KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 212: MENUTUP RAHASIA


__ADS_3

    Seperti yang telah dijanjikan oleh Yayan, pagi itu ia ke rumah Yudi yang sudah dia anggap sebagai papah angkatnya. Tentu, untuk membantu Yudi kembali menuliskan dari tulisan Jepang yang menggunakan huruf kanji menjadi tulisan latin. Yudi membawa laptopnya ke meja belakang, dekat dengan gazebo yang biasa digunakan oleh anak-anak untuk belajar kelompok. Meja belajar kelompok itu sudah beberapa bulan terakhir tidak digunakan, karena anak-anak tidak ada yang mau belajar kelompok lagi. Alasannya, Mas Yudi ada di Jepang, rumahnya kosong tidak ada orang. Makanya, Yudi merasa lebih leluasa untuk meminta tolong Yayan di meja itu.


    "Mas Yayan ..., ini tulisannya. Mohon dibantu untuk diubahkan ke huruf latin. Tiap baris dienter saja, lantas huruf latinnya ditaruh di bawahnya. Biar saya nanti mudah untuk membacanya, dengan melihat huruf aslinya." kata Yudi meminta tolong kepada Yayan.


    "Iya, Pah .... Akan saya coba. Tapi jangan diejek kalau saya juga masih membuka arti huruf kanji. Maklum hanya bisa-bisaan saja." kata Yayan yang sudah duduk menghadapi laptop Yudi.


    Tentu ada rasa deg-degan saat harus membantu Yudi. Setidaknya Yayan harus berusaha keras untuk menerjemahkan huruf-huruf kanji itu secara benar. Paling tidak bisa dibaca dan ada artinya.


    Yayan mulai melihat catatan huruf kanji dari bukunya. Lantas mengamati huruf yang ada di layar komputer. 機密Jemari Yayan mulai mengetik, "Kimitsu."


    "Papah Yudi ..., apa seperti ini yang dikehendaki?" tanya Yayan sambil menunjukkan hasil penyalinan ke huruf latin.


    Yudi melihat hasil pengalih tulisan yang dilakukan Yayan. Lantas katanya, "Ya, betul .... Lanjutkan lagi ...."


    Tentu Yudi mulai deg-degan. Ia tahu arti yang ditulis oleh Yayan, "Kimitsu" itu berarti rahasia. Yah, mungkin ini adalah rahasia-rahasia yang ditulis oleh Yuna. Rahasia yang sudah mengakibatkan istrinya dibawa oleh pihak rahasia, yang bahkan tidak ada orang boleh tahu. Yudi penuh harap dari alih huruf yang dilakukan oleh Yayan.


    Mulai dari satu suku kata bertambah menjadi dua suku kata. Akhirnya menjadi kata. Tetapi pasti kata-kata yang tertulis itu benar pengalih tulisannya. Permasalahannya, huruf-huruf yang tertera dalam layar komputer tersebut ada yang rumit untuk diterjemahkan suku katanya.


    "Maaf, Pah ..., tulisannya cukup rumit. Agak sulit untuk mengurai tiap suku katanya." kata Yayan sangat tegang.


    "Nggak papa .... Mungkin seperti mengalih tuliskan huruf Jawa ke huruf Latin, ya ...? Saya saja yang orang Jawa, kalau disuruh menuliskan ke huruf Latin juga bingung." kata Yudi memberi motivasi kepada Yayan.


    "Betul, Pah .... Memang kalau tidak terbiasa, pasti agak sulit. Mohon maaf jika sekiranya nanti ada yang kurang dalam mengalihkan tulisan." kata Yayan yang sudah siap kalau nantinya keliru.


    "Sudah ..., tidak usah khawatir. Jangan dipikir terlalu spaneng. Sebisanya saja ...." lagi-lagi Yudi menyampaikan kepada Yayan agar jangan terlalu serius.


    Ya, Yudi berkata demikian tentu agar Yayan juga tidak takut dengan kesalahan-kesalahan yang ditranslatekan. Namun Yudi juga berharap agar Yayan tidak terlalu bisa memahami apa sebenarnya arti dari tulisan itu. Jika banyak yang keliru, otomatis Yayan tidak bisa mencari terjemahannya, nanti setelah pulang dari rumah Yudi. Tentu Yudi juga agak khawatir, jika tulisan itu memang benar berisi rahasia-rahasia yang ditulis oleh Yuna, jangan-jangan nanti bisa dicari artinya oleh Yayan. Yudi tahu bahwa Yayan adalah orang pintar, anak cerdas. Maka Yudi juga perlu berhati-hati untuk meminta bantuan kepada Yayan. Ia khawatir, karena nanti ia pasti akan bercerita kepada Silvy. Dan lebih jauh dari itu, pasti Rini juga akan bertanya. Makanya, Yudi lebih senang Yayan tidak lengkap dalam mengalih tuliskan file tersebut.


    "Mas Yayan ..., istirahat dahulu. Ini sudah saya buatkan minuman coklat hangat. Kata para ahli, coklat hangat bisa memberikan rangsangan pada otak kita. Jadi sangat baik untuk orang-orang cerdas seperti Mas Yayan." bombong Yudi yang tentunya ingin membesarkan hati anak angkatnya tersebut.


    "Iya, Pah .... Terima kasih. Ini saya simpan di sini saja atau bagaimana, Pah?" kata Yayan yang tentu akan berhenti sejenak untuk minum coklat hangat yang sudah disediakan oleh Yudi.

__ADS_1


    "Eee ..., coba saya lihatnya." kata Yudi yang langsung duduk menghadapi laptop itu.


