
Yuni kecil, anak Yudi dan Rini, bertumbuh cepat. Semakin besar dan semakin kreatif. Tangannya sudah terlalu sering ikut ayahnya untuk mengaduk-aduk cat. Makanya, Yudi menyediakan kanvas dan perangkat lukis lainnya untuk anaknya. Ya, Yuni sudah meniru apa yang dilakukan oleh ayahnya, seakan menjadi pelukis profesional.
Rini terkadang melarang Yuni, agar tidak mengganggu ayahnya. Tapi bagi Yudi, justru inilah saat untuk mengajari anak menyalurkan bakatnya.Walau kadang-kadang Rini melarang anaknya agar tidak mengganggu ayahnya, tetapi Rini tetap setia menunggui anak dan suaminya.
"Pah ..., Yuni kan usianya sudah mau lima tahun .... Apakah kita mau sekolahkan dia ...? Ini sekolah-sekolah sudah mulai pendaftaran, Pah ...." tanya Rini yang tentu ingin melihat Yuni bersekolah.
"Iya .... Coba besok dititipkan di PAUD. Siapa tahu Yuni sudah mau sekolah, bisa bermain sama teman-temannya.
"Kalau begitu, besok Senin kita coba daftarkan Yuni ke PAUD, ya ...." kata Rini usul pada suaminya.
"Ya ..., tapi biar melihat sekolahnya dahulu. Yuni senang apa tidak. Yang penting, anaknya senang ..., jangan orang tuanya yang memilih. Kan yang mau sekolah itu anaknya ...." sahut Yudi berpendapat.
"Iya, Pah .... Betul itu." Rini menimpal.
Hari Senin, seperti yang telah direncanakan, Yudi bersama Rini membawa Yuni si mungil yang cantik, datang ke sebuah sekolah PAUD. Lumayan bagus sekolah tersebut. Tentu di halaman depan banyak mainan yang biasa digunakan oleh murid-murid untuk bermain. Turun dari mobil, Yuni langsung berlari ke tempat permainan. Pasti Yuni ingin bermain.
Yudi membiarkan anaknya bermain. Demikian juga Rini. Mereka hanya mengawasi Yuni memilih berbagai mainan yang ia sukai.
Seorang guru perempuan keluar dari ruang kelas, menemui Yudi dan Rini.
"Maaf, Bapak ..., Ibu ..., apa mau mendaftarkan sekolah cucunya ...?" tanya guru tersebut.
"Hehe ..., iya .... Tapi sebentar, ya .... Biar anaknya bermain dahulu." jawab Yudi yang tentu sambil tersenyum geli. Yudi dan Rini dikira akan mendaftarkan sekolah cucunya.
Setelah puas bermain, Yuni berlari menubruk ibunya. Yah, tubuhnya sudah berkeringat. Rini mengambil tisu dari dalam tas, lantas menyeka keringat anaknya.
"Gimana ...? Yuni mau main lagi ...?" tanya Rini pada si kecil.
"Capek, Mah .... Ah .... Minum ...." kata Yuni yang sudah merasa capek, lantas meminta minum.
"Nih ...." Rini sudah mengeluarkan pot air minum dan memberikan kepada Yuni.
"Sruup .... Sruup .... Sruup ...." Yuni menyedot minuman itu berkali-kali.
"Gimana ...? Yuni mau sekolah di sini ...?" tanya ibunya.
"He ..eh ...." sahut Yuni sambil menganggukkan kepalanya.
"Ayo, kita masuk ke kelas .... Yuni mau sekolah .... Horee ...." kata Rini sambil membuka telapak tangannya, mengajak tos sama Yuni.
Mereka bertiga, Yudi, Rini dan Yuni yang digandeng ibunya, masuk ke ruang kelas tempat ibu guru tadi berada.
"Selamat pagi ..., Bu Guru ...." kata Yudi menyapa guru tadi, yang masih menulis sesuatu di mejanya.
"Eeh ..., pagi Bapak ..., Ibu .... Pagi Adik .... Adik siapa ya, namanya?" kata bu guru itu yang langsung menyalami Yudi, Rini serta Yuni sambil menanyakan namanya.
"Yuni ...." jawab Yuni pada bu guru itu.
"Adik Yuni mau sekolah di sini ...?" tanya bu guru itu lagi.
"Iya ...." jawab Yuni yang sudah berani menatap calon gurunya itu, sambil mengangguk-angguk, tanpa dipegangi orang tuanya. Yuni tidak takut berkomunikasi dengan orang yang baru saja ia temui.
Bu guru itu tersenyum senang. Dia bakalan punya murid yang pemberani.
"Bapak ..., Ibu .... Cucunya sekolah di sini saja .... Dia kelihatan senang, kok ...." kata bu guru itu.
