
Selesai peresmian Taman Awang-awang, Yudi bersama Yuna mendapat kunjungan dari konsulat Jepang. Tidak hanya pejabat utusan dari kedutaan Jepang yang datang dengan mengendarai mobil konsulat, tetapi ada juga mobil box yang ikut bersamanya. Mobil box tersebut membawa hadiah dari pemerintah Jepang untuk Taman Awang-awang dan Gua Jepang. Isi dari mobil box tersebut adalah seratus bibit tanaman bunga sakura, yaitu bunga khas negara Jepang, yang berbunga saat musim semi tiba. Harapannya, bunga sakura ini bisa dijadikan pertanda sebagai ikatan persahabatan antara Indonesia dengan Jepang.
Yuna sangat senang menerima hadiah itu. Ini adalah penghargaan terbesar dari pemerintah Jepang untuk dirinya. Tentu Yuna ingin segera menanam bibit-bibit bunga sakura tersebut.
"Yudi ..., this is like a dream .... Cherry blossoms are the pride of the Japanese nation." kata Yuna pada Yudi yang mengatakan bahwa bunga sakura itu kebanggaan orang Jepang.
"Ini keren, Yuna .... Saya sangat berterima kasih ...." sahut Yudi yang sangat kagum dengan hadiah yang dikirimkan oleh pemerintah Jepang.
"Nihonjin wa sore o sakura to yonde imasu. Jinsei no saikuru to shite shocho sa reru sakura no tetsugaku. Jinsei ni wa kofuku wa kanashimi de owari, tanjō wa shi de owarimasu." kata Yuna pada Yudi.
"Apa maknanya semua itu?" tanya Yudi.
"Yudi, orang Jepang sangat bergembira saat musim semi tiba, karena bunga-bunga sakura akan bermekaran, menebar pesona keindahan, serta bau harum. Saat bunga-bunga sakura bermekaran, seakan itu adalah perlambang indahnya kehidupan yang akan dialami oleh penduduk Jepang. Harapan yang menyenangkan. Maka saat bunga sakura bermekaran, orang Jepang pada keluar, ke taman, ke tepi danau, ataupun ke perbukitan, untuk menyambut indahnya bunga yang bermekaran tersebut. Namun sebenarnya, ada filosofi yang dalam dari bunga sakura itu." kisah Yuna pada kekasihnya.
"Apa makna filosofi dari bunga sakura ini?" tanya Yudi.
"Orang-orang sufi di Jepang meyakini bahwa bunga sakura adalah bunga lambang kehidupan. Masyarakat Jepang meyakini bahwa bunga sakura merupakan gambaran kehidupan manusia di bumi ini yang hanya sebentar saja. Bunga sakura ini menggambarkan siklus kehidupan manusia, dimana ada kebahagiaan, tetapi akan muncul juga kesedihan, di mana ada kelahiran, nantinya akan diakhiri dengan kematian. Hidup itu hanya sebantar. Dalam hidup yang sebentar itu, kita harus bisa memberikan arti. Setidaknya kita memiliki manfaat bagi orang lain." kata Yuna menjelaskan makna bunga sakura bagi masyarakat Jepang.
"Hmm .... Sangat salam sekali maknanya. Itu seperti filosofi masyarakat Jawa yang mengatakan bahwa hidup itu diibaratkan hanya 'mampir ngombe', hanya sekadar minum. Hanya sebentar saja. Tetapi dalam hidup yang sebentar itu, kata para sufi di Jawa, 'urip iku urup', yang artinya hidup itu harus bisa menerangi, memberi cahaya, memberi kehangatan, bisa menghidupi. Kita seharusnya bisa memberi manfaat untuk orang lain." kata Yudi yang ikut memberi arti makna kehidupan.
"Iya, Sayang .... Saya setuju dengan filosofi itu. Setidaknya, hidup kita memiliki manfaat bagi orang lain, kita bisa memberi arti bagi masyarakat di Kampung Nirwana ini." kata Yuna, yang tentu langsung memeluk Yudi, memanja dengan mesra.
Yudi senang, memiliki prinsip hidup yang setidaknya sama dengan yang dikatakan oleh Yuna. Artinya, hakekat kehidupan mereka berdua adalah ingin memberi makna bagi kehidupan orang lain, terutama bagi masyarakat Kampung Nirwana. Mereka berdua ingin memajukan Kampung yang sudah memberi arti kehidupan bagi dirinya.
"Ya, seperti bunga sakura. Meski hanya semusim ia berbunga, meski hanya sebentar usianya, tetapi setidaknya bunga-bunga sakura itu sudah memberi arti, sudah memberikan kebahagiaan bagi umat manusia. Bahkan sudah menjadi lambang keindahan bagi bangsa Jepang." kata Yudi yang senang mendapatkan kiriman bibit bunga sakura itu.
