
Yudi memberi semangat pada Yuna. Ia tidak ingin kekasihnya larut dalam kesedihan. Maka Yudi pun berusaha untuk bisa menguasai dirinya. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya yang penuh luka. Yudi bisa tengkurap.
"Yuna ..., help me please ...." kata Yudi meminta tolong pada Yuna.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Yuna.
"Punggungku terluka. Tolonglah Yuna lumuri air ludah ...." kata Yudi.
"What ...?!" Yuna bingung. Apa-apan ini permintaan Yudi. Menjijikkan.
"Iya, Yuna .... Berikan air ludahmu untuk membalur luka yang ada pada punggungku. Itu obat, Yuna .... Tidak usah sungkan-sungkan, ayo lakukan saja." kata Yudi menjelaskan.
"Kamu tidak jijik, Yudi ...?!" kata Yuna yang masih ragu-ragu.
"Tidak mengapa, Yuna .... Lakukan saja, semoga Tuhan memberikan kesembuhan pada sakit saya." kata Yudi.
Yuna teringat, sebelum mereka jatuh, gara-gara tangan Yuna terkena duri, Yudi menjilati luka itu, katanya biar cepat sembuh. Lantas Yuna melakukan apa yang diminta oleh Yudi. Pertama-tama ia menjilat jari-jari tangannya, membasahi jari-jari tangan dengan air liur, lantas diusapkan ke luka Yudi. Berkali-kali. Tetapi pada akhirnya, Yuna mendekatkan mulutnya ke punggung Yudi, lantas menjulurkan lidahnya, menjilati luka pada punggung Yudi. Satu persatu luka, ia jilati. Tanpa rasa jijik terkena darah yang keluar dari luka Yudi. Ia menjilati dengan penuh kasih sayang. Yuna merasa senang, bisa mengobati luka kekasihnya. Walau hanya dengan air liur. Tidak hanya punggung. Bahkan seluruh luka yang ada pada tubuh Yudi, ia jilati dengan mesra.
"Yudi, bajumu robek semua. Sebaiknya sekalian saya lepas, agar tidak mengenai luka pada punggungmu." kata Yuna yang sudah merobek baju Yudi.
"Iya, Yuna ...." sahut Yudi yang pasrah.
"Yudi, luka pada tubuhmu sudah saya jilati semua, apa yang bisa saya lakukan lagi?" tanya Yuna pada Yudi.
"Bisa bantu saya untuk bangun?" kata Yudi.
"Jangan, Sayang .... Tubuhmu masih sakit. Berbaring saja, sambil menunggu pertolongan." kata Yuna yang melarang Yudi bergerak.
Namun Yudi tidak menghiraukan kata-kata Yuna. Tangannya berusaha mengangkat tubuhnya. Sedikit demi sedikit. Dan akhirnya, Yudi berhasil menggerakkan tubuhnya.
"Jangan dipaksa, Sayang .... Nanti tambah sakit ...." kata Yuna yang langsung membantu memegangi tubuh Yudi.
"Saya kuat ...! Saya bisa ...! Saya sanggup ...!" kata Yudi.
Dan akhirnya, Yudi sanggup mengangkat tubuhnya, Yudi bisa duduk.
"Syukurlah, Yudi .... Kamu sudah mulai baikan." Kata Yuna yang merasa gembira menyaksikan Yudi bisa bergerak.
"Auh ...! Aduh ...! Sakit sekali rasanya." kata Yudi yang ingin mencoba menggerakkan tubuhnya.
"Jangan dipaksa, Sayang .... Sabar ...." kata Yuna yang langsung memegang Yudi dengan rasa khawatir.
"Tidak apa-apa, Sayang .... Dalam situasi seperti ini, kita harus kuat. Kita harus sanggup mengatasi masalah. Kita jangan diam saja. Kita harus berusaha. Dan jangan lupa, kita tetap memohon pada Yang Maha Kuasa." kata Yudi menasehati Yuna.
