KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 93: LUKISAN YANG TERPAJANG


__ADS_3

    Sepulang Rini dari rumah sakit, barulah Hamdan, suami Rini, tahu jika di kamarnya ada paketan dalam kardus yang berisi lukisan. Tentu Hamdan langsung bertanya kepada istrinya.


    "Mah, ini kok ada kardus berisi lukisan, di sini?" tanya Hamdan pada istrinya.


    "Eh, iya ..., Pah. Itu lukisan dari Yudi yang dikirimkan kemarin lusa. Belum sempat mengambil malah saya sudah sakit duluan." jawab Rini yang masih tiduran di kasur.


    "Lukisan apa, Mah?" tanya suaminya.


    "Lukisan perempuan tercantik yang pernah dikagumi suamiku .... Lukisan istrimu ..., waktu Mamah masih SMA. Hehe ...." sahut Rini sambil tersenyum. Meski begitu, tentu Rini was-was juga untuk menjawab secara benar agar suaminya tidak cemburu.


    "Papah buka ya, Mah ...." kata Hamdan, yang selanjutnya membuka isi kardus tersebut.


    Ada tiga buah lukisan. Satu per satu diangkat, kemudian dilihat secara saksama. Hamdan mengamati berkali-kali. Tentu merasa heran dan agak aneh menyaksikan lukisan itu.


    "Ini lukisan wajah Mamah ...?" tanya suaminya.


    "Lhah, dahulu Papah pernah jatuh cinta dengan gadis itu apa nggak?" tanya Rini menggoda suaminya.


    "Ckckck .... Ini persis sekali sama Mamah waktu saya jemput di depan pintu gerbang SMA. Wah ..., wah ..., wah ...." kata suaminya yang memuji lukisan itu.


    "Masih cantik ya, Pah ...." sahut Rini.


    "Ini yang melukis siapa, Mah?" tanya Hamdan.


    "Papah percaya kalau ini dilukis oleh Yudi waktu masih SMA ...?!" kata Rini menyahut suaminya.


    "Ini lukisan Yudi waktu masih SMA? Yang benar, Mah?" tanya Hamdan yang tidak percaya.


    "Ih, Papah .... Waktu itu Yudi juara melukis. Malah lukisannya ada yang dikirim ke Jerman, Pah .... Lewat Goethe-Institut. Yudi satu-satunya pelajar SMA dari Indonesia yang bisa lolos." kenang Rini waktu SMA, masih dekat dengan Yudi.


    "Terus, Mamah jadi modelnya, gitu?" tanya Hamdan, suaminya agak mengejek.


    "Tidak ya, Pah .... Yudi itu, baru melihat sekilas sudah bisa membuat lukisannya. Nyatanya, saat melukis Silvy .... Dia cuman ketemu Silvy satu hari. Ee ..., lukisan sudah jadi. Ini saja, Mamah tidak tahu kalau Yudi melukis saya. Dulu waktu Yudi menang, dapat penghargaan dari Pemerintah Jerman, teman-teman langsung berebut minta dilukis." kenang Rini.


    "Hebat ya, Mah .... Pasti di rumah Yudi banyak lukisan yang bagus-bagus." kata Hamdan.


    "Eh, Papah nggak tahu, ya ..., Yudi itu bisa membangun rumah seperti istana, bisa membangun Kampung Nirwana, bisa membangun berbagai macam fasilitas, itu dari hasil lukisan. Harga lukisannya mahal-mahal, Pah ...." papar Rini.


    "Masak sih, Mah ...?" tanya Hamdan yang masih kurang percaya.


    "Benar, Pah ...." tegas Rini.


    "Tapi memang lukisannya sangat bagus. Saya benar-benar terkagum dengan lukisan Mamah waktu SMA. Bikin Papah bergairah lagi .... Hehehe ...." kata Hamdan menggoda istrinya.


    "Iih ..., Papah .... Maunya!" sahut Rini.


    "Mamah cantik banget, sih ...." kata Hamdan melancarkan rayuan. Tentunya tangan laki-laki tua itu sudah mulai gerilya ke mana-mana.


    "Papah ...! Ini ngapain, sih ...! Geli, Pah ...!" Rini merasa geli digoda suaminya.


    "Eh, Mah .... Kalau yang ini, lukisan apa ini, Mah? Papah kok bingung melihatnya ...?!" kata Hamdan saat memperlihatkan lukisan agak besar yang berupa lukisan abstrak.


