
Sementara itu di Jakarta, Rini yang belum sempurna kesehatannya, sedikit demi sedikit berusaha untuk melakukan aktivitas. Walau hanya sekadar melihat dapur, menunggui Mak Mun memasak, maupun mengatur makanan di meja makan. Tetapi itu sudah lumayan, setidaknya bisa untuk menggerakkan kaki yang kaku-kaku. Ya, lumayan untuk latihan olah raga. Setidaknya tidak sekadar terbaring di tempat tidur. Demikian juga saat pagi hari ketika suaminya sarapan, Rini ikut menemani makan makan. Rini ikut sarapan sedikit, lantas minum obat.
"Mah ..., Mamah jangan banyak kegiatan dulu, nanti capai. Banyak istirahat, biar cepat pulih kesehatannya." kata suaminya mengingatkan.
"Iya, Pah .... Ini untuk melemaskan kaki, biar tidak kaku. Mamah nggak ngapa-ngapain, Pah .... Jangan khawatir." sahut Rini yang masih mendampingi suaminya di meja makan.
"Iya, Mah .... Hati-hati. Eh, ini Silvy mau ke sini lagi kapan, Mah?" tanya suaminya.
"Belum bilang. Nanti coba Mamah telepon. Emangnya ada apa, Pah?" Rini balik bertanya.
"Papah mau minta tolong Silvy untuk ke Jogja lagi. Menemui Mas Yudi. Mau menyampaikan berkas-berkas kesepakatan pemesanan homestay di Kampung Nirwana." jawab Hamdan.
"Oo ..., ya udah nanti saya telepon. Biar saat pulang kerja langsung kemari." sahut Rini.
"Ya, Mah .... Terima kasih. Papah berangkat kerja, ya ...." kata Hamdan yang langsung mengangkat beranjak dari kursi untuk berangkat kerja.
Rini mengikuti berjalan, hingga sampai teras belakang di samping garasi, melepas keberangkatan suaminya. Setelah mobil yang disopiri Mas Jo menghilang di balik pagar, Rini baru membalik masuk rumah.
"Ah, Yudi lagi ..., Yudi lagi. Memang apa sih hebatnya Yudi?" gumam Rini yang merasa tidak nyaman mendengar nama Yudi disebut oleh suaminya.
"Sarapannya sudah cukup, Ibu?" tanya Mak Mun sudah mulai memberesi meja makan.
"Iya, Mak Mun. Tolong diberesi, ya .... Saya mau rebahan sebentar." jawab Rini.
"Ya, Bu .... Monggo. Mau dibuatkan lemon ditambah madu hangat, Ibu?" kata Mak Mun.
"Boleh, Mak Mun ..., tapi gelas kecil saja, ya." sahut Rini.
"Siap, Ibu ...." Mak Mun langsung bergegas ke dapur.
Di kamar, Rini langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Pandangannya langsung menatap atap kamar. Ada bayang-bayang diri Yudi di langit-langit kamarnya. Kadang tersenyum, kadang terlihat sedih, tapi terkadang juga acuh. Rini jengkel, karena bayang-bayang itu melekat terus. Tidak mau menghilang.
"Ih, Yudi .... Kenapa sih kamu gak pergi-pergi!" teriak Rini yang jengkel dengan bayangan Yudi.
"Ada apa, Bu?" tanya Mak Mun yang kaget mendengar teriakan Rini, saat mengantarkan lemon madu.
__ADS_1
"Eh, Mak Mun .... Tidak apa-apa, Mak .... Cuman pengin teriak saja, untuk melepas penat. Hati saya sumpek, Mak Mun." jawab Rini.
"Lhah, sumpek kenapa, Bu Rini?" tanya Mak Mun.
"Sakit saya kok gak sembuh-sembuh. Saya itu pengin melepas penat agar plong, gitu lho, Mak Mun." kata Rini.
"Walah, kalau begitu bawa saja ke pantai, terus nanti di sana Ibu loncat-loncat sambil teriak sekeras-kerasnya. Pasti plong, Ibu .... Hehe ...." kata Mak Mun mencoba berpendapat.
"Gitu ya, Mak Mun? Coba besok saya suruh Silvy menemani ke pantai." sahut Rini.
"Walah, dengan saya saja juga tidak apa-apa, kok. Kapan? Saya selalu siap, Bu .... Hehe ...." kata Mak Mun menawarkan diri.
"Halah, ternyata Mak Mun yang pengin piknik." ledek Rini.
"Hehe .... Iya, Bu ...." sahut Mak Mun.
"Ya sudah, besok bilang Mas Jo, suruh ngantar ke pantai." jawab Rini.
"Iya, Bu .... Terima kasih ya, Bu .... Asyik ...." kata Mak Mun langsung berlari gembira.
"Ah, Yudi ..., kenapa dirimu selalu menempel di pelupuk mataku? Yudi, maafkan salahku ..., aku tahu diriku yang salah, tapi aku mohon jangan siksa aku seperti ini, Yud. Tolong menjauh dariku, Yud ...."
Rini mulai menangis. Menyesali kesalahannya. Menyesali sudah membuat Yudi membujang sampai tua. Rini juga mulai menyesali mengapa hadir di acara reuni teman-temannya. Rini menyesali sudah kembali bertemu dengan Yudi. Bahkan sempat bermanja di pelukan Yudi. Bahkan juga sudah janji-janji di Pantai Laut Selatan.