"Ayo, kita tanam bunga-bunga ini, Yudi ...." kata Yuna yang mengajak Yudi untuk menanamnya.
"Sebentar, saya telepon Bagas, untuk cari orang yang bisa bantu kita." kata Yudi yang langsung mengangkat HP akan menelepon Bagas.
"Halo, Mas Yudi .... Ada apa, ya ...?" tanya Bagas saat menerima panggilan dari Yudi.
"Halo, Gas .... Ini Mbak Yuna dapat hadiah dari pemerintah Jepang untuk Taman Awang-awang." kata Yudi membalas Bagas.
"Wuaah .... Henat, Mas Yudi .... Mbak Yuna memang hebat." balas Bagas di telepon.
"Iya ...." sahut Yudi.
"Memang dapat kiriman hadiah apa, Mas?" tanya Bagas.
"Mbak Yuna dapat kiriman bibit bunga sakura dari Jepang sebanyak satu truk." jawab Yudi.
__ADS_1
"Wualah .... Banyak sekali, Mas .... Itu kan bunga sakura yang terkenal itu kan, Mas ...?!" kata Bagas.
"Iya .... Lha ini Mbak Yuna mau minta tolong, Bagas carikan orang yang bisa menanam bunga sakura tersebut. Tolong carikan ya, Gas ...!" Yudi menyampaikan kepada Bagas.
"Oh ya, Mas .... Dua orang, ya ...?!" kata Bagas.
"Ya, tidak masalah. Tapi nanti suruh ke rumah dahulu bersama kamu .... Kita naik, sekalian membawa bibit-bibitnya." kata Yudi.
"O ya, Mas .... Tapi kalau bisa jangan sekarang, nanti sore saja. Bagaimana, Mas ...?!" Bagas memberi usul.
"Lhah, kenapa?" tanya Yudi.
"Yah ..., Mas Yudi itu gimana, to .... Siang begini yo panas to, Mas .... Tanamannya mati kepanasan. Nanti sore, biar agak sejuk. Begitu di tanam, langsung disiram .... Malam akarnya berkembang, pagi hari tanaman sudah segar. Tidak layu .... Begitu, Mas Yudi ..., caranya bercocok tanam." jelas Bagas.
"Oke, siap. Ya udahn saya tunggu di rumah, nanti sore diangkut. Gitu, yo ...." kata Yudi mengakhiri teleponnya.
"Siaap ...." jawab Bagas yang langasung mematikan teleponnya. Dan tentu langsung mengangkat telepon lagi, untuk menghubungi orang yang bisa membantu menanam bunga sakura.
Yudi dan Yuna menunggu sore datang. Ia menunggu Bagas dan orang yang akan membantu menanam bunga-bunga kiriman dari pemerintahnya. Tentu Yuna sudah membayangkan indahnya sakura saat bermekaran. Nanti pasti akan menjadi tempat selfie bagi para pengunjung Taman Awang-awang. Senyum manis itu mengembang, Yuna membayangkan, saat bunga-bunga sakura bermekaran pada musim semi, seperti yang selalu ia saksikan di negerinya.
Dan, akhirnya .... Setelah matahari bergeser di langit barat, sore itu Bagas datang bersama dua orang laki-laki yang sudah siap membawa cangkul, untuk menanam bunga sakura di Taman Awang-awang. Lantas mereka memasukkan bibit-bibit bunga sakura itu ke dalam mobil Bagas yang sudah dibuka joknya. Mobil itu penuh dengan bibit bunga sakura. Satu orang ikut menemani Bagas duduk di samping sopir, dan satu orang lagi ikut di mobil Yudi bersama Yuna. Kemudian mereka bersama-sama, menuju puncak bukit, akan menanam bunga sakura.
"Lhoh, kok ramai sekali ...?" tanya Yudi yang keheranan. Demikian juga Yuna.
"Iya, Mas Yudi, Mbak Yuna .... Ini teman-teman semuanya pada mau membantu menanam bunga sakura." jawab Bagas menjelaskan.
"Lho, katanya cuman dua orang?" tanya Yudi lagi.
"Iya, Mas Yudi .... Maaf, Mbak Yuna .... Begitu mendengar kalau Mbak Yuna menerima hadiah dari pemerintah Jepang, kami semua bangga. Kami yakin Mbak Yuna ini bukan orang sembarangan. Apalagi hadiah bunga sakura ini dikirim langsung oleh orang dari kedutaan, berarti ini benar-benar suatu penghargaan yang istimewa. Makanya kami langsung berkumpul ingin membantu Mbak Yuna." jelas Bagas.
"Lha kok, kamu tahu kalau ini hadiah yang dikirim oleh kedutaan?" tanya Yudi lagi.
"Lha tadi di parkiran orang-orang sudah ribut kok, Mas Yudi." jawab Bagas.
