
Yudi's Gallery semakin terkenal, setelah Silvy memposting Yuni dengan lukisannya yang terjual dengan harga lima puluh ribu euro atau sekitar tujuh ratus lima puluh juta rupiah. Bahkan dalam postingan itu juga disebutkan kalau lukisan Yuni dari Yudi's Gallery dibeli oleh kolektor dari Eropa. Pasti para seniman, terutama penggemar karya seni rupa, ingin menyaksikan kehebatan Yudi's Gallery. Paling tidak mereka ingin tahu seperti apa koleksi-koleksi lukisan yang ada di Yudi's Gallery.
Yudi's Gallery kini semakin ramai oleh pengunjung. Namun yang terjadi, beberapa orang yang datang ke Yudi's Gallery adalah orang tua yang ingin anaknya bisa belajar melukis di Yudi's Gallery.
"Mbak ..., apakah anak saya bisa kursus melukis di sini?" tanya seorang laki-laki yang berkunjung di Yudi's Gallery bersama istri dan anaknya yang masih berumur sekitar delapan tahun kepada petugas galeri.
"Maaf, Pak ..., untuk saat ini tempat ini hanya menampung hasil karya seni dari para pelukis yang dijual di tempat ini." jawab perempuan muda yang bertugas menjaga galeri tersebut.
"Lha itu, Yuni pelukis cilik yang lukisannya bisa terjual dengan harga tinggi itu kan dari Yudi's Gallery ini, kan ...?" tanya laki-laki itu.
"Oh, itu .... Yuni itu putrinya Pak Yudi, yang punya galeri ini." jawab perempuan petugas galeri itu.
"Yang mengajari Yuni melukis siapa?" tanya laki-laki itu kembali.
"Wah, saya tidak tahu, Pak. Paling-paling hanya bermain sama Pak Yudi di ruang belakang." jawab perempuan petugas galeri itu.
"Yuni sekolah di mana?" tanya laki-laki yang tentu sangat kepingin menyekolahkan anaknya agar bisa melukis.
"Yuni tidak sekolah, kok .... Dulu pernah sekolah di PAUD, tapi dikeluarkan dari sekolah. Sekarang tidak sekolah lagi." jawab perempuan itu.
"Loh, kok dikeluarkan ...? Yuni itu anaknya nakal, ya ...?" tanya istri laki-laki yang ingin mengkursuskan lukis anaknya itu.
"Tidak, Ibu .... Yuni sangat baik. Anaknya pintar dan sangat cerdas. Tapi katanya, gurunya tidak sanggup ngajar Yuni." kata perempuan petugas galeri itu lagi.
"Oo .... Memang banyak kok guru seperti itu ..., menganggap anak pintar sebagai anak bermasalah. Seperti anak saya ini, dulu juga pernah disetrap sama gurunya, padahal hanya coret-coret menggambar di buku matematika. Makanya, saya juga ingin anak saya lebih menekuni melukisnya." kata perempuan ibu sang anak itu.
"Apakah saya bisa ketemu Bapak Yudi?" tanya laki-laki itu.
"Maaf, Bapak ..., akan saya tanyakan dahulu. Biasanya kalau Bapak Yudi sedang ingin konsen dalam melukis, beliau tidak mau diganggu." kata si petugas galeri itu.
"Ya, saya tunggu." jawab laki-laki itu, yang tentu sangat berharap bisa ketemu.
Lantas gadis yang bertugas menjaga galeri itu keluar dari galeri, ia akan menuju ke ruang belakang melintas melalui jalan samping yang biasa digunakan lewat oleh keluarga Yudi untuk ke galeri.
"Ada apa, Mbak Kiki ...?" tanya Yudi saat melihat pegawainya yang bernama Kiki itu datang menuju tempatnya melukis.
"Anu ..., Pak Yudi .... Ada pengunjung yang ingin mengkursuskan anaknya melukis di sini .... Saya tidak bisa menjawab." kata gadis itu.
"Suruh datang kemari lagi besok Minggu, ya .... Biar saya bisa berfikir dahulu ...." jawab Yudi yang tentu harus mencari jawaban yang terbaik.
"Nggih, Pak .... Akan saya sampaikan. Terima kasih, Pak Yudi ...." gadis itu terus meninggalkan tempat Yudi.
Sesampai di ruang galeri, gadis bernama Kiki yang bertugas menjaga galeri itu langsung menemui laki-laki yang bersama istri dan anaknya itu.
"Bagaimana, Mbak ...?" bapak-bapak itu langsung menanyakan.
"Pak Yudi akan menemui Bapak besok hari Minggu. Kalau Bapak mau silakan datang kemari lagi besok Minggu." jawab perempuan petugas galeri itu.
"O, ya .... Siap .... Saya akan datang kemari besok Minggu." jawab bapak-bapak itu, lantas berpamitan untuk pulang.
*******
Malam itu, Yudi mengajak Rini dan Yuni ke Taman Budaya. Tentu ia akan menemui teman-temannya yang kumpul-kumpul di Taman Budaya. Setidaknya, Yudi akan mengajak anak dan istrinya jalan ke Jogja.
