KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 6: TELEGRAM DARI JERMAN


__ADS_3

    PUKUL 07.00 WIB, Hamdan dan Rini turun dari kamar, menuju restoran hotel yang ada di lantai tiga.


    "Selamat pagi, Bapak, Ibu .... Dari kamar berapa?" tanya pegawai restoran yang ada di depan pintu masuk.


    "Pagi, Mbak ...." jawab Hamdan sambil menunjukkan kartu kamar.


    "Baik, Bapak. Silahkan menikmati hidangan restoran kami, Bapak, Ibu .... Semoga Bapak Ibu senang." kata pegawai restoran yang mempersilakan tamunya.


    Hamdan dan Rini masuk ke ruang restoran. Sejenak mereka mengamati ruangan. Tampak konsep ruang makan yang tertata rapi, dengan aneka menu yang aduhai. Bukan hanya menu-menu internasional maupun nusantara, tetapi juga menyediakan menu-menu khas daerah. Ada jamu tradisional yang tersaji dalam dunak, khas seperti yang dijual oleh bakul jamu, terdapat di sudut restoran. Di restoran hotel ini pun yang meladeni juga mengenakan pakaian adat, layaknya penjual jamu yang sesungguhnya. Rini langsung meminta segelas jamu kunir asem, jamu tradisional jawa yang terbuat dari perasan empu kunyit dan asam jawa yang ditambahi gula batu. Tapi di hotel ini jamu kunir asem rasanya berbeda, ada tambahan kayu manis, sehingga rasanya lebih mantap. Walau hanya jamu tradisional, kunir asem ini banyak memiliki manfaat. Kunyit mengandung bahan aktif yang berfungsi sebagai analgesik yang bisa meredakan rasa nyeri, mengandung antipiretik yang dapat menurunkan suhu tubuh saat demam, serta mengandung zat anti radang yang bisa meredakan radang tenggorokan. Begitu juga dengan asam jawa yang banyak mengandung bahan aktif sebagai anti radang, antipiretik, dan penenang. Manfaat dari jamu kunir asem ini bisa meredakan nyeri saat datang bulan, sebagai antioksidan yang menangkal radikal bebas dalam tubuh, bisa menurunkan berat badan, tentunya sangat cocok untuk diet, serta mampu mengendalikan gula darah dalam tubuh. Sangat banyak manfaatnya.


    "Aaaaah .... Segar, Pah." kata Rini yang sudah menghabiskan segelas jamu kunir asem.


    Di sebelah bakul jamu ada tiga drinkpot yang berisi jus jeruk, jus apel dan air lemon. Hamdan mengambil jus jeruk, dengan gelas kecil. Lalu duduk, memilih meja yang untuk berdua.


    "Bapak mau minum teh atau kopi?" tanya pelayan restoran.


    "Terimakasih, Mbak ..., saya minum air putih saja." jawab Hamdan.


    Rini sudah mengambil buah satu piring. Ada semangka, melon dan pepaya. Ia nikmati bersama suaminya. Setelah menghabiskan buah, Rini mengambil omelet sebanyak dua gulung. Lantas mengambil roti tawar dua lembar. Di meja, omelet tersebut ditaruh di atas roti tawar. Satu untuknya, yang satu untuk suaminya.


    Selesai mencicipi roti tawar plus omelet, Hamdan mengambil nasi gudeg. Nasinya sedikit, gudegnya sedikit, ditambah sambal goreng krecek dan telor separo, di atasnya diberi suwiran daging ayam. Kelihatan nikmat. Gudeg khas Jogja. Ya, Jogja yang terkenal sebagai kota gudeg, hotel-hotel besar selalu menyajikannya, sebagai ciri khas menu khas dari Yogyakarta. Hamdan sangat menikmati enaknya nasi gudeg.


    Rini mengambil nasi pecel. Nasinya sedikit ditambahi rebusan sayuran, ada bayam, kol dan taoge, kemudian dikucuri sambal kacang. Di atasnya ditaruh peyek dari kacang tanah. Nikmat dan sehat.


