
Baru saja Rini menyelesaikan pekerjaan rumah, saat Yudi datang bersama Simbok. Meski hari sudah menjelang tinggi, tetapi yang namanya single parent, mengerjakan urusan rumah tangga sendirian, pasti membutuhkan waktu dan tenaga ekstra.
"Wah ..., ada Simbok .... Monggo, Simbok ..., pinarak sini." kata Rini mempersilakan Simbok duduk kursi tempat makan, saat kedatangan Simbok bersama Yudi yang sudah masuk ke teras rumahnya.
"Rumahnya Neng Rini bagus banget ...." kata Simbok yang langsung memandang ke seluruh taman.
"Ah, Simbok .... Bagusan rumah Yudi, Mbok .... Maaf, saya belum punya kursi tamu ...." kata Rini yang tentu malu dengan Simbok kerena harus mempersilakan Simbok duduk di tempat makan.
"Jangan merendah .... Ini sudah sangat bagus dan indah. Apalagi tanaman bunganya sangat banyak. Pasti itu harganya mahal-mahal .... Hehehe ...." kata Simbok sambil tertawa kecil.
"Maaf, lho ..., Simbok .... Tempatnya berantakan." kata Rini yang tentu malu kalau dapur dan tempat makannya kecil.
"Bagus, lho ya ...." sahut Simbok.
Rini langsung menyuguhkan teh hangat kepada Simbok. Lantas katanya, "Tumben ngajak Simbok kemari .... Ada apa ini?" tanya Rini pada Yudi.
"Simbok pengin mengajak Rini ke Magelang .... Itu kalau Rini bisa ...." jawab Yudi pada Rini.
"Waduh ..., kok mendadak sekali .... Saya belum mandi." kata Rini yang tentu memang masih sibuk mengurus rumah.
"Simbok mau pulang ke Magelang, rencananya mau saya antar. Simbok pengin agar Rini tahu rumahnya Simbok yang ada di Magelang. Itu kalau Rini bersedia .... Kalau memang tidak bisa, ya jangan dipaksa." kata Yudi menjelaskan kepada Rini.
"Iya ..., saya mau .... Tapi kan harus mandi dahulu .... Masak lucek begini diajak pergi .... Gak cantik, lah ...." kata Rini yang tentu malu.
"Jadi ..., mau ...?" tanya Yudi meyakinkan.
"Mau, lah .... Tapi kalau Simbok mau menunggu saya mandi dulu ...." kata Rini, yang tentu sambil tersenyum.
"Mandinya berapa jam ...?" tanya Yudi menggoda.
"Paling-paling seminggu .... Hehehe .... Ya, sudah ..., saya mandi dahulu." kata Rini yang langsung pergi mandi.
Yudi meninggalkan Simbok yang duduk di tempat makan. Sambil menunggu Rini mandi dan berganti pakaian, Yudi masuk ke kebun anggrek, menemui Trimo yang sedang menyiram anggrek.
"Eh ..., Mas Yudi ...." Trimo menyapa orang yang baru saja mendekatinya.
"Gimana, Mas Trimo ...? Krasan kerja ngurusi anggrek?" tanya Yudi pada Trimo.
"Betah, Mas Yudi .... Bu Rini orangnya baik, kok ...." jawab Trimo.
"Kerja itu diniati ibadah .... Berapapun bayarannya, anggap itu sebagai upah keluarnya keringat. Jangan berpikir besar kecil, yang penting barokah. Bayaran besar kalau tidak barokah, juga tidak bakal membuat kita makmur. Sedikit kalau itu rezeki yang berkah, bakal jadi daging .... Begitu ya, Mas Trimo ...." kata Yudi menasehati Trimo.
"Betul, Mas Yudi .... Saya syukuri kok, bayaran saya yang diberikan oleh Ibu Rini." sahut Trimo.
