KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 133: KERIBUTAN DI TELEPON


__ADS_3

    Petang itu, lagi-lagi Silvy pulang ke rumah orang tuanya. Tentu alasannya ingin menemani ibunya yang di rumah sendiri. Apalagi sebelumnya, ibunya sudah berpesan kepada Silvy, akan diajak makan malam bersama. Silvy pun menelepon suaminya, agar saat pulang mampir dahulu ke rumah mertuanya, karena ada acara makan malam.


    "Silvy, aku gak bisa berlamaan di rumah Mamah, ini ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di rumah, bagaimana?" tanya Yayan saat ditelepon istrinya.


    "Yang penting makan malam dahulu, habis itu Mas Yayan langsung pulang. Biar Mamah senang, masakannya sudah dicicipi menantunya yang paling ganteng .... Hehe ...." sahut Silvy menegaskan kepada suaminya.


    "Oke lah, kalau begitu." jawab Yayan.


    Di rumah, Rini bersama Mak Mun sudah masak istimewa. Ada udang dan cumi yang dimasak bumbu saos asam manis, ada ayam sisir goreng kremes, ada daging kambing cincang bumbu lada hitam. Sayurnya ca brokoli, orak-arik tahu sutera dengan taoge, dan capcay. Rini juga menyiapkan es serut aneka buah. Petang itu, Rini benar-benar menyiapkan makan malam untuk anak dan menantunya yang luar biasa.


    Sebelum Yayan datang, Silvy sudah berkali-kali mencicipi es buahnya. Tentu sangat segar. Dan begitu suaminya datang, Silvy langsung menyuruh suaminya segera mandi, lantas segera makan. Tentu karena perut Silvy sudah ditahan dari tadi kepingin segera makan.


    Rini sudah siap untuk mengajak anak-anaknya makan. Maka Rini sudah mendahului duduk di ruang makan.


    "Silvy ..., Mas Yayan ..., ayo kita makan ...!" teriak Rini memanggil anak-anaknya.


    "Iya, Mah .... Sebentar ...." sahut Silvy dari kamar yang masih menunggu suaminya.


    Lantas dua orang itu pun datang menuju meja makan.


    "Wah ..., wah ..., wah .... Ini Mamah ngajakin kita pesta, ya .... Dalam rangka apa ini, Mah?" kata Yayan yang bingung melihat makanan di meja makan.


    "Pesta ...." jawab mertuanya.


    "Mamah ulang tahun, ya ...?" tanya Yayan.


    "Nggak .... Ulang tahunnya masih lama ...." jawab Rini.


    "Lha, terus acara apa ini, Mah ...?" tanya Yayan.


    "Pesta buang sebel ...." jawab Rini.


    "Ah, Mamah itu ada-ada saja ...." sahut Silvy yang menganggap ibunya aneh.


    "Dah ..., pokoknya dimakan saja ..., kita nikmati hidup, mumpung bisa makan enak." sahut ibunya.


    "Iya, Mah .... Hidup memang harus dinikmati. Jangan sampai berfikir yang terlalu berat, sehingga justru bisa membuat beban dalam hidup. Yang penting, kita bisa nyaman dan bahagia. Begitu kan, Mah ...." kata Yayan.


    "Ya iya, lah .... Masak kita mau menyengsarakan diri hanya untuk hal-hal yang tidak berarti. Yang penting dalam hidup kita bisa cukup. Tidak usah berlebihan, tetapi juga jangan kekurangan. Pas saja sudah sangat baik. Begitu anak-anakku sayang ...." kata Rini.


    "Iya, Mah ...." kata Silvy.


    "Itu masih kurang, Mah .... Harus ditambah lagi dengan berbagi. Setidaknya kita bisa memberi meski sedikit, kepada mereka yang membutuhkan." timpal Yayan.


    "Betul, Mas Yayan. Harta benda menumpuk sebanyak apapun, kalau mati tidak dibawa .... Malah kadang-kadang dijadikan rebutan oleh yang masih hidup." sahut Silvy.


    Mereka bertiga menikmati makan malam. Karena rasanya yang enak, dan jumlahnya juga pas untuk porsi tiga orang, paling-paling hanya menyisihkan untuk Mak Mun dan Mang Udel yang sudah disimpan di dapur oleh Mak Mun, maka mereka makan dengan rasa yang benar-benar asyik, benar-benar enak, dan ludes tanpa sisa.


    "Wah ..., nikmat betul, Mah .... Kenyang perut saya ...." kata Yayan yang sudah selesai duluan.


    "Saya juga kekenyangan ...." kata Silvy.


