KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 121: BESUK


__ADS_3

    Dua motor yang akan menjenguk Yudi di rumah sakit, sudah berangkat dari Kampung Nirwana menuju dataran tinggi Gunung Kidul. Melintasi jalan berliku dan menanjak, di perbukitan Panggang - Wonosari.


    Mesin motor bebek milik Yudi itu terasa sangat panas, mengangkut tubuh Bagas yang lumayan berisi serta memboncengkan Pak Lurah yang tubuhnya tinggi besar dan gemuk. Beban hampir dua ratus kilogram itu seakan menekan sampai pol shokbreaker dan ban, yang terlalu berat mengangkut beban.


    Demikian juga motor yang satunya. Motor RX King keluaran tahun sembilan delapan itu, suaranya meraung-raung melintasi jalan menanjak. Asap tebal keluar dari knalpot telo. Tentu karena juga mengangkut beban berat dari orang yang diboncengkan, laki-laki tinggi besar dan gagah.


    Satu jam lebih lamanya perjalanan, akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit Umum Daerah.


    "Ini rumah sakitnya, Mas ..., Pak .... Kalau ruangnya saya belum tahu, karena tadi malam cukup lama dirawat di IGD, dan saya pulang duluan sebelum pasien masuk ke kamar inap." kata laki-laki gagah itu.


    "Nggih, maturnuwun .... Nanti akan saya tanyakan ke bagian administrasi. Terima kasih sudah menolong Mas Yudi dan Mbak Yuna.


    "Kalau begitu, saya tak nyuwun pamit, nggih ...." kata laki-laki itu.


    "Anu ..., sebentar .... Saya nyuwun nomer HP dan alamat Bapak .... Boleh kan?" kata Bagas.


    "Oh, njih ..., saget ...." kata laki-laki itu yang kemudian memberikan nomor handphone dan menuliskan alamat rumahnya.


    Bagas berterima kasih sudah ditolong. Demikian juga Pak Lurah, yang tidak henti-hentinya menyalami dua orang itu. Dan tak lupa, Pak Lurah merogoh kantong, mengambil dua lembar uang ratusan dari dompetnya dan diberikan kepada laki-laki gagah besar itu.


    "Pak ..., ini sekadar untuk beli bensin .... Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih, dan besok kalau Mas Yudi sudah sembuh, kami akan sowan ke Kampung Karang, untuk mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga Kampung Karang." kata Pak Lurah dengan senyum yang lebar.


    "Oh, njih ..., monggo saya tunggu rawuhnya ...." kata laki-laki itu yang kemudian berpamitan pulang, bersama lelaki muda yang menyetir sepeda motor.


    Setelah memarkirkan motor, Bagas bersama Pak Lurah menuju pintu depan RSUD. Mereka langsung ke bagian informasi, untuk menanyakan kamar inap pasien yang bernama Yudi. Oleh petugas rumah sakit, Bagas dan Pak Lurah ditunjukkan, bahwa pasien bernama Yudi dan Yuna dirawat di ruang Nakula.


    "Ruang Nakula tempatnya ada di mana?" tanya Bagas kepada petugas informasi.


    "Sebelah sana, Pak .... Masuk saja, ini lurus, nanti ada tulisan Nakula, Bapak bisa bertanya kepada petugas atau suster yang berjaga di sana." kata petugas informasi.


    Bagas dan Pak Lurah yang tidak sabar ingin tahu keadaan Yudi, langsung berjalan cepat menuju arah yang ditunjukkan petugas. Dan cepat, mereka berdua sudah sampai di Ruang Nakula. Lantas seperti yang disarankan oleh petugas informasi untuk bertanya kepada suster yang berjaga, Bagas pun langsung menanyakan tempat rawat inap Yudi. Dan .... Ketemu.


    "Mas Yudi ...! Mbak Yuna ...!" teriak Bagas yang langsung menangis.


    Pak Lurah hanya diam saja di depan pintu, tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya terharu menyaksikan Yudi yang tengkurap di bed tempat tidur pasien.


    "Bagas ...!" Yuna langsung memeluk Bagas yang sudah sampai di rumah sakit. Tentu juga ikut menangis karena terharu.


    "Mas Yudi kenapa tengkurap saja ...? Kok tidak bahagia melihat saya datang ...?" tanya Bagas.