"Iya, Bu Guru .... Itu anak kami ..., bukan cucu .... Hehe ...." kata Yudi yang tentu tersenyum lucu pada bu guru yang salah tebak itu.
"Maaf, Bapak ..., Ibu .... Saya kira cucunya .... Anak bungsu, ya ...?" tanya guru itu lagi.
__ADS_1
Ya, tentu guru itu menganggapnya Yuni itu cucu dari Yudi dan Rini. Karena Yuni yang masih kecil, sedangkan Yudi dan Rini sudah terlihat sebagai orang yang sudah tua.
"Anak saya yang pertama, Ibu Guru .... Aneh, ya .... terlihat seperti cucunya, ya ...." jawab Rini.
"Maaf, Ibu .... Kami sering keliru. Tapi benarkah ini putri pertama Ibu?" tanya guru itu.
"Tidak apa-apa .... Memang, betul .... Kami menikah juga baru hampir enam tahun yang lalu kok. Dan ini anak saya satu-satunya. Mestinya memang kami sudah punya cucu. Anak angkat kami sudah menikah hampir tiga tahun saat adiknya ini lahir." kata Rini menjelaskan. Tidak perlu ada yang ditutupi, karena ini bukan aib.
"Walah ..., Ibu .... Bersyukur sekali masih bisa punya putri .... Itu suatu keajaiban, Ibu ...." kata guru itu yang tentu juga merasa heran.
"Iya .... Kami sangat bersyukur. Saya juga mengatakan begitu. Ini keajaiban bagi saya. Ternyata di usia saya lima puluh satu tahun, saya masih bisa melahirkan, sehat dan mudah. Dan tentunya, anak saya ini juga sehat." kenang Rini.
*******
Ternyata menyekolahkan anak itu tidak gampang. Baru sebulan Yuni bersekolah, Rini sudah dipanggil kepala sekolah. Tentu karena Yuni ada kendala dalam pembelajaran. Pada awalnya Yuni, anak Rini dan Yudi itu perhatian pada gurunya, dan senang belajar bersama guru dan teman-temannya. Tetapi hanya dalam waktu beberapa hari saja bersekolah, Yuni sudah bosan. Yuni tidak mau berangkat sekolah lagi. Setiap kali diantar oleh ibunya hingga sampai di kelasnya, bahkan ditunggu di luar kelasnya, tetapi berkali-kali Yuni keluar dari kelas. Katanya bosan bersekolah. Tentu Rini bingung.
Setelah kepala sekolah menceritakan masalahnya, ternyata Yuni yang masih kecil itu tidak bisa lagi mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Diceritakan pula oleh kepala sekolah, kalau Yuni, putrinya itu, tidak memerhatikan saat gurunya mengajar. Yuni asyik bermain sendiri, tanpa menghiraukan gurunya, bahkan juga teman-temannya.
Rini bengong saat mendengar penuturan kepala sekolah tersebut. Dalam pikirnya, mungkinkah anaknya mengalami kendala kejiwaan. Maklum Yuni lahir dari rahim wanita tua. Rini memahami apa yang disampaikan oleh kepala sekolah maupun gurunya Yuni. Maka tentu Rini meminta kebijakan pihak sekolah untuk memberi kesempatan beberapa waktu kepada Yuni untuk penyesuaian dengan lingkungan kelasnya.
Namun ternyata, sebulan kemudian, Rini mendapat panggilan lagi. Kali ini ia datang ke sekolah bersama suaminya, Yudi. Rini dan Yudi menerima penjelasan dari kepala sekolah dan guru Yuni.
"Apakah anak kami berbuat onar di kelas?" tanya Yudi.
"Tidak, Pak ...." jawab kepala sekolah itu.
"Apakah anak kami nakal terhadap teman-temannya?" tanya Yudi lagi.
"Tidak, Pak ...." jawab kepala sekolah itu lagi.
"Lantas ada masalah apa dengan Yuni?" tanya Yudi lagi.
"Maksudnya tidak bisa mengikuti pembelajaran bagaimana?" tanya Yudi lagi yang tentu semakin bingung dengan jawaban-jawaban dari kepala sekolah dan gurunya Yuni itu.
"Jadi begini, Bapak dan Ibu ..., Yuni itu kalau di kelas senangnya bermain sendiri." kata guru yang mengajar Yuni.
"Bermain sendiri bagaimana maksudnya?" tanya Yudi yang masih bingung.
"Yuni senangnya corat-coret menggambar-gambar sendiri, tanpa mempedulikan teman dan gurunya." jawab sang guru tersebut.
"Pernahkah Ibu Guru saat mengajar memanggil atau menanyai Yuni?" tanya Yudi pada bu guru.
"Pernah, Pak ...." jawab guru itu.