"Kita mau ke mana, Pah ...?" tanya Yuni yang memang jarang diajak jalan-jalan. Paling hanya diajak ibunya ke pasar atau paling jauh diajak jalan-jalan sama kakak-kakaknya.
__ADS_1
"Kita mau jalan-jalan menyaksikan keindahan Kota Jogja di malam hari ...." jawab ayahnya.
"Asyik ...." tentu Yuni senang sekali mendengar jawaban ayahnya.
"Mamah juga sudah lama tidak jalan-jalan ke Jogja." kata Rini yang tentunya juga rindu jalan-jalan.
"Iya ..., kapan-kapan kita piknik, ya ...." kata Yudi kepada anak dan istrinya.
"Piknik ke mana, Pah ...." tanya Yuni yang tentu ingin tahu.
"Pengin piknik ke mana? Ke gunung, ke laut apa ke tengah kota?" tanya ayahnya yang tentu ingin pendapat dari anaknya.
"Pah ..., kalau mau piknik, apa tidak sebaiknya kita tawarkan juga kepada Silvy dan Yayan?" kata Rini yang menyahut pembicaraan anak dan suaminya.
"Eh, iya .... Kita tanyakan dahulu sama kakak, ya ...." kata Yudi yang tentu menyampaikan cara demokrasi.
"Iya .... Kakak diajak ya, Pah ...." jawab Yuni.
"Tentu ...." sahut Yudi yang pasti menunjukkan kasih sayang pada anak-anaknya, meskipun Silvy dan Yayan bukan anak kandungnya.
Yudi yang menyetir tentu sambil menunjukkan pemandangan yang dilintasi kepada Yuni. Tentu Yuni yang ingin menyaksikan pemandangan Jogja di malam hari, ia berdiri di antara sela jok bapak dan ibunya.
"Asyik .... Ih, pemandangannya bagus ya, Pah ...." kata Yuni yang senang menyaksikan keindahan Jogja di malam hari.
"Pah, nanti kita ke Tugu, ya ...." kata Rini yang tentu ingin juga menunjukkan Tugu Jogja malam hari.
"Iya .... Tapi ini Papah ke Taman Budaya sebentar ya ..., mau menemui teman-teman Papah untuk menyampaikan gagasan membuka sekolah menggambar di galeri kita ...." kata Yudi pada anak istrinya.
"Papah mau buka sekolah menggambar?" tanya istrinya.
"Terus ..., yang ngajar siapa?" tanya istrinya lagi.
"Makanya, ini saya mau ke Taman Budaya, untuk menawarkan ke teman-teman. Setidaknya mau memberi pekerjaan kepada teman-teman." kata Yudi.
"Terus ..., nanti tempatnya di mana?" tanya istrinya lagi.
"Sementara biar di ruang belakang dahulu, nanti kalau memang bisa berjalan baik, akan saya buatkan tempat khusus. Ya ..., semacam tempat kursus. Yah ..., untuk amal. Katanya ilmu yang bermanfaat itu bisa menjadi amal jariah kita." kata Yudi yang tentu mengingatkan istri dan anaknya.
"Iya, Pah .... Tapi kalau ada anak yang belajar jangan disuruh bayar mahal-mahal ...." sahut Rini.
"Ya iya, lah .... Sokur bisa gratis." sahut Yudi.
"Saya boleh ikut mengajar, Pah ...?" tanya Yuni.
"Boleh .... Nanti sewaktu-waktu Papah juga ikut membantu ngajari anak-anak yang mau melukis." jawab Yudi yang tentu selalu memberi kebijakan terbaik kepada siapa saja.
Akhirnya mobil Yudi berhenti di halaman Taman Budaya. Di halaman Taman Budaya banyak kendaraan yang terparkir. Berarti banyak orang di tempat itu. Yudi senang karena di Taman Budaya banyak temannya, sehingga akan lebih leluasa untuk menyampaikan gagasannya.
Setelah memparkirkan mobilnya, ia mengajak istri dan anaknya masuk ke Taman Budaya, tentu di ruang belakang yang biasa dipakai nongkrong oleh teman-temannya. Rini tentu merasa agak canggung masuk ke sarang seniman itu. Ya, karena memang Rini sudah terbiasa hidup ala orang gedongan sejak jadi istrinya Hamdan. Dan setelah jadi istri Yudi, meski banyak teman Yudi yang datang ke rumah, tetapi Rini belum pernah diajak ke tempat-tempat nongkrongnya para seniman. Tentu Rini kaget melihat botol-botol minuman. Tentu ia khawatir. Pasti teman-teman Yudi ini banyak yang mabuk.
"Pah ..., kok tempatnya seperti ini?" tanya Rini pada suaminya.
"Tidak apa-apa .... Tenang saja, mereka semua teman Papah, kok ...." jawab Yudi santai.
Rini yang merasa agak takut langsung memegang erat lengan Yudi. Rini juga memegang erat tangan Yuni. Tentu karena khawatir dengan lingkungan yang dilihatnya.
