
Silvy merasa senang dan gembira saat mendapat perintah dari ayahnya untuk mendiskusikan masalah rencana investasi di Kampung Nirwana. Hamdan bermaksud akan berinvestasi mengembangkan Homestay. Inginnya mengembangkan tiga unit. Setidaknya, nanti bisa dipakai untuk menginap saat liburan ke Jogja. Yah, paling tidak berhemat dalam menyewa hotel. Atau nanti bisa dijadikan rumah tinggal saat sudah pensiun. Tanpa bertele-tele, Silvy langsung meminta restu pada mamah dan papahnya, untuk berangkat menuju Jogja. Dasar Silvy pengin sekali jalan-jalan ke Joga. Apalagi dapat tugas dari papahnya, tentu sangat senang.
Turun dari Bandara YIA, Silvy langsung naik taksi, pesan menuju Kampung Nirwana. Meski sudah beberapa kali piknik ke Jogja, namun Silvy belum pernah berwisata ke tempat tersebut. Maka ia hanya menurut saja pada sopir taksi. Yang penting nanti sampai di Kampung Nirwana. Soal mencari orang yang bernama Mas Yudi, Silvy sudah dipesan oleh papahnya, turun di lapangan parkir, langsung meminta tolong untuk diantar oleh sopir wisata ke rumah Mas Yudi. Sudah, gampang.
Hampir satu jam, akhirnya Silvy sampai di lapangan parkir Kampung Nirwana. Begitu turun dari taksi, Silvy terkagum menyaksikan parkiran yang dihiasi aneka rupa mobil VW kuno yang antik. Tentu wanita muda berusia dua puluh lima tahun yang cantik itu langsung disambut oleh para sopir wisata yang menawarkan VW antiknya.
"Mau keliling Kampung Nirwana, Neng?" sambut sopir wisata dengan ramahnya.
"Ah, iya, Pak ..., saya hanya mau minta tolong diantar ke rumah Mas Yudi, apa bisa?" tanya Silvy.
"Tentu bisa, Neng. Temannya Mas Yudi, ya?" tanya sang sopir wisata.
"Bukan, Pak. Yang teman Mas Yudi itu Mamah saya. Ini rencana mau menemui Mas Yudi untuk menyampaikan rancangan yang ditawarkan oleh Mas Yudi." jelas Silvy pada pak sopir.
"Oo ..., ayo silakan naik. Saya antar lewat pintu depan ya, Neng." sahut pak sopir yang langsung membukakan pintu VW kodoknya.
"Bentar, Pak .... Selfie dulu .... Hehe ...." lantas Silvy mengambil HP dan berswafoto dengan background VW kodok.
"Sini, Neng, saya ambilkan fotonya. Biar lebih enjoi untuk bergaya." kata pak sopir yang bersedia membantu mengambilkan foto.
"O iya, Pak .... Terima kasih." kata Silvy yang langsung memberikan HP kepada pak sopir.
Silvy langsung bergaya di depan mobil-mobil antik. Beberapa foto diambil. Dan tentu bagus-bagus, karena memang para sopir wisata di Kampung Nirwana sudah dilatih untuk mengambilkan gambar foto para pelancong.
Setelah berfoto, mengamati gambar sejenak, tak lupa, Silvy langsung mengirim foto-foto itu ke WA mamah, papah dan suaminya. Tentu orang-orang yang dikirimi foto-foto itu langsung coment, "Keren."
"Ayo, Neng ..., saya antar ke rumah Mas Yudi." kata pak sopir.
"Iya, Pak. Mari, saya sudah siap." sahut Silvy.
VW kodok yang ditumpangi Silvy, perlahan berjalan. Dalam waktu tidak begitu lama, hanya sekitar lima menit, mobil wisata itu sudah berhenti. Menepi di depan gerbang yang mirip demgan gapura Majapahit di jaman kuno.
"Sudah sampai, Neng. Ini rumah Mas Yudi." kata sang sopir.
"Wao .... Ini rumahnya, Pak?" tanya Silvy yang kagum melihat bangunan antik itu.
"Iya, Neng .... Semua bangunan di kampung sini, yang ngarsiteki Mas Yudi. Makanya bangunannya hampir mirip-mirip. Yah, sekalian untuk wisata, Neng. Lumayan untuk menambah rezeki kami." jawab sang sopir.
"Wao ..., keren sekali. Memang Mas Yudi ini kerjanya apa sih, Pak?" tanya Silvy lagi.
