
JAM 05.00 pagi, suara kokok ayam alas yang melengking keras dari belakang rumah Yudi, membangunkan tidur Rini. Rini kaget, mencari Yudi yang semalam menemani di sampingnya, sudah tidak ada di kursi yang digunakan tidur semalam. Rini langsung beranjak dari kasur, membuka pintu mencari Yudi. Mata Rini langsung terbelalak saat melihat Yudi di dapur sedang memasak. Di rumahnya, belum pernah melihat suaminya masuk dapur, apa-apa tinggal bilang, semua langsung tersaji. Tetapi di sini, di rumah Yudi, ia menyaksikan Yudi sibuk memasak. Ia pun langsung menuju dapur, menghampiri Yudi, berniat untuk membantu.
"Yaampun, Yudi, kamu rajin sekali .... Sini, biar aku yang memasak!" kata Rini yang mulai membantu Yudi.
"Tidak usah, Rini .... Aku sudah biasa. Toh ini cuma menggoreng telor untuk sarapan."
"Eh, ada yang perempuan kok tidak ikut masak, laki-lakinya yang duduk, perempuannya yang memasak." sahut Rini yang mencoba meminta spatula yang dipegang Yudi.
"Tidak apa-apa, Rini .... Aku sudah biasa. Rini mandi saja, biar terlihat cantik. Nanti kita balik ke hotel bersama bapak ibu pulang." kata Yudi yang tidak mau dibantu.
"Nggak mandi juga masih terlihat cantik, tauk .... Hehehe ...." sahut Rini sambil mencubit pinggang Yudi, lantas meninggalkan Yudi masuk ke ruangan kamar untuk mandi, menuruti perintah Yudi.
Ya, Yudi sudah biasa masak sendiri. Meski hidup sendiri, ia jarang jajan. Justru ia selalu mengajari anak-anak yang datang bermain dan belajar di rumahnya agar tidak jajan, uangnya ditabung, besok untuk biaya kuliah, atau beli laptop. Maka ia pun akan menjalankan setiap apa yang diajarkan kepada anak-anak di kampung binaannya. Bahkan tidak hanya kepada anak-anak, melainkan juga kepada remaja dan orang-orang tua, agar berhemat.
Jam 07.00, orang tua Yudi sudah berada di tempat makan. Rini bersama Yudi langsung ikut duduk. Mereka sarapan bersama, menikmati nasi putih, bakmi goreng dan telor dadar. Di keranjang buah terdapat pisang raja masak pohon satu sisir, kuning ranum.
"Ini yang masak Yudi semua?" tanya Rini.
"Ya, iya lah ...!" sahut Yudi cepat.
"Iiiih ...! Sombong amat ...!" kata Rini sambil mencubit pinggang Yudi.
"Aukh ...!" Yudi yang dicubit langsung menjerit, walau tidak sakit.
"Eee .... Sudah, ayo cepat sarapan. Sudah siang." kata ibunya mengingatkan anaknya yang masih bergurau.
"Ya, Ibu ...." kata Rini yang malu diingatkan ibunya Yudi.
Mereka berempat menikmati sarapan pagi. Meski sederhana tetap terasa nikmat. Apalagi bagi Rini, menikmati masakan orang yang selama ini ia kagumi. Walau saat menjadi teman di SMA tidak pernah terucap, namun Rini sebenarnya sudah menaruh hati, hanya nasib yang harus memisahkan, Rini terlanjur harus menikah dengan laki-laki berada, yaitu Hamdan. Dan kini, ketika ia tahu, ketika ia melihat dengan mata kepala sendiri, menyaksikan laki-laki yang ia kagumi itu adalah orang yang sangat baik, orang yang berbakti kepada orang tua, orang yang sanggup memberikan kasih sayang kepada sesama, laki-laki yang bisa memasak untuk keluarganya, dan kini Rini menikmati hasil masakan orang yang dikagumi itu, rasanya benar-benar istimewa. Tentu rasa kagum di hati Rini semakin terpahat hingga lubuk hatinya. Tidak hanya sekedar kagum, tetapi angan Rini sudah mulai berandai-andai, seandainya aku bisa di dini terus, andai aku bisa bersama Yudi selamanya, andai aku bisa menjadi tuan putri di istana yang mirip kerajaan kuno ini, andai aku bisa menjadi .... Ach, banyak sekali yang diandaikan oleh angan Rini.
