
Mobil Yudi melaju di Jalan Daendels Selatan, dari Bantul menuju Bandara Internasional Yogyakarta. Yudi menyetir tidak terlalu kencang, tentunya karena ingin berdekatan lebih lama dengan wanita penggores kata cinta dalam hatinya, yaitu Rini. Perjalanannya menuju bandara tentu berbeda dengan perjalanan kemarin waktu menuju Pantai Indrayanti. Berbeda seratus delapan puluh derajat. Jika perjalanan ke Pantai Indrayanti diwarnai dengan canda, tawa, serta berbagai gurauan. Ceria dan bahagia. Kemesraannya terungkap untuk menatap masa depan. Tetapi kali ini, mereka berdua hanya terdiam di dalam mobil. Yudi yang memang pendiam, tidak berkata-kata sedikitpun. Ia hanya memandangi jalan yang disusuri. Namun diam Yudi bukanlah karena konsentrasi di atas jalan, melainkan memendam sebongkah rasa yang tidak mungkin dapat tergapai, yaitu mencegah kepulangan Rini.
Demikian juga Rini, yang sebelumnya terlihat ceria setelah tahu orang yang dikagumi itu tetap menyimpan cintanya, kini ia bersedih karena harus meninggalkan kebahagiaan yang baru saja terbangun. Sedih untuk meninggalkan bintang-bintang yang sudah dipajang oleh Yudi, sedih meninggalkan kampung yang dibangun oleh Yudi, dan tentu sedih untuk meninggalkan rumah kerajaan milik Yudi yang telah memberikan kenyamanan untuk beristirahat. Yang paling menyedihkan adalah ia harus berpisah dengan orang yang sangat disayanginya.
Ya, kesedihan dua orang yang saling menyayang, saling mencinta, namun tak mungkin untuk bersatu dan saling memiliki. Karena Rini harus pulang, kembali kepada sang pemilik, yaitu keluarganya. Tentu, diam mereka adalah kesedihan harus berpisah.
"Yudi, audio kamu ada bluetooth-nya?" tanya Rini pelan.
"Ada, sebentar." Yudi menyalakan audionya, kemudian memencet gambar bluetooth di layar audio.
"Sudah nyala." lanjut Yudi yang kemudian terdiam lagi.
Rini menyeret layar HP-nya, mencari koneksi dengan bluetooth audio. Selanjutnya, audio mobil Yudi menyuarakan musik. Rini duduk miring ke kanan, menyandarkan kepalanya di jok mobil. Ia memandangi lekat pada wajah Yudi yang sedang menyetir, sambil bernyanyi mengikuti irama musik, yang menyuarakan lagu dari Seventeen, Jaga Slalu Hatimu.
"Kau jaga selalu hatimu saat jauh dariku, tunggu aku kembali .... Haaa haaa haaa haaa .... Mencintaimu aku tenang, memilikimu aku ada ..., di setiap engkau membuka mata .... Merindukanmu selalu ku rasakan .... Selalu memelukmu penuh cinta, itu yang selalu aku inginkan .... Kau mampu membuatku tersenyum dan kau bisa membuat nafasku lebih berarti ....
Kau jaga slalu hatimu, saat jauh dariku, tunggu aku kembali .... Ku mencintaimu slalu, menyayangimu sampai akhir menutup mata .... Hohoo ....
Kau jaga slalu hatimu, saat jauh dariku, tunggu aku kembali .... Ku mencintaimu slalu, menyayangimu sampai akhir menutup mata ...."
Suara Rini sangat pas dengan nada yang berdendang. Rini memutar berulang-ulang dan menyanyikan lagu ini terus menerus, sambil tangannya mengelus pipi Yudi dengan mesra. Sangat mesra. Rini benar-benar menyuarakan isi hatinya, seakan ia takut kehilangan Yudi.
Yudi yang dinyanyikan serta dielus pipinya oleh tangan wanita yang ia cintai, menjadi bertambah sedih. Dulu sudah kehilangan, saat ia belum sempat menyampaikan perasaan hatinya. Dan kini, sebentar lagi ia akan kehilangan lagi untuk yang kedua kalinya, justru saat cinta di hatinya sedang berkembang. Tanpa terasa, air mata pun menetes di pipi Yudi.
Rini mengusap air mata yang membasahi pipi Yudi dengan jemari tangannya.
"Kenapa, Yud?" tanya Rini sambil mengusap air mata di pipi Yudi.
Yudi tidak menjawab. Hanya diam dan menarik nafas berkali-kali. Jelas menampakkan kegundahan.
__ADS_1
"Jangan sedih, sayang .... Hatiku juga sama seperti kamu, Yud. Aku takut kehilangan kamu." kata Rini.
Yudi mengambil napas panjang, lalu melepaskan kembali. Berkali-kali mendesah. Ia konsen memandangi jalan, tidak menoleh sedikitpun pada Rini yang ada di sampingnya. Ia sadar, dirinya sedang menyetir di jalan raya yang ramai. Ia harus waspada.
Tangan Rini mengelus rambut Yudi. Membelai dengan mesra. Ada belas kasihan, dimana Rini tidak bisa berbuat apa-apa. Ada sesuatu yang membuat Rini merasa bersalah. Tapi apa daya, ia sudah milik orang lain, ia sudah punya suami, ia harus pulang, ia harus kembali ke keluarganya.
