
Keramaian Kampung Nirwana mulai meningkat, saat disampaikan berita jika Taman Awang-awang sudah akan dimulai pembangunannya. Berita itu tentu menyebar dari mulut ke mulut. Dimulai dari para sopir wisata, yang bercerita kepada para penumpangnya, yang akhirnya kabar itu menyebar ke berbagai daerah. Demikian juga para pengrajin dan pedagang souvenir, setiap ada wisatawan yang berkunjung, pasti menceritakan akan dibangunnya Taman Awang-awang. Berita itu menyebar dengan cepat. Akhirnya, walau belum ada promosi, nama Kampung Nirwana sudah ramai diperbincangkan. Syukurlah, santernya berita itu justru akan menguntungkan bagi para pelaku usaha wisata di Kampung Nirwana. Mulai dari sopir wisata, pedagang souvenir, pengrajin, bakul makanan tradisional, maupun para pekerja seni.
Bagas, sebagai orang dekat Yudi, mulai sibuk menjawab berbagai pertanyaan tentang pelaksanaan pembangunan. Terutama orang-orang kampung yang ingin ikut bekerja sebagai tenaga bangunan, pada bicara dan pesan ke Bagas, minta untuk diikutkan bekerja. Bagas jadi bingung untuk menjawab. Lagi-lagi, Yudi yang jadi tempat mengeluhnya Bagas.
Seperti pesan Yuna, agar bisa kerja cepat langsung Yudi menghubungi Pak Lurah, untuk mengadakan pertemuan dengan orang-orang yang dipandang bisa membantu. Nama-nama sudah dirancang oleh Yudi. Tinggal memanggil melalui telepon, lantas berkumpul di Kantor Kepala Desa.
Pak Lurah setuju. Beberapa orang yang akan diajak membahas masalah pembangunan Taman Awang-awang, sudah dihubungi melalui telepon oleh Bagas, dan semua bisa. Sesuai jadwal, berkumpul di kantor Pak Lurah.
"Monggo-monggo, silakan pinarak ...." kata Pak Lurah yang mempersilakan para tamunya duduk di ruangnya.
"Njih, Pak .... Maturnuwun, Pak Lurah...." sahut para tamu.
Ada lima orang yang sudah duduk di ruang Pak Lurah, yaitu Mas No sebagai pimpinan paguyuban sopir wisata, Pak Haryadi sebagai ketua paguyuban kerajinan rakyat, Bu Marno sang juru masak Kampung Nirwana, Bagas dan Pak Lurah, serta Yudi.
"Maaf, Pak Lurah, ada yang kurang ...." kata Yudi pada Pak Lurah.
"Siapa, Mas Yudi?" tanya Pak Lurah.
"Pak Carik, mana?" tanya Yudi.
"Walah iyo, lali aku ...." sahut Pak Lurah yang selanjutnya keluar pintu, memanggil Pak Carik.
"Carik ...! Carike endi mau .... Carik ...! Sini sebentar." teriak Pak Lurah memanggil Pak Carik.
"Nggih, Pak ...." jawab Pak Carik yang kemudian ikut duduk di ruang Pak Lurah.
"Terima kasih, Bapak-bapak dan Ibu, ini ibunya hanya satu .... Begini, bapak ibu diajak kumpul di ruang Kantor Desa ini sebenarnya atas permintaan Mas Yudi. Terus terang yang punya kerja sebenarnya Mas Yudi, tetapi ini pekerjaan kita bersama, seluruh warga Kampung Nirwana ini. Seperti kabar yang sudah tersiar, Taman Awang-awang akan segera dibangun menjadi kawasan wisata yang keren, yang jos .... Nah, ini semua berkat usaha Mas Yudi yang sudah susah payah sampai ke Jepang, dan bisa menggaet gadis dari Jepang yang cantik, dan semoga Mbak Yuna tidak kembali ke Jepang, tetapi tetap tinggal di kampung kita. Jadi, ini nanti biar Mas Yudi yang menjelaskan, kita ini mau disuruh apa, pokoknya saya minta kita semua cancut taliwondo, bekerja bersama saling bantu demi kemajuan kampung kita. Toh nanti kalau kampung kita maju, yang menikmati hasilnya juga kita. Begitu, nggih. Selanjutnya, monggo saya serahkan sepenuhnya kepada Mas Yudi." kata Pak Lurah memberi sambutan pembuka.
