
PUKUL 08.00 dua bus pariwisata besar sudah standby di depan hotel. Peserta reuni beserta keluarganya sudah masuk ke dalam bus. Pesrta sudah dibagi ke dalam dua bus. Handoyo mengabsen teman-temannya yang masuk di bus satu. Sedangkan Jojon membantu mengabsen teman-temannya yang ada di bus dua. Rombongan bus dua sudah lengkap. Bus satu belum beres. Hanya Yudi dan Rini yang belum terlihat.
"Yudi ...! Yudi ...!" teriak Handoyo memanggil Yudi.
Yang dipanggil masih berlari keluar dari lobi hotel. Tentu bersama Rini. Mereka terlambat masuk bus.
"Yudi ...! Kamu di bus sini!" kata Handoyo lagi.
"Siap bos .... Maaf, bos ...." sahut Yudi.
"Gimana sih, Yud ..., kok malah telat ..., sini duduk di depan. Mendampingi Pak Sopir." kata Handoyo lagi.
"Horeee ...! Asyik ..., asyik ...!" sorak teman-temannya saat Rini dan Yudi masuk bus.
"Ehm ..., ehm ...!" ada juga yang pura-pura berdehem.
"Icik iwir ...! Suwit ..., suwiiiit ....!" berbagai celoteh keluar menggoda Rini dan Yudi yang datang terlambat bersamaan.
Rini tersipu malu, pipinya langsung memerah. Demikian juga Yudi. Beruntung Yudi langsung duduk di dekat sopir, sehingga tidak melewati teman-temannya yang iseng meledek. Tapi bagi Rini, dia harus berjalan masuk.
"Sini, Rin ..., duduk sama aku." kata Anik, yang kursi di sampingnya masih kosong.
"Ya, Nik ..., makasih." jawab Rini yang langsung menuju tempat duduk di samping Anik.
"Kok bisa bareng Yudi?" tanya Anik yang kepo.
"Kebetulan tadi ketemu di lift." jawab Rini, sedikit berbohong pada temannya.
"Oooo ...." Anik menyahut.
"Ini kita mau ke mana?" tanya Rini.
"Mau nganter manten ...." jawab Anik berseloroh.
"Ach, yang bener ...?! Mana mantennya?!" tukas Rini.
"Mantennya kamu .... Hahahaha ...!" Anik tertawa.
"Dasar, eloh, Nik ...!" Rini memukul pundak Anik.
"Enggak, Rin ..., kita mau ke tempatnya Yudi .... Makanya, tuh, Yudi di depan. Dia jadi penunjuk jalannya." kata Anik membenarkan tujuannya.
__ADS_1
"Ach, yang bener ...?! Ngapain ke rumah Yudi?" kini gantian Rini yang kepo. Ia jadi penasaran, ada apa sebenarnya di tempat Yudi.
"Piknik, Rin .... Mumpung kita di Jogja, kita muter-muter. Termasuk ke tempatnya Yudi, ke Kampung Nirwana." jelas Anik.
"Bukannya rumah Yudi di Magelang?" tanya Rini.
"Sudah pindah, ya .... Dia jadi pegawai di Bantul." jawab Anik.
"Oooo ...." Rini melongo, baru tahu kalau Yudi tinggal di Bantul.
Ya, sejak lulus SMA, Yudi melanjutkan kuliah di ASRI Yogyakarta, kemudian bekerja di Dinas Pariwisata. Akhirnya ia pun menetap di Jogja, di daerah Bantul, yang kini jadi tempat tinggalnya.
Bus terus melaju ke arah Bantul. Yudi menunjukkan arah jalan kepada Pak Sopir. Peserta menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan.
"Lurus saja, Pak .... menuju arah Parangtritis." kata Yudi menunjukkan arah pada sang sopir.
"Ya, Pak." jawab Pak Sopir yang masih muda.
"Pelan sedikit, Pak .... Maju sedikit, nanti di depan belok ke kiri. Pelan saja, karena jalannya agak kecil." kata Yudi, sembari tangannya menunjukkan arah.
"Siap ...." Pak Sopir membelokkan bus, masuk ke jalan menuju Kampung Nirwana.
"Di depan ada lapangan, nanti masuk saja. Kita parkir di lapangan." kata Yudi lagi.
Di lapangan, wisatawan ini disambut oleh mobil VW kuno yang antik. Ada VW combi, ada VW safari, ada juga VW kodok. Beberapa VW kabinnya dibuka. Warna-warni, terlihat menarik. Tentu para wisatawan merasa kagum dan senang. Ya, Mobil-mobil VW ini memang disediakan untuk jalan-jalan ke obyek wisata di Kampung Nirwana. Bus tidak bisa keliling kampung. Biasanya oleh pengelola, mobil pribadi juga diparkirkan di lapangan, sedangkan untuk keliling kampung, para wisatawan diminta untuk menggunakan mobil VW yang dikelola oleh organisasi Kampung Nirwana. Untuk keliling seluruh kampung hanya dikenai ongkos bensin sebesar lima puluh ribu rupiah. Membayarnya tidak ke sopir, melainkan sudah ada bagian tiket tersendiri. Tujuannya untuk menghidupi ekonomi semua masyarakat di Kampung Nirwana, memberi rejeki kepada semua orang. Tetapi yang terpenting, keberadaan VW ini lebih memberikan daya tarik dan pesona tersendiri, menambah eksotisnya Kampung Nirwana. Ada kenangan yang bisa dibawa pulang. Setidaknya, para wisatawan ini bisa berswafoto alias selfie di mobil antik.
