KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 250: AKHIR SEBUAH CERITA


__ADS_3

    Pagi sekali Yudi meninggalkan kota Kyoto, diantar mobil mewah milik orang kaya yang sangat baik hati kepada Yudi. Sengaja, laki-laki kaya raya itu ingin menemani Yudi untuk mencari istrinya. Tentu ia meluangkan waktunya, khusus menemani Yudi, menuju Ise Grand Shrine. Tentu dalam perjalanan sambil bercerita banyak. Dan yang pertama disampaikan oleh orang kaya itu adalah ayah dan ibunya yang dahulu meminta diantar ke Indonesia untuk mencari keluarganya, saudara-saudaranya, serta ayahnya yang meninggal saat perang dunia kedua, kini mereka sudah meninggal. Namun ada satu hal yang dipesan oleh ayahnya kepada laki-laki kaya raya itu, untuk membangun makam kakeknya serta paman-pamannya yang ada di Indonesia.


    "Atode watashi wa Indoneshia no sofu no haka ni niwa o tateru tame ni okane o agemasu." laki-laki kaya raya itu akan menitipkan uang kepada Yudi, untuk membuat sebuah taman di kuburan kakeknya. Katanya ini adalah pesan dari ayahnya sebelum meninggal.


    Tentu Yudi tidak sanggup menolak, karena saat ini ia sedang ditolong oleh orang kaya itu. Mau tidak mau, ia telah berutang budi. Maka Yudi pun berjanji akan membantu membangunkannya.


    Perjalanan sekitar dua jam, dari Kyoto menuju Kuil Grand Shrine, akhirnya mobil itu sampai di tempat tujuan. Yudi turun dari mobil, bersama laki-laki yang sudah dibukakan pintunya oleh sang sopir. Lantas mereka berdua masuk menuju kuil. Tentu Yudi akan menemui Pendeta Agung yang memimpin kuil tersebut.


    "Nanika otetsudai dekiru koto wa arimasu ka?" seorang pekerja kuil menemui Yudi dan orang kaya itu, ia menanyakan apa yang bisa dibantu.


    Tentu Yudi menyampaikan niatnya untuk bertemu Pendeta Agung. Namun kata pekerja itu, tidak mungkin untuk menemui Tuan Pendeta Agung, jika bukan karena hal yang sangat penting. Lantas pekerja kuil itu mengantarkan Yudi bersama laki-laki satunya, menemui seorang pendeta muda yang ada di altar kuil belakang.


    Setelah bertemu, lantas Yudi menyampaikan tujuannya, ia menceritakan kisah Yuna, istrinya yang hilang sejak habis menikah, dan tentunya ia hamil dan melahirkan sekitar sepuluh tahun yang lalu. Dan tentu, Yudi juga menceritakan catatan istrinya yang menyebut ada tulisan tentang Kuil Agung. Yudi juga menceritakan bahwa anak yang dilahirkan itu dititipkan di Kuil Kifune.


    Pendeta muda itu mendengarkan cerita Yudi. Namun rupanya pendeta muda itu tidak tahu dengan yang diceritakan oleh Yudi. Mungkin saja pendeta muda itu belum tinggal di kuil itu pada saat peristiwa. Maka pendeta muda itu mengajak Yudi ke bangunan utama kuil bagian belakang. Yudi diajak menemui Pendeta Agung.


    Menyusuri lorong kuil, akhirnya sampai di sebuah ruang yang sangat megah. Sang Pendeta Agung sedang bermeditasi di altar ruang itu.


    Yudi duduk bersila. Ia teringat saat tinggal di kuil dahulu. Meditasi adalah kebiasaan yang dilakukan untuk melatih mengendalikan diri. Ia pun ikut duduk bersila dan diam menenangkan batinnya. Sambil menunggu Sang Pendeta Agung menyelesaikan meditasinya,


    Tidak lama menunggu, akhirnya Sang Pendeta Agung itu sudah membuka mata. Lantas menanyakan ada apa Yudi mencarinya.


