke tempatnya Mbak Yuna?" tanya Wawan pada pegawai tersebut.


    "Sebenarnya sudah ada pemasukan, tetapi belum kami transfer, dikarenakan Mbak Yuna belum punya rekening di Bank Jogja. Enaknya bagaimana, Pak?" tanya perempuan itu.


    "Untuk bagian hasil dari penginapan Mbak mohon ditransferkan ke rekening saya, apa bisa?" tanya Yudi.


    "Memangnya Mbak Yuna kenapa, Pak?" tanya perempuan itu.

__ADS_1


    "Yang jelas Mbak Yuna masih warga negara Jepang. Dia belum punya KTP Jogja." jawab Yudi.


    "Jadi ..., belum bisa buat rekening di sini ya, Pak Yudi?" tanya perempuan itu.


    "Iya .... Dan sekarang Mbak Yuna ada di Jepang, tidak bisa kembali ke Indonesia. Visanya sudah habis." jawab Yudi.


    "Lhoh ..., berarti Mbak Yuna tidak kembali ke Jogja lagi, Mas Yudi ...?" tanya Wawan.


    "Kemungkinan tidak, karena tidak bisa memperpanjang visa." jawab Yudi.


    "Walah ..., berarti Mas Yudi sendirian lagi, ini?" tanya Wawan yang justru jadi penasaran.


    "Mau dibilang seperti itu, ya memang begitu .... Habis saya sendiri kalau ke Jepang, juga tidak mungkin bisa lama. Setidaknya, saya tidak mungkin tinggal di Jepang terus-terusan." sahut Yudi.


    "Kasihan, Pak Yudi ...." sahut perempuan pegawai administrasi tersebut.


    "Ya, itulah lika-liku kehidupan." sahut Yudi.


    "Berarti ini tadi langsung saya masukkan ke rekening Bapak Yudi, ya?" tanya Wulan yang pegawai administrasi.


    "Ya, gak masalah .... Toh itu sebenarnya homestay itu juga milik Mas Yudi. Hanya waktu itu, katanya diatas namakan Mbak Yuna .... Jadi, ya gak masalah ...." jelas Wawan pada pegawai administrasi tersebut.


    "Hehe ...." Yudi nyengenges.


    "Biar hartanya tidak terlihat orang lain, Mbak Wulan ...." seloroh Wawan.


    "Baik, Pak Yudi .... Nanti akan kami proses untuk kami transfer ke rekening Pak Yudi." kata perempuan pegawai administrasi tersebut.


    "O, iya ..., Mas Wawan, itu homestay sudah terbangun semua .... Apakah dana untuk lahannya sudah masuk?" tanya Yudi yang ingin tahu keadaan keuangan Nirwana Homestay.


    "Yang sudah lunas baru empat, Mas Yudi .... Yang enam masih menunggu pemasukan dari penginapan." Sahut Wawan.


    "Walah ..., saya kira sudah lunas semua ...." seloroh Yudi.


    "Yang cash cuman Bu Rini .... Terus punya Mbak Yuna dan Mas Yudi .... Lainnya masih nunggu pemasukan dari para tamu, Mas Yudi .... Tapi ada yang sudah masuk separo kok, Mas Yudi ...." sahut Wawan.


    "Berarti saya kira-kira bisa ambil uang berapa, Mas Wawan ...?" tanya Yudi.

__ADS_1


    "Ada hitungannya, Mas Yudi .... Nanti bisa dilihat dari file Mbak Wulan. Memang mau diambil, Mas?" tanya Wawan pada Yudi.


    "Rencananya begitu, Mas Wawan ...." sahut Yudi.


    Ya, tanah yang dibangun untuk pengembangan Nirwana Homestay, sebenarnya memang milik Yudi. Yudi memberikan kepada Wawan untuk dikembangkan menjadi suatu tempat penginapan dengan bangunan model klasik ala kerajaan Majapahit, tentu untuk menambah keindahan Kampung Nirwana. Tentu Untuk mewujudkan bangunan itu butuh biaya besar. Dan biaya itu hanya dari para pembeli.


    Memang untuk pengembangan Nirwana Homestay tidak seperti pengembangan-pengembangan perumahan, biasanya kerja sama dengan bank untuk pengajuan kredit pemilikan rumah. Wawan selaku pengembang, langsung meminta kepada Yudi untuk membuat kebijakan tidak memakai KPR. Tetapi langsung memotong dari hasil penginapan para tamu. Tujuannya adalah agar para pembeli tidak membayar bunga bank, sehingga lebih sejahtera.


