KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 40: CERITA ANAK TENTANG KEKASIH IBUNYA


__ADS_3

    Rini sedang duduk di ruang keluarga, sambil menonton siaran berita di televisi, saat Mas Jo datang dari bandara menjemput Silvy. Silvy yang punya banyak cerita saat berada di rumah Yudi, langsung masuk ke ruang keluarga, menemui mamahnya.


    "Mah ...!" teriak Silvy dari teras.


    "Iya, Mamah di sini, sayang ...." sahut Rini, ibunya.


    "Mah, Silvy seneng banget tinggal di Jogja." kata Silvy yang baru menemui ibunya.


    "Sayang ..., tasnya masukkan kamar dulu. Cuci kaki, cuci tangan, cuci muka. Bila perlu ganti baju. Baru cerita ke mamah. Silvy baru datang dari luar kota, banyak kuman penyakit, sayang ...." perintah Rini pada anaknya.


    "Eh ..., iya, Mah ...." Silvy menurut.


    Lantas masuk ke kamarnya, walau jarang ditempati, tapi masih ada pakaian yang tersimpan di lemari.Cepat Silvy membersihkan badan dan berganti pakaian. Tentu karena ingin segera bercerita kepada ibunya. Setelah selesai, langsung menemui ibunya yang masih menunggu di ruang keluarga.


    "Mamah sudah sehat, kan?" tanya Silvy yang sudah duduk di samping ibunya. Lantas mengangkat cangkir dan meminum teh milik ibunya.


    "Eh, Silvy .... Itu teh punya Mamah. Sana minta Mak Mun sendiri. Kok main serobot punya Mamah?!" tegur ibunya.


    "Mak Mun ..., minta bikinin teh dua cangkir!" teriak Silvy.


    "Iya, Neng .... Sebentar." jawab Mak Mun dari dapur.


    "Mah, aku mau tinggal di Jogja terus." kata Silvy pada ibunya.


    "Ih, kok begitu? Terus suami kamu gimana? Pekerjaan Silvy di Jakarta bagaimana?" tanya ibunya.


    "Habis, enakan tinggal di Jogja, Mah .... Nyaman, tenteram, damai ..., tidak semrawut kayak Jakarta." sahut Silvy.


    "Sivy itu menilainya dari sisi mana ...? Jangan asal menentukan, dong. Banyak pertimbangannya. Meski Jakarta seperti ini, nyatanya orang-orang dari daerah pada berdatangan menuju Jakarta. Mereka bilang Jakarta itu enak. Nah, benar yang mana sekarang?" papar ibunya.


    "Iya sih ..., kalau dari penghasilan memang besar di Jakarta. Tapi kalau dari kenyamanan kayaknya enak di Jogja deh, Mah." bantah Silvy.


    "Trus, kalau Silvy kenapa pilih tinggal di Jogja?" tanya ibunya.


    "Habis ..., di Jogja ada Papah yang baik hati .... Hehe ...." kata Silvy yang langsung tertawa.


    "Papah ...? Papah siapa ...?!" tanya ibunya. Rini pura-pura tidak tahu.


    "Ih, Mamah .... Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Ya, Papah Yudi, lah .... Hehe ...." kata Silvy yang meledeki ibunya.


    "Eh, Silvy ..., gak baik begitu. Mas Yudi itu belum menikah, ya .... Jangan menjatuhkan martabatnya, masak masih perjaka dipanggil papah. Keterlaluan kamu, Silvy ...!" sahut ibunya.


    "Tapi Mas Yudi gak marah saat Silvy panggil Papah. Abis, dia orangnya baik, Mah. Halus dan penuh kasih sayang." kilah Silvy.


    "Dari mana Silvy tahu? Baru dua hari ketemu kok sudah bisa ambil keputusan." sergah ibunya.


    "Iya, dua hari di sana, Silvy sudah bisa menilai. Papah Yudi orangnya baik, para tetangga menghormat semua, di rumahnya banyak anak yang belajar bersama. Bahkan Silvy juga ikut mengajari anak-anak, kemarin." Kata Silvy.


    "Masak? Silvy ikut ngajar anak-anak di rumah Mas Yudi?" tanya ibunya yang tidak percaya.


    "Iya, Mah .... Kalau gak percaya telepon Papah Yudi. Anak-anak di sana juga banyak yang memanggilnya Pak Yudi, begitu .... Makanya Silvy ikut-ikutan." kilah Silvy.


    "Apa bisa Silvy mengajar? Terus ngajar apaan?" desak ibunya.


    "Ya ..., sekedar cerita tentang Kota Jakarta, Mah ...." jawab Silvy.

__ADS_1


    "Uh ..., kayak begitu kok ngajar. Itu sih, ngobrol namanya .... Hehe ...." bantah ibunya.


    "Ih, Mamah .... Tapi mereka senang, Mah. Saat Silvy cerita, mereka sangat antusias mendengarnya. Anak-anak pada melongong. Terkesima. Berarti Silvy bisa jadi guru ya, Mah .... Hehe ...." kata Sivy yang membanggakan dirinya.


