
Rini masih lemas terbaring di bed ruang inap. Setelah dokter meminta Rini harus banyak istirahat, serta memberi infus dan obat agar Rini banyak istirahat dan cepat pulih kekuatannya. Sudah lumayan. Walau masih lemas, namun wajahnya sudah terlihat segar.
Hamdan, suaminya, menunggui setiap habis pulang kerja, tidur di rumah sakit, dan berangkat ke kantor juga dari rumah sakit. Demi istrinya tercinta. Tentu untuk membuktikan kasih sayangnya.
Demikian juga Silvy, anak perempuannya, setiap pulang kerja selalu mampir menjenguk ibunya. Bersama suaminya membawa makan untuk bapaknya. Apalagi saat makan bersama, terkadang Rini, ibunya, meminta makanannya, untuk ikut mencicipi. Yah, itulah keakraban antara anak dan ibunya.
Mas Jo, sang sopir pribadi, yang jadi sibuk. Pasalnya harus bolak-balik dari kantor ke rumah sakit, lantas ke rumah. Begitu sebaliknya. Terutama untuk mengantar ganti pakaian bosnya, baik pakaian untuk berangkat kerja, maupun pakaian kotor yang harus dibawa pulang untuk dicuci dan diseterika Mak Mun. Meski begitu, Mas Jo tidak pernah mengeluh. Ia tetap senang. Ya, karena Mas Jo memang sopir kesayangan bosnya. Bukan sekadar dapat gaji bulanan, tetapi sering diberi bonus oleh bosnya. Belum lagi kalau majikannya sering bepergian, Mas Jo juga sering dapat oleh-oleh.
Walau suami menunggui setiap sore hingga pagi, meski Silvy dan suaminya juga sering datang menunggui mamahnya hingga larut malam, namun pada pagi hingga sore, Rini sendirian di rumah sakit. Tidak ada yang menemani, hanya suster perawat yang kadang-kadang menjenguk untuk memeriksa. Rini sering melamun, karena berada di atas bed rumah sakit sendirian. Paling hanya bisa menyaksikan siaran televisi. Syukur kalau bisa tidur, dia akan tenang dan nyaman. Tetapi jika tidak bisa tidur, pikirannya melayang ke mana-mana. Dan tentu bayang-bayang hitam yang menghantui itu sering muncul mengganggu pikirannya.
Rini mengambil HP, membaca WA grup alumni SMA. Tentu banyak yang lucu. Namun juga ada yang menjengkelkan. Tidak masalah, yang penting bisa untuk hiburan. Rini pun terkadang tertawa sendiri. Membaca kelucuan postingan teman-temannya.
Tiba-tiba, hati Rini ingin menelepon Handoyo, temannya waktu SMA yang jadi Kepala Rumah Sakit di Nusa Tenggara. Setidaknya ingin konsultasi tentang sakit yang dialaminya. Lantas, Rini memencet nomor dokter Handoyo, untuk menelepon secara pribadi.
"Halo, Rini .... Apa kabar?" kata Handoyo menerima telepon dari Rini.
"Hai, dokter Handoyo .... Diriku sedang sakit .... Ini masih terpapar di rumah sakit. Maaf, mengganggu ...." jawab Rini yang senang bisa menelepon orang yang sangat sibuk.
"Sakit apa ...?" tanya dokter Handoyo.
"Entahlah, Han .... Kata dokter sih, ada gangguan jantung. Makanya ini saya telepon, ingin konsultasi ...." jawab Rini.
"Wadeh ..., Rini .... Jakarta banyak dokter dan pintar-pintar, Rin ...." kata dokter Handoyo, yang tentu tidak ingin sombong.
"Bukan begitu, Han .... Kalau konsul sama kamu, kan lebih bebas dan blak-blakan, bisa lebih leluasa. Jadi bisa ketahuan apa sebenarnya penyakit yang saya derita ini. Begitu, Han ...." kata Rini mencoba meminta temannya bisa membantu.
"Iya, Rini .... Tapi kan posisiku jauh, di Nusa Tenggara .... Jadi saya tidak bisa memeriksa secara langsung." kilah dokter Handoyo.
"Tapi mungkin Handoyo bisa memperkirakan dari keluhan-keluhan yang saya rasakan." kata Rini.
"Memang yang Rini keluhkan apa?" tanya dokter Handoyo.
"Bagaimana ya, Han? Yang pasti, kadang-kadang tubuh saya jadi lemas. Bahkan langsung pingsan." jawab Rini.
"Nah, Rin ..., kalau hanya begitu saja info yang saya terima, saya kesulitan untuk menyimpulkan. Belum bisa mendiagnosa. Takut keliru. Ya ..., kalau dengan gangguan jantung, itu memang ada hubungannya. Tetapi pasti ada faktor lain yang memengaruhi. Misalnya capai, lelah, kurang tidur, dan yang paling sering adalah karena faktor pikiran." jelas dokter Handoyo.
"O, gitu, ya ...." sahut Rini.