"Amiiiin .... Nggih, Pak Lurah. Kami setuju kalau Mbak Yuna tetap tinggal di kampung kita, tinggal di rumahnya Mas Yudi." sahut salah seorang yang hadir.
"Betul .... Saya juga setuju kalau Mbak Yuna jadi istrinya Mas Yudi ...." sahut yang lain.
"Amiiin ...." yang lain mengamini.
"Pokoknya begini, nanti kalau pembangunan Taman Awang-awang sudah selesai, kita syukuran, sekaligus Mas Yudi mantenan dengan Mbak Yuna. Bila perlu kita tanggapkan wayang." timpal Pak Lurah.
"Setuju, Pak Lurah ...." yang lain menyaut.
"Ini pada ngomong apa, sih ...? Kita itu mau rapat, mau diskusi ..., kok malah ngelantur kemana-mana." kata Yudi yang merasa terpojok dikerjai seluruh tamu yang hadir.
"Hehehe .... Itu doa kami, Mas Yudi .... Mas Yudi rak yo setuju, to ...?!" timpal Pak Lurah lagi.
"Nggih, amiin .... Maturnuwun dongane ...." sahut Yudi yang ingin segera mengakhiri godaan orang-orang.
"Yo wis, monggo dilanjutkan ...." kata Pak Luruh agar Yudi memulai diskusinya.
"Terima kasih, Bapa-bapak dan Ibu .... Saya mohon maaf sudah mengganggu kesibukan bapak-ibu. Seperti yang tadi disampaikan oleh Pak Lurah, bahwa Taman Awang-awang akan segera dibangun. Rencananya akan dimulai besok senin. Untuk itu saya minta bantuan bapak-ibu, untuk mendampingi dan mengawasi jalannya pembangunan kampung kita. Terus terang pembangunan ini semuanya nanti untuk kita, jadi saya mohon kita yang menjaga kelancaran, keamanan, ketertiban dan kenyamanan semuanya. Dan yang perlu saya tekankan, pembangunan kita ini dibantu oleh yayasan dari Jepang. Yang harus kita mengerti adalah bahwa orang Jepang itu punya etos kerja disiplin, jujur, tertib dan bekerja keras. Sehingga kita harus mengikuti aturan itu. Ini yang harus dipahami oleh masyarakat kita. Jangan sampai nanti ada yang korupsi, kerjanya semaunya, akibatnya bangunan tidak selesai tepat waktu dan kualitasnya jelek. Nanti kita bisa kena denda. Bisa dipahami, nggih?" kata Yudi menjelaskan rencana kerjanya.
"Bisa, Mas Yudi ...." sahut yang hadir.
__ADS_1
"Nah, kalau Mbak Yuna, dia nanti menjadi pimpinan kita di sini. Orang Jepang menugaskan Mbak Yuna untuk mengatur kerja kita. Termasuk yang membayar kita. Jadi kita harus mengikuti cara kerja Mbak Yuna." kata Yudi.
"Wah, berarti Mbak Yuna itu orang kaya ya, Mas Yudi?" tanya salah seorang.
"Saya tidak tahu .... Yang jelas Mbak Yuna itu uangnya banyak." jawab Yudi.
"Lhah, terus tugas kami apa, Mas Yudi?" tanya yang lain.
"Nah, ini akan saya bagi. Makanya kita rapat hari ini, tujuannya untuk membagi tugas. Besok senin sudah mulai kerja. Untuk Pak Lurah, saya minta menjadi pengawas proyek. Mengawasi semua pekerjaan dari A sampai Z. Termasuk jika ada tukang yang kerjanya tidak benar, aras-arasen, malas, itu kewajiban Pak Lurah yang menegur." jelas Yudi.
"Waduh ..., kelihatannya enak, tapi berat ini. Ya, oke siap, Mas Yudi." sahut Pak Lurah.
"Untuk Mas No, karena keahliannya sopir, nanti saya minta untuk mengatur arus lalu lintas keluar masuknya kendaraan proyek. Sehingga nanti tidak terjadi kemacetan jalan. Cari anak buah untuk mengatur di setiap persimpangan jalan yang riskan. Setuju, ya ...." kata Yudi.
"Setuju, Mas Yudi." sahut yang mendapat tugas.