    "Itu namanya lukisan abstrak. Saya tidak mudeng, Pah .... Tapi kata Yudi, itu lukisan kita saat menikah." jelas Rini.


    "Oo .... Kok Mamah tahu kalau ini lukisan kita saat menikah?" tanya Hamdan.


    "Yudi yang cerita. Lukisan abstrak itu susah diterjemahkan. Katanya hanya ahli lukis atau pecinta seni yang hebat, yang sanggup menjelaskan arti lukisan abstrak tersebut. Ah, Pah ..., saya saja tidak mudeng kok ...." sahut Rini.


    "Ha, kalau ini nanti biar bagian Yayan, menantu kita yang bisa menjelaskan." sahut Hamdan yang tidak sanggup mengamati lukisan abstrak itu.

__ADS_1


    "Iya, Pah ...." sahut Rini.


    "Eh, Mah ..., bagaimana kalau lukisan-lukisan Mamah ini saya pajang di ruang keluarga?" kata Hamdan.


    "Iya, Pah .... Baiknya di mana, Papah yang paham." sahut Rini.


    "Ah, nanti saja .... Kita tunggu Silvy sama suaminya. Mereka berdua yang paham." kata Hamdan.


    Tidak lama, orang yang dibicarakan, anak dan menantunya datang. Tentu untuk menjenguk Mamahnya yang masih pemulihan dari rumah sakit.


    "Hai, Mah .... Gimana, Mah ...?" kata Silvy menyapa mamahnya.


    "Iya, Sayang .... Cuci kaki, cuci tangan, cuci muka .... Baru ketemu Mamah." sahut Rini yang menyuruh anaknya agar membersihkan dirinya dulu.


    Silvy dan suaminya langsung ke kamar, untuk membersihkan diri dan ganti pakaian. Terutama Yayan, suami Silvy. Ia langsung mandi, biar segar sekalian.


    Setelah mereka selesai bersih-bersih diri, lantas Silvy dan suaminya menghampiri ibunya yang masih tiduran di kamar.


    "Hai, Mah .... Sudah sehat?" tanya Silvy lagi.


    "Iya .... Alhamdulillah ...." sahut Rini yang santai.


    "Papah pulang awal, tadi?" tanya Silvy pada bapaknya.


    "Ya iya, lah .... Kan harus ngurusi Mamah .... Eh, Silvy, Mas Yayan .... Ini Mamah punya lukisan. Baiknya kita pajang di mana?" kata Hamdan yang langsung menunjukkan lukisan-lukisan mamahnya.


    "Wao ..., keren banget, Pah .... Ini dari mana?" tanya Silvy.


    "Ada deh .... Kalian tahu nggak, itu lukisan siapa?" tanya Hamdan.


    "Kayaknya ini lukisan Mamah, deh .... Tapi kok masih sangat iut .... Iya, kan?" jawab Silvy.


    "Mamah, ini lukisan saat Mamah usia berapa? Kok masih kelihatan muda sekali?" tanya Silvy.


    "Itu saat Mamah masih duduk di kelas dua SMA." sahut Rini.


    "Haah ...?! Yang bener, Mah?" Silvy terbelalak mendengar penuturan ibunya.


    "Betul ..., Sayang .... Itu dilukis oleh Yudi waktu Mamah kelas dua SMA. Waktu itu kami teman satu kelas yang sangat akrab. Kami berempat, bersahabat akrab sekali." sahut Rini, sang Mamah.


    "Wao ..., berarti Papah Yudi sudah sanggup melukis naturalis seindah ini sejak SMA ...?!Ini benar-benar bakat yag luar biasa. Coba lihat, goresan tintanya sangat halus, dan sanggup mengungkap rupa yang sempurna. Tidak hanya bentuk wajah, tetapi sangat detail hingga helaian rambut yang tergerai. Apalagi lukisan yang ini .... Butiran pasirnya ikut terlukis dengan sempurna. Benar-benar luar biasa." sahut Yayan, suami Silvy yang ikut nimbrung mengomentari indahnya lukisan itu.


    "Iya .... Bahkan waktu itu, Yudi sudah memperoleh penghargaan dari Pemerintah Jerman, karena lukisannya. Kalau tidak salah waktu itu lukisan tentang "Indahnya Persahabatan", yang mengisahkan persahabatan orang-orang se Indonesia yang beraneka ragam suku, budaya dan adat istiadat. Bagus banget ..., dan lukisannya itu ikut dipamerkan saat peringatan bersatunya kembali Jerman Barat dan Jerman Timur. Iya ..., Mamah ikut bangga waktu itu." kenang Rini pada saat masih bersama Yudi di SMA.