"Apakah saat dipanggil oleh Bu Guru, Yuni merespon atau menjawab?" tanya Yudi lagi yang mulai penasaran dengan alasan sang guru.
"Menjawab, Pak .... Tetapi Yuni tidak memperhatikan gurunya, dia tetap asyik menggambar." jawab guru itu.
Yudi diam. Dalam batinnya, jika Yuni mencorat-coret buku dengan gambar-gambar yang diceritakan oleh gurunya, saat dipanggil masih merespon atau menjawab, berarti Yuni anak yang hebat. Anak yang masih kecil itu, Yuni yang masih berusia lima tahun itu, memiliki konsentrasi yang sangat tinggi sehingga bisa membagi dua perhatian sekaligus. Namun rupanya, guru PAUD itu tidak paham dengan kelebihan yang dimiliki oleh anak.
"Ibu Guru ..., saya ingin tahu, apakah Ibu Guru pernah memberi pertanyaan kepada Yuni saat ia corat-coret?" tanya Yudi yang tentu sangat penasaran dengan kemampuan anaknya. Yudi ingat betul, latihan konsentrasi ini ia lakukan di Kuil Kifune selama berbulan-bulan.
"Iya, Bapak .... Saat kami tanya, Yuni memang bisa menjawab, dan jawaban itu juga benar .... Tetapi ia tidak pernah menengok atau melihat orang yang mengajak bicara. Dan Yuni tidak bermain bersama teman-temannya. Saat istirahat pun, Yuni hanya corat-coret menggambar di dalam kelas." kata ibu guru itu menceritakan
"Oo .... Seperti itu .... Boleh saya lihat buku corat-coret Yuni?" pinta Yudi pada guru Yuni.
"Boleh, Pak .... Sebentar saya ambilkan." kata guru itu yang langsung ke kelas mengambil salah satu buku Yuni, lantas menyerahkan ke orang tuanya. "Ini, Pak ..., buku Yuni." kata guru itu.
Yudi membuka buku Yuni. Melihat coretan-coretan anaknya. Yudi tersenyum senang. Tapi ia memendam kata-kata di depan guru anaknya. Lantas menunjukkan buku itu kepada Rini.
__ADS_1
"Lihat, Mah .... Ini coretan anakmu ...." kata Yudi pada Rini.
"Benarkah ini coret-coretan anak saya ...?" tanya Rini pada gurunya.
"Iya, Ibu .... Benar, kami tidak bohong." jawab guru tersebut.
"Baiklah .... Kami menerima semua keputusan dari pihak sekolah. Apapun yang akan disampaikan kepada kami, kami sudah siap menerimanya." kata Yudi tanpa protes pada pihat sekolah.
"Maaf Bapak, Ibu ..., terus terang guru kami tidak sanggup mengajar putri Bapak-Ibu." terdengar kata-kata dari kepala sekolah yang menyatakan bahwa sekolah sudah tidak sanggup lagi mengajar anaknya. Yuni dikembalikan kepada Yudi dan Rini.
Pupuslah harapan Rini untuk menyekolahkan anaknya, seperti halnya anak-anak yang lain. Walau dengan rasa kecewa, Yudi dan Rini membawa pulang anaknya. Di dalam mobil, Rini diam saja. Tidak bisa berpikir panjang. Entah mau diapakan anaknya. Yang jelas hari itu, Yuni sudah dikeluarkan dari sekolah.
Tapi bagi Yudi, ia tidak marah. Justru ia berpikir ada sesuatu yang terjadi pada anaknya, yaitu bakat melukis. Ia tidak menyalahkan gurunya, maklum karena guru itu pengetahuannya masih terbatas. Ia hanya mampu mengajar, tetapi tidak bisa membimbing. Ia hanya mampu memberikan ilmu yang dimilikinya, tetapi tidak sanggup mengembangkan potensi yang dimiliki anak. Itulah guru, yang selama ini menganggap dirinya paling tahu. Dalam benaknya, Yudi mulai berniat untuk mengajar anaknya sendiri. Ya, belajar itu tidak harus di sekolah. Ketika orang tuanya sanggup mengajar anaknya sendiri, bukankah itu akan lebih baik?
"Halo Yuni sayangku ...." kata Silvy yang menggoda adiknya saat sampai rumah.
"Hai Kakak Silvy ...." jawab Yuni yang langsung berlari masuk kamar.
"He ..., he .... Yuni ..., cuci tangan dahulu ...." kata Rini yang menyuruh anaknya.
"Mamah kok kelihatan suntrut ...?" tanya Silvy pada ibunya.
"Yuni dikeluarkan dari sekolah ...." jawab Rini tanpa daya.