"Pak Haryadi, yang sudah biasa mengatur karyawan, saya minta untuk membantu mengatur para pekerja. Mengatur pembagian orang sesuai kebutuhan yang dikerjakan. Jangan sampai ada pekerja yang menganggur, sementara ada banyak pekerjaan yang tidak ada orangnya. Termasuk mengabsen pekerja yang datang maupun ijin tidak berangkat. Siap, nggih ...." kata Yudi pada Pak Haryadi.
"Siap, Mas Yudi ...." sahut Pak Haryadi.
"Nah, yang paling berat adalah Bu Marno. Karena Bu Marno dapat bagian menyediakan konsumsi. Terus terang, ini kata Mbak Yuna, orang Jepang kalau bekerja tubuhnya harus sehat dan kuat. Maka harus diberi makan makanan yang bergizi. Oleh sebab itu saya minta Bu Marno untuk menyiapkan makanan para pekerja ini, dengan menu yang ada gizinya. Silakan nanti Bu Marno minta dibantu oleh ibu-ibu untuk menyiapkan masakan. Mau dibuat prasmanan atau dibungkus, tidak masalah. Yang penting semua pekerja tidak kekurangan makan." kata Yudi menjelaskan kepada Bu Marno.
"Walah, lha terus yang namanya makanan bergizi itu seperti apa to, Mas Yudi?" tanya Bu Marno.
"Bergizi, ki yo ada sayur, lauk pauk, dan buah." sahut Pak Lurah.
"Kalau misalnya, pagi hari kita siapkan telur rebus dan susu atau kacang hijau untuk tambahan sarapan, terus siang harinya kita beri nasi, sayur, lauk dan buah, bagaimana?" tanya Yudi.
"Walah, lha harganya lumayan itu, Mas Yudi ...." kata Bu Marno.
"Kira-kira habis berapa per orang?" tanya Yudi.
"Berarti makan dua kali, ditambah telur dan susu, ditambah minum dan minuman harian, sekitar dua puluh lima ribu, itu Mas Yudi ...." jawab Bu Marno.
"Oke, Bu Marno, tidak masalah. Siap hitung anggarannya." sahut Yudi yang meyakinkan.
"Baik, Mas Yudi. Terima kasih." sahut Bu Marno.
"Nah, kalau begitu nanti kan para tukang dan kuli tidak kelaparan dan tidak pergi ke mana-mana untuk makan. Bagus itu, Mas Yudi .... Cara Jepang." sahut Pak Lurah.
"Nanti untuk Pak Lurah dan kita semua ini, juga termasuk dalam hitungan jatah makan, Pak." kata Yudi.
"Walah .... Lha enak tenan, iki ...." sahut Pak Lurah.
"Nah, untuk Bagas dan Pak Carik, saya minta dibantu untuk pengadaan material. Semua material yang dibutuhkan. Tolong nanti bisa diatur, yang penting jangan sampai ada material yang terlambat pemesanannya. Selain itu, Pak Carik ikut membantu tugas Pak Lurah, sambil mengawasi kerjanya para tukang. Sedangkan Bagas ikut membantu Pak Haryadi, mendata nama-nama pekerja. Termasuk menyerahkan rekap absen ke Mbak Yuna, untuk penghitungan gaji pekerja setiap hari Sabtu. Begitu ya, Pak Carik dan Bagas." jelas Yudi.
"Siap, Mas Yudi ...." jawab Pak Carik.
"Pak Carik dan Bagas, besok Sabtu langsung belanja material. Untuk kebutuhannya nanti saya beri catatan. Semoga hari Jumat saya bisa mengambil uang untuk belanja." kata Yudi memesan Bagas dan Pak Carik.
__ADS_1
"Mas Yudi, saya boleh tanya?" tanya Mas No.
"Tentu, silakan .... Mau tanya apa?" sahut Yudi.
"Itu nanti saya akan minta bantuan empat teman untuk mengatur lalu lintas. Lha mereka ini dapat uang rokok apa tidak? Hehe ..., maaf lho, Mas Yudi ...." kata Mas No yang ditugaskan mengatur lalu lintas.
"Bukan uang rokok, Mas No .... Kita ikut sistem kerja Jepang, semua profesional. Semua dibayar. Termasuk besok, teman-teman yang mengatur lalu lintas ini juga ikut dihitung dalam konsumsi, baik makan pagi maupun siang. Bahkan Pak Lurah, Pak Carik, Pak Haryadi maupun Bu Marno, semua kita bayar. Jangan khawatir. Mbak Yuna saja, yang dari Jepang itu, dia juga mendapatkan bayaran. Jadi jangan khawatir. Semua yang terlibat, semua yang bekerja dibayar, dapat honor." jelas Yudi.