"Iya, Sayang .... Tapi harus perlahan-lahan .... Jangan terlalu memaksa." kata Yuna sambil mengelus kepala Yudi. Lantas berusaha mencium pipi kekasihnya, dan selanjutnya mengecup bibir Yudi. Tentu dengan kemesraan dan kasih sayang.
Yuna membayangkan, seandainya saat seperti ini, mereka tidak mengalami luka, pasti mereka sudah melakukan sesuatu. Pasti Yuna akan bahagia menikmati kemesraan dengan Yudi. Tapi hari ini, nasib mereka sedang apes.
"Yuna ..., berkonsentrasilah, Sayang .... Jangan berfikir yang tidak-tidak." Yudi menegur Yuna.
__ADS_1
"Iih ..., kok tahu, sih ...?!" kata Yuna yang ditegur.
"Degup jantungmu, menggetarkan nafsu birahi ...." kata Yudi perlahan, membisik di telinga Yuna.
"Hihihi ...." Yuna geli, karena sudah ditebak sama kekasihnya.
"Yuna .... Raihlah pohon-pohon pisang itu, kumpulkan sebanyak mungkin. Lantas kita ikat. Buatlah rakit untuk kita naiki. Kita akan mencari cara menyelamatkan diri dari tempat ini." kata Yudi memberi cara kepada Yuna.
"Bagus, Sayang .... Saya sangat bangga padamu. Laki-laki kesayanganku ini memang luar biasa, sangat brilian. Ternyata saya memang tidak keliru jika jatuh cinta padamu, Sayang .... Ya, akan aku usahakan." kata Yuna yang seakan diberi ide cemerlang, lantas bersemangat untuk menyelamatkan diri.
Yuna segera menuju pinggir batu karang di sisi utara yang berbatasan dengan tebing jurang. Lantas berusaha menarik dan menata batang-batang pohon pisang yang ternyata banyak terdapat di tempat itu. Yuna merobek sebagian pelepah pisang menjadi agak kecil, ia gunakan untuk mengikat dan merakit batang-batang pisang. Cukup banyak batang pisang yang dirakit oleh Yuna.
Yudi yang menyaksikan kegigihan Yuna, sangat bangga punya kekasih yang bersemangat dan sabar menerima cobaan. Terlebih, Yuna tidak pernah mengeluh. Yuna bisa diajak hidup dalam kesulitan apapun. Itulah wanita yang sangat diharapkan oleh Yudi. Wanita yang tidak bergantung pada suaminya, wanita yang bisa mandiri, wanita yang tahu kesulitan orang lain, wanita yang bisa menyelamatkan suaminya. Sungguh luar biasa.
Dengan cara merangkak perlahan, Yudi mendekati Yuna yang sedang membuat rakit dari batang-batang pisang. Ia sangat bersemangat. Setidaknya Yudi ingin menemani kekasihnya, atau memberi semangat. Meski perlahan-lahan, akhirnya Yudi mencapai tempat yang dituju, yaitu tempat Yuna mengikat batang-batang pisang.
"Ah, Sayang ..., kamu masih sakit, Sayang .... Diamlah di situ, biar saya yang membuat rakit ini." kata Yuna yang kaget saat melihat Yudi sudah berada di dekatnya.
"Tidak apa-apa, Sayang .... Saya sudah kuat." kata Yudi yang sudah berada di tempat Yuna membuat rakit.
"Ini, rakitnya sudah saya buat .... Hehe ...." kata Yuna yang menunjukkan rakit batang pisang yang sudah terikat.
Yudi tersenyum. Puas menyaksikan hasil pekerjaan yang dilakukan oleh Yuna.
"Bagaimana ...?!" tanya Yuna.
"Oh, iya .... akan saya tambah tingginya. Sebuah kapal harus sanggup memuat beban yang dibawanya." kata Yuna yang langsung mengambil lagi pohon pisang yang berserakan di situ.
