
Yudi bersama Yuna, belum mau hengkang dari tempat duduknya. Mereka masih asyik menikmati bakaran-bakaran yang ada di dekat tempat duduknya. Tidak hanya Yudi dan Yuna, tetapi masih ada bayak remaja yang juga ikut bakar-bakar. Tentu, ikan tiga keranjang dimakan orang sekampung masih banyak tersisa.
"Den Mas Yudi ..., ini ikan masih sisa banyak .... Den Mas Yudi bawa pulang, ya .... Biar dibungkuskan ibu-ibu." kata Pak Kadus yang menawari Yudi untuk membawa sisa makanan.
"Walah, tidak usah Pak Lurah .... Malah merepotkan. Biar dimakan anak-anak di sini saja." jawab Yudi menolak.
"Mas Bagas mau, ya ...." kata Pak Kadus menawarkan kepada Bagas.
"Saya mau oseng cumi saja Pak, jangan banyak-banyak ..., sedikit saja." jawab Bagas.
"Njih ..., Mas Bagas. Bu ..., tolong Mas Bagas dibungkuskan oseng cumi." kata pak Kadus pada ibu-ibu yang membagi-bagi sisa masakan.
"Istrimu tidak kamu bawakan panggang tongkol, Gas ...?" tanya Yudi pada Bagas.
"Ya, buat istrinya Mas Bagas, biar dibungkuskan panggang tongkol sekalian, ya ...."kata Pak Kadus.
"Sedikit saja, Pak ...." sahut Bagas.
"Bu ..., untuk Mas Bagas ditambahi panggang tongkol!" kata Pak Kadus pada ibu-ibu.
Hari itu, warga Kampung Karang sudah menikmati kebahagiaan bersama Yudi. Baru kali ini dalam sejarah hidup masyarakat Kampung Karang, hasil tangkapan ikan para nelayan dibeli oleh seseorang, kemudian disuruh memasak warga kampung, setelah itu dimakan bersama-sama oleh orang satu kampung. Tentu mereka mencatat peristiwa ini dalam ingatannya. Ada seorang laki-laki yang dipanggil Den Mas Yudi, sudah memberikan sentuhan kebahagian bagi masyarakat Kampung Karang.
"Mas Yudi ..., kita akan pulang kapan?" tanya Bagas pada Yudi.
"Nanti, sekalian nunggu matahari terbenam ya, Gas ...." jawab Yudi yang masih ingin menikmati senja di Pantai Kampung Karang.
"Den Mas Yudi ..., ini suasana sudah meredup, sebentar lagi matahari akan tenggelam .... Apakah Den Mas Yudi masih ingi menikmati pemandangan di sini?" tanya Pak Kadus.
"Nggih, Pak Kadus .... Kami berdua ingin menyaksikan matahari terbenam. Ingin menikmati Sang Maha Kuasa melingsirkan ciptaan-Nya." jawab Yudi yang masih duduk bersanding dengan Yuna. Tentu masih dihangatkan oleh bara api yang ditumpangi ikan-ikan yang dibakar oleh para remaja.
"O, nggih .... Saya mohon ijin balik ke rumah dahulu. Ini mau membantu ibunya beres-beres." kata Pak Kadus yang langsung membawa barang-barang yang tadi digunakan untuk makan-makan.
Bagas ikut membantu Pak Kadus. Tentu bersama bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain. Mereka sibuk memberesi peralatan masak dan makan yang sudah selesai digunakan untuk berpesta pora.
Ya, sebenarnya tidak hanya Yudi dan Yuna yang duduk menanti matahari terbenam. Tetapi masih banyak para remaja, putra maupun putri yang ikut duduk-duduk di situ, tentu ingin tahu lebih dekat dengan gadis cantik yang datang dari Jepang, yaitu Yuna. Demikian juga anak-anak kecil yang masih berlarian berkejaran dengan ombak. Orang tua mereka tidak menghiraukan anak-anaknya bermain. Itu sudah biasa. Orang tua tidak banyak mengurusi anaknya. Yang penting mereka sehat, bagas, waras, tidak rewel. Dan nati kalau matahari sudah tenggelam, mereka pulang ke rumah, biasanya makan, seterusnya tidur pulas sampai pagi.