    "Yudi luka parah, Bagas .... Dia hanya bisa tiduran seperti itu. Huk ..., huk ..., huk ...." jawab Yuna, yang lagi-lagi menangis sedih karena luka yang diderita oleh Yudi.


    Lantas Bagas mendekat ke Yudi yang sedang tengkurap di bed tempat pasien, membuka selimut penutup tubuhnya, melihat tubuh Yudi yang terluka. Tentu Bagas kaget dan takut melihat punggung Yudi yang luka parah itu.


    "Ya ampun .... Mas Yudi .... Huk ..., huk ..., huk ...." Bagas mendekati Yudi, mengamati lukanya dan menangis.


    Pak Lurah yang dari tadi diam mematung, juga mendekati Yudi. Mengamati luka yang diderita Yudi. Lantas diam, tidak mengatakan apa-apa, Pak Lurah hanya bisa meneteskan air mata.


    Demikian pula Yudi yang dijenguk oleh Bagas dan Pak Lurah, diam-diam ikut meneteskan air mata.


    Yuna mengelus kepala Yudi, mengusap air matanya dengan kain handuk. Tentu Yuna sambil sesenggukan menangis. Menangisi Yudi.


    Hening sejenak mereka berempat, dengan keharuan yang tidak bisa diceritakan dengan kata-kata. Tetapi tentunya, mereka bersyukur bahwa Yudi dan Yuna masih selamat.


    "Kok bisa seperti ini to, Mas Yudi?" tanya Bagas yang mulai bisa mengeluarkan kata-katanya.

__ADS_1


    "Yaa ..., namanya saja juga nasib, Gas .... Kita tidak tahu kalau akan terjadi musibah yang datang menimpa." jawab Yudi yang sudah tidak menangis lagi.


    "Kejadiannya bagaimana to, Mas Yudi ...? Kok bisa sampai begini parahnya?!" tanya Pak Lurah yang sudah mulai tenang.


    "Ceritanya panjang, Pak Lurah ...." jawab Yudi.


    "Untung Mbak Yuna tidak kenapa-kenapa ...." timpal Bagas.


    "Saya bersyukur Yang Maha Kuasa sudah menyelematkan saya, terutama saya diselamatkan oleh laki-laki perkasa ini." Yuna ikut menyahut sambil mengelus kepala Yudi.


    "Kalau Mbak Yuna yang terluka, kan bisa hilang cantiknya .... Hehehe ...." cengenges Bagas.


    "Aah ..., kamu itu lho, Gas .... Sukanya cengengesan saja ...." kata Yudi.


    "Jadi ini ceritanya tadinya Mas Yudi menyelamatkan Mbak Yuna?" tanya Pak Lurah yang sudah kembali biasa dalam bicara, tidak grogi lagi.


    "Bukan saya .... Itu pertolongan Tuhan Yang Maha Kasih .... Saya tidak bisa apa-apa. Buktinya ..., ini tubuh saya babak belur semua ..., hancur semua." sahut Yudi.


    "Waah ..., hebat kamu, Mas Yudi. Demi cinta kepada Mbak Yuna, Mas Yudi rela seperti ini ...." kata Bagas yang memuji Yudi.


    Yuna jadi tersipu malu. Pipinya langsung merona merah. Dan tentu, senyum yang disembunyikan.


    "Jadi ini ceritanya, Mas Yudi menolong Mbak Yuna, terus keplorot ke jurang, begitu to ...?!" tanya Pak Lurah.


    "Iya, betul Pak Lurah. Tetapi setelah masuk jurang dan tercebur ke laut, Yuna yang ganti menjadi penolong saya. Lha wong saya sudah tidak bisa apa-apa begini, kok ...." sahut Yudi.


    "Walah .... Berarti Mas Yudi tidak bisa berenang, yang pandai berenang Mbak Yuna? Terus Mbak Yuna berenang sambil menyeret Mas Yudi, begitu?" tanya Bagas yang penasaran.


    "Kami terbawa ombak, dan bersyukur bisa terdampar di batu karang." kata Yuna.


    "Yah, kita memang harus selalu bersyukur. Apapun nasib kita, tetap harus kita syukuri. Di balik musibah, pasti ada hikmah." kata Pak Lurah yang memberi nasehat.


    "Siiip ...." timpal Bagas.


    "Bagas ..., saya mau minta tolong." kata Yudi pada Bagas.


    "Minta tolong apa, Mas Yudi?" tanya Bagas.


