KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 83: BAHAGIA ITU BILA KETEMU


__ADS_3

    Saat telepon, Yuna memohon kepada Yudi untuk menjemput di bandara. Yuna menyampaikan, itu kalau Yudi tidak keberatan atau sibuk. Tentu, itu basa-basi dari Yuna, karena dalam hati Yuna pun sudah sangat rindu ingin bertemu Yudi, setelah lebih dari dua pekan berpisah.


    "Jangan khawatir Yuna, aku akan menjemputmu. Tidak ada alasan apapun, demi cintaku. Semuanya tidak penting, apapun akan aku lakukan untuk menjemputmu, Yuna. Yakinlah, aku sangat mencintaimu, melebihi dari segala-galanya." kata Yudi yang bersemangat saat ditelepon oleh Yuna.


    "Terima kasih Yudi .... Tapi saya datang tidak sendiri, ya. Saya datang bersama laki-laki hebat yang akan menjadi pesaing terberat bagi dirimu." balas Yuna menjawab telepon. Tentu di Jepang sana, Yuna tersenyum bisa membalas Yudi biar cemburu.


    "Maksud Yuna?" Yudi mulai ragu lagi dengan kata-kata Yuna.


    "Iya ..., saya mengajak laki-laki yang sangat aku cintai. Nanti aku kenalkan sama Yudi. Laki-laki ini ingin tahu, seperti apa orang yang bernama Yudi, sampai berani melukai hatiku." begitu kata Yuna.


    Tentu saja Yudi takut. Yudi khawatir. Yudi cemburu. Berbagai perasaan campur aduk dalam pikiran Yudi. Akankah Yuna datang ke Indonesia bersama pacarnya?


    "Ee ..., anu ..., tidak apa-apa, Yuna .... Demi Yuna aku rela apa saja. Yang penting dirimu senang, aku ikut gembira melihatmu." sahut Yudi dengan suara gemetar.


    "Kamu tidak cemburu?" tanya Yuna menggoda.


    "Apapun namanya itu, untuk Yuna aku ikhlas. Yang penting aku memohon, mari kita selesaikan pembangunan Taman Awang-awang. Para pekerja sudah menunggu kedatangan Yuna." jawab Yudi mengalihkan pembicaraan.


    "Okey, Yudi .... Sampai ketemu besok pagi di bandara. Jangan lupa, ya ...." kata Yuna mengakhiri teleponnya.


    "Yuna .... Yuna .... Yuna ...!" Yudi berteriak memanggil. Tetapi hubungan telepon itu sudah terputus.


    Tentu ada rasa kecewa dalam hati Yudi. Rindu itu belum juga terobati, tetapi perbincangannya dalam telepon sudah terputus. Masih banyak yang ingin dibicarakan. Masih banyak yang ingin dituangkan. Masih banyak cerita yang ingin disampaikan. Namun apa daya, orang yang dirindukan itu sudah mengakhiri teleponnya.


    Tidak hanya itu. Yudi masih penasaran dengan omongan Yuna, tentang laki-laki yang akan di ajak bersamanya. Sungguh keterlaluan Yuna berani cerita seperti itu. Apa Yuna sengaja memanas-manasi hatinya. Ingin membalas kecemburuannya. Tapi bukankah dirinya sudah meminta maaf? Dan bukankah Yudi sudah melepas semua lukisan yang membuat Yuna cemburu? Bahkan lukisan-lukisan itu sudah dikirim kepada orang yang dicemburui. Tetapi jika kini Yuna mengatakan akan datang ke Jogja dengan mengajak laki-laki yang akan menyaingi Yudi? Dasar, Yuna perempuan yang tidak mau memaafkan kesalahan orang.