__ADS_1
"Mas ..., Mbak ..., coba mendekat kemari." kata Yudi sambil menjawil lengan remaja-remaja yang ada di dekatnya.
"Nggih, Den Mas ...." sahut remaja laki-laki yang langsung mendekat. Kemudian beberapa temannya juga mengikuti mendekat.
"Coba kalian lihat ke langit barat itu ...." kata Yudi sambil menunjuk arah matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
Tentu para remaja itu mengikuti perintah Yudi, mereka menyaksikan langit barat. Yang remaja laki-laki berdekatan dengan Yudi, sedangkan yang remaja putri sudah pada menempel ke Yuna. Tentu mereka senang bisa menempel ke orang asing.
"Kalian lihat itu ...?" tanya Yudi.
"Iya ..., kami melihatnya." jawab para remaja.
"Cakrawala senja di pantai Kampung Karang ini betul-betul indah .... Apakah kalian menyadari ini?" tanya Yudi lagi.
"Iya, betul .... Sangat indah ...." jawab mereka.
"Lihatlah, pantai ini dihiasi dengan hamparan pasir putih yang sangat luas .... Pantainya landai dan indah .... Air lautnya sangat jernih, sehingga kita bisa menyaksikan ikan-ikan yang ada di dalamnya. Lihatlah burung-burung camar yang bermain air, mereka terlihat riang kegirangan ..., itu tandanya mereka bahagia karena mendapatkan makanan yang berlimpah." Yudi menyampaikan keindahan alam Pantai Kampung Karang kepada para pemiliknya, yaitu para remaja Kampung Karang.
"Setiap hari kami melihat ini semua ...." kata salah satu remaja laki-laki yang terlihat cerdas.
"Ya, setiap hari di sini ya seperti ini ..., Den Mas ...." kata salah satu anak perempuan.
Para remaja itu terdiam, tidak bisa mengatakan apa-apa. Tidak tahu dengan apa yang dikatakan oleh Yudi. Tentu Yudi sadar, bahwa pemikiran anak-anak kampung ini belum sampai seperti yang ia inginkan. Maklum, anak kampung yang hanya lulusan SD, tinggi-tingginya lulusan SMP, itu pun hanya satu dua anak. Yudi terdiam sejenak, mencari cara menyampaikan yang sesuai dengan kapasitas otak anak-anak.
"Nah ..., sekarang coba kalian lihat ..., langit jingga pada cakrawala senja yang membentang indah di atas samudera itu. Apakah diantara kalian ada yang pernah menggambar pemandangan seperti itu?" tanya Yudi kembali memancing imajinasi anak-anak.
"Pernah ...."
"Ya, saya waktu sekolah sering menggambar seperti itu ...."
"Saya juga ...."
Anak-anak ramai menjawab pertanyaan Yudi tentang lukisan pemandangan alam. Tentu saat mereka sekolah, oleh gurunya selalu disuruh menggambar pemandangan. Guru jaman kuno, bisanya cuma menyuruh murid-muridnya menggambar pemandangan. Bahkan setiap hari. Daripada jam pelajarannya kosong, maka anak-anak disuruh menggambar. Itu pelajaran yang paling efektif untuk menyiasati kekurangan guru di sekolah-sekolah.
"Nah, sekarang saya tanya ..., kenapa kalian senang menggambar pemandangan itu?" tanya Yudi lagi.
__ADS_1
"Karena pemandangannya indah ...." jawab salah satu anak.
"Kalian mengatakan pemandangan yang kalian saksikan ini indah .... Saya setuju. Pemandangan alam di sini sangat indah. Apalagi Mbak Yuna ..., pasti akan mengatakan luar biasa. Karena di Jepang, Mbak Yuna tidak bisa menyaksikan keindahan pemandangan seperti ini. Betul kan, Mbak Yuna ...?" kata Yudi.
"Iya, betul .... Ini pantai terindah yang pernah saya lihat. Di Jepang tidak ada pantai yang indah seperti ini. Makanya, saya senang tinggal di Indonesia. Hahaha ...." kata Yuna sambil tertawa.
