KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 221: AKHIRNYA NIKAH


__ADS_3

    Hari Minggu Legi, oleh orang Jawa termasuk hari dengan jumlah perhitungan kecil. Makanya Pak Modin dan Pak Lurah memberikan hari Minggu Legi ini sebagai hari pernikahan antara Yudi dan Rini, tanpa acara pesta besar-besaran. Cukup dengan acara sederhana, yaitu tumpengan dan doa syukuran bersama dengan para tetangga. Hal ini mengingat Yudi bukanlah perjaka lagi, sudah pernah menikah. Sedangkan Rini juga hanya janda yang ditinggal mati suaminya. Yang penting akad nikahnya berjalan lancar.


    Meski demikian, tentu rumah dan pendopo Yudi penuh sesak oleh para tetangga yang berdatangan. Ada yang membawakan beras, jajanan, makanan, bahkan ada pula yang menyumbang rokok. Di dapur rumah Yudi juga ramai ibu-ibu yang memasak untuk hidangan para tamu. Bahkan di kamar, Yudi dan Rini juga dirias layaknya seperti pengantin baru. Namun tentu tidak se mewah waktu pernikahan dengan Yuna dulu. Yudi hanya mengenakan setelan jas biasa, sedangkan Rini mengenakan pakaian adat Jawa, tanpa make up berlebihan.


    Ya, makna hari Minggu Legi sendiri sebenarnya adalah "sederhana", seperti yang diinginkan oleh Yudi. Hidup dalam kesederhanaan, tanpa memamerkan harta benda yang berlebihan. Namun neptu Minggu Legi ini sebenarnya memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Minggu Legi sering dikaitkan dengan kepemilikan ketahanan fisik yang sangat kuat, tangguh dan pemberani. Dan bagi Pak Modin, hari Minggu Legi dijadikan sebagai hari pernikahan Yudi dan Rini, karena hari tersebut memegang dua kekuatan cakra, yaitu **** dan kesetiaan. Tentu harapannya, Yudi dan Rini menjadi pasangan yang saling setia dan mampu memberikan asmara masing-masing.


    Siang itu di pendopo rumah Yudi sudah ramai para tetangga yang akan ikut selamatan. Terutama ingin menyaksikan pernikahan antara Yudi dengan Rini. Lantai pendopo tersebut digelari tikar. Sebagai tempat duduk bagi para tetangga yang berdatangan. Ya, seperti umumnya di kampung, para tamu duduk lesehan di tikar.


    Di sisi belakang kiri, ada meja besar tempat menaruh makanan dan minuman, yang tersaji. Makanan dan minuman tersebut nanti akan disuguhkan kepada para tamu. Sedangkan di bawah, di tengah lantai, terdapat nasi tumpeng yang tentunya untuk acara selamatan.


    Di sisi belakang tumpeng, di sisi kiri sudah duduk wanita cantik dengan pakaian khas Jawa, Rini sang pengantuin putri. Rini benar-benar terlihat sangat cantih dan seakan masih sangat muda, bagai perawan. Tidak terlihat sebagai janda yang berumur lima puluh tahun. Ia didampingi oleh anak dan menantunya, yaitu Silvy dan Yayan. Sedangkan di sisi kanan Rini, ada laki-laki yang cukup gagah dengan mengenakan setelan jas warna abu-abu kebiruan, yaitu Yudi sang pengantin laki-laki. Yudi didampingi oleh Simbok dan bapaknya. Tentu mereka terlihat tersenyum bahagia.


    Sedangkan di seberang tumpeng, berhadapan dengan para pengantin, duduk Pak Modin, Pak Lurah, Baga dan Wawan. Mereka yang akan menjadi saksi pernikahan. Dan Pak Modin tentunya nanti yang akan memimpin acara selamatan. Sedangkan di sisi samping tumpeng, dekat dengan Yudi, Simbok, dan Bapak, ada Pak Naib yang akan menikahkan Yudi dan Rini.


    Sementara suara hening, tentu akan mendengar kata-kata dari naib yang akan menikahkan Yudi dan Rini.