"Oh, iya ..., Mas Trimo ..., ini nanti Ibu Rini mau saya ajak ngantar Simbok ke Magelang, karena Simbok pengin menunjukkan rumahnya pada Bu Rini .... Tolong Mas Trimo jaga di kebun anggrek dahulu, ya ...." kata Yudi memamitkan bosnya Trimo.
"Siap ..., Mas Yudi. Kalau ada apa-apa, saya juga sering tidur di sini menemani IBu Rini kok, Mas ...." kata Trimo.
"Terima kasih .... Kalau ada yang bingung, tidak usah takut telepon Ibu Rini." kata Yudi lagi.
"Siap ..., Mas Yudi ...." sahut Trimo.
Setelah semua beres, Rini sudah siap, mereka bertiga, Yudi, Simbok dan Rini langsung bersiap, berangkat menuju Magelang.
"Mas Trimo .... Tolong kamu urus dahulu tamannya, ya .... Kalau ada apa-apa langsung telepon saya. Saya mau ke Magelang, ikut mengantar Simbok." pesan Rini yang menemui Trimo yang masih menyiram anggrek.
"Nggih, Ibu .... Siap ...." jawab Trimo tegas, tentu sambil membungkukkan badannya.
"Nanti jika sudah sore, pintu pendopo ditutup saja, tidak usah dikunci." tambah Rini.
"Inggih, Ibu .... Siap ...." jawab Trimo lagi.
"Kalau takut sendirian ..., anak sama istrinya Mas Trimo diajak kemari ...." kata Rini lagi.
"Nggih, Ibu .... Siap ...." lagi-lagi Trimo menjawab siap.
Rini pun masuk ke mobil Yudi, ikut mengantarkan Simbok ke Magelang. Tentu Rini mau mengikuti ajakan ini karena Yudi. Tentu karena Rini yang sudah tahu kondisi Yudi saat ini yang tidak bisa menemukan Yuna, ia ingin kembali menjalin kedekatan dengan Yudi. Setidaknya Rini ingin menghibur Yudi agar tidak stres memikirkan Yuna.
"Neng Rini duduk di depan .... Simbok di belakang saja, biar bisa tidur. Hehe ...." kata Simbok yang sudah masuk mobil duluan.
__ADS_1
"Ya, Mbok ...." jawab Rini, yang tentu hatinya menjadi senang bisa duduk kembali bersanding dengan Yudi.
"Lhoh ..., Simbok kok tidak duduk di depan?" tanya Yudi.
"Saya di belakang saja .... Biar bisa tidur." jawab Simbok yang sudah leyeh-leyeh.
Rini memandang Yudi, tentu sambil tersenyum. Senyum bahagia yang pasti. Sebaliknya, Yudi juga menoleh Rini, dengan senyum yang juga menyenangkan. Pasti bahagia, saat dua orang itu saling bertatapan memandang. Pasti ada sesuatu yang langsung menusuk dalam hati dua orang tersebut.
Mobil avanza hitam melaju menyusuri jalan aspal, dari Bantul melintas tengah kota Jogja, dan terus menuju Magelang. Ternyata benar, baru sampai di depan pasar Bantul, Simbok sudah mendengkur. Tertidur pulas. Tentu Rini melirik Yudi yang sedang konsentrasi menyetir. Tahu dirinya di lirik, Yudi pura-pura tidak melihat. Ia justru terlihat serius memandangi jalan.
Rini yang tahu kalau yang dilirik pura-pura tidak tahu, maka jemari lentik wanita cantik itu sudah gerilya. Mencubit pinggang Yudi.
"Auw ...!" Yudi menjerit kena cubit.
Sekarang sebaliknya, saat mendengar Yudi menjerit, Rini berpura-pura tidak mendengar dan tidak tahu kenapa Yudi menjerit. Rini justru menoleh ke kaca mobil, seakan menyaksikan pemandangan yang ada di sebelah kiri mobil.
"Tahu baru ada orang menyetir kok di cubit. Nanti kalau terjadi kecelakaan bagaimana ...?" kata Yudi yang tentu ditujukan kepada Rini.
