
Hari berganti hari. Rasa pun sudah berubah. Yudi semakin akrab bersama Rini. Rini pun terlihat sangat bahagia setiap kali didatangi Yudi. Walau hanya sekadar berkunjung, tapi perasaan Rini lebih tenteram jika ada Yudi di sisinya. Demikian halnya dengan Yudi, yang merasa rindu jika tidak bertemu dengan Rini.
Tentu keakraban mereka terekam oleh penglihatan Trimo, pegawai Rini yang setiap hari menyirami dan merawat anggrek. Hal ini mengakibatkan Trimo terkadang merasa risih jika akan membersihkan kebun anggrek, tetapi di situ ada Rini dan Yudi yang mengobrol berdua. Sehingga kerja Trimo tidak maksimal. Tentu masalah inidisampaikan oleh Trimo kepada Bagas, agar Bagas bisa menyampaikan kepada Yudi. Supaya berita negatif tidak menyebar ke masyarakat.
Maka, pagi-pagi Bagas datang ke rumah Yudi. Bukan sekadar mau mengambil mobil untuk belanja barang, tetapi juga ingin menyampaikan keluhan Trimo. Sambil memberikan jajanan, Bagas bicara pada Yudi.
"Mas Yudi .... Maaf jika pertanyaan saya agak menyinggung perasaan Mas Yudi." kata Bagas saat duduk bersama Yudi di tempat makan rumah Yudi.
"Tentang apa?" tanya Yudi.
"Anu ..., Mas Yudi .... Masalah kedekatan Mas Yudi dan Ibu Rini. Terus terang saya dapat laporan dari Trimo yang cerita kalau Mas Yudi sering ngobrol sama Ibu Rini." kata Bagas kepada Yudi yang tentu blak-blakan tanpa ada basa-basi.
"Iya .... Memang tidak boleh?" jawab Yudi yang agak ketus.
"Bukan begitu, Mas Yudi .... Orang-orang kampung itu kan tahunya Ibu Rini itu janda. Sedangkan Mas Yudi itu sudah punya istri, Mbak Yuna .... Ada yang ngomong ke saya, Mas Yudi .... Rasanya kurang enak dilihat." kata Bagas pada Yudi, tentu dengan rasa agak takut.
"Hehhhh ..., hemmm ...." Yudi menarik napas panjang. Ada rasa yang mengganjal dalam dadanya. Antara ingin bercerita jujur atau menutupi semua persoalannya. Kalau Yudi Jujur, pasti orang se kampung akan bersedih kembali menyaksikan keadaan Yudi. Tetapi jika ia menutupi masalah hidupnya, berarti Yudi sudah menipu dirinya dan warga Kampung Nirwana. Namun sangat berat bagi Yudi untuk bisa menyampaikan.
Yudi memandang jauh ke awang-awang. Bingung untuk mengatakannya. Ia belum sanggup bercerita yang sebenarnya. Bingung.
"Memang kenapa, Mas? Ada yang menyinggung perasaan Mas Yudi?" tanya Bagas yang mulai ragu-ragu.
"Bukan begitu, Gas .... Saya itu bingung untuk mencari kawan bicara. Makanya saya sering ke rumah Rini itu untuk curhat, melepaskan penat dalam hati saya. Bukan apel seperti orang baru pacaran itu. Umur kami sudah limah puluh tahun, Gas ..., sudah bukan anak muda lagi." kata Yudi menenangkan Bagas agar tidak takut kalau dirinya marah. Maklum, setelah banyak belajar di Kuil Kifune, dididik oleh para pendeta, Yudi lebih sabar dan bisa mengendalikan emosi.
"Lah, kan ada Pak Lurah, ada saya .... Kalau hanya ngobrol, di warung kopi saja kan banyak orang nongkrong yang biasa nbgobrol ...." sahut Bagas yang memang tidak paham dengan pemikiran Yudi.
"Nah, betul kata saya tadi. Saya yakin, Bagas tidak paham dengan apa yang saya katakan." kata Yudi.
"Lhoh ..., bagaimana to, Mas Yudi?" tanya Bagas yang tentu kebingungan.
"Saya itu mau curhat .... Mencurahkan isi hati ..., menceritakan permasalahan hidup ..., perasaan ..., kesedihan .... Bukan untuk ngobrol dengan cerita ngalor ngidul seperti orang-orang yang nongkrong di warung kopi itu .... Apa mereka mau tahu dengan masalah saya? Wong kamu saja yang dekat juga tidak ngerti ...." kata Yudi yang memberi penjelasan kepada Bagas.
"Hehe .... Maaf, Mas Yudi .... Memang ada masalah apa to, Mas Yudi?" Bagas yang diajak omong justru nnyengenges.
"Kamu mau tahu ...?" tanya Yudi.
"Ya iya lah, Mas .... Mosok orang yang paling dekat dengan Mas Yudi kok malah tidak tahu permasalahan yang dihadapi bosnya. Lucu ...." sahut Bagas yang tentu protes.