"Hah ...?! Memang kenapa ...?!" tentu Silvy kaget mendengar jawaban ibunya.
"Tidak apa-apa .... Belajar itu tidak harus di sekolah .... Itu artinya, Mamah diberi pekerjaan oleh Tuhan untuk menjadi guru, mengajari anaknya sendiri." kata Yudi yang tentu ingin memotivasi istrinya.
"Memang kenapa sih, Pah ...?" tanya Yayan yang tiba-tiba nimbrung.
"Duduk dulu. Papah mau jelasin permasalahannya. Coba kamu lihat buku adikmu ini." kata Yudi yang memberikan buku Yuni, yang penuh coret-coretan gambar.
Yayan dan Silvy langsung membuka buku Yuni yang diberikan oleh ayahnya.
"Ini gambarnya Yuni, Pah ...?!" tanya Yayan yang tidak percaya.
"Iya .... Itu gambar adikmu .... Buku itu sumber masalahnya." jawab Yudi.
"Yang benar, Pah ...?!" Silvy seakan tidak percaya.
"Betul ...!" jawab Yudi menegaskan.
"Lah ..., gambar anak kecil sudah sebagus ini, apa salahnya Yuni dikeluarkan dari sekolah ...?!" tentu Yayan yang paham tentang ilmu dan pengetahuan akan protes jika adiknya dikeluarkan hanya gara-gara gambarnya terlalu bagus. Padahal kalau adiknya itu diikutkan lomba menggambar, pasti juara.
"Sudah .... Kalian tidak usah protes. Itulah pendidikan di tempat kita, guru-gurunya masih sebatas mengajar secara umum. Adikmu ini tidak umum, makanya gurunya tidak sanggup mengajar. Nah, sekarang yang justru ingun Papah sampaikan kepada kalian semua, ajarilah adikmu untuk membaca dan menulis. Besok juga akan saya panggil remaja sini yang pandai bahasa Inggris, untuk mengajari bahasa Inggris kepada adikmu. Biar Yuni bisa berbahasa Inggris, karena itu bahasa komunikasi internasional, penting untuk bisa." jelas Yudi pada keluarganya.
"Kalau ngundang anak yang disuruh ngajari bahasa Inggris, saya ikut ya, Pah .... Saya juga ingin belajar bahasa Inggris. Besok kalau ada bule datang ke galeri, saya bisa bicara dengan mereka." kata Silvy yang tentu ingin belajar bahasa Inggris.
"Saya juga, Pah ...." timpal Rini yang juga ingin bisa bahasa Inggris.
"Iya, Pah .... Saya setuju, kita ajari sendiri Yuni. Tapi nanti ijazah Yuni bagaimana?" tanya Yayan.
"Ijazah itu formalitas. Kalau mau jadi pegawai baru butuh ijazah. Sekarang saya tanya, kamu pinter menyilang anggrek, ijazah kamu sarjana kebudayaan internasional itu ada artinya apa tidak?" tanya Yudi.
"Iya, ya ..., Pah. Ternyata ijazah itu tidak penting." jawab Yayan yang sadar ijazah sarjananya kini tidak terpakai lagi.
Akhirnya, keluarga Yudi memulai pembelajaran keluarga. Kakak, ayah dan ibunya sendiri yang mengajari Yuni untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Entah itu di ruang makan, di taman, maupun saat di kamar tidur.
Kini Rini mencurahkan perhatian penuh pada anaknya. Menjadi guru bagi Yuni, mengajar untuk memintarkan anaknya. Satu bulan bergumul bersama Yuni dalam belajar, ia merasakan keanehan anaknya. Si kecil Yuni sudah pandai membaca, menulis bahkan melukis. Tidak sekadar pandai, tetapi sangat mahir. Setiap hari dapat menyelesaikan membaca tiga sampai lima buku cerita anak-anak. Kemampuan membacanya sudah melebihi anak kelas enam SD. Demikian juga dalam hal menulis. Yuni bocah kecil yang masih seumur anak PAUD sudah sanggup menulis cerita, bahkan membuat komik. Apalagi dalam hal melukis, setiap kali ikut bersama ayahnya di galeri untuk melukis, hasil lukisan Yuni sangat bagus, hidup dan menarik, seperti lukisan orang dewasa bahkan pelukis terkenal.
__ADS_1
Rini sadar, anaknya memang hebat. Gurunya saja yang memang tidak paham atau tidak bisa mengajar anak berbakat. Demikian juga Yayan dan Silvy, yang menganggap adiknya sebagai anak genius. Berkali-kali Silvy memposting foto-foto adiknya, saat melukis maupun saat membuat komik. Tentu sudah masuk ke tautan Yudi's Gallery. Nama Yuni pun menjadi terkenal sebagai pelukis cilik dari Kampung Nirwana.