"Nah, dari faktor-faktor itu, kira-kira apa yang menyebabkan Rini paling dominan mengalami gejala sakit atau pingsan?" tanya dokter Handoyo.
__ADS_1
"Aduh, apa ya ...? Apa mungkin karena fikiran ya, Han?" sahut Rini.
"Kalau karena pikiran, itu agak berat, Rin .... Karena dalam dunia kedokteran, itu masalah psikis. Rini harus bisa mengendalikan pikiran secara mandiri. Itu yang agak berat. Memangnya dirimu memikirkan apa, Rin?" tanya dokter Handoyo.
"Yah, namanya juga orang hidup, Han ..., mesti punya pikiran." sahut Rini.
"Maksud saya, pikiran yang berat atau sulit untuk diselesaikan oleh Rini ...." kata dokter Handoyo.
"Mungkin ya, Han .... Tapi apa, ya? Aku belum bisa mengingat." sahut Rini yang tentu masih merahasiakan masalahnya.
"Baik, Rini .... Saya doakan semoga lekas sembuh. Mohon maaf, saya kebetulan sedang ada tugas. Lain waktu jika sempat, saya akan tengok Rini untuk melihat kemungkinan-kemungkinan gejala lainnya. Oke Rini ..., istirahat yang cukup, ya ...." kata dokter Handoyo yang mengakhiri teleponnya, karena harus melakukan pekerjaan di rumah sakitnya.
"Terima kasih, Han ...." ucap Rini yang tentu tersenyum sudah bisa menelepon sahabatnya yang jadi dokter. Setidaknya, perasaannya sudah menjadi lebih tenang dengan motivasi dari dokter Handoyo tadi.
Rini mencoba merenung, mengingat apa yang dikatakan oleh dokter Handoyo, terutama pada bagian "dirimu memikirkan apa?". Itulah yang kemudian menjadi masalah pada kesehatan Rini. Ya, Rini ingat betul saat pertama kali pingsan di rumah, di dalam kamar Yudi. Itu terjadi gara-gara Rini melihat lukisan-lukisan yang dipajang oleh Yudi di dindingnya. Saat ia menyaksikan lukisan abstrak tentang pengantin itulah, Rini mulai kepikiran terkait cinta antara dirinya dengan Yudi. Apalagi saat Rini membaca tulisan, semacam puisi yang tergores pada bagian belakang kanvas lukisan tersebut, akhirnya Rini tidak sanggup lagi menahan emosi jiwanya, dan sudah ditemukan pingsan di kamar Yudi.
Rini kembali mengingat, saat terjadinya pingsan di bandara. Ya, itu juga gara-gara Rini memikirkan terlalu dalam tentang Yudi, saat lelaki bujang tua mantan kekasihnya itu berdekatan dengan Yuna. Kala itu Rini ngambek, marah kepada Yudi. Yang jelas Rini cemburu. Cemburu berat. Akhirnya Rini pun pingsan di bandara sesaat setelah pulang dari rumah Yudi. Demikian juga saat di kamarnya, Rini harus pingsan. Itu juga gara-gara memikirkan Yudi.
Namun saat Rini berada di rumah sakit, tergeletak lemas tanpa daya, ketika itu Yudi datang menjenguk, lantas memijit seluruh tubuhnya dengan penuh kasih sayang, Rini benar-benar merasa nyaman, tenteram dan damai. Seakan hidupnya penuh gairah, sehingga penyakit yang ada dalam tubuhnya langsung hilang dan berganti sehat. Buktinya, saat diajak jalan-jalan berolah raga oleh suaminya di Senayan, Rini benar-benar merasahakan tubuhnya sangat sehat dan bahagia.
Tetapi, kemarin ..., saat ia menerima kabar jika lukisan dirinya bersama Yudi dibakar, tiba-tiba saja pikirannya langsung tidak karuan. Dan tentu kondisi fisiknya langsung drop. Rini terjatuh sakit.
Ini yang mungkin benar, seperti yang dikatakan oleh dokter Handoyo. Sakitnya karena pikiran. Rini sadar betul, ya, itulah penyebab kemunculan sakit penyakitnya. Tetapi mengapa? Ada apa? Toh dirinya sudah tidak lagi berkeinginan untuk menikah dengan Yudi. Bahkan Rini justru menyuruh Yudi menikah dengan Yuna. Mengapa pikiran-pikiran tentang Yudi masih menghantui? Apakah Rini tidak sanggup melupakan bayang-bayang Yudi dari lubuk hatinya?
Rini langsung mengamati pintu kamarnya. Ingin tahu siapa yang datang. Pintu perlahan terbuka. Ada seorang laki-laki masuk. Tubuhnya tinggi dengan badan tegap. Tidak terlalu kurus. Mengenakan celana jean dan baju kotak-kotak kecil warna biru muda dan putih. Laki-laki itu melangkah mendekati bed tempat Rini berbaring.
"Hai, Rini .... Bagaimana keadaanmu?" sapa laki-laki yang terlihat gagah dan ganteng itu. Walau usianya sudah sekitar lima puluh tahun, tetap terlihat tampan.