"Pak, Mbok ..., kalau sudah beres semua, kita langsung berangkat. Saya dan Rini ikut sampai Jogja, sampai Grand Hotel. Karena kami harus berkumpul lagi dengan teman-teman." kata Yudi pada orang tuanya.
"Ya, Le. Sudah beres semua, tinggal berangkat." kata bapaknya.
"Nak Rini ikut kami saja ke Magelang, nanti lihat Borobudur." kata ibunya Yudi.
"Ya, Bu. Terimakasih, besok saya sudah pulang, kok." jawab Rini.
__ADS_1
"Lho ..., kok tergesa .... Di sini saja dulu, gak usah pulang." sahut ibu Yudi.
"Penginnya begitu, Bu .... Besok lain waktu saya main ke sini lagi. Boleh kan, Bu?" kata Rini.
"Walah, ya boleh to, Nak Rini, dengan senang hati. Di sini terus, saya juga senang, kok." sahut ibunya Yudi yang gembira mendengar kata-kata Rini.
"Wes, ayo berangkat ...!" kata Yudi.
Mobil Espass silver keluar dari garasi rumah Yudi yang berada di bagian belakang, disopiri oleh Bagas, tetangga Yudi yang sudah biasa membantu untuk mengantar maupun menjemput orang tua Yudi. Bahkan sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Meski mobil itu milik Yudi, tetapi sudah dipasrahkan kepada Bagas untuk kegiatan operasional setiap hari. Biasanya dipakai mengantar ataupun mengambil berbagai barang kebutuhan warga di kampungnya. Makanya mobil itu sudah tidak mulus lagi, karena sebagi sarana transportasi umum yang dipakai orang sekampung.
Mobil melaju dari Bantul menuju Jogja. Bagas menyetir tidak terlalu cepat, karena kalau pagi hari jalan Bantul arah Jogja sangat ramai. Tentu Bagas harus berhati-hati. Sekitar tiga puluh menit, Bagas sudah sampai di halaman Grand Hotel.
Yudi dan Rini turun dari Mobil. Yudi menyalami ibu dan bapaknya serta mencium tangannya, kebiasaan sejak kecil. Rini ikut menyalami orang tua Yudi, bahkan juga ikut-ikutan mencium tangannya. Ibu Yudi turun dari mobil, memeluk dan mencium Rini. Wanita tua itu tersenyum, tetapi meneteskan air mata. Ada sesuatu yang aneh. Ada hal yang dirasa lain dari sosok Rini. Seakan ia merasa takut kehilangan wanita cantik teman anaknya itu. Ibu tua itu takut ditinggal oleh wanita yang bernama Rini. Walau hanya sebentar ketemu, tetapi Rini terasa sudah melekat dalam benak ibunya Yudi. Meskipun ia juga sudah tahu jika Rini sudah berkeluarga. Tetapi bagi wanita tua itu merasa ada sesuatu yang terikat. Entahlah, perasaan apa itu.
"Hati-hati ya, Nak Rini .... Jaga diri baik-baik." kata wanita tua yang masih terlihat gurat cantiknya itu, sambil memeluk erat tubuh Rini.
"Iya, Ibu .... Mohon restunya, Bapak dan Ibu." jawab Rini dalam pelukan ibunya Yudi.
"Sering-sering saja ke Jogja, mampir ke rumah Yudi." kata ibunya Yudi.
Tidak hanya ibunya Yudi yang merasakan kesedihan. Demikian juga Rini. Walau hanya sebentar bersama wanita tua itu, tetapi perasaannya seakan sudah melekat kuat. Ia merasa seakan wanita tua itu adalah mertuanya yang penuh perhatian dan kasih sayang dengan menantunya. Seorang ibu yang sangat sayang dengan anaknya. Ibu yang bisa memahami dan menyelami hati anaknya. Ibu yang bisa memberikan kemesraan. Ada keanehan yang dirasakan dalam hati Rini, yaitu kasih sayang wanita tua yang mendambakan menantu seperti dirinya. Sayang, Rini tidak bisa memiliki mertua seperti wanita yang sedang memeluknya. Tanpa terasa, Rini pun meneteskan air mata. Air mata kesedihan, air mata kekecewaan karena tidak bisa memiliki selamanya, air mata haru.