    "Hari ini, Minggu Legi .... saya akan menikahkan Saudara Yudi dan Saudari Rini." kata sang naib.


    "Nggih ...!!" serentak orang-orang yang hadir di tempat itu langsung menyahut mengiyakan.


    "Mas Yudi ..., duda, ya ...?!" tanya sang naib.


    "Ya, betul ...!" sahut Pak Lurah keras yang tegas menjawab, sebelum kedahuluan Yudi yang biasanya banyak alasan.


    "Mbak Rini ..., janda, ya ...?!" tanya sang naib lagi.


    "Betul, Pak ...." jawab Rini langsung membenarkan.

__ADS_1


    "Mas Yudi .... Ini ada mas kawinnya apa tidak ...?" tanya Pak Naib lagi.


    "Ada, Pak Naib ...." jawab Yudi meyakinkan.


    "Apa mas kawinnya?" tanya Pak Naib.


    "Pasar Rakyat ...." jawab Yudi santai.


    "Hah ...?! Pasar Rakyat ...?!" tentu jawaban Yudi ini menjadi kaget bagi semua orang yang ada di tempat itu. Bagaimana tidak, Yudi akan memberikan Pasar Rakyat kepada Rini sebagai mas kawin. Aneh, dan tentu tidak umum. Meskipun Pasar Rakyat itu seluruhnya milik Yudi, baik lahan maupun uang yang digunakan untuk membangun tempat tersebut, namun bukankah itu nanti akan dipakai oleh warga Kampung Nirwana?


    "Pasar Rakyat ...?" Pak Naib bertanya pada Yudi.


    "Iya .... Mas kawinnya Pasar Rakyat." jawab Yudi meyakinkan.


    "Bagaimana, Mbak Rini ...? Apakah mas kawinnya bisa diterima?" tanya Pak Naib berganti kepada Rini.


    "Bisa, Pak Naib .... Dan mas kawin tersebut akan saya persembahkan seluruhnya kepada warga Kampung Nirwana." jawab Rini dengan senyum yang sangat menawan.


    Yudi memandang Rini. Tidak marah. Tetapi justru tersenyum senang. Yudi langsung memeluk dan mencium Rini. Demikian pula Silvy dan Yayan yang juga ikut bahagia mendengar kata-kata mamahnya. Apalagi Simbok dan Bapak, kedua orang tua Yudi itu sudah merasa bahagia sejak awal, sejak anaknya dirias untuk menikah dengan Rini. Rini yang dahulu pernah dipeluk oleh Simbok sambil menangis karena diharapkan bisa menjadi istri Yudi, kini benar-benar menjadi menantunya. Ini semua membuktikan kata-kata Yudi setiap kali ditanya oleh Simbok, "Rumah seperti istana ini kok tidak ada permaisurinya, kapan kamu akan menikah agar rumahmu ada perempuan yang mengurus ...?" Lantas kala itu Yudi menjawab, "Besok Mbok kalau ada wanita yang bernama Rini datang kemari, itulah permaisuri saya ...." Kala itu, saat pertama kali ketemu Rini, Simbok bahagia karena bakal akan punya menantu yang menjadi permaisuri Yudi untuk mengurus rumah yang dianggap sebagai istana tersebut. Sekarang kata-kata itu terbukti.


    "Sah ...?!" tanya Pak Naib kepada para saksi.


    "Sah ...!!!" langsung tiga orang, Pak Modin, Pak Lurah dan Bagas berteriak keras menjawab pernikahan Yudi dan Rini sudah sah.


    Simbok yang duduk di sebelah kanan Yudi, langsung menggeser tubuhnya, menuju tempat Rini, memeluk erat perempuan yang dahulu sudah diharap menjadi menantunya tersebut. Tentu Simbok menangis bahagia.


    Rini yang dipeluk Simbok, tidak sanggup melihat Simbok yang menangis tersebut. Rini pun ikut menangis. Terharu mengingat kenangan hampir dua tahun yang lalu, saat ia juga dipeluk oleh Simbok sambil menangis. Kala itu, Rini benar-benar ingin menjadi istri Yudi. Bahkan kala itu sempat terbersit dalam hati Rini untuk meninggalkan Hamdan dan hidup bersama Yudi. Tapi kini, semua itu menjadi kenyataan.