"Bapak, Ibu, teman-teman semuanya, kita naik mobil VW ini. Silahkan pilih, masing-masing mobil bisa diisi tiga atau empat orang." kata Yudi yang meminta teman-temannya naik ke mobil VW antik.
"Siaaaap ...!"
"Ayo ..., ayo ..., ayo ...!" sambut teman-temannya antusias.
Para peserta reuni itu pun langsung pada naik ke VW yang sudah siap mengantar mereka, untuk berkeliling kampung, berwisata ala Kampung Nirwana. Mereka memilih warna dan jenis VW sesukanya. Dan yang tidak ketinggalan, mereka pada swafoto dulu. Yang penting selfi.
"Mas Yudi ..., kita ke mana dulu?" tanya sopir VW yang paling depan.
"Keliling kampung dulu, setelah itu menyaksikan jathilan, kemudian ke Batik Nirwana, dilanjutkan ke Taman Awang-Awang." jawab Yudi.
"Ndak mampir ke rumah Mas Yudi?" tanya sopir itu lagi.
"Nggak usah, nanti biar yang pengin saja." sahut Yudi.
__ADS_1
"Oke, bos ...! Jalan ...!" kata sopir VW paling depan yang langsung menjalankan kendaraannya.
Barisan mobil VW itu pun meluncur mengelilingi jalan-jalan kampung. Wisatawan melihat ke kanan dan ke kiri. Sepanjang jalan penglihatannya dimanjakan oleh indahnya bangunan-bangunan rumah penduduk yang tertata rapi dan indah. Arsitekturnya unik. Walaupun hanya rumah kampung, tetapi tatanan arsitek yang menarik, bisa memberikan obyek yang artistik. Tentu para wisatawan berdecak kagum melihat keindahan kampung tersebut.
Hanya sekitar lima belas menit, barisan mobil VW yang mengantar wisatawan teman-teman Yudi itu berkeliling. Selanjutnya, VW berhenti di depan gapura yang terbuat dari batu alam, seperti layaknya peninggalan jaman Hindu-Buda. Seperti gapura candi, tetapi sudah didesain modern. Dari luar gapura, terdengar suara gamelan yang ditabuh.
"Bapak, Ibu ..., silakan turun, dan masuk ke pelataran dalam. Bapak ibu bisa menyaksikan tarian khas anak-anak Kampung Nirwana. Masyarakat sini menyebut jathilan. Kalau di tempat lain dinamakan kuda lumping. Monggo, silakan ...." kata sang sopir VW.
Penumpang turun, lantas menuju gapura, masuk ke pelataran yang lumayan luas. Semua pelatarannya diberi lantai batu alam. Di sisi kanan gapura terdapat dingklik kursi panjang yang terbuat dari kayu, untuk duduk bagi para tamu yang menyaksikan tarian. Di samping kiri tanahnya agak tinggi, dibuat trap, untuk tempat para penabuh gamelan. Ada sekitar enam anak. Di pelataran, ada enam anak dengan pakaian tarinya, menunggang kuda lumping, mereka menari jathilan. Di belakang penari jathilan, ada dua anak yang satu kurus kecil, dan yang satu lagi gemuk besar, dengan pakaian yang sama para penari, mereka memakai topeng. Gerakannya lucu, mengundang gelak tawa para pengunjung. Dua anak itu disebut penthul tembem. Tari jathilan ini sederhana. tetapi asyik untuk ditonton. Yang unik adalah, semua dilakukan oleh anak-anak.
Sebenarnya tempat ini tidak hanya untuk tari jathilan, melainkan juga untuk tari-tari yang lain serta pentas teater. Setiap sebulan sekali ada pementasan teater yang dilakukan oleh para remaja.
Selesai menyaksikan tari jathilan, mereka kembali naik VW, untuk melanjutkan perjalanan wisatanya. Hanya berjalan sekitar lima menit, mereka sampai di rumah dengan pelataran agak luas. Rumah itu hanya berdinding bata merah yang tertata rapi, tetapi arsiteknya menata sangat artistik, nampak indah seperti bangunan di negeri dongeng. Ada pilar-pilar yang terbuat dari batu alam. Jika di Bali tiang-tiang rumah diikat dengan kain warna putih hitam, di Kampung Nirwana, pilar-pilar batu itu dibalut kain batik berprodo emas dan perak.