    "Terus, ngapain lagi di sana?" tanya ibunya yang pengin menyelidik anaknya. Tentu terkait dengan Yudi.


    "Hehe ..., Mamah penasaran, ya ...." ledek Silvy pada ibunya.


    "Ih, kamu itu lho ...." kilah Rini yang langsung mencubit pinggang anaknya.


    "Mah, di rumah Papah Yudi, ada gadis dari Jepang namanya Mis Yuna." kata Silvy.


    "Mamah sudah tahu .... Memangnya ngapain orang Jepang itu?" sergah ibunya.


    "Ih, Mamah .... Silvy dekat terus sama Mis Yuna, Mah. Orangnya baik banget. Kalau pas kerja, orangnya sangat serius. Tapi kalau sudah bercanda, orangnya lucu banget. Sering godain Silvy .... Hihi, Silvy jadi malu. Oh, iya ..., Mamah dapat salam dari Mis Yuna, dia bilang semoga Mamah cepat sembuh." kata Silvy.


    "O ya, terima kasih .... Terus, Mis Yuna kerjanya sama Mas Yudi?" selidik ibunya.


    "Hee .... Mamah cemburu ya ...." ledek Sylvy.


    "Ih, kamu ...." ibunya sekali lagi mencubit pinggangnya.


    "Enggak lah, Mah .... Mis Yuna kerjanya di gasebo belakang. Orangnya serius banget. Kalau pas kerja tidak mau diganggu. Kalau Papah Yudi, kerjanya di pendopo luar, lebih senang menyendiri." jawab Silvy.


    "Oo .... Mamah kira mereka berduaan terus." sahut Rini.


    "Mamah itu sukanya negatip tingking. Suudon. Berprasangka. Gak baik, Mah ...." kata Silvy yang menasehati ibunya.


    "Iya, sayang ...." sahut ibunya sambil mengelus rambut Silvy.


    "Silvy, jangan panggil Papah Yudi lagi .... Panggil Pak saja .... Pak Yudi. Gak baik begitu, nanti kalau Papah kamu dengar malah bikin masalah. Kalau panggil Pak, itu panggilan orang Jogja, kalau Pah itu orang Jakarta. Jadi ..., Silvy panggilnya cukup Pak Yudi. Lebih terhormat sebagai priyayi Jogja. Gitu, ya sayang ...." pinta Rini pada anaknya.


    "Iya, Mah .... Maaf, Mah .... Saya akan panggil Pak Yudi, begitu. Toh dia seusia Mamah, jadi pantas kalau dipanggil Pak. Okey, Mah ...." jawab Silvy.


    "Eh, tadi Silvy bilang Pak Yudi pelukis hebat? Apa Silvy tahu?" tanya Rini yang penasaran dengan anaknya.


    "Iya. Sepeti kata suami Silvy, orang itu kalau melukis pasti detail. Benar, Mah .... Silvy lihat sendiri lukisannya." jawab Silvy.


    "Lukisan apa?" tanya ibunya.


    "Lukisan Mamah." sahut Silvy.


    "Hah?! Lukisan Mamah bagaimana?!" Rini terkejut, jangan-jangan anaknya masuk ke kamar Yudi.


    "Iya, lukisan yang Mamah pesan. Lukisan tentang Mamah dan Pak Yudi." tutur Silvy.


    "Lukisan yang kayak apa, sih?" Rini penasaran dengan cerita anaknya.


    "Ini, Mah ...." kata Silvy yang kemudian membuka galeri foto di HP.


    "Oooh .... Bagus sekali .... Ini posisi saat Mamah reuni yang lalu .... Kok bisa persis, ya?" Rini yang melihat foto lukisan itu terkagum. Baru kali ini ia melihat lukisan dirinya bersama Yudi. Dasar Yudi tukang curi, melukis orang tanpa bilang-bilang.


    "Iya, Mah .... Kayak foto. Bagus banget, deh." jelas Silvy.


    "Lha, sekarang lukisannya mana?" tanya ibunya.

__ADS_1


    "Gak boleh saya bawa. Katanya mau buat pameran di galeri seni rupa." jawab Silvy.


    "Uh, dasar Yudi kurang ajar. Masak melukis orang lain kok mau dipamer-pamerkan. Nanti kalau dibeli kolektor seni bagaimana?" Rini khawatir.


    "Gak papa, Mah .... Malah kalau dibeli kolektor seni, Mamah bisa jadi terkenal .... Kayak Monalisa .... Hehe ...." gurau Silvy.


    "Uh, kamu itu, lho ...." kata Rini sambil mencubit anaknya.


    "Eh, Mah .... Boleh Silvy tanya?" kata Silvy.


    "Mau tanya apa lagi, Sayang?" sahut ibunya.


    "Dulu waktu SMA, Mamah dekat nggak sama Pak Yudi?" tanya Silvy.


    "Memangnya kenapa?" tanya ibunya.