"Ach .... Kenapa semua itu terjadi?!" desah Rini yang menyesali pertemuannya dengan Yudi.
Terus terang Rini merasa kasihan dengan Yudi yang sampai tua belum mau menikah, hanya karena cintanya kepada dirinya tidak mau digantikan. Tetapi Rini juga jengkel, melihat Yudi sebagai laki-laki yang cengeng, ditinggal perempuan kok tidak mau mencari ganti. Namun Rini mengakui, kalau Yudi adalah laki-laki terbaik yang pernah ia jumpai. Setia hingga tua, bahkan mungkin kesetiaan itu akan terbawa sampai mati.
Rini mengakui, pernah cemburu saat melihat Yuna dengan pakaian yang terlalu seksi, pamer kecantikan di depan Yudi. Bahkan Rini marah pada Yudi. Dan akhirnya jadi sakit seperti yang diderita saat ini. Namun saat ia mendengar cerita Silvy, anaknya, yang tahu persis cara kerja Yuna, yang melihat selama dua hari hubungan kerja antara Yuna dengan Yudi, sama sekali tidak memperlihatkan adanya sesuatu yang mencurigakan. Kerja keras, kerja serius, kerja profesional. Hubungan keduanya betul-betul hubungan kerja sebagai partner. Rini menyesal sudah mencemburui Yudi.
Apalagi saat Silvy juga menceritakan rasa kasihannya kepada Yudi, yang hidup sendiri. Padahal Yudi, yang selanjutnya dipanggil Papah oleh Silvy, orangnya sangat baik dan penuh kasih sayang. Mengapa tidak ada perempuan yang mau mendekat? Bahkan Silvy juga menegaskan kalau Yudi itu pasti frustrasi. Bahkan Silvy bilang, sangat keterlaluan perempuan yang sudah membuat frustrasi Yudi. Ah, kembali Rini terkena tembak. Diri Rini itulah yang telah membuat Yudi frustrasi. Berarti Silvy, anaknya, telah menganggap ibunya sebagai wanita yang keterlaluan, wanita jahat, wanita pengkhianat.
"Aduh ..., betapa bersalahnya diriku ini." gumam Rini.
Rini kembali merasa bersalah. Pikirannya melantur ke mana-mana. Kepalanya jadi pusing, seakan berputar. Dan tiba-tiba, "Bruuk ...!!" Rini terjatuh dari tempat tidur. Pingsan.
__ADS_1
"Ibu ...! Ibu ...! Waduh .... Tolong ...! Mang Udel ...! Tolong ...!" Mak Mun berteriak minta tolong, saat tahu majikannya jatuh dari tempat tidur dan pingsan.
Mang Udel bergegas berlari menuju kamar majikannya. Lantas membantu mengangkat tubuh majikannya, menempatkan di tempat tidur.
"Mun, kamu telepon Bapak. Biar nanti dijemput Mas Jo dan dibawa ke rumah sakit." kata Mang Udel.
"Iya ..., iya .... Sebentar." Mak Mun berlari menuju meja telepon, lantas menelepon Pak Hamdan.
"Halo ...." kata Pak Hamdan di panggilan telepon.
"Iya, Pak ..., ini Mumun menyampaikan kabar, Ibu jatuh dari tempat tidur dan sekarang pingsan, Pak." jawab Mak Mun.
"Haduh ...! Ya udah, tunggu dulu, biar dijemput Mas Jo agar dibawa ke rumah sakit." jawab Pak Hamdan.
"Iya, Bapak .... Terima kasih. Kami menunggu Mas Jo." kata Mak Mun.
"Gimana, Mun?" tanya Mang Udel.
"Suruh nunggu Mas Jo, mau dibawa ke rumah sakit." jawab Mak Mun.
"Ya sudah, kamu nunggu di kamar, saya jaga di luar." kata Mang Udel yang langsung menuju pintu depan.
Tidak lama, Mas Jo sudah sampai di rumah, bersama Silvy. Mereka langsung mengangkat Ibu Rini, terutama Silvy dan Mak Mun yang dibantu Mang Udel. Mas Jo menyiapkan mobilnya. Lantas tubuh Rini masuk ke jok belakang, dipapah oleh Silvy.
Mas Jo langsung menjalankan mobilnya, menuju rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, Rini langsung ditempatkan di bed dorong, menuju IGD. Silvy sudah dipesan oleh papahnya, agar ibunya langsung opnam di ruang yang kemarin. Setelah selesai pemeriksaan dan pengurusan administrasi, Rini langsung didorong ke ruang inap, di kamar VVIP. Tangannya kembali diinfus.
Di ruang inap mamahnya, Silvy mengangkat HP, melakukan panggilan telepon.
"Halo, Pah .... Ini Mamah Rini Sakit .... Masuk rumah sakit lagi, Pah. Kasihan Mamah Rini ...." suara Silvy menghubungi seseorang yang dia panggil sebagai "Papah".
Sipa Papah Silvy yang dia dihubungi? Siapa lagi kalau bukan Yudi.
Akankah orang yang dipanggil Papah oleh Silvy akan datang menjenguk Rini?
__ADS_1