KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 210: BAYANG-BAYANG


__ADS_3

    Setiap kali Yudi merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia selalu melihat Yuna pada lukisan yang terpajang di kamarnya. Wajah-wajah Yuna dalam lukisan besar itu seakan hidup, bergerak, berjalan, bahkan berlari-lari. Kadang menjauhi Yudi, tapi kadang pula mendekat. Tentu hal ini mengakibatkan Yudi tidak bisa tidur.


    Yudi turun dari tempat tidur. Lantas kakinya melangkah mendekati lukisan raksasa tersebut. Tangannya meraba satu persatu wajah Yuna yang terpampang dalam lukisan itu. Lantas Yudi mengelus tubuh Yuna, seakan ia merasakan berada di lukisan itu bersama Yuna yang sesungguhnya. Bahkan Yudi ikut berjalan bersama Yuna, menyusuri tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi bersama. Mulai dari menikmati indahnya pemandangan Jembatan Surga yang ada di Kyoto, menyaksikan cantiknya gadis-gadis dengan mengenakan kimono keluar dari kuil, bermain bersama Yunu di bawah tebaran bunga-bunga sakura yang bermekaran. Bahkan Yudi juga diajak berlari oleh Yuna menuju tempat padang datar dengan pemandangan yang indah, dan akhirnya sampai di Taman Awang-awang. Yuna menarik lengan Yudi, diajak berlari menuju tepian taman. Namun Yuna menyeret dan berlari terlalu kencang, hingga akhirnya mereka berdua terjatuh dari tebing dan masuk ke dasar samudera. Yudi berusaha menjerit minta tolong, namun dari mulutnya tidak bisa keluar suaranya, hanya ha ... hu ... ha ... hu saja. Ingin menggerakkan kaki maupun tangan, seakan ada makhluk-makhluk aneh yang memegangi tubuhnya, sehingga ia kesulitan untuk bergerak.


    Yudi kaget. Ia geragapan. Tangannya menggapai-gapai, mencari pegangan untuk menyelamatkan dirinya. Tubuhnya tergulung selimut, ia terjatuh dari tempat tidur.


    "Uuh .... Saya tindihen ...." gumam Yudi sambil melepas selimut yang membelit tubuhnya.


    Ya, tindihan yang dialami oleh Yudi merupakan fenomena tidur yang aneh. Dalam bahasa asing disebut dengan istilah sleep paralysis, yaitu perasaan tidak bisa bergerak, baik pada awal tidur atau saat akan bangun. Indra dan kesadaran seseorang masih utuh, tetapi orang yang mengalami tindihan itu merasa seolah-olah ada kekuatan lain yang mengganggu tubuh mereka. Seakan ada makhluk jahat yang akan menangkap dirinya. Karena sering kali disertai dengan halusinasi aneh, termasuk muncul sosok menyeramkan, gangguan tidur tindihan ini kemudian banyak diyakini orang-orang yang mengalami, kalau di ruangan tidurnya terdapat makhluk halus yang mengganggu dirinya.


    Yudi langsung bangun, menuju kamar mandi. Lantas ia mencuci muka, berkumur dan membasuh tangan dan kakinya. Setelah itu mengambil segelas air dari dispenser, meminumnya hanya dalam sekali teguk. Salanjutnya, ia duduk di pinggiran tempat tidur. Tentu dengan muka kusut. Pikirannya langsung melantur jauh. Kembali teringat dengan mimpi buruknya tersebut. Maka tak heran, jika Yudi langsung kembali memikirkan nasib istrinya lagi. Benarkah Yudi tidak bakal menemukan istrinya lagi? Benarkah kata-kata Pendeta Agung agar saya melupakan Yuna?


    Pikiran Yudi terus melantur. Hingga Yudi mengambil kesimpulan sendiri, jika Yuna mempunyai sebuah rahasia penting yang tidak boleh diketahui oleh siapa saja, maka oleh lembaga rahasia Yuna sengaja diisolasi untuk tidak berkomunikasi dengan orang lain.


    "Ah, biarlah .... Mungkin memang garis hidupku seperti ini." gumam Yudi yang akhirnya beranjak tidur kembali.


    Yudi berusaha memejamkan mata. Namun lagi-lagi, ia melihat lukisan besar yang berisi kisah hidupnya bersama Yuna. Yudi bangun, beranjak dari tempat tidur, lantas mematikan semua lampu yang ada dalam ruangannya. Selanjutnya kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Yudi beranjak tidur.