    Yudi pasrah dengan apa yang akan terjadi. Tetapi satu hal yang masih dia harapkan dari Yuna, yaitu Taman Awang-awang. Jangan sampai proyek besar ini gagal. Karena Taman Awang-awang inilah taruhan nama dan kepercayaan masyarakat Kampung Nirwana kepada Yudi. Jika sampai gagal pembangunannya, hancurlah nama Yudi di mata masyarakat. Konon orang baik yang ingin memajukan kampungnya, ingin menyejahterakan rakyat, ingin mengajak masyarakat menjadi berdaya, jika itu semua tidak terwujud, berarti ide-ide muluk-muluk Yudi hanyalah omong kosong.


    Yudi pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Yuna. Toh, dirinya sudah pernah menyakiti hati Yuna. Wajar kalau Yuna akan membalasnya.


    Sesuai jadwal yang sudah disampaikan oleh Yuna, jam sembilan pagi Yudi sudah sampai di Bandara Internasional Yogyakarta. Menunggu kedatangan pesawat dari Jakarta Cengkareng yang membawa Yuna, entah dengan laki-laki seperti apa tidak urusan buat Yudi. Ia sudah mondar-mandir di depan pintu kedatangan. Tentu, berkali-kali mengamati layar monitor jadwal kedatangan pesawat. Biasa, orang menunggu selalu gelisah. Apalagi saat ini, banyak yang digelisahkan oleh Yudi. Rindunya tidak akan terobati, karena kedatangan Yuna sudah mengajak laki-laki yang katanya sangat ia cintai.


    Penerbangan yang tepat waktu. Pesawat yang ditumpangi Yuna sudah mendarat. Tinggal menunggu kemunculan Yuna di pintu keluar. Dan benar, sebentar saja Yuna sudah terlihat oleh pandangan Yudi. Yuna berjalan santai, hanya membawa tas cangklong. Tidak membawa koper maupun barang bawaan yang besar. Ya, karena memang seluruh barangnya masih ditinggal di rumah Yudi.


    Yudi melambaikan tangan, memberi tanda kepada Yuna. Yuna yang sudah melihat lambaian tangan Yudi, langsung membalas dengan lambaian tangan juga. Tentu sambil tersenyum manis yang menambah kecantikannya.


    Yudi mengamati orang-orang yang juga keluar dari pintu kedatangan bersama Yuna. Namun Yudi tidak melihat ada laki-laki muda yang ganteng. Setidaknya laki-laki separuh baya yang pantas berjalan bersama Yuna. Tentu Yudi penasaran dengan omongan Yuna yang akan mengajak laki-laki yang sangat dia cintai. Mana orangnya?


    "Hi Yudi .... How are you ...?" sapa Yuna yang tentu langsung memeluk laki-laki yang menjemputnya itu.

__ADS_1


    "I'm fine .... I miss you, Yuna ...." sahut Yudi yang juga membalas memeluk Yuna.


    "So do I ...." balas Yuna.


    "I'm sorry dear, I've let you down. I've made you jealous ...." kata Yudi menyesal dengan perbuatannya.


    "Oh ..., it is okay ...." jawab Yuna santai dan tetap tersenyum. Manis sekali.


    "Eh, Yuna ..., katanya kamu mau ajak cowok yang sangat kamu cintai .... Mana?!" tanya Yudi yang penasaran.


    "Oh, maaf .... Kenalkan, Yudi ..., ini laki-laki yang aku ceritakan. Laki-laki yang sangat aku cintai." kata Yuna, yang lantas memeluk laki-laki tua yang dari tadi berdiri di sampingnya.


    Yudi tertegun. Memandangi laki-laki tua yang bersama Yuna. Laki-laki dengan gaya kuno, mengenakan kemeja putih yang hanya kelihatan kerahnya, tertutup oleh sweater tebal warna abu-abu, sebagai penolak angin. Laki-laki itu tentunya sudah seusia bapaknya. Walau sederhana, laki-laki itu tampak rapi dan bersih. Pertanda orang yang rajin dan baik. Di tangan kirinya, menyeret koper kecil yang beroda. Pasti koper itu berisi pakaian ganti. Pasti Yuna bergurau.