    "Benar-benar luar biasa. Saya semakin kagum dengan Papah Yudi. Besok kalau Homestay kita yang di Jogja sudah jadi, saya mau berguru sama Papah Yudi." kata Yuna yang tertegun dengan cerita mamahnya.


    "Aah ..., apa Silvy bisa melukis?" ejek papahnya.


    "Ya, belajar lah, Pah .... Hehe ...." sahut Silvy.


    "Nah, kalau yang lukisan ini ..., bagaimana pendapat kalian?" tanya Hamdan sambil menunjukkan lukisan abstrak.


    "Waduh .... Lukisan apa ini, Pah?!" tanya Silvy yang tentu tidak bisa menerjemahkan arti lukisan itu.


    "Hahaha .... Pasti Silvy akan bilang kalau lukisan ini adalah lukisan jelek .... Iya, kan?!" ejek papahnya.


    "Ya enggak lah, Pah .... Cuman, saya tidak paham makna yang ada dalam lukisan ini. Mungkin butuh waktu sebulan untuk menerjemahkannya, Hehe ...." sahut Silvy yang tidak mau kalah sama papahnya.


    "Coba, Mas Yayan ..., bagaimana pendapatmu ...?" tanya Hamdan pada menantunya.

__ADS_1


    "Untuk memahami lukisan abstrak memang butuh waktu. Dan makna yang terkandung dalam lukisan itu, hanya bisa dijelaskan oleh pelukisnya. Tetapi penikmat seni, bisa memahami apa yang tersirat dalam goresan-goresan itu. Nah, kalau lukisan ini, kelihatannya pelukis memotret pernikahan seseorang. Ya, kalau boleh dikatakan, lukisan ini berjudul pernikahan." jelas Yayan, suami Silvy.


    "Bagus sekali, Mas Yayan .... Nah, kalau diamati secara jeli, coba tebak, ini pernikahan siapa?" tanya Hamdan lagi pagi menantunya.


    "Saya belum kenal orang ini. Tetapi kalau melihat goresan pengantin wanita, kelihatannya mirip dengan wanita pada lukisan Mamah itu. Mungkinkah, yang pengantin laki-laki itu Papah? Coba kalau ada kita bandingan dengan foto pengantin Papah sama Mamah, mungkin kita bisa tahu kebenaran lukisan ini tentang pernikahan Papah sana Mamah." kata Yayan menjelaskan.


    "Ya, kita lihat foto pengantinya Papah sama Mamah. Mungkin benar ini lukisan Papah sama Mamah saat jadi pengantin." sahut Silvy yang langsung menuju ruang keluarga untuk mencari foto pengantin Mamah Papahnya.


    Setelah beberapa saat mencari di buku album yang tersimpan di almari bufet, akhirnya Silvy menemukan foto kenangan pengantin Papah dan Mamahnya.


    "Hore .... Ketemu. Ini foto mantenan Papah dan Mamah. Ayo, kita lihat, Mas ...." kata Silvy pada suaminya.


    "Nah, ini .... Coba kamu sandingkan." kata Yayan yang menunjuk salah satu foto pengantin.


    Lantas Silvy menyandingkan foto penganti itu di dekat lukisan abstrak. Beberapa saat mengamati, foto dan lukisan.


    "Benar, Mas Yayan .... Yah, ini ..., pas banget. Mirip sekali." kata Silvy yang sudah mengamati dan membandingkan foto dengan lukisan.


    Sementara itu, di atas tempat tidur, Rini ikut megamati dengan hati yang berdebar. Menyaksikan anak-anaknya mengamati foto-foto pernikahannya tiga puluh tahun yang lalu, membandingkan dengan lukisan Yudi yang dibuat tiga puluh tahun yang lalu, sesaat setelah kelulusan SMA. Dan tentu, Rini sangat terkejut ketika anak-anaknya mengatakan jika lukisan itu sangat mirip dengan foto yang diteukan anaknya. Lantas Rini berfikir, jika demikian berarti saat acara pernikahan dirinya bersama Hamdan, Yudi diam-diam datang menyaksikannya. Tetapi kenapa waktu itu Yudi tidak ikut menyalami dirinya, seperti halnya teman-teman sekolahnya yang lain? Apakah Yudi takut? Atau Yudi sedih?