__ADS_1


    Mungkin semua ini sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Kalau memang sudah jodohnya, mau dikatakan apa. Mungkin Tuhan telah menakdirkan, kalau Rini memang jodohnya Yudi.


    Pak Modin sudah selesai memanjatkan doa-doanya. Tumpeng yang ada di tengah ruang pendopo itu pun langsung dibagi-bagikan kepada seluruh yang hadir di acara itu. Beruntung ibu-ibu yang memasak membuat tumpeng yang sangat besar, sehingga semua tamu dapat menikmati bersama-sama.


    Konon menurut cerita, tumpeng pengantin yang di Kampung Nirwana disebut dengan istilah "Ambengyan" merupakan tumpeng yang penuh berkah. Barang siapa yang makan nasi tumpeng pengantin, maka keluarganya akan hidup rukun bahagia seperti layaknya pengantin baru. Jika orang yang makan tumpeng tersebut belum berkeluarga atau masih lajang, maka akan dicepatkan jodohnya. Itulah sebabnya, maka nasi tumpeng ambengyan ini menjadi rebutan oleh semua orang yang hadir di tempat itu.


    Tidak hanya tumpeng ambengyan saja yang dinikmati oleh para tamu. Demikianjuga makanan-makanan lain serta minuman yang sudah disediakan di meja besar di pojok pendopo. Semuanya dibagi-bagikan. Semua tamu kebagian.


    "Monggo ..., semuanya .... Hidangannya dinikmati." kata seorang ibu yang mungkin jadi yang dipercaya untuk memasak serta mengatur segala makanan.


    "Iya, Bu .... Maturnuwun .... Terima kasih ...." sahut orang-orang yang sudah menikmati hidangan yang disediakan.


    "Ini, lho ..., ada soto, ada gudeg, ada sambal goreng ...." kata perempuan yang mengatur makanan itu.


    Walau pernikahan sederhana, tetapi suasananya sangat ramai. Tentu orang-orang menghormati Yudi sebagai orang baik. Apalagi ketika menikah dengan Rini, yang pendatang di Kampung Nirwana, cukup terpandang karena dianggap sebagai orang kaya yang bisa membangun Taman Anggrek Nirwana. Apalagi tadi saat acara ijab kabul, mas kawin Pasar Rakyat langsung akan diberikan untuk seluruh warga Kampung Nirwana. Berarti Rini juga bukan orang pelit. Rini sama seperti Yudi, baik hati dan tidak pelit.


    "Mas Yudi ..., saya mohon pamit lebih dahulu ...." kata Pak Naib yang menyalami Yudi untuk berpamitan.


    "Lhoh ..., kok tergesa, Pak Naib ...?" tanya Yudi yang tentu ingin semua para tamu menghabiskan hidangannya terlebih dahulu.


    "Saya ada acara kondangan, sudah ditunggu istri di rumah ...." jawab Pak Naib.


    "Tunggu sebentar, Pak Naib .... Ada berkat untuk keluarga Pak Naib di rumah." kata Yudi yang langsung meminta ibu-ibu juru masak untuk mengambilkan bawaan berkat untuk Pak Naib. Tentu dalam dus berkat yang sudah dimasukkan dalam tas berkat itu, Yudi sudah memasukkan amplop untuk uang saku Pak Naib.


    "Terima aksih, Mas Yudi ...." kata Pak Naib yang pasti senang, karena diberi berkat yang sangat banyak, yang berisi berbagai makanan.


    "Saya juga berterima kasih, Pak Naib ..., sudah banyak membantu kami." kata Yudi pada Pak Naib.

__ADS_1


    "Jangan lupa ..., nikmati sawah secuil milik istrimu ..., lakukan kewajibanmu untuk mencangkul lahan basah itu .... Hehe ...." gurau Pak Naib sambil melangkahkan kaki untuk pulang.


    "Pak Naib itu ada-ada saja ...." sahut Yudi yang tentu tersenyum.


__ADS_2