KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 190: LUKISAN-LUKISAN INDAH


__ADS_3

    Yudi ingin mencoba hidup tanpa beban duniawi. Ia ingin melepas sedikit demi sedikit pikiran-pikirannya yang masih terbelenggu oleh harta benda kemewahan, serta hasrat kesenangan dunia. Yudi ingin menghilangkan beban kehidupan yang seakan mengejar langkah kakinya, lantas mengikat tubuhnya, memberi beban yang berat dengan berbagai godaan duniawi. Tentu ini bukan hal gampang.


    Setelah mendapat penjelasan dari salah seorang pendeta, terkait dengan dirinya boleh tinggal di kuil tanpa dibatasi, Yudi merasa lega bisa melakukan aktivitas yang tentu bisa menghibur hatinya. Walau ia tetap belum boleh keluar dari kuil.  Yudi memesan dibelikan peralatan melukis. Tentu kepada pekerja kuil yang sering keluar untuk belanja. Yudi membuat catatan kebutuhan. Tidak semua peralatan gambar, hanya yang pokok saja. Yudi memesan kanvas, kuas, palet dan cat minyak. Kanvas yang dipesan cukup banyak. Setidaknya bisa digunakan dalam beberapa hari. Sedangkan untuk cat minyak, Yudi memesan beberapa warna. Yang penting warna dasar atau warna primer yang disebut juga sebagai Hue harus ada, yaitu warna utama yang terdiri dari biru, merah dan kuning. Ketiga warna dasar ini adalah warna yang bisa dikombinasikan dan menghasilkan warna-warna turunan lain.


    Di Kyoto, untuk mendapatkan peralatan gambar sangat mudah. Bahkan lebih mudah dari Jogja. Tentu karena di Kyoto banyak seniman seperti halnya di Jogja. Banyak toko yang menjual peralatan lukis. Bahkan sangat lengkap. Dan tentu, lebih variasi.


    Betapa senangnya hati Yudi ketika pekerja yang diminta bantuan untuk membelikan peralatan lukis itu tiba dengan membawa kardus besar yang berisi pesanan Yudi.


    "Domo arigatogozaimasu ...." kata Yudi yang berterima kasih kepada orang yang membawakan pesanannya itu, sambil membungkukkan badannya berkali-kali.


    "Peinto dekimasu ka?" pekerja yang membelikan peralatan lukis itu bertanya kepada Yudi, apakah ia bisa melukis.


    Yudi tersenyum. Tidak memberikan kata-kata jawaban. Pasti ia akan membuktikan kalau dirinya sanggup melukis. Setelah menerima peralatan lukis itu, Yudi menyimpan barang-barang perlengkapan lukisnya di ruangnya. Lantas Yudi mengambil salah satu kanvas dengan ukuran sedang, serta palet, kuas dan cat. Yudi melangkah ke tepi sungai. Lantas meletakkan kanvas menyandar di batang pohon.


    Yudi berdiri di depan kanvas, menatap indahnya pemandangan sungai Kibune yang diwarnai dengan tanaman alami yang sudah sangat tua. Lantas mengambil cat dari tube, dioleskan pada palet. Kuas besar dicelup ke minyak. Ada sedikit minyak yang menetes di palet, tepat di atas cat. Kemudian cat yang sudah terkena minyak tersebut diaduk dengan kuas. Tangan Yudi langsung mengoleskan kuas pada kanvasnya. Beberapa kali olesan, kanvas itu sudah berubah warna.


    Selanjutnya, Yudi mencampur warna-warna yang lain. Menuangkan pada kanvas dengan kuas-kuas kecilnya. Lukisan itu sudah terlihat.


    Beberapa orang pekerja kuil yang kebetulan ada di dekat tempat Yudi melukis, berhenti sejenak. Mereka tergoda dengan apa yang dilakukan oleh Yudi. Ya, baru kali ini mereka menyaksikan orang melukis di dalam kuil. Lantas para pekerja kuil itu mendekat, menyaksikan Yudi lebih seksama. Ternyata lukisan itu sangat bagus. Menyerupai obyek yang dilukis, yaitu pemandangan Sungai Kibune.


    Berita Yudi yang melukis pemandangan Sungai Kibune yang sangat indah itu langsung tersiar ke telinga para pendeta. Maka para pendeta pun ingin tahu kebenaran yang disampaikan oleh para pekerja. Mereka langsung mendatangi tempat di mana Yudi sedang melukis.


    Yudi masih berusaha menambah nuansa indah pada lukisannya, saat enam orang pendeta datang di pinggir Sungai Kibune, ke tempat di mana Yudi sedang menyelesaikan lukisannya.


    "Namihazureta ...." para pendeta itu mengatakan luar biasa, tentu sambil mengangguk-anggukkan


kepala, tanda kagum dengan lukisan Yudi.


"Oseji arigatogozaimasu." Yudi yang mendengar pujian dari para pendeta yang ada di situ, ia langsung berbalik dan membungkukkan badannya. Tentu ia sangat senang mendapat perhatian dari para pendeta.