    "Mamah nggak habis .... Ini masih ada sisa sedikit. Habisin nanti, sambil ngobrol ...." kata Rini yang makanan di piringnya masih tersisa.Setidaknya masih ada daging kambing cincang dan setengah mangkuk capcay.

__ADS_1


    "Mah, Yayan minta maaf, nanti tidak bisa tidur sini .... Saya harus segera pulang." kata Yayan pada ibu mertuanya.


    "Lhoh, kok pulang ...?!" tanya ibunya.


    "Iya, Mah .... Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan di rumah." jawab Yayan.


    "Tapi Silvy tidur sini, kan ...?!" tanya ibunya lagi.


    "Iya, Mah .... Saya tidur sini, nemani Mamah." jawab Silvy.


    "Ya udah, saya langsung pamit pulang ya, Mah ...." kata Yayan yang langsung menyalami dan mencium tangn ibu mertuanya. Kemudian juga bersalaman dengan Silvy dan mencium istrinya. Lantas pulang.


    "Hati-hati, Mas Yayan ...." Kata Silvy yang melepas suaminya pulang.


    Selanjutnya, setelah membereskan makan malamnya, Rini mengajak anaknya masuk ke kamarnya. Ada rahasia yang harus disampaikan.


    "Silvy ..., Mas Jo tadi pagi kemari." kata Rini mengawali pembicaraannya.


    "Memang kenapa, Mah ...? Laporan ya, kalau Silvy telepon dia ...?" tanya Silvy.


    "Iya, tapi justru ada yang penting disampaikan oleh Mas Jo ke Mamah. Mungkin maksudnya biar Mamah tidak kaget." jawab ibunya.


    "Kaget kenapa ...?!" Silvy penasaran.


    "Ternyata benar dugaan Silvy kemarin. Berita Papah kamu bermesraan dengan pelakor itu sudah diketahui oleh orang-orang di perusahaan." kata Rini.


    "Ya pastilah, Mah .... IG itu bisa dibuka oleh siapa saja .... Apalagi kalau teman-temannya mengikuti ..., langsung muncul itu postingan-postingan di IG. Pasti viral lah, Mah ...." sahut Silvy yang lebih paham tentang medsos.


    "Tapi masalahnya bukan itu, Sayang .... Mas Jo membawa berita lain ...." kata Rini.


    "Papah kamu mau dipecat." jawab ibunya.


    "Hah ...?!" Silvy terkejut. Tentu kaget mendengar kata-kata ibunya. "Memang kenapa, Mah ...?" tanya Silvy selanjutnya.


    "Ketahuan selingkuh sama pelakor itu. Dan itu menurut para komisaris sudah mencemarkan kredibilitas perusahaan." jelas Rini.


    "Sama pelakornya itu juga dipecat?" tanya Silvy lagi.


    "Kata Mas Jo, pelakornya sudah jelas langsung dipecat. Tinggal menunggu pulang dari Jerman. Begitu sampai Jakarta, surat pemecatan langsung diberikan." jawab ibunya.


    "Sukurin loh ..., pelakor gak tau malu ...!" Silvy menyumpah.


    "Itulah yang ingin Mamah diskusikan sama kamu, Sayang. Bagaimana nanti nasib kita ...." kata Rini pada anaknya.


    "Iya, ya ..., Mah .... Kita pasti kena imbasnya ...." resah Silvy yang mulai khawatir juga.


    "Sebenarnya Mamah mulai khawatir, Sayang .... Papah kamu sebenarnya kan hany tinggal dua bulan bekerja, setelah itu pensiun. Tetapi kenapa harus dipecat? Mamah khawatir Papah kamu akan stres ...." kesah Rini pada anaknya.


    "Terus kita mau bagaimana, Mah ...? Apa Mamah sudah telepon Papah tentang hal ini?" tanya Silvy.


    "Kemarin telepon berkali-kali tidak diangkat. Kirim pesan di WA juga tidak dibalas. Papah kamu sendiri, sejak kejadian itu tidak pernah menelepon lagi. Mamah jadi bingung, Silvy ...." kata ibunya.


    "Mah, saya coba telepon Papah, ya .... Jam segini kan di Jerman masih siang. Setidaknya Papah masih bisa dihubungi." kata Silvy yang langsung mengangkat HP, menelepon ayahnya.

__ADS_1


    "Ya, coba saja .... Siapa tahu kalau anaknya yang telepon langsung diangkat." kata ibunya yang berharap.


    Silvy langsung menggeser HP, mencari kontak ayahnya. Lalu menelepon. Sengaja Silvy menekan tombol handsfree, agar ibunya bisa mendengar percakapan. HP ayahnya berdering, tanda aktif.


