KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 173: KYOTO - SAKAI


__ADS_3

    Seperti yang dipesankan oleh pejabat dari Konsulat Jenderal, Yudi langsung berangkat menuju Jepang. Dengan naik pesawat Japan Air Lines dari Jakarta menuju Tokyo. Sesampai di Bandar Udara Haneda, Tokyo, Yudi langsung menuju Kyoto dengan mengendarai kereta cepat Tokyo - Kyoto. Yudi naik kereta Shinkansen Nozomi yang sering dijuluki juga dengan kereta peluru, karena bentuk dan kecepatannya seperti peluru. Orang-orang Jepang menyebut dengan istilah 'bullet train'. Yaitu kereta super cepat yang sanggup melaju dengan kecepatan lebih dari tiga ratus kilometer per jam. Jarak dari Tokyo sampai Kyoto sejauh lima ratus kilometer, ditempuh dalam waktu hanya sekitar dua jam saja. Sangat cepat sekali.


    Sesampai di Kyoto, Yudi langsung menuju apartemen Yuna. Tentu sudah sangat lama ditinggalkan, semenjak Yuna bertugas ke Jogja. Yudi yang sudah beberapa kali masuk ke apartemen Yuna, dia sudah paham, bahkan tahu tempat kunci rahasia. Maka tidak butuh bantuan dari bagian keamanan atau petugas dari apartemen, Yudi sudah bisa membuka pintu dan masuk ke ruang apartemen Yuna.


    Yudi langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur apartemen itu. Tentu karena kecapaian melakukan perjalanan yang cukup jauh. Jogja - Kyoto. Kota dengan karakteristik yang sama. Sehingga bagi Yudi, Kyoto tidak terlalu aneh, tidak terlalu jauh berbeda dengan Jogja. Tentu sama-sama sebagai kota budaya, dan sama-sama pernah menjadi ibu kota negara.


    Setelah sejenak melemaskan punggungnya, Yudi bangun, bangkit berdiri. Ia langsung mengamati ruangan Yuna. Tidak ada yang berubah. Semua masih tertata rapi, seperti halnya kalau Yuna menata tempat tidurnya di rumah Yudi. Sangat bersih dan rapi. Persis seperti orangnya yang cantik, dengan kulit bersih dan penampilan rapi.


    Lantas Yudi membuka lemari. Pakaian Yuna juga masih rapi. Tidak ada perubahan sama sekali. Sama seperti saat Yudi menaruh pakaiannya di lemari itu, sekitar delapan bulan yang lalu. Tangan Yudi menyibak gantungan pakaian Yuna yang ada di lemari itu. Ada gambar yang menempel pada dinding lemari. Yudi mengamati gambar itu. Ternyata foto dirinya bersama Yuna yang diprint, lantas dipasang di dinding lemari pakaian.


    "Ah ...." Yudi tersenyum mengamati foto itu.


    Yudi ingat persis, foto dirinya bersama Yuna yang tertempel di dinding lemari itu diambil di Arashiyama, hutan bambu yang dikatakan sebagai jembatan menuju surga. Waktu itu, saat pertama kali Yudi datang ke Kyoto. Yuna menyandarkan tubuhnya di bahu Yudi. Senyum yang khas, menempel di bibir gadis cantik itu. Tidak mengira, jika kini Yuna menjadi istrinya.


    "Ah ..., berarti Yuna sudah mengagumi diriku sebelum aku tertarik padanya." gumam Yudi.


    Ya, Yudi baru sadar, kalau ternyata Yuna sudah menaruh dirinya dalam hatinya sejak lama. Pantas gadis itu mati-matian memperjuangkan pembangunan Taman Awang-awang. Rupanya, inilah cinta yang dibangun oleh Yuna. Yudi memandangi foto itu terus. Tidak henti, hingga air mata itu menetes membasahi lantai.


    Kemudian Yudi memcoba menarik laci yang ada di lemari itu. Ternyata dikunci. Yudi berusaha mencari kuncinya. Lama tidak ketemu. Hingga akhirnya, ia melihat ada benda yang menempel di bagian langit-langit lemari. Yudi meraihnya. Ternyata anak kunci. Lantas ia mencoba memasukkan anak kunci itu pada laci lemari. Dan ternyata, bisa dibuka. Yudi menarik lacinya. Melihat isi laci. Ada banyak benda. Ada buku rekening, dan beberapa benda laninnya. Termasuk ada dompet kecil yang berisi beberapa flashdisc. Yudi mengambil flashdiscnya, lantas disimpan di dalam sepatunya. Yudi menutup kembali laci itu, mengunci dan mengembalikan lagi kuncinya pada tempat semula. Kemudian kembali merapikan pakaian Yuna. Seolah lemari itu tidak pernah disentuh.


    Selanjutnya Yudi memeriksa tempat lainnya. Tetapi masih sangat rapi. Tidak ada yang mencurigakan. Bahkan kamar mandi juga kering. Tidak pernah terkena air. Berarti memang apartemen Yuna tidak pernah dimasuki orang.

__ADS_1


    Yudi yakin. Setelah ditangkap, Yuna belum memasuki ruang apartemennya. Setidaknya, pihak yang berkepentingan menangkap Yuna, belum memeriksa kamarnya. Yudi lega, apartemen Yuna masih aman. Tetapi ia tetap tidak akan tidur di kamar itu. Demi menjaga privasi Yuna.