    Lantas Yudi juga menyampaikan kepada para pendeta tersebut tentang kesepian dirinya di kuil. Maka untuk mengusir sepi, Yudi memohon izin menyibukkan diri dengan melukis berbagai obyek yang ada di kuil tersebut. Tentu Yudi tidak ingin gegabah untuk melukis berbagai objek di tempat itu.

__ADS_1


    Namun ternyata, sambutan dari para pendeta sungguh mengejutkan Yudi. Karena ia justru diminta untuk


melukis Sang Pendeta Agung atau tetua mereka.


    "Dai saishi no kao o kaku koto ga dekimasu ka?" kata para pendeta itu yang meminta agar Yudi bersedia melukis Sang Pendeta Agung.


    "Kyoka shite kudasai ..., nanika ga machigatte iru baai wa watashi o tasuketekudasai." kata Yudi.


    Tentu Yudi tidak berani menolak. Maka dengan kerendahan hatinya, ia memohon izin untuk melukis Pendeta Agung serta memohon petunjuk jika ada kekurangan dalam melukisnya. Pasti Yudi tidak bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat, karena ia baru melihat sekali wajah Sang Pendeta Agung saat pertemuan kemarin hari.


    Yudi yang sudah menyelesaikan lukisan Sungai Kibune, lantas menaruh lukisannya di emper aula, di atas batu penyangga tiang. Tujuannya agar cepat kering dan tidak terkena jatuhan salju. Tentu di tempat yang agak tinggi, dan mudah dilihat oleh siapa saja yang lewat ke kuil untuk sembahyang, termasuk masyarakat umum yang mau


berdoa.


    Kini Yudi mulai konsentrasi untuk melukis Pendeta Agung. Tentu harus benar-banar di tempat yang tenang dan


tidak terganggu. Maka Yudi memutuskan untuk melukis Pendeta Agung tersebut di ruangan aula pertemuan para pendeta. Ruangan itu tidak pernah digunakan untuk umum, jarang dimasuki orang, dan tempatnya agak jauh dari kuil tempat berdoa. Dan tentunya, Yudi lebih mudah mengingat wajah Sang Pendeta karena di tempat itu beberapa hari yang lalu ia mendengarkan petuah dari Pendeta Agung. Pasti Yudi masih terngiang dengan nasihat-nasihatnya. Tentu Yudi bisa meresapi kembali petuah itu serta membayangkan wajah orang yang berpetuah. Lantas menuangkannya ke dalam kanvas.


    Seharian penuh Yudi berada di ruang yang pernah didengarnya petuah-petuah dari Pendeta Agung. Mencampur


    Yudi membersihkan palet serta kuas-kuasnya. Tentu ia mau istirahat. Sudah lelah seharian menghadapi kanvas. Dan tentu juga lapar. Namun setidaknya gambar Sang Pendeta sudah tinggal finishing. Lukisan yang belum sempurna itu ia tinggal di aula, dan akan diselesaikan esok hari.


    Baru saja keluar dari ruang aula, ada tiga pendeta muda yang menemui Yudi. Lalu tiga orang pendeta muda itu mengatakan kalau Yudi dicari oleh Pendeta Agung.


    Berdegup jantung Yudi. Darahnya mengalir cepat. Ada rasa takut yang tumbuh dalam dirinya. Pasti ada sesuatu yang tidak berkenan bagi Pendeta Agung. Mungkinkah karena ia sudah melukis di area kuil? Apakah Yudi akan dimarahi? Yudi pasrah. Apapun yang akan disampaikan oleh Pendeta Agung, dia akan menerimanya.


    Yudi mengikuti tiga pendeta yang akan menghadapkan dirinya kepada Sang Tetua. Namun baru saja melangkah akan meninggalkan ruang tempat pertemuan tersebut, tiba-tiba tetua pendeta yang akan didatangi sudah berada di tempat itu. Yudi langsung membungkukkan badannya, tanda menghormat.


    "Anata wa hontoni watashi o kaku tsumoridesu ka?" kata Sang Pendeta Agung kepada Yudi, yang menanyakan apakah benar Yudi akan melukis dirinya.


    "Dai saishi no kyoka o motomeru. Yuruseba bokushi-san o peinto shimasu." jawab Yudi meminta izin untuk melukis Sang Pendeta tersebut.

__ADS_1


    Pendeta Agung itu mengangguk. Ia tersenyum kepada Yudi. Tanda setuju.


    Yudi membalas tersenyum. Dan sangat jelas senyum indah seorang pendeta yang berusia seratus tahun, tetapi masih seperti layaknya senyum seorang bocah berusia satu tahun. Sungguh wajah tanpa dosa yang benar-benar mengesankan.