    Yudi tersenyum, lantas membungkukkan badannya, menghormati orang tua menggunakan cara Jepang. Lantas menyalami laki-laki itu dan mencium tangannya, seperti yang selalu ia lakukan pada ayahnya.


    "Ohayogozaimasu .... Watashitachi no sonkei o ukeirete kudasai." Yudi mengucap salam, dan kembali membungkukkan badannya.


    "Idaina seinen. Anata o hokori ni omoimasu." kata laki-laki tua itu sambil menepuk pundak Yudi.


    "Arigatogozaimasu ...." kata Yudi, lagi-lagi sambil membungkukkan badan, tanda menghormat.


    "Di gedung parkir. Kita jalan bersama saja." sahut Yudi.


    Mereka pun berjalan bertiga menyusuri koridor menuju gedung parkir. Tentu sambil bercakap-cakap.


    "Yuna, apakah tuan ini dari yayasan penyandang dana yang akan mengecek pekerjaan kita?" tanya Yudi yang penasaran.


    "Hehem .... Itu laki-laki yang sangat aku cintai. Ayo kita naik mobil dulu. Kita cerita sambil jalan, dan tentu sambil menyaksikan alam Jogja." sahut Yuna.


    Yudi membuka pintu bagasi, lantas meminta koper dorong yang dibawa laki-laki tua untuk ditaruh di bagasi belakang. Laki-laki tua itu dibukakan pintu depan oleh Yuna, duduk di samping Yudi yang menyetir. Sedangkan Yuna sendiri duduk persis di belakang Yudi.


    Perlahan mobil Yudi keluar dari gedung parkir, melaju menuju jalur lintas selatan. Jalan Daendels Selatan. Melintas di pinggir pantai serta persawahan. Terlihat juga ada beberapa kampung dengan rumah khas adat Jogja. Yuna bercakap dengan laki-laki tua yang duduk di depan, tentu dengan bahasa Jepang. Tentu Yuna menjelaskan yang mereka saksikan di kanan kiri jalan. Laki-laki tua itu terlihat banyak bertanya. Tentu Yuna juga banyak menjelaskan.


    Yudi banyak yang tidak paham bahasa itu. Maklum, Yudi memang tidak menguasai bahasa Jepang, hanya tahu sedikit-sedikit saja. Yang Yudi agak paham dari apa yang mereka perbincangkan, dan tentu sebagai kata kunci hanyalah "chichioya". Ya, kata chichioya dalam bahasa Jepang berarti ayah atau bapak. Yudi tersenyum, laki-laki tua itu pasti ayahnya Yuna. Kalaupun bukan ayahnya, yang pasti bukanlah pacar atau kekasihnya. Kalau laki-laki itu pacarnya atau kekasihnya, mestinya panggilannya bukan chichioya, melainkan shin'ainaru atau watashi no ai yang artinya sayangku atau cintaku.


    "Yudi, adakah tempat makan yang menyajikan masakan laut di daerah sini? Ini, orang yang sangat aku cintai ingin makan masakan laut." tanya Yuna. Tentu Yuna ingin mengajak makan di pinggir laut.


    "Chichioya ..., sakana o tabetaidesu ka?" kata Yudi pada laki-laki tua yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


    "Hai ...." jawab laki-laki itu.


    "Kok Yudi panggil chichioya?" tanya Yuna sambil menengok Yudi yang ada di depannya, namun tertutup jok kursi. Tentu Yuna harus berdiri dulu untuk bisa melihat Yudi. Sebentar saja tangan Yuna sudah memegang pundak Yudi yang sedang menyetir.


    "Ya iya, lah .... Dia kan ayah Yuna .... berarti ayah mertuaku, kan?! Berarti aku juga panggil chichioya .... Hehe ...." kata Yudi yang kini lebih bahagia.


    "Iih .... Yudi .... Chichioya itu kekasihku ..., orang yang paling aku sayangi." sahut Yuna.


    "Kalau Yuna sayang, tentu aku juga sayang .... kan kita saling sayang .... Hehe ...." Yudi membalas dengan kata-kata yang mulai membikin Yuna mabuk kepayang.