"Kerjanya di Kantor Pariwisata, tapi dia itu seniman. Jadi ya ..., membuat karya-karya seni, gitu lho. Termasuk menata kampung kami ini. Yang ngajari kami seperti ini, ya Mas Yudi." tutur pak sopir itu.
"Oo ...." Silvy mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda kagum.
"Mas Yudi ...! Mas Yudi ...! Ada tamu!" Pak Sopir berteriak memanggil Mas Yudi.
Sebentar kemudian, terdengar ada orang membuka pintu. Ternyata perempuan cantik yang masih remaja.
"Wealah, kamu to, Nduk. Mas Yudi ada?" tanya pak sopir. Tentu sang sopir itu tahu anak-anak yang ada di rumah Yudi, karena mereka adalah anak-anak tetangga sekampung.
"Ada, monggo silakan masuk dulu." kata remaja perempuan dengan rambut lurus panjang sepunggung itu.
"Ya sudah, Nduk, aku langsung ke lapangan lagi yo ...." kata sang sopir.
"Nggih, Pak Lik." sahut gadis remaja itu.
Lantas Silvy memberikan uang lima puluh ribu kepada sopir wisata itu sebagai ongkosnya. Selanjutnya Silvy masuk bersama gadis kecil yang membukakan pintu, dan kemudian menutup lagi.
"Wao .... Keren banget ...." decak Silvy.
Tentu Silvy terkagum dengan keindahan halaman rumah Mas Yudi. Pendopo yang megah dan indah dengan berbagai tanaman dan hiasan. Terlebih saat Silvy melangkah menuju pendopo, matanya benar-benar dikagumkan dengan ikan-ikan koi yang berenang mengelilingi bangunan pendopo tersebut. Segar sekali. Indah sekali. Sungguh rumah yang luar biasa.
"Silakan duduk sini dulu, Tante .... Kalau boleh tahu, Tante ini siapa, dari mana, ada perlu apa?" tanya gadis remaja itu pada Silvy.
__ADS_1
"Terima kasih .... Saya Silvy dari Jakarta, ingin ketemu Mas Yudi, mau menyampaikan rancangan proyek." jawab Silvy.
"Oh ya .... Akan saya sampaikan ke Mas Yudi. Tunggu sebentar, ya. Tante mau minum apa?" kata si gadis remaja itu.
"Ah, tidak usah repot-repot, Mbak .... Air bening saja." jawab Silvy.
Lantas anak itu meninggalkan Silvy di pendopo. Tentu Silvy tidak mau duduk, ia memilih menyaksikan semua keindahan yang ada di rumah bagus itu. Tentu dengan selfie.
Silvy berkeliling, mengamati seluruh sudut halaman dan pendopo. Menyaksikan keindahan bunga gelombang cinta yang besar-besar, menyaksikan bunga kamboja jambon yang berjatuhan, menyaksikan ikan koi yang seakan berkerumun menyambut kedatangan wanita cantik. Silvy pun berusaha bercanda dengan ikan-ikan koi itu, dengan cara memasukkan jemari tangannya di kolam yang langsung didatangi ikan-ikan.
Lantas Silvy mengamati bagian pendopo yang lain. Di pojok pendopo, di sisi bawah ada lukisan yang tersandar di tiang pojok pendopo. Sepertinya lukisan ini baru saja selesai dibingkai. Masih ada potongan kayu figura di sampingnya. Dan tentunya, Silvy kaget ketika melihat lukisan yang cukup besar itu yang terpampang dalam lukisan adalah wajah ibunya yang bersanding dengan laki-laki. Lukisan yang sempurna. Sangat bagus. Bahkan mirip foto. Wajah ibunya terlihat sangat cantik, bak bintang filem. Namun yang laki-laki, terlihat agak kurang bahagia. Seperti sedang sedih. Tetapi laki-laki dalam lukisan itu tetap terlihat ganteng. Silvy langsung menjepret lukisan itu dengan HP-nya.
"Selamat siang, Nona .... Ada yang bisa saya bantu?"
Silvy kaget. Ada suara laki-laki yang berucap salam di belakangnya.
"Eh, maaf .... Iya ..., perkenalkan saya Silvy dari Jakarta, utusan Pak Hamdan untuk bertemu dengan Mas Yudi. Apakah saya bisa bicara dengan Mas Yudi?" tanya Silvy yang agak takut dengan laki-laki yang baru datang itu. Silvy amat paham, laki-laki itu adalah orang yang wajahnya terpampang dalam lukisan bersama mamahnya. Siapa dia? Apakah ini orang bernama Yudi?