    Di bagian tengah tertata panci prasmanan stainless yang menyediakan menu nasi putih, nasi goreng, bihun goreng, kwetiau, ayam goreng, ikan filet bumbu tepung, ada mangkuk berisi sambal, juga terdapat acar mentimun, dan ada stoples berisi kerupuk. Sementara di sisi sebaliknya terdapat menu aneka roti dan kue. Selain roti yang beraneka macam, ada pula puding yang dilumeri susu dan coklat. Di rak yang lain terdapat aneka rebusan. Ada jagung rebus, singkong, ketela rambat dan pisang. Di sampingnya ada gorengan mendoan dan bakwan. Di bagian sisi yang lain terdapat menu bakmi dan bakso. Di sebelah bakmi dan bakso terdapat bubur ayam. Semua tamu bisa menikmati makanan yang dia suka.

__ADS_1


    Demikian juga Hamdan dan Rini. Suami istri itu menikmati menu-menu yang ada di restoran hotel. Walau sedikit-sedikit, mereka mencicipi banyak menu. Ingin merasakan enaknya masakan yang dihidangkan.


    "Trrrruuuutt .... Trrrruuuutt .... Trrrruuuutt .... Trrrruuuutt ...!" HP Hamdan bergetar. Ada panggilan. Hamdan mengambil HP dari sakunya.


    "Siapa, Pah?" tanya istrinya.


    "Mbak Sarah, Mah." jawab Hamdan, lantas menjawab panggilan, "Haloo ..., Mbak Sarah .... Ada masalah, Mbak?" tanya Hamdan menjawab telepon.


    "Maaf mengganggu liburannya, Bapak. Mau menyampaikan kabar, ada telegram dari Jerman yang menyampaikan berita, Tuan Nicolaus Konstantino berkunjung ke Jakarta mau bertemu Bapak untuk membahas rancangan program yang kita tawarkan." suara Sarah sekretaris Hamdan dalam telpon.


    "Kapan, Mbak Sarah?" tanya Hamdan.


    "Hari ini, Bapak. Jika Bapak akan balik ke Jakarta untuk menemui langsung Tuan Nicolaus Konstantino, kami akan reschedule penerbangan Bapak. Namun jika Bapak tidak bisa, biar nanti saya dan Mas Yanuar yang menyampaikan penawaran rancangan program kita." jawab Sarah.


    "Ya, Mbak Sarah, demi kepercayaan klien, saya harus hadir untuk meyakinkan. Saya harus pulang, tolong saya dicarikan tiket penerbangan secepatnya. Untuk keperluan tamu, tolong Mr. Nicolaus diterima dan diatur penginapan serta jadwal pertemuan. Tiket saya diusahakan secepatnya. Saya saja, ya ..., Tiket Ibu tidak usah diganti. Yang balik Jakarta saya sendiri." suruh Hamdan pada sekretarisnya.


    "Oke, Mbak Sarah, tolong teman-teman diatur. Yanuar dihubungi untuk menyiapkan presentasinya." kata Hamdan.


    "Baik, Bapak .... Kami akan siapkan segalanya. Terimakasih Bapak, sampai ketemu nanti sore." jawab Sarah mengakhiri pembicaraan dengan direkturnya.


    "Mah ..., Papah mohon maaf, ya .... Maaf yang sebesar-besarnya." kata Hamdan pada istrinya, "Papah  harus balik ke Jakarta. Ada tamu dari Jerman yang meminta presentasi usulan proyek dari perusahaan kita. Mamah tidak marah kan, Papah nggak jadi nemenin reuni?" lanjut Hamdan.


    "Nggak papa, Pah .... Saya paham kok. Toh, itu juga untuk kita, untuk kemajuan perusahaan Papah." kata Rini yang memandang dengan senyum pada suaminya. Ia sangat maklum dengan kesibukan suaminya.


    "Mamah nggak marah, kan?" tanya Hamdan lagi.