    "HP saya itu hilang, jadi saya kehilangan semua memori dan kesulitan transaksi keuangan. Termasuk kunci mobil juga ikut hilang. Beruntung dompetnya tidak ikut terjatuh, walau basah semua tapi masih utuh. Tapi uangnya kan tidak seberapa yang ada di dompet. Lha nanti untuk membayar biaya rumah sakit ini, saya kan butuh uang." kata Yudi lagi.


    "Walah ..., kayak begitu kok bingung to, Mas Yudi .... Soal uang, Pak Lurah kan punya banyak. Ya kan, Pak Lurah." sahut Bagas yang sok tahu.


    "Ck, kamu itu lho, Gas .... Senangnya kok cari enaknya saja." sahut Yudi.


    "Tidak apa-apa, Mas Yudi .... Saya ada, kok." sahut Pak Lurah.


    "Kebutuhan saya banyak, Pak Lurah." jawab Yudi.


    "Mas Yudi jangan bingung .... Yang penting sembuh dahulu, nanti kalau sudah sembuh, yang lain-lain baru kita urusi bersama. Untuk biaya rumah sakit, nanti saya yang bayar dulu. Tenang saja Mas Yudi." sahut Pak Lurah.


    "Lha saya juga punya hutang dengan orang-orang yang menolong saya, kok Pak Lurah ...." kata Yudi lagi.


    "Hutang apa? Berapa jumlahnya?" tanya Pak Lurah.


    "Lha kemarin, saya digotong pakai sarung orang yang menolong saya, kan saya harus mengganti sarungnya mereka. Dua buah sarung, Pak .... Tapi rencana saya mau membelikan beberapa potong sarung untuk saya bagikan kepada orang-orang yang sudah menolong saya." kata Yudi.

__ADS_1


    "Walah, itu gampang, Mas Yudi .... Biar Bagas nanti yang beli, pakai uang saya dahulu. Besok kalau Mas Yudi sudah sehat, sudah sembuh, sudah pulang, baru diganti. Begitu saja, Mas Yudi ..., gampang kan?!" kata Pak Lurah.


    "Ya sudah kalau maunya Pak Lurah seperti itu, saya berterima kasih. Tapi saya mau minta tolong lagi sama Bagas dan Pak Lurah, tolong Taman Awang-awang diurusi dahulu, dikelola secara baik, jangan sampai gara-gara saya sakit nanti yang lain pada seenaknya saja." jelas Yudi.


    "Siap, Mas Yudi ...." sahut Bagas.


    "Jangan khawatir, Mas Yudi .... Nanti akan saya awasi setiap hari." kata Pak Lurah.


    "Terima kasih Pak Lurah ...." kata Yudi.


    "Yang penting Mas Yudi sudah ketemu, sehat, bagas waras, warga Kampung Nirwana sudah senang, Mas Yudi .... Ini, tadi malam  itu warga sak kampung berdoa semua di Taman Awang-awang, Mas Yudi. Minta keselamatan Mas Yudi sama Mbak Yuna. Eee ..., pagi-pagi, sudah ada orang yang ngabari kalau Mas Yudi dan Mbak Yuna sudah ditolong dan dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah, berdoa semalam langsung dikabulkan. Kami semua sudah khawatir lho, Mas ...." kata Bagas yang terlihat senang.


    "Betul, Mas Yudi .... Kami semua sangat khawatir .... Makanya semalam warga sekampung saya ajak berdoa semua. Dan Tuhan memang selalu mendengar doa kita." tambah Pak Lurah.


    "Aamiin ...." sahut Yudi dan Bagas bersamaan.


    Tentu Pak Lurah merasa banyak utang budi pada Yudi. Dulu yang mendorong ia untuk ikut pilihan kepala desa adalah Yudi, dan tentu didukung oleh Yudi dan teman-temannya. Kalau tidak didukung oleh Yudi, pasti Pak Lurah ini kalah suara. Itulah, makanya Pak Lurah selalu mendukung ide-ide Yudi untuk mengembangkan Kampung Nirwana. Padahal sebenarnya, warga Kampung Nirwana dahulu menghendaki yang menjadi Kepala Desa adalah Yudi. Tetapi Yudi tidak mau dengan alasan ia sebagai pegawai negeri, bisa dihentikan. Maka jika sekarang kondisi Yudi luka parah, Pak Lurah ikut bersedih.


    "Bagas ..., saya mau minta tolong juga ...." kata Yuna pada Bagas.