"Iya, silakan duduk." kata laki-laki itu meminta Silvy duduk di bangku besar dari kayu jati yang terdapat di tengah pendopo.
Silvy langsung duduk. Ada rasa takut di hati Silvy melihat laki-laki yang tidak punya senyum itu. Seakan laki-laki itu akan marah karena Silvy sudah melihat lukisannya.
Gadis remaja yang tadi membuka pintu, datang lagi dengan membawa air putih dalam gelas serta kue bakpia yang ditaruh dalam piring.
"Monggo, silakan diminum." kata gadis itu, dan langsung undur diri.
"Iya, terima kasih, Mbak." sahut Silvy.
"Maaf, Anda utusan Pak Hamdan?" tanya laki-laki yang ada di hadapan Silvy dengan suara menggetarkan dada.
"Betul. Saya mendapat tugas dari Pak Hamdan untuk menemui Mas Yudi, mau menyampaikan rencana pesanan Pak Hamdan terkait proyek di Kampung Nirwana ini." jawab Silvy yang masih takut.
"Iya, saya sendiri yang bernama Yudi. Anda ini apanya Pak Hamdan?" kata laki-laki yang bernama Yudi.
"Oo .... Jadi Anda ini putri dari Ibu Rini?" tanya Yudi yang sudah menduga sebelumnya.
"Iya, betul. Mamah dan Papah titip salam untuk Mas Yudi, dan minta maaf karena tidak bisa datang sendiri." jawab Silvy.
"Sudah saya duga. Wanita cantik pasti punya anak yang cantik pula. Ya, kamu secantik mamah kamu. Bagaimana kabar Papah dan Mamah?" tanya Yudi balik, kali ini sudah tidak terlihat galak.
Tentu Yudi sudah sangat rindu dengan Rini, karena sudah dua minggu lebih tidak berkomunikasi, padahal Yudi sangat mengkhawatirkan.
"Papah baik, tapi masih sibuk dengan rancangan proyeknya. Kalau Mamah, sepulang dari Jogja dua minggu yang lalu, Mamah sakit. Sampai hari ini masih istirahat di rumah. Makanya Papah minta saya yang menemui Mas Yudi." jelas Silvy.
"Ya ampun, Rini .... Kenapa tidak kasih kabar ke saya?" gumam Yudi.
"Ya, Mamah orangnya begitu. Tidak mau merepotkan orang lain." sahut Silvy.
"Sakit apa?" tanya Yudi pada Silvy.
"Kata dokter detak jantungnya agak terganggu, karena kecapaian." jawab Silvy.
"Ya ampun Rini .... Kenapa kamu tidak kasih tahu saya. Yah, semoga saja cepat membaik dan pulih sehat." kata Yudi yang langsung menerawang, merasa kasihan dengan Rini.
"Mas Yudi, maaf kalau saya lancang, jika boleh tahu itu ada lukisan Mamah sama Mas Yudi, ya?" tanya Silvy yang menunjuk lukisan yang dilihatnya tadi.
"Iya, betul. Itu permintaan mamah kamu saat reuni beberapa bulan yang lalu. Dulu waktu SMA, saya dan Rini teman yang sangat akrab. Kami kemana-mana selalu bersama, hingga kelulusan SMA, saat mamah kamu menikah dengan papah kamu. Kami tidak pernah ketemu lagi. Tidak pernah komunikasi. Ya, baru kemarin, saat reuni itu. Makanya kami kembali akrab karena saking kangennya. Teman-teman, tahunya saya ini pelukis, karena waktu SMA saya selalu juara menggambar, terus kuliah di Akademi Seni Rupa. Padahal saya ini cuman pegawai rendahan. Mamah kamu pengin dibuatkan lukisan. Rini pesan lukisan, tapi mintanya harus ada saya di lukisan itu. Ya, lukisan itu pesanan mamahnya Silvy." jelas Yudi pada putri kekasihnya.
"Menarik sekali ceritanya. Pasti dulu Mamah mengagumi Mas Yudi. Kalau boleh tahu, dulu Mas Yudi pernah pacaran sama Mamah? Maaf lho, Mas. Hehe ...." Silvy menyelidik.
"Silvy ..., Silvy. Kamu presis seperti mamahmu. Selalu menyelidiki hal-hal yang tersembunyi." kata Yudi yang mulai malu ditebak anaknya.
"Maaf, Mas Yudi. Mamah tidak pernah cerita masa-masa SMA-nya, sih." sahut Silvy.