    "Mah, aku kok merasakan ada yang lain tentang Pak Yudi. Kayaknya Silvy ini sangat dekat sekali sama Pak Yudi. Makanya Silvy menganggap Pak Yudi itu sebagai papahnya Silvy sendiri. Kedekatan saya sama Pak Yudi itu hampir sama saat Silvy bersama Mamah begini ini." tutur Silvy.


    "Ah, itu hanya perasaan Silvy saja." jawab ibunya.


    "Tidak, Mah .... Pak Yudi itu kalau dengan Silvy sepertinya penuh kasih sayang. Silvy merasa seakan Pak Yudi itu mencurahkan cintanya sebagai seorang ayah kepada anaknya. Dia baik banget kepada Silvy, Mah." bantah Silvy.


    "Silvy .... Jaman SMA Mamah dan Pak Yudi, itu berbeda dengan jaman Silvy SMA. Jaman dulu gak ada pacar-pacaran seperti sekarang ini. Paling ya hanya berteman biasa saja. Anak-anak jaman dulu jarang mengenal cinta. Kalau dijodohkan oleh orang tua atau dilamar orang, ya sudah langsung jadi." jawab ibunya.


    "Bukan itu, Mah .... Maksud Silvy apa dulu Mamah dengan Pak Yudi itu dekat?" jelas Silvy menegaskan pertanyaannya.


    "Ya dekat lah, Sayang .... Yudi orangnya pintar, jadi semua teman dekat dengan dia. Tentu minta diajari mengerjakan PR. Dan Yudi itu sering juara lomba lukis. Lukisannya bagus-bagus, maka banyak teman yang minta untuk dibuatkan lukisan. Termasuk Mamah." terang Rini yang tetap berusaha menutupi hubungannya dengan Yudi.


    "Eh, Mah .... Satu lagi pertanyaanku. Pak Yudi itu pintar, ganteng, baik, pokoknya hebat lah ..., tapi kenapa sampai hari ini dia belum mau menikah ya, Mah?" tanya Silvy penuh selidik.


    "Wah, kalau itu Mamah tidak bisa menjawab. Sebab itu rahasia pribadi, Sayang ...." kata Rini sambil mengelus rambut anaknya.


    "Apa frustrasi ya, Mah .... Biasanya kalau cintanya dikhianati wanita, laki-laki bisa frustrasi, Mah." tebak Silvy.


    Langsung dada Rini bergetar. Kata-kata anaknya itu menusuk tajam ke ulu hati. Perih rasanya. Rini merasa bersalah. Tapi itulah garis dari Yang Maha Kuasa.


    "Ada banyak alasan, Sayang .... Masing-masing orang punya pilihan. Termasuk Pak Yudi." Rini berusaha menjelaskan ke anaknya.


    "Iya ya, Mah. Padahal di rumah Pak Yudi juga ada Mis Yuna dari Jepang yang cantik banget dan masih gadis. Tapi kok Pak Yudi juga tidak mau berdekatan ya, Mah. Kayaknya dingin, istilah kerennya frigid, gitu ya, Mah." kata Silvy.


    "Memang Silvy tahu kalau Pak Yudi tidak dekat sama Mis Yuna?" tanya Rini menyelidik.


    "Iya, Mah .... Silvy lihat sendiri. Kayaknya Pak Yudi ini berharap pada seseorang deh, Mah. Mungkin menunggu kembalinya pacarnya yang dulu, sehingga hatinya tidak mau digantikan oleh orang lain." Silvy mulai berargumen.


    Tentu hati Rini tertusuk kembali. Yudi memang orang baik. Cintanya tidak mau digantikan, sampai tua ia membujang hanya mempertahankan nama yang terukir di hatinya, yaitu Rini. Rini benar-benar mulai bersalah, kali ini yang menusuk adalah putrinya sendiri, yang menunjukkan kesalahan wanita yang tidak setia.


    "Yah, itu prinsip, Silvy. Coba nanti Silvy pengaruhi Pak Yudi ..., agar mau menikah. Mamah juga kasihan melihatnya. Silvy kan sudah dekat, siapa tahu dia akan menurut kata-kata Silvy." kata ibunya.


    "Ih, kok Silvy ...? Mamah dong yang teman dekatnya." sahut Silvy.


    "Kalau Mamah yang bilang begitu gak pantas sayang .... Nanti dikira ada apa-apa ...." kilah Rini.


    "Iya, Mah .... besok kalau Silvy ke Jogja lagi, saya akan paksa Mas Yudi nikah sama Mis Yuna. Gitu ya, Mah." sahut Silvy.


    Lagi-lagi Rini tidak hanya tertusuk hatinya. Tapi kali ini ada rudal yang menghantam seisi jiwanya. Ingin mati rasanya. Kini anaknya sendiri yang akan memutus cintanya pada Yudi, jika Silvy memaksa Yudi untuk menikah dengan gadis Jepang itu. Ini benar-benar keterlaluan .... Silvy, apakah kamu tidak tahu jika mamahmu ini sakit karena cintanya pada Yudi? Mamahmu sakit karena cemburunya dengan gadis Jepang itu, sayang.

__ADS_1


__ADS_2