Yuna penuh semangat. Harapannya akan selamat sudah tampak di depan mata. Sebentar lagi ia akan menaiki rakit dari batang pisang. Lantas Yuna menambah batang pisang di bagian atasnya. Ia menaiki rakit yang sudah dibuat, lantas ditambahi bagian atasnya, seperti instruksi yang diberikan oleh Yudi.
Yudi kembali merangkak. Kali ini sudah lumayan. Semangat Yuna untuk menyelamatkan dirinya, sudah membuat dirinya termotivasi. Meski sakit, ia mencoba menggunakan kakinya untuk bergerak. Walau masih diseret, akhirnya, Yudi bisa menggapai rakit pohon pisang yang dibuat oleh Yuna.
Begitu Yudi mencapai rakit, dan menggapai untuk naik di atasnya, tentu rakit itu bergoyang karena ada beban dari Yudi yang menaiki. Yuna yang tidak siap menerima guncangan, badannya terhuyung dan terjengkang. Yuna jatuh di dekat Yudi. Tangan Yudi langsung menggapai, untuk menolong Yuna.
"Aduh, Yudi .... Kenapa tidak bilang kalau mau naik kemari ...?! kata Yuna yang sudah berada dalam pelukan Yudi.
Yudi hanya tersenyum, menyaksikan wajah cantik yang ia peluk. Lantas tidak segan-segan, Yudi menundukkan kepalanya, untuk mencium bibir Yuna. Sebuah kecupan yang penuh kemesraan.
"Eh, saya selesaikan dahulu rakitnya, Sayang ...." kata Yuna yang melepas pelukan Yudi, lantas mengangkat beberapa batang pohon pisang, untuk menambah rakitnya.
Dan sebentar saja, karena semangat yang laur biasa, Yuna sudah menyelesaikan rakit dari batang pohon pisang. Selanjutnya, ia merebahkan tubuhnya di atas rakit tersebut.
"Haah .... Sudah selesai .... Capek ..., Sayang .... Haus ...." kaya Yuna yang tentu kecapaian setelah menyelesaikan pembuatan rakit.
Perlahan Yudi ke sisi pinggir rakit dari batang pisang yang ditumpanginya tersebut. Lantas tangannya berusaha untuk masuk ke air, menggerakkan rakit tersebut. Perlahan rakit itu bergerak. Yuna tidak merasakan, karena terlalu capai. Tahu-tahu, rakit itu sudah sampai di pinggir tebing. Tangan Yudi meraih batang kayu sebesar lengan, agak panjang, ujungnya dimasukkan ke dasar laut, lantas didorong. Batang kayu itu ia gunakan untuk menjalankan rakit. Yudi menyusur di tepi tebing, tentu agar tidak terbawa ombak ke tengah samudera.
Perlahan-lahan menyusur di pinggir tebing, Yudi melihat ada air yang menetes berasal dari bebatuan di atas tebing yang agak menggantung. Semacam tergerus bagian bawahnya. Sebuah tebing yang menggantung. Yudi berusaha mendorong rakitnya menuju tempat tetesan air tersebut. Dan akhirnya, rakit dari batang-batang pohon pisang itu sampai di terowongan, berada tepat di bawah air yang menetes dari bebatuan tebing. Yudi lantas menghentikannya di situ. Tepat air menetes di wajah Yuna.
"Auch ...!" Yuna terkejut dan menjerit.
__ADS_1
"Hehehe ...." Yudi tertawa melihat wajah lucu dari Yuna yang kaget.
"Ih, Yudi ....! Kok bisa sampai di sini?" tanya Yuna yang tentu tidak menyangka kalau rakit yang ia buat sudah berjalan cukup jauh.
"Katanya haus .... Ini air minumnya. Buka mulut, tengadah ke atas. Nikmati air minum yang benar-benar alami." kata Yudi yang menyuruh Yuna untuk menikmati air yang mengucur dari atas kepalanya.
