
Sore itu, sengaja Rini ingin berdua bersama Yuna. Rini menggandeng Yuna, diajak melangkah menuju tepi tebing, berdua merapat di pagar. Sambil menikmati deburan ombak Pantai Selatan yang menghempas batu karang di bawahnya, dan tentu menunggu tenggelamnya mentari yang selalu indah, dua perempuan itu saling berbinacang. Tentu membahas masalah seorang laki-laki, yaitu Yudi.
"*Yuna,*let me talk about personal matters?" Rini mengawali pembicaraannya.
"Will Rini discuss Yudi's problem?" tanya Yuna, ia tidak khawatir karena Yudi pernah bercerita tentang kisahnya.
"Ya ..., saya sengaja mengajak Yuna kemari, mau menyampaikan sesuatu tentang Yudi." kata Rini.
"Ada apa dengan Yudi?" tanya Yuna, yang pastinya ia sudah menduga kalau Rini akan bercerita tentang hubungannya dengan Yudi.
"I'm sorry, Yuna .... Maafkan saya jika saya telah keliru. Maafkan saya jika saya sudah membuat Yuna resah." lanjut Rini.
"Don't worry, Rini. Saya justru yang harus minta maaf pada Rini, sudah membuat Rini sakit." kata Yuna pada Rini.
"Walau demikian, saya harus bercerita pada Yuna yang sebenarnya, agar antara Yuna dengan Yudi tidak ada lagi prasangka. Demikian juga antara Yuna dengan saya, agar tidak saling cemburu." kata Rini.
"Memangnya, bagaimana yang sebenarnya?" Yuna tanya pada Rini, seakan belum tahu cerita dari Yudi.
"Yah ..., ceritanya unik. Dahulu waktu kami masih SMA, kami bersahabat dengan Yudi. Ya, empat orang ini. Saya, Yudi, Handoyo dan Alex. Awalnya semua tidak bermasalah. Kami bersahabat dengan baik. Selalu bersama, baik dalam mengerjakan PR maupun tugas-tugas sekolah. Nilai kami bagus-bagus. Bahkan Yudi beberapa kali menjadi juara melukis. Dan yang lebih membanggakan, Yudi pernah diundang oleh Pemerintah Jerman melalui Kedutaan Jerman, menerima penghargaan. Demikian juga dengan Handoyo dan Alex, yang selalu mewakili SMA kami untuk berbagai kegiatan. Tentu guru kami sangat senang dengan capaian hasil belajar kami. Termasuk saya juga bangga dengan sahabat-sahabat kami. Yah .... Dulu kami jadi orang hebat. Bangga rasanya. Tentu karena Yudi, kami jadi bisa terkenal. Tetapi namanya remaja, waktu itu kami masih SMA, masa-masa pubertas yang ingin berdekatan dengan lawan jenis. Apalagi bisa dekat dengan orang yang terkenal. Itu suatu kebanggaan. Sehingga tanpa sadar, lama-kelamaan saya menaruh hati pada Yudi. Tetapi saya menghormati persahabatan kami, saya tidak mau menyampaikan kata-kata cinta kepada Yudi. Itu demi persahabatan. Karena saat itu, kami berkomitmen, persahabatan jangan dinodai dengan percintaan. Akhirnya saya pun hanya bisa diam, tanpa bisa menyampaikan kata-kata cinta kepada Yudi. Saya pun tahu, perasaan saya mengatakan jika Yudi memiliki perasaan yang sama dengan diriku. Namun kala itu, Yudi adalah laki-laki pendiam. Baik dan tidak sombong. Kelemahan Yudi adalah tidak mau terbuka dengan teman-temannya. Ia sangat tertutup. Jika ada apa-apa, dia hanya memendam dalam hati secara sendiri. Tidak mau menyampaikan kepada teman-temannya. Saya tidak menyangka, jika kami berdua sebenarnya memendam rasa yang sama, yaitu cinta." Rini bercerita, tentu matanya menjadi berkaca-kaca saat teringat masa SMA dahulu, terutama mengingat kenangannya dengan Yudi.