"Bapak, Ibu ..., silakan turun. Kita sampai di Batik Nirwana. Batik khas dari Kampung Nirwana. Bapak ibu bisa belajar membatik dan belanja hasil batik yang aduhai. Monggo, silakan ...." kata sang sopir VW.
"Wao .... Menakjubkan!" kata seseorang.
"Bapak ibu, waktu di Batik Nirwana sekitar satu jam, silakan berbelanja sepuasnya. Kami balik ke lapangan untuk menjemput tamu yang lain. Nanti setelah satu jam, kami akan jemput bapak ibu untuk melanjutkan perjalanan ke obyek wisata Taman Awang-awang. Bapak ibu yang tidak membatik juga bisa jalan-jalan ke rumah penduduk, ataupun menyaksikan pemandangan alam." begitu kata sang sopir, yang selanjutnya meninggalkan para tamunya.
"Mari, Bapak, Ibu .... Belajar membatik di sini." kata seorang gadis yang cantik menghampiri para tamunya.
"Kami bisa belajar membatik?" tanya beberapa peserta wisata.
"Bisa, Ibu .... Silakan, nanti kami ajari." lantas gadis itu menyodorkan kain-kain yang sudah dipotong kecil-kecil.
Beberapa ibu langsung menerima kain potongan, kemudian duduk bersila di pendopo, akan belajar membatik. Di tempat tersebut sudah ada kompor kecil yang menyala, di atasnya ada wajan kecil berisi malam dan canting.
"Bapak-bapak, silakan melihat batik hasil karya warga Kampung Nirwana. Batiknya bagus-bagus, lho .... Harganya murah. Ada yang sudah jadi baju. Monggo, silakan masuk." gadis cantik yang lain mempersilakan para tamunya untuk masuk ke showroom Batik Nirwana. Beberapa orang masuk ke ruang showroom tersebut, melihat-lihat batik yang terpajang. Semuanya bagus. Ada yang berupa kain lembaran, ada yang sudah jadi baju, ada juga blus maupun daster. Bahkan ada pula batik yang dibuat jas. Yang paling banyak adalah daster yang tergantung di pajangan.
Sementara itu, di pendopo, ibu-ibu belajar membatik. Sulit tapi menyenangkan. Profesi yang menantang untuk dicoba. Kelihatannya gampang, tetapi .... Ada yang tumpah, ada yang tidak bisa mengangkat canting, ada yang macet. Pokoknya menjadi bahan tertawaan semua peserta, termasuk menertawakan dirinya sendiri.
Sementara di ruang pamer, bapak-bapak memilih baju, memilih kaos, memilih celana, bahkan ada juga yang beli blangkon. Di dalam showroom juga terdapat hiasan-hiasan dinding dari batik, karya remaja Kampung Nirwana. Ada yang bergambar ikan koi, ada yang bergambar cenderawasih dan berbagai gambar menarik. Warnanya pun cerah, indah dan menarik. Sangat cocok dipajang di dinding ruang tamu. Harganya murah, hanya tujuh puluh lima ribu rupiah. Selain batik ada juga topeng dari kayu dan wayang kulit. Itulah produk-produk unggulan hasil karya masyarakat dari Kampung Nirwana.
Setelah satu jam, mobil-mobil VW bermunculan di depan Batik Nirwana. Tidak kosong, melainkan membawa penumpang yang juga diantar ke tempat tersebut. Seperti yang sudah dilakukan pada wisatawan teman-teman Yudi, para sopir VW itu pun mengatakan hal yang sama.
"Bapak, Ibu ..., silakan turun. Kita sudah sampai di Batik Nirwana, Batik khas dari Kampung Nirwana. Silakan berbelanja dan belajar membatik, nanti satu jam lagi akan kami jemput." kata sopir VW yang seakan sudah dilatih untuk berkomunikasi dengan para tamu.
Setelah para penumpangnya turun, mereka pun siap untuk mengantar rombongan reunion para alumnus SMA temannya Yudi, untuk melanjutkan perjalanannya.
"Bapak, Ibu dari rombongan reunion alumnus ..., silakan naik. Kami akan mengantar Bapak Ibu ke Taman Awang-awang." kata sang sopir yang sudah siap untuk berangkat lagi.
__ADS_1
Begitulah aktivitas di Kampung Nirwana. Sendi kehidupan ekonomi berputar dari wisata, ekonomi kreatif, para pengrajin, para penjual jasa, dan para seniman. Masyarakatnya pun menjadi makmur. Tentu untuk membangun kampung seperti ini dibutuhkan pemikiran yang cerdas dan visioner. Pemikiran yang tidak mementingkan hak pribadi, tetapi pemikiran untuk maju, meskipun yang menikmati adalah anak cucu. Orang yang bisa melakukan demikian, pastilah orang cerdas dan bijaksana.
Selanjutnya, barisan mobil VW berjalan menaiki bukit yang terletak di sisi selatan Kampung Nirwana, menuju Taman Awang-awang, untuk menikmati makanan khas Yogyakarta sambil menyaksikan keindahan alam.