    Ah, entahlah .... Namun yang pasti diyakini oleh Rini, waktu pesta pernikahannya, pasti Yudi datang menyaksikannya. Lantas pulang dan menuangkan hari kebahagiaan Rini bersama Hamdan di pesta pernikahan, ke dalam kanvas lukis. Dan jadilah lukisan abstrak ini.


    Rini masih bersyukur, menantunya tidak sanggup menerjemahkan goresan-goresan lukisan abstrak itu sepenuhnya. Meskipun anak-anaknya sudah sanggup melihat dengan cara membandingkan foto, tetapi goresan yang tertuang tidak dapat diungkap. Seperti yang pernah dijelaskan oleh Yudi, bahwa goresan-goresan itu mengandung unsur emosional dari kemarahan Yudi. Untunglah mereka tidak tahu. Kata Yudi, hanya seniman pintar yag sanggup menerjemahkan. Sedangkan menantunya, Yayan, suaminya Silvy, hanyalah pekerja di kebudayaan. Bukan seniman. Rini tersenyum, menyaksikan anak-anaknya yang sudah berhasil menerjemahkan lukisan abstrak itu.


    "Wuaah ..., benar-benar hebat pelukis ini. Bagus sekali." kata Hamdan yang ikut nimbrung saat anak-anaknya mencocokkan lukisan dengan foto pengantinnya.


    "Ini mau dipasang di mana, Pah?" tanya Silvy.


    "Di ruang tamu saja ...." sahut suaminya.


    "Jangan .... Yang lukisan pengantin itu, yang abstrak, tolong dipasang di kamar Mamah saja." sahut Rini meminta lukisan pengantinya di pasang di kamar. Tentu Rini ingin merahasiakan adanya goresan yang tidak boleh dibaca orang lain.


    "Iya, Mah ..., saya juga penginnya begitu." sahut Hamdan.


    "Oke, Pah, Mah ...." jawab Yayan, menantunya.


    "Kalau yang dua, di pasang di ruang keluarga saja. Jangan di ruang tamu, bisa bahaya." kata Rini lagi.


    "Memangnya kenapa, Mah?" tanya Silvy pada ibunya.


    "Kata Yudi, lukisan Mamah ini sering ditawar orang. Bahkan aka kolektor yang mau beli dengan harga puluhan juta. Makanya Yudi menyimpan lukisan ini, bahkan disembunyikan. Katanya untuk kenang-kenangan sahabatnya." jelas Rini pada anak-anaknya.


    "Wao .... Keren, Mah .... Kok tidak dari dulu diberikan ke Mamah?" tanya Silvy yang penasaran.


    "Setelah menikah dengan Papah kamu, saya langsung diboyong. Pindah ikut Papah kerja. Kami hilang kontak. Tidak pernah komunikasi. Yudi tidak sempat memberikan lukisan ini. Tetapi setiap pameran, dua lukisan Mamah itu, selalu dibawa ke pameran, dan selalu akan dibeli oleh kolektor. Untungnya tidak diual oleh Yudi, walau mau dibayar sampai puluhan juta. Yudi tetap tidak mau melepas lukisan itu, karena dia beranggapan yang berhak punya lukisan ini adalah Mamah ...." jelas Rini pada anak-anaknya. Tentu suaminya juga ikut mendengarkan.


    "Hebat sekali, Papah Yudi .... Saya jadi sangat terkesan." sahut Silvy.


    "Ya, ayo dipasang lukisannya ...." kata papahnya yang langsung mengajak anak-anaknya memasang lukisan itu.


    "Panggil Mang Udel, suruh bantu ...." usul Rini.


    "Iya, Mah ...." sahut anak-anaknya.


    Mereka bertiga, dan dibantu oleh Mang Udel, akhirnya memasang lukisan-lukisan cinta yang dikirim oleh Yudi dari Jogja, khusus untuk wanita tersayangnya yang sudah berumah tangga di Jakarta. Akhirnya, lukisan itu, lukisan yang dulu berada di dalam kamar Yudi, lukisan yang sudah membuat Yuna cemburu, kini sudah terpajang. Dua lukisan ada di ruang keluarga. Dan satu lukisan abstrak, terpajang di kamar pribadinya.


    Rini tersenyum puas, saat melihat lukisan itu tersenyum di dinding ruang keluarga. Demikian juga lukisan abstrak tentang pengantin dirinya bersama Hamdan, semoga suaminya tetap mencintai, seperti janji-janjinya pada saat pernikahan.


    Lukisan yang terpajang indah. Lukisan penuh makna cinta.

__ADS_1


__ADS_2