Namun Rini diam saja. Masih pura-pura memandangi ke luar. Padahal ia tersenyum. Dalam hatinya mulai berbunga, karena Yudi bisa diajak bercanda. Tentu Rini ingin agar Yudi kembali ceria, tidak bersedih.
"Ih, ini penumpangnya tidaur semua, ya ...? Terus, yang mencubit pinggang saya tadi siapa? Ah ..., jangan-jangan ada makhluk gaib yang ikut mobil saya ...." kata Yudi yang lagi-lagi ditujukan untuk membalas Rini.
Rini semakin ingin tertawa. Tetapi masih ditahan. Ingin melihat reaksi Yudi selanjutnya.
Dan benar, tangan Yudi tiba-tiba sudah menyenggol pinggang Rini.
"Auw ...!!" Rini kaget dan berjingkat.
"Ada apa?" tanya Yudi yang membalas pura-pura tidak tahu.
"Pinggangku ditendang kuda ...." kata Rini yang mengejek senggolan Yudi sebagai tendangan kuda.
"Kok ada kuda negar di dalam mobil ...?! Keterlaluan ...." kata Yudi yang meladeni gojekan Rini.
Suasana tentu semakin mesra. Meski umur mereka sudah tidak muda, bahkan sudah tergolong masuk dunia tua, namun kemesraan rasa cinta itu ternyata tidak mengenal usia. Rini dan Yudi tetap saja terlihat mesra. Ada candaan di sepanjang perjalanan. Hingga tanpa terasa, mobil yang dikendarai oleh Yudi sudah berbelok masuk ke pelataran yang cukup luas dengan pohon-pohon besar yang rimbun, dan di situ terdapat rumah kuno yang terlihat asri dan artistik.
"Sudah sampai ...." kata Yudi yang menghentikan mobilnya, tepat di depan rumah. Ruangan depan yang hanya ada dindingnya pada bagian kanan kirinya. Sedangkan bagian depan hanya terdapat dinding setinggi perut orang dewasa, dan di bagian tengah tanpa dinding maupun pintu sama sekali. Di ruangan terbuka yang cukup luas itu terdapat dua setel kursi, yang ada di ujung kanan dan ujung kiri. Kursi kayu kuno yang dibeari anyaman rotan. Ya, itulah teras pendopo depan, yang biasa digunakan untuk menerima tamu secara tidak formal.
"Tidak usah bingung .... Ayo masuk ke rumah Simbok ...." kata Simbok yang mengajak Rini masuk ke rumahnya.
"Iya, Mbok ...." jawab Rini yang tentu masih merasa aneh di rumah kuno itu.
"Gak usah takut .... Ini rumah orang tuaku. Tidak ada kuda yang akan menendang kamu. Dahulu, Yuna sering tidur di sini." kata Yudi yang mengajak Rini masuk.
"Eh ..., aku malu ...." kata Rini yang berjalan perlahan menuju ruang depan tersebut.
"Kenapa malu?" tanya Yudi.
"Nggak tau .... Tapi perasaanku, aku merasa terlalu kurang pas kalau diajak masuk rumah orang tua Yudi." kata Rini yang tentu merasa aneh melihat rumah Yudi. Apalagi setelah masuk ke rumah itu, ada sesuatu yang membuat Rini terlalu kecil dalam keluarga Yudi.
"Tidak ada apa-apa .... Ini rumah peninggalan Simbah. Hanya Bapak dan Simbok yang menempati. Anak-anak Simbah, itu tinggal di rumah itu ..., itu ..., dan itu ...." kata Yudi sambil menunjukkan rumah-rumah saudara orang tuanya.
"Yuna kemari berapa kali?" tanya Rini, yang tentu masih ada perasaan lain terhadap Yuna. Bagaimanapun juga Yuna adalah istri Yudi yang syah.
"Saya tidak tahu .... Biasanya bersama Bagas saat menjemput atau mengantar Simbok dan Bapak." jawab Yudi.