"Haaah ...! Alex ...!" Rini berteriak kaget, setelah tahu laki-laki yang membezuknya.
"Kaget, ya?!" tanya Alex.
"Ya tentu kaget lah, Lex ...! Kok tahu kalau aku berbaring di kamar ini?' Rini balas bertanya.
"Iya ..., tadi dokter Handoyo yang menghubungi aku, kasih kabar kalau dirimu sedang sakit. Kebetulan saya pas ada di Jakarta Selatan. Langsung saja saya mampir ke sini." kata Alex.
"Ih, ya ampun, Alex .... Kok ya sempat-sempatnya mampir. Apa tidak sibuk?" tanya Rini.
"Sibuknya bisa ditunda. Tapi persahabatan jangan dilupakan." kata Alex.
__ADS_1
"Iih, bisa aja, lo .... Eh, gimana kabarnya?" sahut Rini yang juga menanyakan kabar Alex.
"Baik, Rin .... Memang Rini sakit apa? Kok berkali-kalai masuk rumah sakit?" tanya Alex.
"Itulah, Lex .... Gue sendiri bingung dengan sakit ini, Lex. Kata dokter hanya karena kecapaian. Tapi capai apa? Gue tidak pernah kerja, kok capai. Heran gue, Lex ...." jawab Rini.
"Rini .... Capai itu tidak mesti fisik kerja keras. Bisa jadi capai Rini bukan sekadar fisiknya, tetapi bisa jadi karena pikiran. Mungkin ada beban psikis yang dialami oleh Rini." kata Alex mencoba berargumentasi.
"Tadi dokter Handoyo juga mengatakan seperti itu. Tapi gue masih bingung, mikirin apa gue ini?" kata Rini.
"Rini .... Mungkin dengan suami kamu bisa merahasiakan. Dengan anak kamu masih bisa menutup-nutupi. Tetapi cobalah dengan sahabatmu ini kamu curhat. Sampaikan masalahmu. Apa yang menjadi beban pikiranmu. Bisa dengan saya, Handoyo atau mungkin dengan Yudi. Pasti itu akan mengurangi beban pikiranmu. Kita ini sahabat, Rin ...." kata Alex memberi solusi.
"Iya, juga ya, Lex ...." kata Rini.
"Tadi dokter Handoyo sudah bicara ke saya, kelihatannya ada beban psikis yang menyelimuti pikiranmu. Itu artinya, Rini harus cerita, untuk mengudar masalah. Saya yakin, kamu takut cerita ke suamimu atau anakmu. Tapi kita masih bersahabat, kan? Ayo, ceritakan kepada kami." kata Alex.
"Masak harus seperti itu, Lex? Kok Handoyo menebaknya begitu?" sahut Rini.
"Bukan cuman dokter Handoyo yang menyimpulkan begitu. Saya juga mengatakan begitu." kata Alex.
"Memangnya kalian tahu masalahku?" tanya Rini.
"Rini .... Walaupun kami diam, sebenarnya kami paham. Tetapi tidak pantas untuk ikut campur dalam masalahmu." kata Alex lagi, yang langsung membuat Rini tertunduk.
"Begitu ya, Lex .... Maafkan gue, Lex ...." kata Rini agak malu.
"Jadi, benar kan apa yang kami simpulkan?" tanya Alex lagi.
"Iya, Lex .... Gue yang salah. Gue yang keliru. Sudah seharusnya gue yang menerima penderitaan semacam ini." sahut Rini pasrah.
"Saya kira tidak begitu, Rini. Ada solusinya. Harus diselesaikan. Obat yang paling mujarab bagi orang yang mengalami sakit psikis adalah membuka diri, membuka hati ..., lantas mau menerima kenyataan dengan menghargai dan saling menghormati." kata Alex.
"Iya, Lex .... Tapi bagaimana caranya?" tanya Rini yang ragu-ragu.
"Rini masih menganggap kami-kami adalah sahabat? Rini masih tetap mau bersahabat? Jika memang iya, maka nilai-nilai persahabatan kita di masa SMA dulu, harus kita ulang lagi seperti masa-masa muda kita dahulu. Semoga Rini mau, kalau kamu ingin sembuh dari psikismu." kata Alex.
"Iya, Lex .... Gue pasrah, apa mau kalian. Yang penting aku bisa kembali sehat." kata Rini yang pasrah.
"Oke, nanti saya akan komunikasikan dengan sahabat-sahabat kita. Dan tentu saya akan bilang ke suami Rini dulu, agar tidak ada hal yang bikin kurang nyaman." kata Alex.
__ADS_1
Ya, persahabatan empat sekawan, antara Handoyo, Alex, Rini dan Yudi, memang sangat mengesan. Tentu sahabat yang baik tetap akan saling bantu membantu, tolong menolong dan saling mengingatkan. Apalagfi saat sekarang Rini dalam posisi ngedrop, mengalami guncangan pikiran, maka sudah sepantasnya jika mereka harus membantu, menolong dan mencarikan solusi pengobatannya.
Sahabat yang baik pasti akan memahami arti sebuah persahabatan.