__ADS_1
"Tapi tidak usah ngember ke sana kemari." sahut Yudi memesan.
"Iya, Mas .... Tapi kalau misalnya ada yang tanya, kan boleh saya beri tahu. Misalnya seperti Trimo yang mencurigai Mas Yudi di rumah Ibu Rini, kan harus saya jelaskan biar dia juga tidak menyebar gosip yang nggak benar." bantah Bagas.
"Iya .... Maksud saya, kamu gak usah woro-woro ke setiap orang. Biarlah waktu yang akan menyampaikan. Saya malu, Gas ...." kata Yudi lagi-lagi memesan kepada Bagas.
"Memangnya ada apa to, Mas?" tanya Bagas yang penasaran.
"Sebenarnya saya di Jepang tidak menemukan Mbak Yuna ...." kisah Yudi.
"Hah ...?! Lha terus ...?!" Bagas semakin penasaran.
"Saya justru dikejar-kejar orang yang menangkap Mbak Yuna." lanjut Yudi.
"Lha terus, Mas ...?! Ketangkap tidak?!" Bagas semakin penasaran.
"Sabar to, Gas .... Saya mau cerita dulu ...." kata Yudi menyabarkan Bagas.
"Maaf, Mas Yudi .... Penasaran, ingin segera tahu." kata Bagas.
"Waktu saya ke rumah mertua saya, di rumah kelahiran Mbak Yuna, oleh bapak mertua, saya disuruh pulang karena yang menangkap Mbak Yuna pasti akan datang dan mencari ke rumahnya. Namun setelah saya naik bis mau pulang, saya berpikiran lain. Pasti di bandara saya sudah dihadang oleh orang-orang yang menangkap Mbak Yuna. Maka saya pergi mencari tempat yang aman, yang tidak bakal diduga oleh para pencari itu. Akhirnya oleh seorang pendeta Shinto saya disembunyikan di kuil hingga enam bulan lamanya." cerita Yudi pada Bagas.
"Saya tidak boleh keluar dari persembunyian selama tiga bulan. Tidak boleh terlihat orang lain. Hingga akhirnya saya diberi kesempatan dan diizinkan untuk melukis di dalam halaman kuil. Itu saja belum boleh keluar kuil. Dari situlah, akhirnya saya melukis berbagai pemandangan. Termasuk melukis tamu yang datang ke kuil. Bahkan saya juga ngajari anak-anak di sekitar kuil yang ingin belajar melukis. Suatu ketika datang orang kaya yang minta saya lukis. Ya, tamu yang datang kemari itu, yang meminta saya untuk mengantar mereka ke Indonesia." kenang Yudi dengan cerita-cerita di tempat persembunyian.
"Ya ampun, Mas Yudi .... Kasihan sekali kisah hidupmu. Lhah terus, kok bisa keluar dari bandara, Mas?" Bagas masih penasaran.
"Itulah takdir. Entah siapa orang kaya yang datang ke Jogja kemarin itu, saya juga tidak mau tahu. Orang kaya itu keluar masuk bandara enak sekali. Bahkan menunggunya saja di ruang VIP, dan dilayani oleh banyak orang. Semua menghormati kepadanya. Waktu naik pesawat ke Indonesia, saya langsung diajak masuk begitu saja tanpa ada pemeriksaan. Saya juga heran .... Tapi yang penting saya bisa pulang. Kan begitu ya, Gas .... Bisa ketemu kamu lagi. Hehe ...." Yudi pun mengakhiri ceritanya dengan senyum pada Bagas.
"Lhah, Mbak Yuna bagaimana?" tanya Bagas yang tentu juga kasihan dengan Yuna.
"Kata para pendeta di kuil itu, saya tidak mungkin bisa ketemu Mbak Yuna." jawab Yudi.
"Memang kenapa, Mas?" tanya Bagas mendesak.
"Hhhh .... Katanya ini tentang pekerjaan rahasia. Tidak seorang pun boleh mengetahuinya. Kamu tidak usah cerita ini. Maka para pendeta mengajarkan kepada saya untuk ikhlas melepas yang dimiliki, yaitu Mbak Yuna. Kamu nanti kalau ditanya orang, bilang saja Mbak Yuna tidak boleh diajak ke Indonesia karena harus tetap kerja di Jepang, masih dibutuhkan oleh pemerintah Jepang." kata Yudi.
"Iya, Mas Yudi .... Berarti kalau boleh saya bilang, Mbak Yuna tidak bakal balik ke Jogja, Mas?" tanya Bagas lagi, yang tentu juga sangat khawatir.
__ADS_1
"Saya mau ketemu saja tidak bisa kok, Gas .... Bagaimana bisa balik ke Jogja? Bapak dan Ibunya saja tidak tahu tempatnya Mbak Yuna, bagaimana bisa cerita? Ini pekerjaan rahasia, Gas ..., pasti penjagaannya ketat. Besok kalau sudah bisa komunikasi, pasti akan mengabari saya." kata Yudi menenangkan Bagas.