    Yudi kembali masuk, yang tentu diikuti oleh tetua pendeta itu serta tiga orang pendeta muda yang ada di belakangnya. Lantas Yudi mengambil kanvas lukisan yang sudah terlihat gambar Pendeta Agung. Ia menunjukkan kepada Sang Pendeta Agung. Meski belum selesai, namun lukisan itu sudah terlihat bagus.


    "Namihazureta ...." kata Pendeta Agung yang mengagumi lukisan Yudi.


    "Arigatogozaimashita." Yudi berterimakasih atas pujian dari Pendeta Agung, sambil membungkukkan badannya.


    "Jibun no supesu ni hyōji dekimasu ka?" kata Pendeta Agung yang tidak sabar ingin memasang lukisan itu.


    "Kono e wa mada kansei shite imasen." Yudi menyampaikan kalau gambar itu belum sempurna. Yudi pun mohon izin untuk segera menyelesaikan agar terlihat lebih indah. Lantas Yudi memohon izin juga untuk melihat wajah Sang Pendeta. Tentu untuk meyakinkan pengamatannya dengan yang akan dituangkan pada lukisan tersebut.


    Yah, malam itu, Yudi tidak jadi keluar dari ruang aula, tetapi segera menyelesaikan lukisan Sang Pendeta. Walau hanya sekadar memoles keindahan, namun bagi Yudi itulah mengisi ruh dan jiwa dari melukis, agar lukisan itu benar-benar terlihat hidup.


    Namun Yudi adalah pelukis handal. Tidak diragukan lagi kepiawaiannya. Maka ia pun segera membuat lukisan itu menjadi sempurna. Apalagi Pendeta Agung itu turut menunggui Yudi melukis. Mau tidak mau, Yudi harus menyelesaikannya. Hingga akhirnya, lukisan itu benar-benar jadi.


    "Kore wa kare no e no kekkadesu, dai saishi ga yorokobu kamo shiremasen." kata Yudi yang menyampaikan lukisan Pendeta Agung tersebut, tentu sambil mengatakan kalau cat lukisan itu belum kering.


    Sang Pendeta tersenyum senang. Ia menepuk pundak Yudi, tanda sangat bangga pada Yudi. Lantas katanya, "Kono basho ni subete o kaku."


    Lagi-lagi Pendeta Agung tersenyum. Ia memberi kesempatan kepada Yudi untuk melukis semua yang indah tentang Kuil Kifune tersebut.


    Lega rasa hati Yudi. Tentu ia bisa kembali mengekspresikan kemampuannya, menuangkan keindahan Kuil Shinto Kifune ke dalam kanvas. Meski perutnya lapar, tetapi karena rasa bahagia, maka perut yang lapar itu pun tidak terasa lagi.


    Yudi mulai melukis pemandangan-pemandangan Kuil Kifune. Keindahan sungai, air terjun, pohon-pohon yang besar alami, serta bagusnya bangunan kuil, tidak luput dari karya lukisan Yudi. Dan hanya dalam kurun waktu beberapa hari saja, Yudi sudah menghasilkan banyak lukisan. Tentu lukisan berkelas tinggi.


    Lukisan-lukisan hasil karya Yudi yang terpampang pada teras aula, setiap hari menjadi kerumunan orang yang ingin melihat. Masyarakat dari sekitar kuil yang mau berdoa juga menyaksikan lukisan-lukisan indah tersebut. Apalagi para wisatawan yang datang ke Kuil Kifune, entah itu untuk bersembahyang maupun hanya sekadar piknik, tidak bakal melewatkan lukisan Yudi, yang oleh para pekerja kuil, setiap pagi sudah dipajang pada bagian depan halaman. Rupanya, lukisan-lukisan Yudi tersebut kini juga menjadi daya tarik para turis untuk datang ke Kuil Kifune. Pasti ada yang membeli.


    Bagi Yudi, harga lukisannya saat ini tidaklah penting. Karena melukis ini dilakukan oleh Yudi sebagai pengisi waktu luang agar pikirannya tidak ngelangut. Pokoknya harga jual lukisan itu bisa digunakan untuk membeli bahan-bahan lukisan kembali. Setidaknya nanti bisa digunakan untuk melukis lagi. Yudi pun tidak berhenti melukis, meski ia juga tidak berhenti untuk menyapu dan membersihkan halaman kuil setiap pagi.

__ADS_1


    Hari demi hari berlalu. Lukisan Yudi sudah banyak yang terjual. Dan tidak hanya pada kalangan masyarakat biasa, tetapi juga ada orang-orang penyinta seni yang suka dan terkagum dengan lukisan Yudi. Bahkan ada yang datang secara langsung menemui Yudi untuk pesan lukisan. Bahkan kini, datang pekerjaan baru baginya. Ada beberapa anak yang datang ke kuil, meminta kepada Yudi untuk diajari melukis.


    Yudi yang sudah menerima ajaran sufi dari Sang Pendeta, memberikan ilmunya kepada siapapun yang mau belajar kepadanya. Dan lukisan-lukisan itu semakin indah dengan ruh dan jiwa dari Kuil Kifune.


__ADS_2