    Namun, lagi-lagi saat tidur, Yudi kembali ditemui Yuna. Kali ini Yuna mengajak Yudi ke tempat yang sangat jauh, penuh bunga warna-warni. Mereka berdua bersenang-senang, penuh canda dan tawa. Namun tiba-tiba, Yuna menyeret lengan Yudi, dan masuk ke dalam tempat yang gelap gulita tanpa ada berkas cahaya sedikitpun. Yuna tidak terlihat lagi, tetapi tangannya masih menyeret Yudi. Langkahnya semakin cepat, bahkan seperti terbang. Seakan gerakannya berubah menjadi berputar mengikuti sebuah pusaran yang semakin lama semakin cepat. Tubuh Yudi yang berputar-putar, tentu membuatnya kebingungan, seakan mau pingsan. Yudi menjerit, tetapi lagi-lagi tidak bisa mengeluarkan suara. Tangannya menggapai-gapai, tetapi tidak ada benda apapun yang bisa diraihnya. Dan akhirnya, tubuh Yudi seakan terlempar di hamparan padang luas tanpa batas, terkulai lemas.


    Setelah sadar, ternyata Yudi mengalami tindihan lagi. Tubuh Yudi terlempar dari tempat tidur, dan tergeletak di lantai. Yudi meraba-raba kepalanya yang benjol, karena menatap kaki kursi yang terletak bersebelahan dengan tempat tidur.


    "Ah, lagi-lagi tindihen .... Ada apa ini sebenarnya?" gumam Yudi yang merasa aneh dengan dirinya.


    Akhirnya, malam itu Yudi tidak dapat tidur lagi hingga pagi.


*******


    "Yudi ..., makanya kamu pakai HP, biar gampang komunikasi. Setidaknya jika ada hal-hal yang mendesak, kamu bisa langsung telepon ...." kata Rini yang menasehati Yudi, saat mereka berduaan di rumah Yudi, duduk di tempat makan. Tentu Rini khawatir saat dikabari oleh Bagas kalau Yudi semalam jatuh dari tempat tidur sampai dua kali. Maka Rini langsung meminta diantar oleh Mas Trimo menjenguk Yudi.

__ADS_1


    "Tapi di rumah kan sudah ada telepon." sahut Yudi.


    "Beda, Yudi .... Telepon rumah itu kan hanya kalau pas ada di rumah. Kalau sedang berada di luar kan tidak bisa menggunakan telepon itu." protes Rini.


    "Saya itu sebenarnya kurang begitu butuh HP. Mau buat teleponan sama siapa? Toh kalau cuma dengan Rini, saya bisa langsung datang kemari, atau kalau butuh telepon dari rumah juga sudah ada. Terus, untuk apa lagi?" kilah Yudi yang tidak mau kalah.


    "Yudi ..., Yudi .... Terus kamu dikasih kado oleh anak-anakmu yang berisi HP itu juga buat apa? Masak nikahan diberi kado oleh banyak orang kok tidak dibuka. Coba kalau misalnya kado itu ada isinya daging rendang ..., pasti sudah busuk. Kamu itu keterlaluan, Yud ...." kata Rini yang tentu tidak senang dengan cara Yudi menerima kado.


    "Bukannya saya tidak mau membuka kado itu, tapi terus terang, saya tidak nyaman membuka kado-kado itu sendirian. Toh itu diberikan tidak untuk saya saja, tetapi bersama Yuna ...." kata Yudi.


    "Nah ..., itu yang membuat tidurmu tidak nyenyak. Yang membuat tidurmu dikejar-kejar makhluk gaib. Yang membuat tidurmu selalu jatuh dari kasur ...." kata Rini.


    "Yang bagian mana?" tanya Yudi.


    "Ya, karena kamu masih terbelenggu oleh Yuna. Makanya kamu selalu ditemui Yuna dalam mimpi-mimpi buruk. Itu sebenarnya bukan Yuna yang datang menghantui mimpi kamu, Yudi .... Tetapi ada setan yang mencoba mengganggu ketenteraman dirimu. Hanya saja setan-setan itu seolah menjadi Yuna .... Padahal mereka memang berusaha ingin mengusik kehidupanmu." kata Rini yang seolah-olah paham dengan dunia gaib.


    "Benarkah begitu?" tanya Yudi yang lagi-lagi meragukan omongan Rini.


    "Rini ..., saya mengakui kalah sama dirimu. Tapi ketahuilah, kala itu Yuna mengisi hatiku gara-gara kamu. Dan ketahuilah saat saya sudah berkata cinta, sulit bagiku untuk melepaskannya." kata Yudi yang tentu menusuk perasaan Rini.