Yuna menikmati air yang terus mengalir itu. Tidak hanya untuk minum, tetapi juga untuk membasahi sekujur tubuhnya yang letih dan capai, serta pegal-pegal karena terjatuh dari jurang. Tidak besar kucuran air itu, tetapi ada beberapa kucuran. Ya, itulah air tanah yang meresap melalui sela-sela bebatuan, lantas menetes saat tebing itu terpotong dan tidak ada tanah atau bebatuan yang menopang hingga dasar.
"Enak, Yudi ...! Sangat segar." kata Yuna yang menikmati air itu.
"Ya, ini air tanah murni. Pasti segar." kata Yudi, yang juga ikut menengadahkan tangannya, menampung air pada kedua telapak tangannya, lantas meminumnya.
"Segar ...." Yudi minum berkali-kali.
"Segar, Yudi .... Nikmat sekali. Seakan air minum ini bisa menyegarkan tubuhku, menghilangkan rasa capai dan pegal-pegal. Saya seperti sehat kembali, Yudi ...." kata Yuna yang langsung gembira. Tentu terus mencium laki-laki kekasihnya itu.
"Yuna, isilah kantong plastik ini dengan air itu. Untuk persiapan minum kita dalam perjalanan." kata Yudi yang memberikan beberapa kantong plastik.
"Kok punya kantong plastik?" tanya Yuna yang bingung.
"Saya mengambilnya dari ombak laut yang membawa. Cuci dahulu agar air lautnya hilang." kata Yudi.
"Saya semakin kagum padamu, Yudi .... Kamu memang laki-laki inspiratif. Penuh ide gagasan. Kamu pintar, Sayang ...." kata Yuna memuji Yudi.
Lantas Yuna memenuhi tiga kantong plastik dengan air tanah yang mengucur itu. Mengikat setiap kantong platik, lantas menempatkan di tengah rakit.
Setelah Yuna selesai membawa bekal air, Yudi menyerahkan batang kayu yang dipegangnya kepada Yuna. Kini Yuna harus membantu untuk mendorong rakit.
"Kok diserahkan ke saya?" tanya Yuna yang menerima batang kayu itu.
"Iya, itu untuk Yuna. Saya memakai ini." kata Yudi mengangkat batang kayu yang lain.
Mereka berdua berusaha mendorong rakitnya, menyusuri tepi tebing. Terus menyusur ke arah timur. Cukup lama. Dan akhirnya, mereka sudah melewati tebing jurang itu. Rakit yang mereka dorong itu sudah sampai di pantai landai. Entah di mana, Yudi tidak tahu. Yang penting dirinya sudah sampai di tempat yang landai, sehingga tidak dihantam oleh gelombang yang selalu menghajar dinding-dinding jurang.
"Yudi ..., kita sampai di pantai ...." kata Yuna yang senang menyaksikan hamparan pasir putih.
"Iya, Sayang .... Jangan berdiri dulu. Tunggulah sampai ada gelombang besar, agar bisa mendorong rakit kita ini." kata Yudi meminta Yuna untuk tenang lebih dahulu.
Dan benar, sebentar kemudian nampak ada gelombang besar yang datang. Yudi dan Yuna sudah bersiap akan didorong ke daratan. Sangat besar gelombang itu. Sangat kuat dorongannya. Sehingga benar seperti apa yang dikatakan Yudi. Rakit dari batang pisang itu terlempar jauh ke daratan.
"Yaaaach ...!!!" Yuna menjerit bersuka cita. Dirinya bisa selamat.
Yudi masih terdiam di atas rakit itu. Tentu masih kesulitan untuk turun. Baru setelah tenang dirinya, perlahan ia turun. Lantas merangkak di atas pasir putih tersebut.
"Kita selamat, Sayang ...." kata Yuna yang langsung mencium Yudi sepuas-puasnya.
"Yah ..., Tuhan pasti menolong kita." sahut Yudi yang belum bisa berjalan.
"Yach, God will help. Thanks, God." Yuna bersujud syukur. Tuhan sudah menolong mereka.
__ADS_1