KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 33: ADA YANG SAKIT


__ADS_3

    Sementara itu, di Bandara Internasional Sukarno Hata Cengkareng, saat kepulangan Rini dari Jogja.


    "Mas Jo ..., tolong jemput aku, langsung ke pintu kedatangan domestik. Bantu bawakan koper. Ibu sudah tidak kuat." Rini menelepon Mas Jo, sopir setia suaminya.


    "Iya, Ibu .... Ini saya sudah berada di depan pintu keluar." jawab Mas Jo yang menjemput istri bosnya.


    Dan benar, Mas Jo langsung melihat Ibu Rini yang ia jemput. Bergegas Mas Jo menemuinya dan langsung meminta kopernya.


    "Mana mobilnya?" tanya Rini yang terlihat sudah betul-betul kelelehan.


    "Itu, Bu .... Dekat." jawab Mas Jo.


    "Aduh, Mas Jo .... Saya tidak kuat lagi." keluh Rini, dan tiba-tiba wanita itu sudah terjatuh. Pingsan.


    "Ya ampun, Ibu .... Tolong .... Tolong ...." teriak Mas Jo yang berusaha memapah bos perempuannya, Rini.


    "Ada apa ...?! Ada apa ...?!" orang-orang yang ada di dekat Mas Jo pada bertanya.


    "Ada yang pingsan!"


    "Hah, mana?"


    "Ayo dibantu."


    "Panggilkan dokter!"


    Tentu beberapa orang langsung berlari menuju tempat teriakan Mas Jo. Termasuk para petugas keamanan. Lantas beberapa lelaki membantu membopong tubuh Rini, dan membawa ke mobil Mas Jo, memasukkan dan mendudukan di jok belakang.


    "Masukkan mobil!"


    "Bawa ke rumah sakit!"


    "Telepon bosmu!"


    "Iya, Akang. Terima kasih, Bapak dan Akang semuanya, doakan semoga juragan saya tidak apa-apa." kata Mas Jo mengucapkan terima kasih sudah dibantu.


    "Langsung dibawa ke rumah sakit, ya." kata beberapa orang yang menolong.


    "Ya. Terimakasih." jawab Mas Jo.


    Setelah memberi ganjalan bantal dan menata agar tubuh majikannya itu tidak terjatuh, lantas perlahan Mas Jo langsung menjalankan mobilnya. Sambil membuka telepon, meski dilarang, tapi ini darurat, Mas Jo menghubungi bosnya, Pak Hamdan.


    "Halo, Bapak ..., maaf, ini Ibu Rini pingsan. Apa harus saya bawa langsung ke rumah sakit?" tanya Mas Jo pada Pak Hamdan.


    "Kok bisa, itu lo .... Pingsan di mana?" tanya Hamdan.


    "Tadi saat keluar dari bandara menuju tempat parkir, Pak." jawab Mas Jo.


    "Oo ..., itu paling-paling karena perubahan suhu yang ekstrim. Bandara panas sekali kan?" kata Hamdan.


    "Terus, sebaiknya Ibu bagaimana, Pak?" tanya Mas Jo yang bingung.


    "Ya sudah, biar nyaman langsung bawa ke rumah sakit. Biar dapat suntikan vitamin. Nanti saya langsung ke rumah sakit." jelas Hamdan.


    "Baik, Pak. Terimakasih. Saya langsung menuju Cempaka Putih, Pak." jawab Mas Jo yang terus mematikan HP-nya, selanjutnya konsentrasi menyetir di jalan ramai, menuju rumah sakit langganan keluarga Hamdan.


    "Lho, Mas Jo, kenapa saya, Mas? Ada di mana ini?" Rini yang sudah siuman, bingung dan kaget.

__ADS_1


    "Oh, maaf, Ibu Rini. Tadi Ibu pingsan di bandara. Ini saya sudah telepon Bapak, saya diminta untuk langsung mengantar Ibu ke rumah sakit." jawab Mas Jo sang sopir.


    "Yaampun .... Kenapa saya bisa pingsan, ya?" ucap Rini sambil menggeliatkan tubuhnya.


    "Tadi pagi Ibu sudah sarapan?" tanya Mas Jo.


    "Sudah. Malah habis banyak, Mas Jo." jawab Rini agak berbohong, karena waktu sarapan Rini hanya makan sedikit sekali, karena merasa tidak nyaman di rumah Yudi.


    "Mungkin kurang tidur, Bu." sahut Mas Jo lagi.


    "Walah, kebanyakan tidur, ya iya ...." jawab Rini.


    "Ya, paling-paling benar yang dikatakan Bapak, karena perubahan suhu." kata Mas Jo.


