
Setelah tiga hari Yudi dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah, luka-luka pada punggung Yudi sudah membaik. Namun Yudi belum bisa berdiri secara sempurna. Baru sebentar berdiri, pinggangnya seperti ditusuk-tusuk dengan paku besar. Sangat nyeri. Bahkan untuk duduk saja, bagian pinggang Yudi masih terasa kesakitan. Kata dokter spesialis saraf, ada bagian saraf pada tulang ekor dan pinggang Yudi yang mengalami luka parah. Kemungkinan saraf pinggangnya Yudi mengalami terjepit, atau bahayanya jika sampai saraf tersebut terputus. Maklum rumah sakit kecil di daerah yang belum memiliki teknologi canggih di bidang kesehatan, sehingga belum bisa mendeteksi secara cermat. Itulah sebabnya Yudi belum bisa berdiri. Oleh dokter, Yudi disarankan untuk dibawa ke rumah sakit pusat, untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik.
Yuna meminta Yudi untuk dibawa pulang lebih dahulu. Yang penting luka-luka pada punggung, lengan dan kakinya sudah sembuh terlebih dahulu, sehingga Yudi sudah bisa tiduran dengan nyaman. Tidak tengkurap terus. Alasan Yuna untuk mengajak Yudi pulang, kalau di rumah, setidaknya bisa merawat secara leluasa. Toh yang dirawat hanya luka-luka biasa. Kecuali bagian pinggang yang masih sakit hingga sulit untuk dibuat berdiri. Dan tentu, jika Yudi sudah pulang, masyarakat Kampung Nirwana tidak direpotkan harus besuk ke luar daerah dengan perjalanan yang cukup jauh. Kasihan orang-orang yang memaksakan diri membesuk Yudi.
Maka, Yudi hari itu dibawa pulang ke rumah. Bagas yang menjemput.
Mendengar berita jika Yudi sudah dibawa pulang, namun bagian pinggang masih sakit, belum bisa berdiri normal, serta duduk pun masih terasa sakit, maka Pak Lurah langsung menyuruh dukun pijat urut untuk memijit Yudi. Hari itu juga, datanglah tukang pijat ke rumah Yudi. Tentu bersama Pak Lurah.
Tukang pijat yang dikenal dengan panggilan Mbah Marto ini, adalah seorang laki-laki tua yang memang di Kampung Nirwana dikenal sebagai tukang urut yang bisa memijat urat saraf. Sangat terkenal. Bahkan sering diundang ke hotel oleh pejabat-pejabat kalau minta dipijit Mbah Marto tersebut.
Di gazebo belakang, Mbah Marto memijit urat saraf Yudi. Banyak orang yang menjenguk Yudi di rumah, yang sedianya ingin mengabarkan keadaan Yudi, kini ikut menonton Mbah Marto memijit Yudi. Mereka pada duduk melingkari gazebo. Termasuk Yuna, yang tentu penasaran ingin tahu pijat tradisional ala Kota Jogja.
Yudi yang berbaring di dipan gazebo tersebut, berkali-kali menjerit, saat telapak kakinya dipijit Mbah Marto.
"Waduuuh ...." teriak Yudi yang kesakitan.
"Tenang, Mas Yudi .... Biar cepat sembuh ...." kata Pak Lurah yang menenangkan Yudi.
"Tidak apa-apa, Mas .... Ini hanya kecapekan biasa. Ini uratnya kalau sudah saya kendurkan, nanti akan ringan jalannya." kata Mbah Marto sambil enekan lagi pada bagian telapak kaki Yudi.
"Waduuh ...!!" Yudi berteriak keras sambil menahan sakit yang dirasakan.
"Tidak sakit, Mas .... Itu hanya mengendurkan urat saraf ...." kata sang dukun pijat itu lagi.
"Mbah, kalau pijat yang tidak sakit ada tidak ...?" tiba-tiba Bagas nyeletuk gojekan.
"Ada ...." sahut Mbah Marto yang masih tetap memijit-mijit telapak kaki Yudi.
"Di mana, Mbah ...?" tanya Bagas penasaran.
"Pijat jari lentik .... Hehehe ...." jawab Mbah Marto sambil nyengenges.
Tentu orang-orang yang ada di situ ikut tertawa mendengar jawaban Mbah Marto. Tua-tua kok suka gojekan. Apa Mbah Marto pernah pijat jari lentik, ya?
"Wah, Mbah Marti ini lho, ditanyai serius kok jawabannya tiga rius ...." sahut Bagas yang malu ditertawakan para tetangganya yang ada di situ.
"Waduuh ...!!" Yudi berteriak keras kembali, tangannya sambil memukul-pukul dipan tempat berbaringnya.
"Tenang, Mas Yudi .... Ini telapak yang satu sudah selesai, tinggal satu telapak kaki lagi. Mudah-mudahan tidak apa-apa." kata si dukun pijat itu yang tangannya langsung berpindah ke kaki Yudi yang satunya.