    Tentu pertama kali Yudi menyampaikan salam dari Pendeta Agung Kuil Kifune. Lantas Yudi menceritakan seluruh peristiwa yang terjadi pada istrinya, mulai diculik orang tak dikenal, hingga melahirkan dan menitipkan anak laki-lakinya di Kuil Kifune. Tentu Yudi juga menjelaskan ada catatan-catatan rahasia Yuna yang menyebut Kuil Suci ini. Lantas Yudi menunduk, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Sang Pendeta Agung.


    Cukup lama Pendeta Agung itu belum mengatakan apa-apa. Tentu masih menata pikiran untuk menjawabnya. Lantas ia membisikkan sesuatu kepa Pendeta Muda yang duduk di bawah altar sang Pendeta Agung. Hanya sebentar bisikan itu disampaikan. Yudi tidak mendengarnya.

__ADS_1


    Selanjutnya, Pendeta Muda itu bangun berdiri, memohon pamit meninggalkan ruangan meditasi tersebut. Lantas mengajak Yudi dan orang kaya yang ikut menemani Yudi tersebut. Yudi juga berpamitan sebelum meninggalkan ruangan itu, lantas mengikuti Pendeta Muda tersebut.


    Pendeta muda tadi melangkah cepat, sampai-sampai Yudi dan Sang Penolong itu tertinggal mengikuti langkahnya. Maklum, Yudi sudah enam puluh tahun, dan orang kaya raya itu sudah tujuh puluh tahun. Pasti langkah kakinya sudah tidak sanggup untuk berjalan cepat.


    Dan akhirnya, Pendeta Muda itu sampai pada sebuah bangunan dengan cat warna merah dengan lis-lis warna kuning. Bangunan yang sangat besar, seperti halnya sebuah rumah mewah tetapi dengan dinding yang rapat. Pintunya tertutup rapat. Lantas Pendeta Muda itu membuka pintu, mengajak dua orang tua tamunya itu masuk ke dalamnya.


    Dada Yudi langsung bergetar saat melangkahkan kakinya masuk melintasi pintu. Detak jantungnya semakin kuat memompa aliran darah. Ada rasa cemas yang teramat sangat. Takut membayangkan istrinya, Yuna.


    Setelah sampai di dalam ruang, Pendeta Muda itu menyalakan lampu, untuk menerangi ruangan tersebut. Terlihatlah oleh mata Yudi, di ruang itu ada ribuan pundi-pundi atau semacam periuk kecil yang terbuat dari keramik, lengkap dengan tutupnya. Semua tertata rapi pada rak-rak yang digunakan untuk memajangnya, hingga cukup tinggi. Lantas Pendeta Muda itu menanyakan nama istri Yudi yang sudah hilang.


    "Yuna .... Tsuma no namae wa Yunadesu ...." Yudi mengatakan, nama istrinya adalah Yuna.


    Dengan cepat Pendeta Muda itu menuju lorong rak tempat menaruh pundi-pundi. Yudi masih mengikuti Pendeta muda itu. Namun orang kaya yang sedianya ingin menemani Yudi, ia justru memilih keluar dari bangunan itu. Tidak jadi ikut dan tidak jadi masuk. Ia menunggu di luar gedung.


    Plass .... Kepala Yudi seakan dijatuhi beras satu karung. Ia langsung terjatuh, dengan kunang-kunang yang mengelilingi kepalanya. Yudi mau pingsan, saat ditunjukkan abu kremasi istrinya yang sudah dimasukkan dalam pundi-pundi abu jenazah di ruang penyimpanan.


    Beruntung Pendeta Muda itu langsung memapah tubuh Yudi. Sehingga Yudi tidak sampai pingsan. Lantas perlahan dia bangun, mengamati pundi-pundi abu jenazah istrinya.


    "Nani o mochikaeritaidesu ka?" Pendeta Muda itu menanyakan apakah abu jenazah istrinya akan dibawa pulang.