"Berarti kala itu Rini jatuh cinta pada Yudi?" tanya Yuna.
"Baru memendam dalam hati, belum sempat menyampaikan." jawab Rini.
"Yudi juga jatuh cinta pada Rini?" tanya Yuna lagi.
"Waktu itu saya tidak tahu isi hati Yudi. Karena Yudi itu orangnya pendiam. Orangnya tertutup. Karena saya merasa tidak bisa mencintai Yudi, tidak mungkin menyampaikan cinta kepada Yudi, maka saya memutuskan untuk tidak mau mengganggu Yudi. Lantas saya berusaha menjauhi Yudi, dan setelah lulus SMA saya menikah dengan Mas Hamdan. Suamiku itu." cerita Rini pada Yuna.
"Terus, kenapa Yudi frustrasi?" tanya Yuna.
__ADS_1
"Memang Yudi bilang seperti itu?" Rini balik bertanya.
"Yudi tidak mau menikah, itu artinya dia frustrasi. Pasti karena Rini." kata Yuna.
"Awalnya saya tidak tahu. Namun saat reunian kemarin di akhir tahun, saya baru tahu kalau Yudi tidak mau menikah gara-gara saya. Sejak kelulusan, sudah tiga puluh tahun baru ketemu dengan Yudi di saat reunian itu. Jadi saya tidak tahu keadaan Yudi. Bahkan ternyata Yudi juga sudah membuatkan lukisan untuk saya, tetapi tidak tersampaikan. Saat saya menikah, Yudi sengaja tidak saya undang, karena saya tidak sanggup bertemu Yudi saat pesta pernikahan. Saya khawatir, hatiku akan berpaling. Dan setelah menikah, saya bersama suami tinggal di Jakarta. Terus, putuslah hubungan komunikasi kami." kenang Rini, tentu dengan linang air mata.
"Rini, salahkah saya jika jatuh cinta pada Yudi?" tanya Yuna.
"Tidak Yuna ..., Love is never wrong. Cinta itu tidak pernah keliru, cinta itu benar adanya. Cinta itu milik siapa saja. Bisa milik saya, bisa juga milik Yuna. Hanya tempat dan waktu saja yang kurang pas. Saya tidak mungkin mengejar Yudi saat ini. Tetapi bagi Yuna, ini saat yang pas untuk mendapatkan cintanya Yudi. Namun tidak masalah bagi saya. Saya justru senang bisa melihat Yuna dekat dengan Yudi. Saya bangga Yuna bisa mengisi hati Yudi. Saya bahagia bisa melihat Yudi mau menikah. Walau sebenarnya saya iri. Iri pada Yuna yang bisa bahagia bersama Yudi. Iri pada Yuna yang bisa mendapatkan cintanya Yudi. Iri pada Yuna bisa menerima kasih sayang dari Yudi. Tapi itu semua sudah takdir saya. Saya harus mendapatkan Mas Hamdan, dan rela melihat Yudi bersama Yuna." kata Rini pada Yuna.
"Terima kasih, Rini .... Kamu sangat baik. Maafkan aku jika sudah cemburu sama Rini. Tahu saya, Rini senang sama Yudi, dan yang tentu, akan memusuhi saya karena saya dekat dengan Yudi." kata Yuna sambil menatap wajah Rini.
"Kembali kasih, Yuna .... Dulu aku sempat cemburu padamu. Tetapi setelah aku sadar, ternyata aku keliru. Sebab Yudi bukanlah milikku lagi. Yudi bukan bagian dari tempat untuk mencurahkan kasih sayangku. Yudi bukan lagi tempat bagiku untuk berkeluh kesah maupun mencurahkan isi hati. Aku sudah keliru." jawab Rini.
"Saya juga tidak tahu, mengapa saya bisa cemburu?" kata Yuna yang merasa heran dengan sikapnya sendiri.