"Waduuh ...!! Ini sakit sekali, Mbah ...!" Yudi berteriak lagi.
"Ya, tentu sakit .... Ini ada saraf yang tidak pas." kata sang dukun pijat.
"Nggak pas bagaimana, Mbah ...?" tanya Pak Lurah yang duduk di samping gazebo, paling dekat dengan Yudi.
"Ini biasanya dialami orang yang jatuh duduk. Tulang ekornya akan tertekan ke dalam, maka akan mendorong saraf di pinggang. Ini kalau dibiarkan bisa bahaya ...." jawab Mbah Marto.
"Bahaya bagaimana, Mbah ...? Jangan menakut-nakuti saya to, Mbah ...." kata Yudi yang masih meringis menahan sakit.
__ADS_1
"Lho benar, Mas Yudi .... Simpul saraf yang saya pijit ini, itu mengalir ke tulang ekor dan pinggang. Kalau di sini dipijit terasa sakit, berarti saraf yang ada di tulang ekor dan pinggang, posisinya tidak pas ..., tidak sesuai tempatnya." kata Mbah Marto sambil menekan bagian bawah mata kaki Yudi.
"Wadaoouh ...!! Sakit sekali, Mbah ...!!" Yudi berteriak keras sambil menahan sakit yang dirasakan.
"Nah, benar kan ...." kata si dukun pijat yang masih mengelus-elus tumit Yudi.
"Memang Bapak Marti ini dahulu sekolah dokter pijat?" tanya Yuna yang memang tidak paham dengan profesi tukang pijat tradisional.
"Mbah Marto ini tukang pijat saraf, Mbak Yuna .... Tidak pernah sekolah kedokteran, lha wong SD saja tidak lulus ...." jawab Pak Lurah menjelaskan.
"Tapi kok bisa tahu tentang saraf-saraf ...? Sekolahnya pijat di mana?" tanya Yuna lagi yang masih bingung.
"Walah, Mbak Yuna ki mesti bingung .... Lha wong di Jepang tidak ada pijat-memijat, je ...." sahut salah seorang tetangga yang nonton Yudi dipijat.
"Ada .... Di Jepang ada pijat, tetapi dia harus sekolah seperti dokter atau sebangsa tenaga medis begitu ...." sahut Yuna yang menjelaskan profesi tukang pijat di Jepang.
"Walah ..., mau jadi tukang pijat saja harus sekolah dulu, Mbak? Wealah .... Lha kalau di sini, pokoknya bisa mijit-mijit ya jadi tukang pijat." kata yang lain menyela.
"Iya .... Bahkan kalau mau membuka praktik pijat, juga harus ada ijin seperti dokter itu. Kalau di Jepang, tukang pijat itu profesi, bukan asal. Dia harus sekolah. Jadi ada undang-undangnya, ada aturannya. Tidak boleh sembarangan." jelas Yuna.
"Walah ..., berarti di Jepang itu semua diatur ya, Mbak Yuna .... Tidak boleh sembarangan ya ...." kata yang lain.
"Kalau begitu, Mbak Yuna tinggal di Jogja saja .... Yang enak dan nyaman. Yo to ...." sahut yang lain.
"Iya, saya suka hidup di Jogja. Enak semua .... Masyarakatnya juga baik-baik. Suka menolong dan ramah. Saya suka itu ...." kata Yuna yang merasa betah hidup di Jogja.
"Iya, Mbak Yuna .... Mas Yudi .... Segera saja menikah. Pokoknya pestanya harus besar-besaran, lho ya ...." yang lainnya lagi langsung menimbrung.
"Nanti kalau proyek yang di Gua Jepang sudah selesai, kami mau menikah. Setelah tamu-tamu dari Jepang berdatangan kemari. Jadi saya tidak punya beban pekerjaan lagi." jawab Yuna polos.
"Yang benar lho, Mbak Yuna ...." sahut beberapa orang serempak.
"Betul .... Saya sudah rencanakan dengan Yudi." jawab Yuna.
"Asyik ...." semua gembira, senang mendengar berita dari Yuna yang akan segera menikah.
"Wadaaouh ...!!" Yudi berteriak lagi, mengagetkan orang-orang yang sedang asyik mengobrol dengan Yuna.
"Sudah, Mas Yudi .... Sekarang coba duduk .... Otot bagian mana yang masih terasa sakit?" kata Mbah Dukun.
Yudi mencoba duduk. Lantas memutar pinggangnya, ke kanan dan ke kiri. Perlahan. Beberapa kali.
"Uuh .... Enakan Mbah .... Lumayan." kata Yudi.
"Nah, sekarang coba berdiri .... Yang masih sakit mana?" kata Mbah Dukun lagi.
Lantas Yudi mencoba berdiri ....
"Auh .... Ini, Mbah .... Sebelah sini yang masih manteng ...." kata Yudi.