    "Ih, rayuan gombal ...! Ayo, kita cari makan menu laut." kata Yuna sambil mencubit lengan Yudi.


    "Auch ...! Iya ..., iya ..., iya ...." Yudi menjerit kesakitan.


    Dari Jalan Daendels Pantai Selatan, mobil Yudi berbelok ke kanan, menuju Pantai Glagah. Ya, di Pantai Glagah banyak penjual masakan ikan laut segar. Banyak menu yang tersaji. Mulai dari udang, cumi-cumi, kepiting, kerang, hingga aneka jenis ikan laut. Semuanya segar. Olahannya pun bervariasi. Tidak seperti olahan ikan di Jepang yang sangat sederhana, bahkan masih mentah sudah disajikan. Sedangkan rumah makan di daerah Pantai Glagah menyajikan menu dengan berbagai bumbu maupun rempah yang rasanya sangat menggugah selera. Tentu sangat beda.


    Di rumah makan pinggir Pantai Glagah, Yudi menghentikan mobilnya, lantas mengajak Yuna dan calon ayah mertuanya masuk untuk memesan masakan. Setelah pesan, cukup banyak dengan berbagai menu, mereka bertiga memilih duduk di luar, sambil menikmati indahnya alunan ombak Pantai Selatan. Tentu itu akan menambah nikmatnya rasa masakan khas Pantai Glagah.


    "Yudi ..., kamu sudah tahu, ini ayah Yuna. Ayah yang sangat aku cintai, ayah yang sangat aku sayangi. Sengaja aku ajak ke Jogja, untuk meyakinkan hubungan kita. Itu jika Yudi memang mencintai saya." kata Yuna sambil menikmati udang rebus.


    "Tentu, Yuna ..., kamu tahu sendiri seperti apa diriku. Kamu tahu aku sangat mengharapkanmu. Kamu tahu kerinduanku padamu saat kau tinggal pergi. Jika memang seperti itu yang dikehendaki ayah Yuna, tidak ada alasan bagi saya untuk menolak. Aku sangat mencintaimu, Yuna ...." jawab Yudi yang juga sambil menikmati enaknya panggang tongkol dibumbu rujak.


    "Sore wa umaidesu .... Totemo oishi ...." kata ayah Yuna sambil mengacungkan jempolnya. Tanda suka dengan masakan yang disajikan.


    "Lezat ...." balas Yuna, mengajari ayahnya mengungkapkan kenikmatan dengan bahasa Indonesia.


    "Lezat dan nikmat ...." tambah Yudi.


    "Lezat .... Nikmat ...." tiru ayah Yuna, tentu sambil mengacungkan jempolnya.


    "Yuna, nanti malam kita sampaikan semuanya, bersama. Ada bapak dan simbokku. Pasti mereka senang. Sudah lama simbok mengharap menantu. Dan simbok sangat sayang padamu, Yuna. Semuanya pasti menyenangkan." kata Yudi yang tentu hatinya berbunga-bunga. Status perjaka tuanya akan berakhir.


    "Iya, sama Yudi .... Ayahku juga berharap demikian. Aku juga senang. Aku bahagia, Yudi." sahut Yuna.


    "Terima kasih, Yuna .... Kamu adalah permata yang sudah lama aku cari. Kamu adalah berlian penghias rumahku. Kamu adalah bintang yang gemerlap di langit taman surgaku." kata Yudi sambil menatap tajam wanita yang ada di depannya itu.


    Yuna tersenyum. Bahagia mendengar kata-kata indah dari mulut Yudi.


    Mereka bertiga sangat lahap menikmati masakan laut. Tentu karena perasaan senang yang sedang berkembang dalam hatinya, sehingga membuat semua makanan yang tersaji itu terasa lezat dan nikmat. Semuanya dinikmati. Semuanya habis dilahap.

__ADS_1


    "Lezat .... Nikmat ...." kata ayah Yuna sambil mengacungkan jempol, saat mengakhiri makannya.


__ADS_2