    Hari itu, Yudi memutuskan untuk langsung berangkat menuju Kota Sakai, kota tempat kelahiran Yuna. Di kota kecil inilah orang tua Yuna, ayah bersama ibunya tinggal. Yudi naik bus, dari stasiun di Kyoto menuju Sakai Station West Gate. Lumayan lama. Sekitar satu jam perjalanan. Tetapi bagi Yudi, naik bus lebih enak bila dibandingkan naik taksi. Karena lebih murah ongkosnya dan nyaman untuk duduk berselonjor. Dan rumah mertuanya juga dekat dengan Sakai Station West Gate.


    Yudi tidak memejamkan mata. Ia baru pertama kali ini pergi ke Kota Sakai. Tentu ia ingin melihat secara rinci kota yang akan didatangi. Terutama jalan menuju rumah mertuanya.


    Satu jam perjalanan, akhirnya Yudi sampai di kota kecil Sakai.


    "Moshiwakearimasenga, kono adoresu wa doko ni arimasu ka?" Yudi menanyakan catatan alamat yang dibawanya kepada sopir bus, saat berhenti di Sakai Station West Gate.


    Sang sopir bus itu membaca alamatnya, lantas katanya, " Oh, Kono jusho wa muko ni arimasu." kata sopir bus sambil menunjukkan arah alamat yang ditanyakan Yudi.


    "Jinrikisha ni noru dake. Sagashite iru jūsho o pedikabu no untenshu ni tsutaete kudasai. Atode anata wa soko ni tsukisowa remasu." kata sopir bus yang menyampaikan agar Yudi memberi tahu alamat itu, pasti akan diantar oleh si tukang becak.


    "Arigatogozaimashita." Yudi mengucapkan terima kasih. Tentu sambil membungkukkan badan. Lantas ia keluar dari stasiun, untuk naik becak Kota Sakai.


    Benar seperti yang disampaikan oleh sopir bus. Di luar stasiun, banyak penarik becak yang ada di situ. Becak di Kota Sakai, tidaklah seperti yang ada di Indonesia. Kalau becak di Indonesia umumnya beroda tiga dan yang mengendarai ada di belakang, sedangkan yang naik ada di depan. Tetapi becak di Kota Sakai, hanya beroda dua. Penumpangnya duduk di belakang, yang ditarik dengan dua tongkat oleh penarik becaknya. Jadi yang benar sebutan penarik becak ada di Sakai. Kalau di Indonesia bukan penarik, tetapi penggenjot becak.


    Yudi langsung mendekati penarik becak. Lantas menunjukkan alamat rumah mertuanya kepada si penarik becak. Tukang becak itu mengangguk menghormat kepada penumpangnya. Lantas Yudi naik ke atas kursi becak. Si tukang becak itu langsung mengangkat tongkat becaknya, dan langsung menarik dengan cara setengah berlari.


    Sebenarnya, becak-becak di Kota Sakai ini digunakan untuk wisata. Namun terkadang juga dipakai untuk keperluan lain bagi para warga. Misalnya, pulang pergi ke pasar, ke stasiun bus, serta kebutuhan lain. Yang jelas, penarikan becak itu bisa memberi lapangan kerja bagi masyarakat.

__ADS_1


    Dalam waktu tidak begitu lama, becak sudah sampai di sebuah gang yang tidak begitu ramai. Lantas berhenti di sebuah rumah, dengan arsitek khas Jepang. Rumah itu tidak begitu besar, tetapi sangat asri dan artistik. Indah sekali.


    "Kore wa kare no iedesu, sa." tukang becak itu mengatakan, sudah sampai di rumah yang dicari.


    "Arigatogozaimashita." kata Yudi berterimakasih, serta memberikan uang ongkosnya.


    Yudi langsung menuju pintu pagar, kemudian membunyikan tanda sebagai bel, yaitu berupa beberapa potongan bambu yang diraut menjadi sebuah mainan yang menghasilkan bunyi. Kalau alat ini disentuh penariknya, maka akan menghasilkan alunan irama musik tradisional khas Jepang. Yudi menyentuhnya. Irama bel rumah yang terbuat dari bilah-bilah bambu itu sangat mengesankan.


    "Chottomatte ...." kata seorang wanita. Pasti ibunya Yuna. Keluar rumah, dan membukakan pintu pagar.


    "Mama ..., Hahaoya .... Huk ..., huk ..., huk ...." Yudi langsung memeluk wanita itu, ibu mertuanya. Ia menangis dipelukan ibu mertuanya.


    "Yudi ...." ibu mertua Yudi juga menangis. Memeluk dan menciumi Yudi. Lantas mengajak Yudi masuk ke dalam rumah.


    Begitu menyaksikan istrinya memeluk Yudi sambil menangis, ayah Yuna yang duduk di kursi goyang, langsung turun. Berlari kecil menemui anak menantunya. Laki-laki itu pun ikut memeluk Yudi. Tentu juga langsung menangis.


    "Watashi no musuko ...,Yudi ...." ayah mertua Yudi juga memeluk dan menangis.


    "Chichioya .... Hu ..., hu ..., huk ...." Yudi menangis sejadi-jadinya.


    Tiga orang itu, anak menantu, ibu dan ayah mertua, melepas penat dalam hatinya dengan saling menangis. Biarlah tangis ini bisa menghilangkan ganjalan yang membelenggu perasaan, kejengkelan yang tidak mungkin dilampiaskan. Tangis itu menunjukkan kesedihan yang tidak bisa ditebus dengan apapun. Tangis yang menimbulkan sakit. Dan sakit yang mungkin tidak akan terobati untuk selamanya.

__ADS_1


__ADS_2