__ADS_1
"Oh, ya .... Silakan tengkurap lagi, akan saya totok bagian pantatnya." kata sang tukang pijat itu.
Yudi menuruti. Ia kembali tengkurap di dipan. Pasrah sama si tukang pijat.
"Auuuu .... Waduuh ...!! Sakit, Mbah ....." Yudi berteriak keras saat pantatnya ditusuk jarinya Mbah Marto.
Yuna yang melihat, ikut meringis seakan merasakan kesakitan.
"Nah, ini .... Sudah ketemu penyebabnya. Otot bokong Mas Yudi ketarik semua. Sabar, saya betulkan dulu .... Ini larinya ke paha belakang lutut, Mas .... Tahan, ya ..., agak sakit sedikit ...." kata Mbah Dukun yang langsung mengurut paha Yudi.
"Wadaaoouuh ...!!" Yudi kembali berteriak keras.
"Sudah, Mas .... Coba sekarang berdiri lagi." kata Mbah Marto si dukun pijat itu.
Yudi berdiri. Lantas mencoba menggerakkan pinggangnya, lantas mencoba mengangkat kakinya. Kanan dan kiri bergantian.
"Wah ..., iya, Mbah .... Sudah enakan. Lumayan, Mbah .... Sudah tidak terlalu sakit." kata Yudi yang senang sudah bisa berdiri nyaman dan tidak merasa sakit.
Tentu Yudi tersenyum gembira. Orang-orang yang ada di situ juga ikut senang. Pak Lurah tertawa riang. Demikian juga Yuna, yang tentu bahagia, karena kekasihnya sudah sehat kembali.
"Pak Dukun ..., bolehkah saya mencoba dipijat ...?!" kata Yuna yang penasaran dengan pijat tradisional ala Jogja.
"Boleh ..., boleh .... Silakan ...." Jawab Mbah Marto.
Yuna langsung membujurkan tubuhnya di dipan gazebo, tempat di mana Yudi tadi dipijat. Mbah Marto memijit perlahan, tentu agar Yuna tidak merasa kesakitan. Mulai dari memijit pada telapak kaki, betis dan paha, lantas ke bagian pinggang, punggung, tengkuk dan lengan tangan serta jari-jari Yuna.
"Sudah, Mbak Yuna .... Mbak Yuna sehat, tidak ada masalah dengan urat saraf." kata Mbah Marto yang sudah menyelesaikan memijat Yuna.
"Kok saya tidak menjerit-jerit kesakitan seperti Yudi ...?!" tanya Yuna yang penasaran.
"Itu karena Mbak Yuna sehat ...." jawab Pak Lurah yang penasaran melihat gadis Jepang dipijit.
"Iya, betul .... Mbak Yuna sehat." tambah Mbah Marto, yang sebenarnya juga heran saat memijit Yuna kok yang dipijat tidak merasakan kesakitan.
Tentu orang-orang yang ada di situ juga heran, saat melihat Yuna dipijat, tidak menjerit kesakitan sama sekali. Padahal biasanya, orang yang dipijat Mbah Marto pasti akan menjerit kesakitan. Tetapi setelah Mbah Marto mengatakan kalau Mbak Yuna sehat, orang-orang percaya memang tidak ada yang sakit saat dipijat.
Itulah dukun pijat urat saraf. Jika memang ada urat yang kencang, kaku, meluntir, keseleo, jika memang ada saraf yang tidak pas posisinya, maka jika dibenarka dengan cara dipijat, pasti akan menjerit kesakitan. Tetapi jika kondisi tubuh sehat, dia tidak merasakan sakit, tetapi justru merasa semakin enak seperti diurut.
Yudi mengucapkan terima kasih kepada Mbah Marti si dukun pijat itu, menyalami sambil menempelkan amplop saat bersalaman dengan Mbah Marto, sebagai bayarannya.
"Terima kasih, Mbah Marto ...." kata Yudi.
"Walah, Mas Yudi kok repot-repot .... Tidak usah, Mas ..., saya bisa menolong sudah senang." Kata Mbah Marto yang berusaha menolak amplop pemberian Yudi.
"Sampun, Mbah Marto .... Itu hanya pituwas buat beli tembakau .... Saya sudah ditolong, maturnuwun ...." kata Yudi yang memaksa Mbah Marto untuk menerima amplop pemberiannya.
"Njih ..., njih .... Matur nuwun, Mas Yudi." kata Mbah Marto yang akhirnya mau menerima amplop pemberian Yudi, dan langsung memasukkan ke saku celananya.
Memang, dukun Pijat di kampung itu tidak ada tarifnya. Bukan sebagai profesi yang harus dihargai dengan uang. Dibayar, alhamdulillah, tidak dibayar anggap saja sebagai amal. Jika yang minta tolong itu orang yang tidak mampu, Mbah Marto sering menolak pemberiannya. Mbah Marti si dukun pijat yang hebat itu, lebih suka menolong daripada mengkomersialkan keahliannya.
__ADS_1