    "Halo .... Siapa ini?" suara perempuan yang menjawab.


    Silvy memberi tanda telunjuknya ditempelkan ke bibir, agar ibunya menutup mulut, tidak bersuara. Tentu Rini kaget, telepon suaminya diangkat oleh wanita. Demikian juga Silvy, tentu lebih penasaran karena jawaban perempuan itu yang menanyai dirinya. Berarti HP ayahnya dipegang oleh perempuan itu. Apa hubungannya?


    "Saya mau bicara dengan Papah ...." jawab Silvy yang tegas.


    "Papah siapa? Anda siapa?" suara perempuan dalam telepon itu bertanya.


    "Maaf, Mbak ini siapa? Tolong HP nya berikan ke Papah ...!" kata Silvy keras.


    "Anda itu ditanya tidak menjawab, kok malah berkata kasar .... Ini HP suami saya, mau saya pegang, mau saya simpan, mau saya tutup, itu hak saya, tahu!" perempuan dalam telepon itu justru ganti membentak.


    Mendengar kata-kata dari telepon itu, tentu Rini kaget. Demikian juga Silvy, emosinya langsung meluap.


    "Eh, pelakor ...! Berikan HP itu pada Papahku ...!" bentak Silvy kepada perempuan yang menjawab telepon ayahnya.


    "Dasar perempuan kurang ajar, kamu yang pelakor! Manggil suamiku dengan ngaku-ngaku papah!" wanita yang ditelepon itu juga emosi, dan justru berbalik menuduh Silvy sebagai pelakor.


    "Kalau kamu bukan pelakor, coba berikan HP itu ke Papah! Nanti kamu akan tahu siapa saya!" tantang Silvy.


    "Ngapain ...? Suamiku sedang sibuk kerja tidak bisa menerima telepon!" bantah wanita itu.


    "Masak malam-malam begini masih sibuk kerja? Bohong kamu!" Silvy mulai menjebak.


    Diam sejenak. Pasti kalau perempuan itu menjawab siang, berarti ketahuan kalau sedang ada di Jerman.


    "Ya tidak apa-apa, biar dapat uang banyak ...!" jawab wanita dalam telepon yang mungkin bingung mencari alasan.


    "Eh, pelakor ..., tolong berikan HP itu pada Papah ...! Saya mau bicara penting!" bentak Silvy meminta telepon diberikan ke ayahnya.


    "E ..., e ..., e .... Kamu itu siapa nuduh orang pelakor! Kamu itu yang pelakor!" wanita itu masih bersikeras tidak mau menyerahkan HP.


    "Saya itu tahu siapa kamu! Kamu itu memang pelakor! Kamu Lina, kan ...?! Dasar jomblo gatel!" tegas Silvy yang sudah sangat muak dengan perempuan yang menerima telepon itu.


    "Tlung." telepon itu langsung dimatikan oleh wanita yang sudah diomeli oleh Silvy.


    Rini yang duduk di kasur dekat dengan anaknya saat mendengar suara telepon dari HP Silvy, sudah meneteskan air mata. Menangis sedih. Ternyata suaminya sudah benar-benar gila, suaminya sudah takluk oleh wanita pelakor itu, suaminya sudah dikuasai oleh jomblo gatel.


    "Mah ..., sudah, Mah .... Ngak usah sedih .... Kita harus melawan, apapun kondisi kita. Kita berdoa, Mah .... Semoga Papah cepet sadar ...." kata Silvy yang sudah memeluk ibunya.


    "Iya, Sayang .... Mamah kamu ini kurang apa? Mamah harus bagaimana?" Rini yang khawatir, tentu sangat sedih.


    "Kata Mamah, hidup ini harus dinikmati .... Gak usah dipikirin, Mah ...." bujuk anaknya.


    "Iya ..., tapi Mamah khawatir, Sayang ...." kata ibunya.


    "Nggak usah ada rasa khawatir, jalani saja apa yang terjadi, Mah .... Kita ambil yang nikmat saja. Pasti di balik musibah ini, nanti ada hikmat yang lebih baik." lagi-lagi Silvy menghibur ibunya.


    "Iya, Sayang .... Kamu tidur di sini, ya .... Temani Mamah." kata Rini yang mulai merebahkan tubuhnya di kasur.

__ADS_1


    "Iya, Mah ...." sahut Silvy yang juga ikut merebahkan tubuhnya.


    Dua wanita itu sudah berbaring di kasur. Tetapi mata mereka tidak segera terpejam, melainkan melamun membayangkan entah apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing. Tentu dengan persoalan yang sama.


__ADS_2