Tentu anak-anak senang mendengar jawaban Yuna. Dan yang pasti, para remaja itu mengamati betul wajah Yuna saat ia bicara. Tentu karena kecantikannya.
"Nah, kan .... Orang asing saja senang menyaksikan keindahan alam di sini, kok ..., mengapa kita ngiri dengan negara lain? Harusnya, kita justru bangga dengan kekayaan alam ini. Keindahan ini adalah pemberian Yang Maha Kuasa, belum lagi hasil alamnya, seperti ikan yang berlimpah, seperti yang sudah kita nikmati bersama tadi, ini benar-benar kekayaan alam yang luar biasa. Kita mesti manfaatkan sebaik-baiknya, untuk kemakmuran kita bersama. Tapi yang ingin saya sampaikan kepada kalian adalah, warga Kampung Karang, masih terlalu sedikit memanfaatkan kekayaan alam ini." kata Yudi kepada para remaja.
"Tapi, setiap hari para nelayan sudah mengambili ikan-ikan di laut ...." kata salah seorang remaja laki-laki.
"Kan yang diambil oleh warga Kampung Karang baru ikan saja ..., yang dijual hanya tangkapan ikan ...." jawab Yudi.
"Lha terus ..., apa lagi yang bisa diambil?" tanya anak tadi.
"Lhah, kata kalian tadi pemandangan alam di sini indah ..., mengapa kalian tidak mengambilnya untuk dijual?" balas Yudi.
"Caranya bagaimana ...?" tanya anak itu lagi.
"Nah, ini yang ingin saya sampaikan ke kalian. Lihatlah hamparan pasir putih yang halus lembut dan menawan ini .... Lihatlah air laut yang jernih, sehingga kita bisa menyaksikan ikan-ikan yang berenang di dalamnya .... Lihatlah burung-burung camar yang berloncatan di atas gelombang .... Lihatlah cakrawala senja dengan warna langit jingga, serta keindahan matahari terbenam yang seperti lukisan mata dewa itu .... Itu semua adalah kekayaan alam Kampung Karang, seperti halnya ikan-ikan yang ditangkap oleh para nelayan. Semua itu bisa dipamerkan, bisa ditawarkan kepada setiap orang. Itu bisa memberikan kesejahteraan bagi warga kampung ini .... Caranya, perkenalkan kampung ini kepada orang luar, masyarakat umum, kita jadikan kampung ini sebagai tempat wisata. Nanti akan memberi pemasukan hasil. Minimal dapat uang parkir ..." kata Yudi menjelaskan kepada anak-anak.
Para remaja itu terdiam, melongo mendengar penjelasan Yudi. Tetapi mereka mulai berfikir, masuk akal juga apa yang disampaikan oleh orang ini.
"Diantara kalian, siapa yang pandai melukis?" tanya Yudi pada para remaja.
"Dulah, Den .... Atmo juga pinter menggambar ...." jawab salah seorang laki-laki.
"Besok Minggu, kita melukis di sini. Saya akan bawakan kalian peralatan. Nanti kita melukis bersama-sama. Bagaimana?" kata Yudi yang menawarkan untuk mengajak melukis.
"Mau, Den Mas ...." jawab anak yang oleh temannya dipanggil Dulah itu tadi.
"Oke, yang lain kalau mau ikut juga boleh .... Kita belajar bareng-bareng. Nanti yang cewek juga boleh ikut kemari, untuk jadi modelnya." kata Yudi lagi.
"Terima kasih, Den ..., besok Minggu saya siap ...." jawab Dulah dan Atmo.
__ADS_1
"Nah, senja sebentar lagi berganti. Hari sebentar lagi akan gelap. Mari kita pulang, sebelum orang tua kalian mencari. Esok hari berganti, saya berharap kalian punya pemikiran yang lebih cerah, untuk menyongsong masa depan yang lebih gemilang." kata Yudi yang mengajak anak-anak pulang.
Senja di Kampung Karang, Yudi sudah memberi sentuhan kepada anak-anak. Yudi sudah memberikan setetes pengetahuan, untuk mengubah takdir, memperbaiki nasib.