"Yudi, aku minta maaf, ya ...." kata Rini yang masih membelai rambut Yudi.
Tanpa terasa, air mata pun meleleh di pipi Rini. Bahkan Rini mulai sesenggukan, menangis di bahu Yudi.
"Yud .... aku takut kehilangan kamu ...." desah Rini di telinga Yudi.
Yudi tetap saja diam. Hatinya yang bergelora dengan berbagai perasaan, membuat gerah dalam jiwanya. Walau demikian, mulutnya tidak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata. Lidahnya kelu, bibirnya mengatup kuat. Ia hanya memendam semua perasaan-perasaan itu. Ia tidak kuasa untuk mengutarakan gemuruh rasa yang ada di dalam dadanya.
Perjalanan yang menyedihkan, menguras energi untuk menenangkan hati. Seakan baru sebentar, ternyata waktu sudah berputar lama. Padahal dua orang dalam mobil itu belum menyelesaikan persoalan. Mereka belum sanggup melepaskan ikatan yang kusut dalam hatinya. Namun tanpa terasa, ternyata mobil Yudi sudah memasuki gedung parkir Bandara YIA.
"Kita sudah sampai, Rin. Ayo saya antar sampai pintu masuk." kata Yudi selesai memarkirkan mobilnya.
Tangan Rini meraih kepala Yudi, lantas memeluk erat dan menciuminya berkali-kali.
Yudi diam saja. Pasrah dengan apa yang dilakukan oleh orang yang dia cintai. Biarlah Rini melepaskan semua perasaannya melalui ciuman, agar tidak kecewa saat ia pulang nanti. Biarlah orang yang dicintainya puas dengan perlakuannya sebelum perpisahan.
"Ayo, saya antar sampai ke pintu keberangkatan." ajak Yudi pada Rini.
"Hooh ...." jawab Rini yang melepaskan pelukannya, lantas mengusap air mata yang mengucur.
Dua orang yang tidak ingin berpisah itupun, dengan perasaan enggan, akhirnya turun dari mobil. Walau terasa berat untuk meninggalkan kota yang penuh kenangan, mereka berjalan menyusuri koridor dari tempat parkir menuju ruang keberangkatan. Yudi mendorong koper besar yang penuh dengan pakaian dan belanjaan milik Rini. Sementara Rini berjalan disamping kiri Yudi, menggandeng erat tangan Yudi dan tidak ingin melepaskannya.
"Rini, kita mesti berpisah. Saya hanya bisa mengantar sampai batas pintu masuk. Silakan check in, jangan sampai terlambat." kata Yudi di depan pintu masuk.
__ADS_1
"Aku gak mau berpisah, Yud." kata Rini pada Yudi. Sekali lagi air mata ikut menetes.
"Jika Tuhan mengijinkan, pasti ada waktu untuk kita bisa bertemu lagi." kata Yudi.
"Iya. Terimakasih sudah mencintaiku dengan sepenuh hati. Aku semakin kagum padamu, Yud, yang teguh mempertahankan cintamu." kata Rini yang memegangi kedua tangan Yudi, sambil memandang lekat wajah laki-laki yang ada di hadapannya.
"Aku juga berterimakasih, Rin ..., kamu sudah membuka hatiku." sahut Yudi.
Lantas Yudi memegang dua pundak Rini. Mendekat ke wajahnya. Lantas Yudi mengecup kening Rini. Kecupan perpisahan.
Rini memejamkan mata. Baru kali ini ia merasakan dicium oleh laki-laki yang sangat ia cintai. Sungguh kecupan yang penuh kasih sayang. Kecupan cinta yang tulus dan murni.
"Hati-hati di jalan, Rin. Semoga Tuhan memberikan rahmat-Nya." kata Yudi melepas tangannya.
"Terimakasih, Yudi. Jaga hatimu, tunggu aku kembali." kata Rini pada Yudi.
Rini berjalan masuk, mendorong koper besar, melintasi pemeriksaan pintu masuk bandara.
Yudi belum beranjak pergi. Pandangannya terus mengamati Rini, menunggu sampai orang yang diperhatikan itu hilang dari pandangannya. Setelah orang yang disayangi itu tidak terlihat lagi, Yudi baru memutar tubuhnya, berjalan gontai menuju gedung parkir. Lemas seluruh tubuh. Hilang gairah hidupnya.
"Kriiing .... Kriiing .... Kriiing ...." telepon Yudi berbunyi.
Yudi melihat panggilan. Rini. Panggilan itu nomor HP Rini. Ia langsung berhenti dan mengangkatnya.
"Halo, Rin ...?! Ada yang ketinggalan?" tanya Yudi.
"Iya, Yudi ku sayang .... Sengaja aku tinggalkan sebongkah cinta untukmu. Mohon dijaga, ya ...." sahut Rini dari HP.
"Iya, sayang .... Aku menunggumu kembali, menjadi permaisuriku, mengisi bintang-bintang kehidupan di istanaku." jawab Yudi dengan hati berbinar.
__ADS_1
"Tunggu aku kembali, sayang ...." sahut Rini yang sudah bersiap naik pesawat.