"Ribut apa?" tanya Yudi.
"Ya, itu .... Ada tamu dari kedutaan mencari Mbak Yuna dan Mas Yudi .... Saya kira ..., saya kira ...." kata Bagas.
"Kamu kira apa ...?" tanya Yudi.
"Saya kira Mas Yudi sama Mbak Yuna mau dinikahkan .... Hehe ...." jawab Bagas.
__ADS_1
"Semprul kamu, Gas .... " sahut Yudi.
"Iya, Mas Yudi .... Cepetan nikah ...." yang lain ikut-ikutan. Tentu Yudi jadi tersenyum bingung.
"Wis ..., ayo ndang ditandur ...." kata Yudi mengalihkan perhatian.
Mereka beramai-ramai menanam bunga sakura. Tempatnya berada di sisi utara, timur dan barat, yang tidak menghalangi pandangan ke Laut Selatan. Setidaknya nanti pada bagian utara, akan bermekaran bunga-bunga sakura, yang tentu akan menambat spot foto saat bunga-bunga itu mekar.
Yuna mengatur posisi yang akan ditanami. Yudi ikut sibuk mengarahkan para penanam. Dua orang mencangkul membuat lubang tanaman. Beberapa orang mengangkat bibit-bibit bunga dan menaruh ke dekat lubang yang barusan digali. Dua orang membuka plastik polibag dan memasukkan bibit tanaman tersebut ke dalam lubang. Lantas ada yang menguruk tanaman, selanjutnya disiram oleh para karyawan.
Bunga sakura itu sudah tertanam. Cukup banyak, seakan hampir menjadi pagar di bukit sisi utara yang melengkung di bagian barat dan timur. Dan sebagian lagi ditanam di Gua Jepang, pada obyek wisata bagian bawah.
"Siram yang banyak, biar tidak layu." kata Yudi, menyuruh para karyawan yang menyiram dengan gembor.
"Ya, Mas Yudi .... Besok pagi akan saya siram lagi." sahut laki-laki yang mengangkat gembor tersebut.
"Selangnya kamu tarik kemari, biar tidak wira-wiri ...." Yudi mengajari karyawannya.
"Oh, iya ..., Mas Yudi. Bodohnya diriku ...." jawab orang yang menyiram, kemudian menarik selang air.
"Wis kit mbiyen ...!" sahut teman-temannya.
Yuna yang senang menyaksikan pohon-pohon bunga sakura yang sudah ditanam rapi tersebut. Tentu ia sudah mulai membayangkan, sebentar lagi akan menyaksikan keindahan bunga sakura di Taman Awang-awang.
"Yudi ..., ini adalah sentuhan cinta yang diberikan negeriku untuk Taman Awang-awang." kata Yuna pada Yudi.
"Iya, ya .... Nanti saat bunga sakura bermekaran, maka cinta itu akan dihampiri oleh kumbang-kumbang yang menawarkan kesejahteraan. Ya, inilah sentuhan cinta dari bangsamu untuk negeriku, Sayang ...." kata Yudi yang juga senang menyaksikan pohon-pohon sakura yang sudah tertanam rapi itu.
"Saya sudah ingin merasakan sentuhan cinta itu, Sayang ...." kata Yuna yang sudah mulai memanja.
"Sabar, Sayang .... Semoga nanti cepat berbunga." sahut Yudi.
Yudi maklum dengan kekasihnya itu. Walau mungkin kurang tepat saatnya, namun Yudi mencoba bertanya.
"Yuna, apakah nanti di Indonesia bunga sakura juga akan berkembang pada musim semi seperti di Jepang?" tanya Yudi pada Yuna.
"Ah, iya ya .... Musim di Jepang berbeda dengan di Indonesia. Setiap hari di Indonesia bisa menyaksikan matahari. Tetapi di Jepang ada pergantian empat musim, yaitu musim semi, panas, gugur dan dingin. Di Indonesia tidak ada musim dingin. Yang ada hanya musim hujan dan panas." Yuna jadi terlihat kecewa. Jadi terlihat sedih.
"Aah, jangan sedih, Yuna .... Kita berdoa saja kepada Tuhan, semoga Yang Maha Kuasa memberikan bunga-bunga itu bisa bermekaran di suatu saat nanti. Tidak hanya musim semi, tetapi akan bermekaran setiap saat." sahut Yudi menenangkan kekasihnya.
Yuna sangat mengharap tumbuhnya sakura tersebut. Bukan sekadar menghargai hadiah pemberian dari pemerintah Jepang, tetapi juga ingin ditemani oleh sakura idaman tersebut. Bunga sakura disiram setiap saat. Dirawat dan dielus setiap hari. Dinantikan baktinya, dirindu mekarnya bunga-bunga yang penuh warna. Sakura idaman, lekaslah berkembang.
__ADS_1