    "Koko de tsuma no tamashī o yasuraka ni nemura sete kudasai." Yudi mengatakan, biarlah jiwa Yuna tetap tenang di Kuil Agung ini. Yudi pun menyadari, jika dalam catatan rahasia Yuna memang tertulis berkali-kali tentang Kuil Agung. Maka ketika ia menyaksikan abu jenazah istrinya sudah tersimpan baik di kuil itu, tentulah Yudi merasa lebih nyaman dan tenang. Kalau mau dibawa pulang, akan ditaruh di mana? Bukan adatnya orang Jogja menyimpan abu jenazah di rumah.


    Setelah puas memandangi pundi tempat penyimpanan abu jenazah istrinya, dan setelah memanjatkan doa, tentu sesuai keyakinan Yudi, ia pun mengajak keluar Sang Pendeta Muda tersebut.


*******

__ADS_1


    Di Sakai, Rini dan Yuni terlihat senang bisa bergembira bersama nenek Yunadi. Apalagi Yunadi, yang tentu akan gembira karena menemukan keluarganya. Meski Rini dan Yuni tidak bisa bahasa Jepang, namun dengan bahasa-bahasa isyarat, mereka justru tampak lucu dan menjadi bahan tertawaan semua yang ada di rumah Nenek.


    Yudi datang di rumah ibu mertuanya masih agak siang, meski matahari sudah bergeser ke arah barat. Tentu istri dan anaknya langsung menyambut kedatangan Yudi. Dan yang pasti, mereka semua menanyakan kabar tentang Yuna.


    Yudi hanya menarik napas panjang, lantas melepaskannya. Berkali-kali.


    "Bagaimana, Pah?" tanya Rini yang tentu sangat penasaran untuk mendengar kabar berita tentang Yuna.


    "Yuna wa shinda .... Yuna sudah meninggal ...." kata Yudi dihadapan ibu mertuanya, kedua anaknya serta istrinya. Yudi pun menceritakan bagaimana ia bisa menemukan pundi-pundi tempat menyimpan abu jenazah Yuna, yang tentunya karena dibantu oleh orang kaya yang dahulu pernah menyelamatkannya balik ke Jogja.


    Lima orang di ruang rumah keluarga Yuna, semuanya terlihat sedih. Semuanya merasa kehilangan Yuna. Terutama Yunadi, yang meneteskan air mata, menangisi ibunya.


*******


    Dua orang anak Yudi, yaitu Yunadi dan Yuni sudah menjadi remaja hebat. Mereka telah mendapatkan gelar sarjana dari perguruan tinggi terkenal dalam usia tiga belas dan empat belas tahun. Sarjana seni rupa termuda yang pernah diluluskan oleh perguruan tinggi seni ternama di Prancis tersebut. Pasti orang tuanya sangat bangga menyaksikan kehebatan anaknya itu.


    Tidak hanya sekadar lulus Sarjana, lukisan-lukisan Yuni dan Yunadi banyak terpampang di galeri-galeri di Eropa. Pasti menjadi koleksi para penggemar lukisan yang cukup ternama. Dan tentu, nama Yunadi dan Yuni, disebut-sebut sebagai pelukis kembar.


    Yudi's Gallery semakin ramai. Koleksinya semakin penuh. Terutama pada ruang galeri lantai dua. Lukisan Yuni dan lukisan Yunadi, sudah memenuhi ruangan tersebut. Tentu dengan lukisan-lukisan yang indah.


    Yudi bangga pada anak-anaknya. Apalagi Rini, ia merasa sudah menjadi ibu yang sukses. Yayan dan Silvy sudah menjadi pengusaha anggrek yang sukses. Sedangkan Yuni dan Yunadi sudah menjadi sarjana seni dan sudah menghasilkan karya-karya yang luar biasa.


    Rini dan Yudi, tersenyum bahagia. Menikmati hidup dengan keindahan dan kesuksesan anak-anaknya.


----- TAMAT -----

__ADS_1


__ADS_2