    "Mungkin, Mas." sahut Rini.


    Mobil Mas Jo sudah masuk ke halaman Rumah Sakit JIH. Langsung berhenti di depan IGD. Mas Jo turun, langsung membuka pintu belakang, untuk menurunkan Ibu Rini. Dua orang perawat langsung menghampiri, sambil membawa kursi roda. Rini didudukkan di kursi roda, dan langsung dibawa masuk ke ruang IGD.


    Mas Jo memarkirkan mobilnya. Lantas mengengkat telepon, menghubungi bosnya, Pak Hamdan, menyampaikan kabar jika Ibu Rini sudah masuk di IGD dan sudah ditangani oleh pihak rumah sakit.


    "Mas Jo, tunggui Ibu di rumah sakit dulu, ini sebentar saya menyusul ke rumah sakit. Untuk kamarnya bilang sama susternya, di kamar yang biasa dipakai Pak Hamdan. Gitu, ya." suara Hamdan di telepon.


    "Ya, Pak .... Baik, Pak." jawab Mas Jo, yang langsung kembali ke IGD.


    "Bapak sudah dihubungi, Mas Jo?" tanya Rini, yang tergeletak di bed IGD.


    "Sudah, Ibu .... Sebentar lagi menuju kemari." jawab Mas Jo.


    "Ibu Rini, untuk sementara Ibu harus menginap, guna perawatan lebih lanjut dan penanganan medis oleh dokter spesialis." kata dokter IGD yang menangani.


    "Iya, dok .... Terimakasih." jawab Rini yang terbaring lemas.


    "Bapak tadi pesan untuk memakai kamar yang biasa digunakan Bapak." sahut Mas Jo.


    "Baik. Kami akan siapkan kamarnya lebih dulu, sementara menunggu, Ibu Rini istirahat dulu." kata sang perawat.


    Dan dalam waktu tidak lama, ruangan kamar pasien sudah siap. Rini yang berbaring di bed roda, langsung didorong menuju ruang VVIP. Ruang pasien yang sangat lux, dilengkapi dengan ruang tamu dan meja kerja. Ada sofa yang bisa digunakan untuk istirahat penunggu. Ada kulkas dan meja tempat menaruh makanan. Ruangan yang sangat lengkap. Ya, rumah sakit ini langganan keluarga Hamdan jika harus berobat. Tentu perawat maupun dokter sudah tahu, bahkan hafal. Maklum, Hamdan adalah direktur perusahaan besar, yang walaupun berada di rumah sakit, biasanya banyak tamu serta pegawai yang harus membawa pekerjaan untuk dikoreksi oleh direkturnya. Maka Hamdan butuh ruangan yang cukup besar untuk bisa digunakan bekerja.


    Sesampai di ruangan, setelah direbahkan di bed pasien, Rini langsung tidur. Tadi sudah disuntik penenang. Lengan kirinya terpasang selang infus, yang kantong cairannya menggantung pada tiang yang menempel di bed sisi kiri. Nyenyak sekali tidurnya.


    Hampir jam lima sore, Rini baru membuka matanya. Ia bangun, saat merasakan ada orang yang memijit kakinya. Rini langsung mengamati orang yang memijit kakinya itu. Ternyata Silvy, anak perempuannya.


    "Oh, Silvy. Gimana kabarmu, Sayang?" tanya Rini pada anaknya.


    "Baik, Mah. Mamah kenapa ini, kok sampai pingsan segala, katanya Mas Jo?" tanya Silvy yang masih memijit kaki mamahnya.


    "Gak papa, Sayang .... Paling kecapaian." jawab Rini.


    Dua orang laki-laki ganteng sudah berada di sampingnya, suaminya dan menantunya.


    "Ee ..., ada menantuku juga. Gimana kabarmu, Sayang?" tanya Rini pada suami Silvy.


    "Baik, Mah." jawab suami Silvy.


    "Pah ...." tangan Rini memegang lengan suaminya.


    "Kenapa, Mah?" tanya suaminya.

__ADS_1


    "Aku mau pipis." kata Rini yang berusaha bangun dari tempat tidur.


    Lantas Hamdan membantu, mengangkat punggungnya. Silvy, anaknya, juga ikut membantu. Lantas Silvy mengangkat tiang infus agar tidak tertarik, kemudian menuntun mamahnya menuju kamar mandi.


    Setelah selesai, Rini kembali berbaring, dibantu oleh suaminya. Silvy menata kembali selang infus di lengan mamahnya.