    "Maafkan saya, Yudi .... Saya tahu dan sadar, memang saya yang salah. Tapi saya tidak ingin melihat masa lalu. Saya ingin mengubur sejarah kelam itu. Namun perlu kamu tahu, Yudi ..., hatiku tidak bisa melupakan dirimu. Kata-kata cinta yang pertama kali tergores dalam hatiku adalah saat pertama kali aku mencuri mencium pipi kamu. Sejak saat itu, cinta itu hanya memadukan nama Rini dan Yudi. Bahkan kalau kamu ingin tahu, Yudi ..., di bawah meja, di laci, maupun di balik bangku sekolah, ada lambang daun waru yang tertusuk panah, dan di situ ada nama Yudi dan Rini, itu semua yang membuat adalah diriku." berkata demikian, Rini sudah menundukkan kepala, dan tentu meneteskan air mata.


    Yudi terdiam. Memandangi Rini dengan rasa kasihan. Mungkin ia sudah salah mengatakan hal yang membuat Rini bersedih. Yudi jadi bingung, mesti berkata apa lagi, ia takut keliru yang justru akan menyakiti hati Rini. Hanya tangan Yudi yang memeluk Rini dengan penuh kasih sayang. Itu untuk permohonan maaf. Padahal kalau mau protes, Yudi bisa bilang kalau Rini tega meninggalkan dirinya menikah dengan laki-laki lain, itu artinya Rini yang tidak setia.


    "Maafkan saya, Yudi .... Saya terlalu egois. Saya hanya memikirkan diri sendiri ...." kata Rini dalam isak tangis di pelukan Yudi.


    Yudi masih diam. Hanya tangannya yang membelai rambut Rini. Kali ini Yudi membelai dengan penuh kemesraan.


    Rini yang dibelai rambutnya langsung merebahkan kepalanya di bahu Yudi. Tentu Rini ingin memanja di pelukan Yudi. Rini ingin mendapatkan kasih sayang dari orang yang setidaknya pernah ia cintai. Bahkan saat ini pun Rini masih berharap bisa mencintai Yudi.

__ADS_1


    "Rini ...." kata Yudi yang kemudian terputus.


    "Iya, Yud .... Ada apa?" tanya Rini yang langsung mendongakkan wajahnya pada Yudi.


    "Ah .... Saya terlalu takut untuk mengutarakan ...." sahut Yudi.


    "Mengapa takut? Ada apa? Apa yang mau disampaikan?" tanya Rini yang penasaran.


    "Dalam hidupku, selalu dihantui bayang-bayang ...." kata Yudi yang kemudian berhenti.


    "Bayang-bayang apa?" tanya Rini.


    "Dahulu, saat dirimu pergi meninggalkan hidupku, aku sangat ketakutan untuk hidup. Saya takut menderita. Saya frustrasi ...." kata Yudi perlahan.


    "Sampai seperti itu? Maafkan saya ya, Sayang ...." kata Rini menyela.


    "Iya .... Hidupku hancur dan berantakan .... Hingga saat ketemu dirimu kembali, saya mulai bersemangat." kata Yudi yang menjelaskan kisahnya kepada Rini.


    "Masak, sih ...?" sahut Rini.


    "Namun ketika dirimu menjodohkan aku dengan Yuna, hatiku mulai berubah, walau sangat berat. Berkali-kali saya berusaha melupakanmu, sangat sulit. Hingga kata-katamu menyadarkan diriku, kalau dirimu sudah berkeluarga. Rini sudah punya suami. Itulah, akhirnya saya berpaling untuk mencoba hidup dekat dengan Yuna." kata Yudi pada Rini.


    "Benarkah seperti itu?" tanya Rini yang tentu sangat merasa bahagia ketika Yudi tidak sanggup melupakan dirinya.


    "Benar .... Dan saat dirimu, anak-anakmua dan para sahabat serta warga masyarakat yang meminta saya menikah dengan Yuna, itu merupakan beban hati saya yang harus bertanggung jawab mencintai Yuna sepenuh hati. Itu prinsip saya. Tapi setelah saya sudah menikah dengan Yuna, dan kini entah ada di mana serta sampai kapan saya bisa menemuinya lagi ...." kata Yudi mengisahkan cintanya.


    "Yudi ..., jangan menyesal begitu .... Tuhan pasti punya rencana lain yang lebih indah ...." kata Rini yang menenangkan hati Yudi.


    "Sebenarnya, ingin rasanya saya bermesraan seperti ini. Tapi dalam hatiku, bayang-bayang Yuna belum bisa hilang. Yuna tidak meninggal, Rin .... Ia masih hidup .... Itu yang menjadi bayan-bayang dalam hidup saya ...." kata Yudi yang tentu juga khawatir menyinggung Rini.

__ADS_1


    "Saya akan mendampingimu terus, Yudi ..., agar bayang-bayang itu pergi jauh dari kehidupanmu. Jangan khawatir, ada Rini yang selalu berada di sisi Yudi untuk mengusir bayang-bayang gelap yang menghantuimu." kata Rini dengan tangan yang sudah merangkul leher Yudi, lantas bibir mungil Rini sudah menempel di bibir Yudi.


__ADS_2