"Tidak bersama kamu?" tanya Rini menyelidik.
"Saat bersama saya malah tidak mampir rumah sini, karena hanya piknik ke Candi Borobudur." jawab Yudi jujur.
"Sekarang, kenapa mengajak saya kemari ...?" tanya Rini mencoba ingin tahu.
"Hehehe ...." Yudi nyengenges.
"Iih .... Payah!" Rini jengkel dengan tawaan Yudi.
"Ayo masuk." Yudi langsung menggandeng lengan Rini dan mengajak masuk.
Rini mengikut saja ajakan Yudi. Apapun yang akan dilakukan oleh Yudi, Rini sudah siap. Ia pasrah saja. Namun saat masuk ke ruangan dalam, lagi-lagi Rini heran. Ia menyaksikan ada seperangkat gamelan alat musik Jawa yang di gelar di ruangan sisi kanan. Sedangkan di sisi kiri ada kotak-kotak dan beberapa barang yang Rini belum pernah melihat sebelumnya.
__ADS_1
"Itu perangkat gamelan .... Yang itu perangkat wayang kulit. Di sini sering digunakan untuk latihan karawitan oleh orang-orang kampung. Biasanya kalau malam." kata Yudi menjelaskan kepada Rini.
"Berarti keluarga Yudi itu memang benar-benar seniman, ya ...?!" kata Rini meyakinkan apa yang dilihat.
"Ya ..., seperti itulah." jawab Yudi.
Selanjutnya Rini diajak Yudi ke rumah bagian belakang. Jadi rumah orang tua Yudi, adalah rumah kampung yang terdiri dari tiga bangunan rumah yang bergandengan. Bagian depan untuk tamu dan perangkat gamelan, rumah bagian belakang untuk keluarga, sedangkan satu lagi, rumah yang menggandeng dengan kamar-kamar keluarga adalah untuk dapur dan kamar mandi. Ada juga yang punya rumah belakangnya masih ada gandengannya lagi dengan bagian dapur, biasanya untuk ternak.
"Rumah kok gandeng-gandeng, sih ..., Yud ...?!" tanya Rini yang tentu heran dengan besarnya rumah orang tuanya Yudi tersebut.
"Rumah kampung memang modelnya begini ...." jawab Yudi.
"Terus ..., di sini Bapak sama Simbok cuman berdua, gitu?" tanya Rini yang tentu juga kasihan melihat orang tua hidup di rumah besar berdua saja.
"Lhah, itu kan saudara semua yang mengelilingi rumah Bapak. Kalau malam, di sini ramai orang yang pada menabuh gamelan." sahut Yudi menjelaskan.
"Oo ...." Rini baru sadar, jika persaudaraan di desa tentunya sangat kuat.
Setelah diajak keliling melihat-lihat rumah dan pekarangan, selanjutnya Rini diajak masuk ke ruang dalam. Di ruang itu juga terdapat meja kursi, tetapi untuk keluarga. Bukan untuk tamu. Mereka berdua sudah ditunggu Bapak dan Simbok yang duduk di kursi keluarga tersebut.
"Ayo, duduk sini .... Makan dahulu ...." kata Simbok yang sudah duduk berdampingan dengan ayah Yudi.
Rini duduk, bersebelahan dengan Yudi, berhadapan dengan Simbok dan Bapak. Lantas mereka menikmati makanan ala kampung yang sudah dimasak oleh saudara-saudara di kampung. Nasi liwet dengan sayur oblok-oblok, lauknya pepes ikan asin. Rasanya khas masakan desa yang dimasak menggunakan kayu bakar. Tentu makan sambil berbincang, akan menghabiskan semua makanan.
"Bagaimana ...? Senang kan, tinggal di sini?" tanya ayahnya Yudi.
"Udaranya masih segar .... Sejuk dan nyaman .... Tidak seperti di Jakarta ...." tambah Simbok.
"Iya, Mbok ..., Pak ...." jawab Rini, yang tentu juga masih agak ragu.