"Sampai kapan, Mas?" tanya Bagas lagi.
"Mungkin sampai pensiun." sahut Yudi sekenanya.
"Walah .... Lama sekali. Berarti Mas Yudi sekarang tanpa istri lagi?" tanya Bagas, yang tentu akan mengatakan kalau Yudi sekarang sudah menjadi duda tanpa tahu nasib istrinya.
"Halah ..., tidak usah dibahas. Yang penting saya masih hidup, itu sudah sangat menyenangkan." sahut Yudi.
"Syukurlah, Mas Yudi .... Allah masih melindungi Mas Yudi. Setidaknya masih bisa pulang ke kampung halaman. Masih bisa ketemu simbok." kata Bagas.
"Walah, iya ..., saya lupa. Tolong Simbok sama Bapak dijemput. Pasti kangen sama saya." kata Yudi yang meminta Bagas untuk menjemput orang tuanya.
"Iya, Mas .... Nanti habis mengantar belanjaan para pengrajin akan saya jemput. Ya sudah kalau begitu saya berangkat dahulu ya, Mas ...." kata Bagas yang langsung berpamitan pada Yudi. Tentu sekarang pikirannya sudah plong, setelah mendengar sendiri cerita yang sebenarnya dari Yudi.
"Ya, pakai avanza saja, biar lebih cepat dan nyaman." sahut Yudi, yang memang sudah sangat percaya kepada Bagas. Bahkan segala urusan, hampir semuanya sudah dipasrahkan kepada Bagas.
Sebenarnya Yudi tidak ingin menceritakan kisah sedihnya itu, apalagi kepada Bagas. Sebenarnya Yudi ingin melupakan segala peristiwa yang sudah menimpa dirinya. Namun tuntutan keingintahuan masyarakat tidak mungkin dihindari. Dan tentu ketika Yudi kembali hidup di tengah masyarakat, mau tidak mau, Yudi harus mengikuti sistem irama kehidupan di mana ia berada. Sangat berbeda saat berada di kuil, dimana ia tidak berkomunikasi dengan siapapun. Yah, itulah hidup bermasyarakat, harus bisa berbaur dan menjadi satu dengan kultur yang ada di dalamnya.
*******
Sepeninggal Bagas dari rumahnya, Yudi menata kamar orang tuanya. Meskipun tidak pernah ditempati, namun tetap harus dibersihkan, agar lebih rapi dan bersih. Bahkan lantainya juga dipel. Mau apa lagi, toh dirinya sekarang sudah tidak bekerja, sudah tidak menjadi pegawai. Maka dengan bersih-bersih dan menata rumah, akan memberikan kesibukan untuk mengisi waktu. Apalagi Bagas sudah dipesan untuk menjemput orang tuanya. Setidaknya nanti sore pasti orang tuanya akan berada di rumahnya, dan tidur di kamar itu.
Tidak hanya kamar orang tuanya yang ia bersihkan. Tetapi Yudi juga membersihkan kamar yang kemarin dipakai oleh tamu-tamunya yang datang dari Jepang. Yudi tidak hanya menyapu dan mengepel lantainya, tetapi juga menarik semua seprai dan sarung bantal untuk dicuci. Tentu biar bersih.
Namun saat Yudi membersihkan ruangan yang kemarin digunakan oleh Tuan Muda, sang anak dari kakek tua itu, di meja yang terletak pada sudut ruang, Yudi melihat ada barang yang tertinggal. Ada amplop.
"Apa ini?" tentu Yudi bertanya-tanya dengan amplop yang tertinggal di meja itu.
Yudi langsung menyentuh amplop tersebut. Sangat tebal. Karena penasaran, maka Yudi membukanya. Dan isinya ....
"Hah ...!!" Yudi kaget melihat isi amplop itu.
Ternyata amplop tebal itu berisi uang Jepang yang sangat banyak jumlahnya. Yudi benar-benar melongo melihat isi amplop tersebut. Tidak menyangka dan tidak pernah menduga. Berkali-kali Yudi menolak pemberian dari Tuan Muda itu, ternyata malah ditinggalkan di meja kamarnya.
Ada kertas tertulis di dalamnya. Tulisannya menggunakan huruf kanji. Tulisan Jepang. Tapi Yudi sudah fasih dengan sebagian tulisan itu, jika dibaca bunyinya "Arigato ...." yang artinya terima kasih.
__ADS_1
Pasti itu adalah ucapan terima kasih dari Tuan Muda, yang orang tuanya sudah dibantu untuk menemukan kuburan kakek dan saudara-saudaranya.
Yudi tersenyum. Pasti sangat senang mendapat ucapan terima kasih yang dilampiri banyak uang tersebut. Yah, disyukuri saja. Rezeki sudah ada yang mengatur.