"Terima kasih, Mas Yudi .... Ayem kalau begitu." sahut Mas No yang senang mendengar akan dapat bayaran.
"Ini, lho ..., enek-enaknya kita .... Kerja di tempat sendiri, membangun untuk warganya sendiri, nanti kalau sudah jadi ya menjadi miliki kita sendiri, untungnya juga untuk kita sendiri, lha kok masih dibayar .... Apa tidak enak itu?! Hehe ...." timpal Pak Lurah yang juga ikut senang.
"Alhamdulillah ...." sahut yang lain.
"Makanya, kita harus bersungguh-sungguh, bapak-ibu." sahut Yudi.
"Siap, Mas Yudi ...." jawab semua yang hadir di ruang Pak Lurah.
*******
Sore hari, setelah menyelesaikan urusan pembagian kerja dengan Pak Lurah beserta orang-orang yang diminta untuk membantu pelaksanaan pembangunan, Yudi diajak Yuna ke puncak bukit Taman Awang-awang. Tujuannya untuk memberi tanda lokasi pembangunan. Tanda itu baru sementara, sebelum pengukuran. Hari Senin, bersama dengan tukang, baru akan dilakukan pengukuran yang sebenarnya, sesuai dengan rancang bangun yang sudah digambar. Dengan setia, Yudi menemani Yuna ke puncak bukit. Ini juga untuk memperlancar proses pembangunan.
Sore itu puncak bukit sudah sepi. Para penjual jajanan sudah pada pulang. Hanya beberapa anak muda yang masih menyaksikan keindahan alam yang terbentang. Tentu anak-anak muda ini sambil berpacaran.
"Yudi, lihat ...!" kata Yuna sambil menunjuk anak-anak muda yang duduk bermesraan di sepeda motor masing-masing.
"Iri, ya melihat anak pacaran?" tanya Yudi.
"Bukan iri .... Tetapi kita kelak akan membangun taman yang indah untuk mereka. Taman yang bisa memberikan kemesraan. Yah, tempat ini akan kita bangun untuk mereka berpacaran, Yudi." jelas Yuna.
Yudi yang salah tebak jadi malu.
"Saya kira ...."
"What do you mind?" tanya Yuna
"No .... I didn't think of anything." Yudi terjebak.
"Yudi ...! Ah, dasar laki-laki nakal ...!" Yuna langsung berusaha memukul Yudi.
Yudi berlari. Yuna terus mengejar. Dua orang itu berkejaran, hingga sampai di tepian puncak bukit di sisi selatan. Yuna berhenti mengejar Yudi, saat ia melihat keindahan ombak yang bergulung-gulung di Samudera Selatan.
"Yudi .... Lihatlah ...!" Yuna menunjukkan keindahan Laut Selatan.
Lantas Yudi mendekat ke Yuna. Melihat indahnya deburan ombak. Tangan Yudi memegang pundak Yuna. Lantas tangan Yuna melingkar di pinggang Yudi. Dan tentu, kepala Yuna langsung menyandar di bahu Yudi.
"Lihat, Yudi .... Ombak itu selalu bergulung berlomba menuju pantai, datang terus menerus, tidak pernah berhenti, silih berganti sepanjang masa .... Betul-betul indah dan mesra. Seperti asmara dalam hatiku, Yudi ...." kata Yuna.
"Hatiku juga berkata demikian Yuna .... Aku ingin membangun taman asmara di hati kita berdua. Apakah Yuna bersedia?" tanya Yudi sambil mengelus rambut lembut milik Yuna.
__ADS_1
"Iya, aku setuju. Kita akan membangun taman asmara. Tempat kita berdua memadu kasih. Betul begitu, Yudi?" kata Yuna yang mendekap erat pinggang Yudi.
Matahari perlahan turun, meninggalkan garis jingga di cakrawala. Suara ombak terus berdebur menemani sunyi. Dua insan yang sedang jatuh cinta, menikmati indahnya taman asmara. Hingga gelap menyelimuti puncak bukit. Hanya bayang siluet, laki-laki dan perempuan yang saling berpelukan, tertimpa kemunculan sinar bulan purnama.