    "Memang untuk apa to, Mas Yudi? kok kelihatannya seperti butuh uang. Terus uangnya yang numpuk di kamar itu untuk apa ...?" tanya Wawan yang seolah menganggap kalau Yudi tidak butuh uang.


    "Ah, Mas Wawan itu .... Saya itu manusia, Mas .... masih hidup, butuh makan minum .... Masak ndak butuh uang. Apalagi saya sudah tidak jadi pegawai, tidak punya bayaran, ya jelas tidak punya uang to, Mas Wawan .... Haha ...." kata Yudi yang menjelaskan keadaannya.


    "Halah ..., Mas Yudi ki ...." sahut Wawan yang tidak percaya.


    "Begini, Mas Wawan .... Kebutuhan Kampung Nirwana itu kan masih banyak. Saya punya rencana mau nyicil mbangun Pasar Rakyat. Paling tidak saya ingin menghidupkan wisata kuliner di Pasar Rakyat. Kalau Pasar Rakyat itu sudah terbangun, pasti kampung kita lebih ramai, dan itu akan mendongkrak perekonomian rakyat. Untuk mengadakan Pasar Rakyat itu, tentu butuh biaya yang tidak sedikit, Mas Wawan." jelas Yudi pada Wawan.


    "Waah ..., yang benar itu, Mas Yudi ...? Kapan rencana dibangun, Mas? Nanti diserahkan ke kami ya, Mas ..., yang membangun Pasar Rakyat itu." kata Wawan.


    "Benar ..., tapi dengan syarat ...." kata Yudi yang langsung dipotong.


    "Apa syaratnya, Mas Yudi?" sahut Wawan yang memotong perkataan Yudi.


    "Ya ..., itu .... Uang saya yang ada di Nirwana Homestay di setorkan ke saya dahulu .... Nanti baru bisa ngeplot ke tempat lain." Kata Yudi pada Wawan.


    "Mbak Wulan ..., tolong hitungkan rincian keuangan untuk lahan Nirwana Homestay. Sudah masuk berapa?" kata Wawan yang meminta pegawai administrasi itu. Tentu Wawan juga semangat karena setidaknya akan dapat proyek lagi.


    "Ya, Pak ..., sebentar." sahut pegawai administrasi tersebut, yang langsung membuka data komputer.


    "Benar, Mas Yudi .... Kalau Pasar Rakyat jadi, pasti Kampung Nirwana akan semakin ramai. Lhah, tapi apa tidak ada uang dari pemerintah to, Mas Yudi? Kok harus pakai uang pribadi Mas Yudi .... Uang tanah Nirwana Homestay itu kan uang milik pribadi Mas Yudi?" tanya Wawan yang tentu juga bingung.


    "Nunggu bantuan pemerintah itu ibarat menunggu 'Ndog Blorok', Mas Wawan. Tidak bisa ditunggu." jawab Yudi.


    "Lhah, tapi nanti mbaliknya modal bagaimana? Itu sulit lho, Mas .... Malah-malah tidak akan balik modal, Mas Yudi .... Apa tidak eman-eman ...?" tanya Wawan, yang tentu heran dengan rencana Yudi.


    "Tidak apa-apa, Mas Wawan .... Yang penting rakyat Kampung Nirwana bisa sejahtera, saya akan lebih bahagia." kata Yudi sambil tersenyum.


    Wawan yang mendengar jawaban itu, pasti sangat heran dengan sikap Yudi. Aneh, sementara orang lain bekerja susah payah mencari uang untuk menimbun harta kekayaan, bahkan sampai ada yang harus korupsi, tetapi Yudi justru akan memberikan uangnya untuk membangun Pasar Rakyat demi warga Kampung Nirwana. Sebuah keanehan. Tetapi itulah Yudi, tidak tergiur untuk menimbun harta, bahkan harus mengeluarkan hartanya demi menyejahterakan orang-orang di sekitarnya. Tapi apakah seperti itu aneh?

__ADS_1


    "Apa saya aneh, Mas Wawan? Apa ada yang aneh pada sikap saya, Mbak Wulan?" tanya Yudi pada Wawan dan perempuan pegawai administrasi tersebut. Tentu Yudi justru melihat aneh dua orang yang memandangi dirinya dengan bengong tersebut.


__ADS_2