__ADS_1
Yudi langsung mengajak masuk anak dan istrinya, di tempat para temannya berkumpul.
"Hai, Yudi ...!" sapa salah seorang temannya.
"Yudi ..., kemari ...!" sahut yang lain.
"Halo bos ...!" sahut yang lain lagi.
"Halo semuanya ...." Yudi menyambut salam teman-temannya.
"Sini ..., duduk sini .... Ada kabar berita apa ini ...?!" kata teman yang lain lagi.
"Ini Yuni, Ya ...? Waah ..., aanak hebat .... Lukisan Yuni sudah terjual ke orang Eropa, Ya ...?" tanya Ana, teman Yudi pelukis wanita yang tomboi itu, yang tentu langsung mendekat dan menyalami Yuni.
"Iya, Tante ...." kata Yuni yang tentu sambil cium tangan kepada teman ayahnya itu.
"Waah ..., selamat ya, Yuni .... Sukses selalu. Nanti Om ditraktir, ya ...." kata teman Yudi lagi.
"Iya, Om .... Nanti kalau mau bakmi, Yuni belikan." kata Yuni yang mau mentraktir teman ayahnya yang juga merupakan teman-temannya kalau di galeri.
"Ada kabar apa, Yud?" tanya Ana pada Yudi.
"Pak Prof tidak kemari?" tanya Yudi sebelum menjawab temannya.
"Kemarin malam di sini sampai pagi. Mungkin malam ini tidak kemari." jawab Ima yang lebih paham.
"Teman-teman ..., kemarin ada orang-orang yang bertanya tentang kursus menggambar untuk anak-anak. Terus terang saya belum memberi jawaban, besok Minggu baru akan saya temui orang itu. Lhah, ini mau saya tanyakan ke kalian, adakah yang bisa meluangkan waktu untuk mengajari menggambar kepada anak-anak?" kata Yudi pada teman-temannya.
"Lhah, itu nanti sistem kursusnya bagaimana, tempatnya di mana, kami dapat honor apa tidak ...?" tanya temannya.
"Begini ..., jika memang kalian ada yang mau mengajar menggambar pada anak-anak, rencananya saya akan buatkan ruangan, yaa ..., semacam tempat kursus. Nanti kalau ada bayaran dari para orang tua yang kursus, itu buat honor kalian. Tetapi jika anak-anak tidak sanggup membayar, saya yang akan kasih honor." kata Yudi yang tentu direspon gembira oleh teman-temannya.
"Wah ..., setuju, Yud .... Aku mau ...." kata salah satu temannya, yang tentu siap menjadi guru les menggambar.
"Lantas, teknisnya bagaimana?" tanya yang lain.
"Kalau masalah tempat, sementara pakai ruang belakang. Nanti ke depannya, kalau sudah jalan, akan saya bangunkan semacam sanggar lukis. Tapi kalau masalah pengelolaan keuangan, saya pasrah pada Ana atau Imah. Saya tidak mau ikut campur. Yang penting saya sudah memberi wadah untuk kalian, nanti sekalian bisa dimanfaatkan sebagai sanggar berkreasi para pelukis." kata Yudi pada teman-temannya.
"Wah, saya setuju sekali, Yud .... Langsung saja buat sanggar lukis. Saya sanggup mengelola. Kata Imah yang tentu senang mendengar kata-kata Yudi tadi.
"Lantas ..., tempatnya di mana?" tanya yang lain.
"Pengin saya, ya ..., yang dekat dengan Yudi's Gallery .... Karena kebanyakan untuk lukisan, orang-orang lebih mengenal Yudi's Gallery dari pada Taman Budaya." kata Yudi yang tentu jika membangun sanggar lukis pasti ingin dekat dengan rumahnya.
"Oke, saya setuju, Yud .... Kapan rencana dimulai?" kata teman yang lain lagi.
"Kalau memang kalian setuju, mohon doa restunya akan segera saya bangunkan sanggar lukis, untuk tempat anak-anak bersekolah melukis. Setidaknya kita bisa membantu mengembangkan bakat anak-anak." kata Yudi yang tentu akan segera merealisasikan gagasannya membangun sekolah lukis tersebut.
Malam itu, pertemuan singkat dengan teman-temannya di Taman Budaya sudah membuahkan amal kebaikan. Setidaknya kelak, Yudi akan memberi pekerjaan kepada teman-temannya untuk membagikan ilmu yang bermanfaat mengembangkan bakat lukis kepada anak-anak.
Setelah meninggalkan Taman Budaya, seperti janjinya, Yudi mengajak Yuni dan Rini berjalan-jalan di Tugu Jogja. Tugu Jogja malam hari sangat ramai. Semakin malam justru semakin ramai. Penuh anak muda yang bergaya, dan tentu foto selfi.
"Halo, Kakak .... Saya di Tugu Jogja .... Ramai, kan ...." Yuni video call sama Silvy dan Yayan.
"Wao .... Keren, Yuni .... Jangan lupa selfi, ya ...!" sahut Silvy dan Yayan dalam video call.
__ADS_1