"Tidak usah pulang .... Tinggal di sini saja ...." kata ayahnya Yudi kembali.
"Yang ngurusi anggrek tidak ada, Pak ...." kata Rini beralasan.
"Kan sudah ada yang ngurusi, siapa itu tadi ..., Trimo?" kata Simbok memprotes.
"Iya, Mbok .... Tapi, Mas Trimo tidak bisa jualan sendirian, kalau ada pembeli yang menawar, dia tidak berani ngasih harga yang bisa diberikan. Takut kalau kemurahan." Rini balas berargumen.
"Ya sudah ..., lain kali saja menginap di sini, kalau sudah ada yang bisa menjualkan dengan baik." kata sang Bapak yang mengalah, sambil menaruh piring yang sudah kosong.
"Iya, Pak ..., Mbok .... Besok lain waktu saya akan menginap di sini." jawab Rini yang berjanji. Lantas ikut membantu Simbok membersihkan meja, serta membawa peralatan makan itu ke dapur.
"Yudi ..., kamu menginap di sini apa pulang?" tanya Bapak pada Yudi, sambil menumpuk piring-piring yang sudah tidak berisi.
"Rencananya pulang, lhah kan harus mengantar Rini ...." sahut Yudi.
"Yo wis .... Sana lerenan dahulu, biar tidak terlalu capai." kata Simbok menyuruh Yudi istirahat.
"Tidak usah, Mbok .... Ini saya mau ajak Rini keliling Magelang, biar tahu keindahan Kota Magelang." sahut Yudi.
"Oo ..., mau jalan-jalan ...? Yo wis kono .... Hati-hati, ya ...." kata Simbok pada Yudi, yang tentu mengizinkan anaknya untuk jalan-jalan berduaan bersama Rini.
Setelah berpamitan dengan Simbok dan Bapak, bahkan juga ada saudara-saudara Yudi yang ikut berdatangan menyaksikan kedatangannya, Yudi dan Rini naik ke mobil. Lantas meninggalkan rumah tua itu. Tentu dengan senyum manis yang penuh harapan. Mobil itu meluncur menuju jalan raya, meninggalkan Kota Magelang, menuju arah timur.
"Mau ke mana?" tanya Rini pada Yudi.
"Rini mau jagung bakar atau jagung rebus?" tanya Yudi balik.
"Di mana?" tanya Rini lagi.
"Ada tempat wisata yang asyik dengan menyediakan menu jagung bakar maupun rebus. Udaranya sejuk, bahkan lebih terasa dingin. Kita bisa menyaksikan indahnya hamparan alam pegunungan." jelas Yudi.
"Asal bersama Yudi, mau dibawa ke mana saja, aku pasrah ...." kata Rini yang sudah merebahkan kepalanya di pundak Yudi.
"Kita akan menuju Ketep. Kawasan puncaknya Magelang." kata Yudi yang sudah membelokkan mobilnya pada tanjakan terjal di jalan agak sempit, dengan pemandangan kanan kiri tanaman sayuran yang terhampar luas.
Tidak begitu lama, Yudi dan Rini sudah sampai di halaman parkir obyek wisata Ketep Pas. Menikmati segarnya udara di lereng Gunung Merbabu.
Seperti layaknya anak muda yang sedang dimabuk asmara, Rini dan Yudi menikmati jagung rebus sambil bermesraan. Tangan kiri Yudi memeluk tubuh Rini. Kepala Rini sudah membenam di bahu Yudi. Berkali-kali mereka keliru saat akan memakan jagung rebus. Karena bibir Yudi dan bibir Rini sering bertemu. Bagaikan menikmati jagung rebus yang hangat dan manis. Namun rupanya, mereka berdua justru sudah membuang jagung yang akan di makan, dan berganti menikmati kehangatan yang lain.
__ADS_1
"Yudi ..., aku ingin selalu berada dalam pelukanmu ...." kata Rini yang sudah memejamkan mata, pasrah pada Yudi.