    "Siap .... Minta tolong apa, Mbak Yuna?" tanya Bagas.


    "Saya tidak bawa apa-apa .... Tas saya ada di dalam mobil Yudi, tolong nanti diambilkan, besok bawakan kemari, ya ...." kata Yuna memberi tahu.


    "Oke, siap ..., Mbak Yuna. Lha kunci mobilnya?" tanya Bagas.


    "Itu serep kunci ada dirumah, di gantungan kunci, jadi satu dengan kunci mobil kamu. Tapi itu kan remot kontrolnya tidak ada, kamu buka kabinnya, kabel yang ke alarm kamu cabut dulu. Terus bawa ke tukang servis central lock, suruh perbaiki, ganti remot baru." kata Yudi menjelaskan.


    "Ya, Mas Yudi .... Siap. Uangnya, Mas ...?!" sahut Bagas.


    "Halah, kamu itu lho ..., uang terus .... Nanti di mobil kamu buka laci dashbord, di situ ada amplop, itu ada uangnya. Buka saja, ambil seperlunya." kata Yudi.


    "Waduh .... Uangnya banyak, Mas?" tanya Bagas yang malah bingung.


    "Pokoknya kamu ambil .... Nanti juga untuk keperluan yang lain, termasuk untuk belanja sarung." sahut Yudi.


    "Iya, Mas Yudi .... Siap ...." jawab Bagas.


    "O, ya ..., besok kalau kemari lagi, naik mobil saja, jangan pakai motor, nanti masuk angin ...." kata Yudi lagi.


    "Lha perlu dibawakan salin pakaian apa tidak?" tanya Pak Lurah ikut nimbrung.


    "Tidak perlu, pakaian gampang .... Di sini bisa beli, yang murah sederhana, yang penting bisa dipakai." jawab Yuna, yang dari kemarin sudah dibantu oleh karyawan rumah sakit untuk beli ganti pakaian.


*******


    Sore itu, sebuah truk dan dua buah colt pick up, penuh sesak dengan orang yang pada berdiri, menanjak di jalan tembus Bantul - Saptosari Gunung Kidul. Mereka adalah warga Kampung Nirwana yang berdatangan ke Rumah Sakit Umum Daerah di Saptosari Gunung Kidul. Mereka akan membesuk, mengunjungi pasien di rumah sakit, yaitu  Yudi dan Yuna yang dirawat di situ. Tentu, suasana rumah sakit menjadi ramai dan penuh sesak pengunjung.


    Itulah suasana masyarakat desa yang sangat guyup rukun dan penuh rasa persaudaraan. Jika ada satu warga saja yang sakit, maka mereka semuanya merasa ikut sakit. Apalagi sampai dirawat di rumah sakit. Maka mereka akan langsung menjenguk beramai-ramai. Apalagi yang sakit adalah Yudi, orang yang sangat berjasa bagi Kampung Nirwana, yang mengalami kecelakaan dengan luka-luka yang parah dan harus dirawat di rumah sakit. Maka meski dengan menaiki truk bukaan, maupun kol brundul, semuanya ingin datang menjenguk.


    Yuna merasa heran dan kaget dengan sistem kekeluargaan masyarakat di Kampung Nirwana. Tentu sangat berbeda dengan yang ia alami di Jepang. Maka Yuna menjadi bingung. Apa yang harus dilakukan dengan orang sebanyak itu. Tetapi, para tetangga Yudi mengatakan, "Begini ini, Mbak Yuna .... Cara hidup di kampung yang harus saling tolong menolong."


    Dan Yuna lebih bingung lagi, saat orang-orang sekampung itu pada berpamitan pulang. Mereka menyalami Yudi, dan pada menaruh amplop di bawah bantal yang mengganjal dada Yudi. Tentu, amplop-amplop itu berisi uang.


    Sesaat setelah orang-orang kampung yang membesuk Yudi itu pada pulang, ruang kamar inap Yudi sudah sepi.

__ADS_1


    "Yuna ..., tolong kamu ambil amplop-amplop yang ada di bawah bantal ini ...." kata Yudi menyuruh Yuna.


    "Ya ampun, Yudi .... Mereka pada memberi amplop berisi uang ...." kata Yuna yang keheranan. Baru pertama kali ini ia menyaksikan peristiwa berkunjung ke rumah sakit yang mengharukan.


__ADS_2