    "Tok ..., tok ...." suara pintu diketuk. Kemudian ada seorang perawat yang membuka dari luar, diikuti oleh dokter yang akan melakukan pemeriksaan. Dokter internis, spesialis penyakit dalam.


    "Selamat sore, Pak Hamdan." salam dokter itu, yang tentu sudah kenal atau hafal dengan Hamdan.


    "Sore, dokter." sambut Hamdan.


    Silvy beserta suaminya menjauh dari mamahnya, memberi kesempatan kepada perawat untuk melakukan pengukuran tensi dan suhu tubuh.


    Lantas dokter itu mendekat ke Rini, menempelkan stetoskop di dada, ulu hati dan perut. Pada bagian dada cukup lama pemeriksaannya, bahkan diulang beberapa kali.


    "Ibu, besok ke laboratorium, ya ..., untuk cek ECG, echocardiogram." kata sang dokter.


    "Istri saya sakit apa, dok?" tanya Hamdan pada dokter yang memeriksa istrinya.


    "Tidak apa-apa, Pak Hamdan. Mungkin kelelahan saja. Ini tensinya agak tinggi dan denyut jantungnya agak kurang stabil. Nanti saya beri obat, biar lebih tenang dan tidurnya bisa nyenyak." jawab sang dokter.


    "Kok harus di ECG?" tanya Hamdan lagi.


    "Ya, harus, Pak hamdan .... Ini prosedurnya. Saya tidak bisa mengambil kesimpulan tanpa melihat hasil Lab." sahut sang dokter.


    "O, ya .... Terimakasih ya, dok." kata Hamdan.


    "Cepat sembuh ya, Bu ...." kata sang dokter, yang kemudian meninggalkan ruang Rini, utuk memeriksa pasien yang lain.


    "Pah, kok menakutkan?!" kata Rini, yang tentu takut saat dokter bilang sakit jantung.


    "Tidak apa-apa, Mah .... Kan tadi kata dokter paling karena kecapaian. Makanya Mamah harus istirahat, biar cepat pulih." kata Hamdan menenangkan istrinya.


    "Iya, Pah. Terus untuk rencana Papah, dari gambar yang sudah dikirim bagaimana?" tanya Rini yang teringat dengan tugasnya mencari info ke Jogja.


    "Mah ..., lupakan dulu itu. Sekarang Mamah harus banyak istirahat, agar sakitnya cepat sembuh. Ya, Mah." kata Hamdan sambil mengelus-elus lengan Rini.


    "Iya, Pah. Terimakasih, Pah." kata Rini.


    "Papah minta maaf, sudah merepotkan Mamah. Maafkan Papah ya, Mah." kata Hamdan lagi.


    "Iya, Pah. Saya senang kok bisa membantu Papah." kata Rini yang tidak ingin mengecewakan suaminya.


    "Memang Mamah ke Jogja kenapa, Pah?" tanya Silvy pada papahnya.


    "Ah, itu gara-gara ambisi Papah. Besok saya tidak akan merepotkan Mamah lagi kalau urusan begini, apalagi mamah kamu itu mudah kecapaian." jawab Hamdan pada anaknya.


    "Memang Papah punya proyek di Jogja? Kok nggak ngajak Silvy?" tanya Silvy.


    "Belum, Sivy .... Itu baru rencana. Karena papah kamu sibuk, mamah yang disuruh. Itu juga gara-gara mamah." sahut Mamahnya.


    "Proyek apaan, Mah? Silvy diajak dong, Mah." kata Silvy.


    "Ala .... Itu belum jelas, Silvy. Ini baru penjajakan. Besok kalau sudah ada titik terang, kamu yang pegang proyeknya." sahut Hamdan.


    "Asyik .... Berarti Silvy bisa kelola usaha Papah yang di Jogja, dong." Silvy tersenyum senang.

__ADS_1


    "Yah .... Doakan saja." kata Hamdan.


    Jika Silvy, anaknya, merasa senang mendengar akan ada proyek di Jogja, sebaliknya dengan Rini, yang kini hatinya sedang bergejolak, bingung untuk menentukan arah. Apa sih artinya punya vila, atau motel, atau guest house, atau homestay di Jogja, jika tetap bersama dengan anak-anak dan suaminya. Apa enaknya di Jogja jika ditunggui suaminya saat pensiun nanti. Itu semua justru akan menyakitkan, kalau dirinya melihat Yudi, tetapi hanya bisa berdampingan dengan suaminya. Kasihan Yudi yang harus memandangi kebahagiaannya bersama suaminya. Pasti Yudi akan lebih sakit. Maka sebaiknya dibatalkan saja rencana suaminya itu, agar tidak ada yang sakit.


__ADS_2