    Saat Yayan meminum coklat hangat yang disediakan oleh Yudi bersama dengan camilan jajan pasar, Yudi sudah mengcopy dan memindahkan file yang dialih tuliskan oleh Yayan. Tentu disimpan dalam folder lain yang tidak diketahui oleh Yayan. Sedangkan huruf atau suku kata yang sudah dialih tuliskan oleh Yayan ada beberapa yang diganti oleh Yudi, yang mungkin saja maknanya berubah atau bahkan tidak punya arti sama sekali.


    "Apakah sudah bisa terbaca, Pah ...?" tanya Yayan yang tiba-tiba sudah kembali mendekat ke laptop.


    "Ya, ada beberapa yang sudah bisa saya pahami. Tapi perlu Yayan tahu, bahasa Jepang tidak seperti bahasa Indonesia. Kadang pola ucapannya terbalik. Seperti ini misalnya, 'Jūyō' itu artinya penting. Tetapi ketika berubah menjadi 'Jūyōna', artinya berubah menjadi yang paling penting. Seperti itu rumitnya menerjemahkan." kata Yudi menjelaskan kepada Yayan.


    "Iya, Pah .... Maaf, saya belum paham arti bahasa Jepang. Paling-paling hanya bisa bilang 'Aishiteru' .... Hehe ...." sahut Yayan yang hafalnya hanya mengatakan kata-kata "aku cinta padamu".


    "Hahaha .... " Yudi tertawa, tentu karena mendengar kelucuan anak angkatnya tersebut.


    Yayan sudah kembali menghadapi laptop. Sedikit demi sedikit ia sudah mengalih tuliskan huruf-huruf kanji menjadi huruf latin. Tentu masih dengan suku-suku kata yang ia paham dan sanggup dialih tuliskan. Hingga akhirnya, kalimat-kalimat pun terselesaikan. Hingga sore hari. Sebuah pekerjaan enteng namun menguras pikiran sampai habis-habisan. Beruntung Yayan orangnya tekun dan sabar. Hingga apa yang ia kerjakan dapat diselesaikan.


    "Bagaimana, Yan ...?" tanya Yudi yang setia menunggui Yayan.


    "Sudah selesai, Pah .... Cuman kebenarannya masih agak ragu." jawab Yayan.


    "Iya, Pah .... Terima kasih banyak sudah dipercaya. Yayan mohon pamit mau pulang, mau mandi." kata Yayan yang langsung berpamitan.


    "Eit, sebentar .... Saya mau kasih hadiah untuk Yayan .... Ini, terimalah." kata Yudi yang mengambil dua lembar uang kertas Jepang dengan angka nominal masing-masing sebesar sepuluh ribu Yen.


    "Apa ini, Pah ...?" tanya Yayan yang pura-pura bingung.


    "Ini uang Jepang .... Terimalah, masukkan ke dompet, untuk hiasan dompet Yayan." sahut Yudi.


    "Terima kasih, Pah .... Wah ..., ini pasti nanti Silvy minta. Yah, satu lembar untuk saya, satu lembar untuk Silvy. Terima kasih ya, Pah ...." kata Yayan yang tentu sangat senang.


*******


    Sesampai di rumah, Yayan langsung dipapak oleh ibu mertuanya. Tentu langsung dihujani berbagai pertanyaan.

__ADS_1


    "Bagaimana, Yan ...? Yayan bisa menterjemahkan ...? Isinya apa ...?" Rini nerocos menyai ananknya.


    "Ternyata susah, Mah. Untuk menjadi alih tulisan saja susah, apalagi alih bahasa .... Tapi syukurlah bisa saya alihkan." jawab Yayan.


    "Isinya apa? Yayan tahu isinya?" ibunya bertanya lagi.


    "Tidak tahu apa artinya, Mah .... Yayan tidak bisa menerjemahkan." jawab Yayan yang memang tidak tahu.


    "Masak satu kata saja tidak ada yang kamu tahu ...?" selidik ibunya.


    "Yah ..., Mah .... Namanya arti itu kan keseluruhan. Kalau hanya kata 'dan' atau kata 'itu' ya bisa .... Tapi rangkaian kata dalam kalimat itu kan susah dipahami, Mah ...." jawab Yayan.


    "Ooo .... Begitu, ya .... Saya kira Yayan langsung menerjemahkan." sahut ibunya.


    "Hai, Mas Yayan .... Gimana ..., sudah beres?" sambut Silvy yang langsung menemui suaminya yang masih dicecar oleh mertuanya.


    "Sudah .... Capek mata saya mengamati huruf-huruf kanji. Tapi lumayan, saya dikasih upah sama Papah Yudi." kata Yayan yang tentu sangat gembira.


    "Hah ...?! Dikasih upah ...?!" tanya Silvy yang tentu heran.


    "Dikasih upah apa?" tanya ibunya.


    "Ini .... Lihat ini ...." kata Yayan yang menunjukkan dua lembar uang Jepang.


    "Hah ...?! Dikasih uang Jepang ...?! Aku mau ...." Tentu istrinya langsung merebut uang yang dibawa Yayan tersebut.


    "Nih .... Silvy satu lembar .... Yang satu untuk saya ...." kata Yayan sambil memberikan satu lembar uang sepuluh ribu itu kepada istrinya.


    "Hehehe .... Lumayan dapat sepuluh ribu Yen ...." kata Silvy yang langsung mengangkat uangnya dipamer-pamerkan.


    Tentu ibunya jadi iri. Anak-anaknya memegang uang sepuluh ribu Yen.

__ADS_1


    "Ah .... Dasar, Yudi .... Bikin ngiri saja ...." gumam Rini pada dirinya sendiri.


__ADS_2