"Iya .... Baru kali ini saya jatuh cinta. Entah ada apa di diri Yudi, kenapa saya bisa jatuh cinta pada Yudi?" kata Yuna yang memang sangat jatuh cinta pada Yudi.
"Ya ampun Yuna .... Wanita secantik Yuna ini baru jatuh cinta?" kata Rini yang tidak percaya.
"Iya .... Dulu saya tidak pernah berfikir untuk menikah. Tetapi sejak ketemu Yudi, hatiku berubah." jawab Yuna.
"Iih ..., dasar Yudi .... Laki-laki macam apa dia itu? Kenapa para wanita jatuh cinta pada laki-laki itu?" kata Rini yang heran dengan Yudi.
"Seberapa besar cinta Rini pada Yudi?" tanya Yuna.
"Waktu itu saya masih SMA, Yuna .... Tentu angan-anganku terlalu muluk-muluk. Aku terlalu ingin mendapatkan Yudi. Aku sangat bernafsu." kata Rini mengingat kenangannya waktu SMA.
"Tapi kenapa tidak jadi?" tanya Yuna.
__ADS_1
"Saya tidak tahu, Yuna .... Terlalu berat untuk mendapatkan Yudi. Dia itu orang hebat. Saya minder." jawab Rini.
"Jika saya menikah dengan Yudi, apakah Rini kecewa?" tanya Yuna ingin meyakinkan.
"Tidak Yuna .... Saya justru bangga dan senang. Besok kalau Yuna menikah dengan Yudi, jangan khawatir, saya akan bantu segalanya. Sebagai rasa senang saya pada sahabatku." jawab Rini.
"Benarkah itu?" tanya Yuna.
"Betul, Yuna .... aku sudah janji." jawab Rini.
"Bagaimana dengan cinta Rini pada Yudi?" tanya Yuna.
Rini bingung mendengar pertanyaan itu. Ia terdiam tidak bisa menjawab. Takut salah jika memberikan jawaban.
"Kenapa Rini diam? Kata Rini, cinta itu tak pernah salah. Love is never wrong. Rini tidak salah jika masih cinta sama Yudi." kata Yuna.
"Tidak, Yuna .... Yudi sudah menjadi milikmu. Dan aku sudah punya Mas Hamdan. Meski cinta tidak pernah salah, kita harus bisa menempatkan cinta itu. Saya tidak mau keliru lagi." jawab Rini datar.
Sebenarnya Rini juga sedih karena Yudi sudah disukai oleh Yuna. Ia jadi teringat saat dirinya lebih memilih Hamdan. Mungkin saat itu, perasaan Yudi sama yang dialami oleh Rini saat ini. Ada kecewa yang sangat mendalam. Apalagi Yudi saat itu sedang jatuh cinta, ditinggal menikah oleh Rini tanpa pemberitahuan. Pasti hatinya hancur.
"Yuna ..., saya pesan satu hal padamu. Jangan sakiti Yudi. Saya tidak ingin Yudi frustrasi lagi. Biarlah aku saja yang bersalah. Biarlah dosa itu hanya menimpa diriku." pesan Rini pada Yuna.
"Terima kasih, Rini." kata Yuna pad Rini.
Bersamaan dengan itu, mentari mulai meninggalkan langit, untuk masuk dalam pelukan senja. Sang Penguasa Alam sudah menggoreskan lukisan sinar jingga di cakrawala barat, sebagai lambang cinta dari Sang Maha Kasih. Suara tekukuk burung hantu memberi pertanda, malam telah tiba.
Yuna memeluk erat tubuh Rini, orang yang telah dianggap menjadi saingannya. Rini membalas pelukan Yuna, tentu lebih erat. Tetes air mata dua wanita itu sudah membasahi pipi mereka.
Cinta mereka, mengalir apa adanya. Dan cinta mereka, meski tertumpah pada orang yang sama, tetap tidak pernah salah. Love is never wrong.
__ADS_1