__ADS_1
"Hhaahh .... SMA zaman dulu tidak seperti sekarang, Silvy. Waktu kami SMA, tidak pernah berani berterus terang. Mamah Silvy itu gadis yang cantik. Bisa dibilang kembang kampus. Semua laki-laki naksir sama Rini, kecuali saya yang diam saja. Apalah artinya saya yang tidak punya apa-apa. Walau tentu saya juga kagum pada kecantikan Rini. Saya tidak berani macam-macam. Kalah sebelum bertanding. Hehe ...." kilah Yudi.
"Ih,Mas Yudi .... Kan Mas Yudi pandai melukis, ya nyatakan cinta lewat lukisan, dong. Mas Yudi, besok boleh lukis diriku, ya." kata Silvy yang sudah mulai senang dan akrab dengan Yudi, karena ternyata Yudi orangnya baik, seperti yang diceritakan mamahnya.
"Ah, kamu itu .... Persis sekali dengan mamah kamu." sahut Yudi.
"Lukis aku ya, Mas .... Please ...." Silvy kembali merajuk.
"Ya, kapan-kapan." sahut Yudi.
"Itu lukisannya mamah kan sudah jadi. Boleh besok saya bawa pulang, untuk saya serahkan ke Mamah?" kata Silvy.
"Jangan, ini mau saya pakai untuk pameran dulu." sahut Yudi.
"Kriiing .... Kriiing ...." HP Silvy berdering. Silvy langsung mengangkat HP-nya.
"Halo, Mah ...?" Silvy menjawab panggilan. Yang menelepon adalah ibunya.
"Halo, Silvy .... Bagaimana perjalananmu?" tanya ibunya dalam telepon.
"Baik, Mah .... Lancar, aman nyaman. Jangan khawatir, Mah. Di sisiku ada laki-laki hebat yang sangat baik, Mah." jawab Silvy.
"Siapa?" tanya ibunya.
"Ada, deh .... Mamah pengin tahu? Nih orangnya." jawab Silvy, lantas memberikan HP itu kepada Yudi.
"Halo, Rini .... Bagaimana kabarmu? Semoga lekas sehat, ya." kata Yudi di telepon.
"Yudi ...?" Rini berdebar saat mendengar suara Yudi. Tentu getaran cinta itu kembali bergejolak dalam dada Rini.
"Maafkan saya ya, Rin. Terus terang saya sangat mengkhawatirkanmu. Cepat sehat, ya." kata Yudi.
"Iya, Yudi. Terima kasih doanya. Silvy itu anakku, tolong dibimbing ya." jawab Rini.
"Iya, Rini. Silvy anak yang cerdas. Cantik seperti mamahnya. Pasti akan sukses." jawab Yudi.
"Terima kasih, Yudi." kata Rini yang langsung menutup teleponnya.
Yudi termenung. Merasa bersalah pada Rini. Merasa telah menyebabkan sakit pada diri Rini. Dan kini, saat rindu itu kembali muncul, Rini hanya bicara sedikit. Seakan Rini enggan telepon dengan Yudi.
"Mas .... Mas Yudi .... Mas Yudi ...." Silvy menegur Yudi yang melamun.
"Eh, iya .... Maaf." Yudi yang terkaget ditegur tamunya.
"Ih, Mas Yudi habis teleponan sama mamah kok langsung melamun?! Hayo ...! Pasti ada apa-apa ...." ledek Silvy.
"Enggak, saya cuman kepikiran, mamah Silvy sakitnya seperti apa, gitu lho." kilah Yudi.
"Ah, pasti ada sesuatu .... Hehe ...." kata Silvy yang meledek.
"Kamu itu, lho .... Persis kayak mamahmu." kata Yudi yang langsung mencolek dagu Silvy.
"Ih, Mas Yudi genit. Aku bilangin ke Mamah." ancam Silvy.
"Kamunya yang ngaco .... Sukanya bikin fitnah. Tahu nggak, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan." kata Yudi.
"Ih, siapa yang fitnah?! Faktanya saya melihat sendiri, ya ...." Silvy masih ngotot.
"Ya, sudah .... Silakan kalau mau dilaporkan. Aku mau diam saja." sahut Yudi yang selanjutnya diam.
"Mas Yudi .... Mas .... Mas Yudi .... Ih, Mas Yudi kok gitu sih. Ayo dong, Mas ...." kini Silvy yang jengkel karena orang yang diajak bicara diam saja.
Tamu baru datang kok sudah membuat orang jadi jengkel. Huhh ...!
__ADS_1