Tangan Rini melambai, saat kedua orang tua itu meninggalkan halaman hotel. Matanya terus memandangi kepergian mobil itu, hingga hilang di jalan keluar hotel.
"Eeeh ..., Rin .... Gimana keadaanmu?!" Anik berteriak dari ruang lobi hotel, saat melihat Rini yang masih berdiri di depan lobi.
"Hai, Nik .... Baik-baik saja, Nik .... Gak papa." sahut Rini. Ia langsung menempelkan lengan bajunya di pipi, mengusap air mata, lalu masuk ke lobi menemui Anik.
"Sudah sehat, kan? Ngapain pingsan segala?" tanya Anik.
"Gue gak ngerti, Nik .... Tahu-tahu sudah terbujur di tempat tidur. Mungkin diangkat sama anak-anak yang ada tinggal di rumah Yudi." jawab Rini yang seakan tidak tahu.
"Kurang makan, kali?" tanya Anik.
"Gak juga, Nik. Orang gue habis makan bersama teman-teman. Malah gue habis paling banyak." sahut Rini.
"Ya ampun, Rini .... Kamu aneh banget! Ini baju siapa yang kamu pakai, Rin?" tanya Anik sambil memandangi dan memegang pakaian yang dikenakan Rini, kemeja laki-laki yang kebesaran.
__ADS_1
"Hehe .... Bajunya Yudi." jawab Rini sambil meringis.
Ya, Rini memang mengenakan baju kotak-kotak warna merah oranye dan hijau, dengan dasaran kuning. Tentu kebesaran, karena itu memang baju milik Yudi. Tapi serasi dengan kulit Rini yang putih bersih, sehingga Rini justru kelihatan lebih cantik. Dan saat berdiri di depan cermin, Rini sendiri melihat dirinya sangat cantik mengenakan baju itu. Dan tentu, dirinya senang mengenakan baju orang yang dicintai.
"Pantesan kowor-kowor kebesaran .... Celananya, juga punya Yudi?!" selidik Anik lagi sambil menyentuh celana yang dikenakan Rini.
"Hehe .... Iya." jawab Rini masih meringis.
"Ih, jangan-jangan ****** ******** juga pakai punya Yudi?!" tanya Anik yang semakin penasaran.
"He, enggak lah ...! Ya gak bisa lah, Nik! Modelnya beda!" sergah Rini.
"Kamu pakai pakaian Yudi, nanti kalau sampai hamil tahu rasa ...!" ledek Anik.
"Hamil?! Beneran Nik ...! Gue mau!" jawab Rini yang justru kegirangan. Maklum, sudah hampir lima puluh tahun Rini belum pernah hamil.
"Lha, pakaian kotormu mana?" selidik Anik lagi.
"Waduh ...! Ketinggalan di rumah Yudi, Nik! Bagaimana ini?!" Rini pura-pura kaget. Padahal pakaian kotor Rini sengaja ditinggal di kamar Yudi.
"Blais ...! Nanti kamu diguna-guna sama Yudi, kamu akan terkintil-******, tergila-gila sama Yudi!" Anik menakut-nakuti Rini.
"Ah .... Gak diguna-guna aja gue udah seneng kok, sama Yudi .... Hahaha ...." sahut Rini yang justru membalik kata-kata Anik. Padahal memang sebenarnya, Rini senang dengan Yudi.
"Dasar!! Gile lo, Rin!" kata Anik.
"Habis, loh ngomongnya ngaco mlulu! .... Hehehe ...." sahut Rini.
"Jangan-jangan, semalem kamu tidur sama Yudi, Rin?!" selidik Anik lagi.
"Iih .... Ngaco kamu, Nik." sergah Rini.
"Sudah, ayo kita masuk ruang, ada acara closing ceremony." kata Anik yang langsung menggandeng tangan Rini masuk ke ruang aula.
Acara reuni ditutup dengan saling bersalaman dan berpelukan. Saling mengajak mampir ke rumah. Saling mengajak main ke kota masing-masing. Dan tentu, ada rindu yang tertinggal di hati masing-masing alumnus.
Semoga besok lain waktu dapat dilaksanakan reuni kembali.
__ADS_1