__ADS_1


    "Enggak ..., Pah ...." jawab Rini kembali menegaskan ke suaminya. Tangan kanannya menggapai pundak suaminya, kepalanya menyandar di pundak suaminya, tangan kirinya mengelus dada suaminya.


    "Bener, Mah ...? Papah minta maaf ya .... Papah pulang sendiri, Mamah tetap di sini saja untuk mengikuti acara reuni teman-teman Mamah." kata suaminya lagi, sambil mengelus rambut istrinya.


    "Iya, Pah .... Tidak apa-apa ...! Toh tadi malam kita sudah jalan-jalan berdua, keliling Jogja .... Kayak orang bulan madu, hehehe ...." sahut Rini sambil bermanja di dada suaminya.


    "Terimakasih ya, Mah .... Doakan semoga paparan yang disampaikan ke Mr. Nicolaus lancar dan disetujui." kata Hamdan pada istrinya.


    "Iya, Pah ..., semoga lancar, sukses dan berhasil." kata Rini.


    "Kalau begitu, sarapan kita cukup, saya mau persiapan untuk ke bandara." kata Hamdan mengajak istrinya meninggalkan restoran, kembali ke kamar hotel untuk persiapan balik ke Jakarta.


    Rini mengikuti suaminya. Meski merelakan suaminya untuk kembali ke Jakarta, sebenarnya hati Rini juga kecewa, gara-gara telegram dari Jerman, dalam reuni tidak didampingi suaminya, suaminya tidak bisa menemani sampai selesai. Tetapi Rini bisa memendam kekecewaan itu. Toh saat ini dirinya sudah berada di hotel yang akan digunakan untuk acara reuni. Itu sudah sangat bagus. Apalagi Rini melihat sendiri suaminya sudah menyumbang sepuluh juta ke panitia. Dan nanti, ia juga akan bergembira bersama teman-temannya di masa SMA dulu. Pasti acaranya akan seru, setelah sekitar tiga puluh tahun tidak pernah ketemu. Ya, bayangan kegembiraan itu sudah cukup mengobati kekecewaan Rini yang harus ditinggal oleh suaminya.


    Ya, itulah resiko mempunyai suami direktur. Apalagi direktur perusahaannya sendiri. Tentu segala sesuatunya harus dikorbankan demi kemajuan perusahaannya. Ibarat kata, cintanya harus dibagi-bagi. Tidak hanya untuk istri. tidak hanya untuk keluarga. Tetapi juga untuk perusahaan, untuk karyawan, untuk relasi, untuk klien, untuk buyer, untuk siapa saja yang membutuhkan. Maka wajar jika harus meninggalkan istrinya dalam acara reuni, untuk menemui tamu, demi lolosnya proyek. Jangankan hanya sekedar reuni, bahkan acara keluarga yang penting saja sering dikorbankan untuk acara-acara di perusahaannya.


    Rini sudah terbiasa ditinggal. Sudah paham dengan sifat suaminya. Ia pun maklum. Tidak boleh kecewa. Karena itu semua juga untuk dirinya, untuk keluarganya, untuk kemajuan perusahaan suaminya.


    Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Setelah selesai mandi, ganti pakaian, dan menata barang yang akan dibawa, Hamdan mencium istrinya, berpamitan berangkat. Rini pun menghantarkan suaminya untuk berangkat dengan senyum yang manis manja. Ikut turun dari kamar hotel.


    "Hati-hati di jalan ya, Pah .... Semoga lancar dan sukses." kata Rini melepas kepergian suaminya dari teras hotel.


    "Aamiin .... Iya, Mah. Terimakasih. Papah berangkat dulu." sahut Hamdan yang sudah masuk ke taksi, menuju bandara.


    Taksi berjalan meninggalkan hotel. Hamdan melambaikan tangan, di balas Rini yang juga melambaikan tangan ditambah senyum mesranya, hingga taksi itu keluar dari gerbang hotel.

__ADS_1


    Gegara telegram dari Jerman, Rini harus mengikuti acara reuni sedirian, tanpa didampingi suami.


__ADS_2