
Kampung Nirwana masih geger dengan hilangnya Yudi. Semalam dan sehari penuh, tim SAR yang mencari Yudi dan Yuna, tidak menemukan. Pak Lurah kebingungan. Tidak doyan makan, tidak bisa minum. Duduk tidak nyaman, berdiri juga tak jenak. Tentu sangat khawatir, jika sampai Yudi tidak ditemukan.
Bagas tidak bisa tidur. Hanya duduk dan termenung. Ia benar-benar stres. Selama ini Bagas masih bergantung pada Yudi, maka jika sampai Yudi tidak ditemukan, hancurlah perekonomiannya. Bagas benar-benar kehilangan.
Sementara itu, tim SAR sudah angkat tangan. Menyatakan tidak bisa menemukan Yudi. Mereka menghentikan pencariannya. Kesimpulan yang diberikan, Yudi sudah meninggal dan terbawa gelombang. Maka tim SAR menyatakan pencarian ditutup.
Berita penghentian pencarian Yudi, membuat masyarakat Kampung Nirwana berduka. Mereka sedih kehilangan Yudi, orang yang selama ini telah membangun dan memajukan Kampung Nirwana. Ibarat dibolehkan, setiap rumah di Kampung Nirwana akan mengibarkan bendera setengah tiang. Mereka baru senang-senangnya memiliki obyek wisata berkelas internasional, tetapi mereka kehilangan orang yang akan membesarkan obyek tersebut. Tentu masyarakat khawatir, jika tidak ada Yudi, kampungnya akan mengalami kemunduran. Apalagi Taman Awang-awang baru berjalan, belum ada manajemen yang sempurna, masih butuh bimbingan dari Yudi. Karyawan belum mapan. Para pedagang juga masih coba-coba. Demikian juga para sopir wisata, mereka masih sering ragu-ragu untuk mengambil keputusan. Apalagi bagian keuangan, mereka masih dipinjami uang untuk membayar gaji para karyawan. Tentu, semua berduka.
Malam itu, Pak Lurah bersama para tokoh masyarakat, meminta seluruh warga untuk berkumpul di Taman Awang-awang. Mereka akan mengadakan doa bersama. Doa dilakukan secara berkelompok, sesuai dengan keyakinan setiap warga. Walau tempatnya menjadi satu, tetapi caranya berbeda-beda. Yang pasti, tujuan dari doa itu sama, yaitu memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar menyelamatkan Yudi dan Yuna.
Ya, memang Kampung Nirwana adalah kampung multi kultural atau prural religi. Masyarakat yang sangat bineka. Tetapi mereka senantiasa merasa satu keluarga, satu kekerabatan, satu paguyuban. Mereka bersatu padu, saling tolong, saling membantu, dan saling toleransi. Itulah gambaran masyarakat multi kultural yang bisa berintegrasi dengan baik. Menghormati perbedaan yang ada, dan menyatukan perbedaan itu sebagai keharmonisan dari sebuah kebinekaan.
Dan malam itu, di Taman Awang-awang, secara bersama-sama, masyarakat Kampung Nirwana dengan berbagai cara yang berbeda, memanjatkan doa memohon kepada Yang Maha Kuasa, menharap pertolongan-Nya untuk menyelamatkan Yudi dan Yuna.
*******
Pagi itu, sebuah sepeda motor masuk ke halaman parkir mobil wisata. Yang menyetir laki-laki masih muda, sedangkan yang membonceng laki-laki yang sudah tua, tetapi masih terlihat gagah. Motor itu berhenti di depan pos parkir Taman Wisata. Tidak begitu ramai. Hari senin wisata agak sepi. Para sopir pada duduk-duduk di tempat istirahat.
Dua orang yang berboncengan itu turun dari motor. Seorang penjaga yang ada di pos parkir keluar, lalu menemui dua orang yang baru turun dari motor tersebut.
"Mau keliling wisata, Pak?" tanya penjaga pos.
Tentu begitu melihat ada orang yang datang, dan bicara pada penjaga pos parkir, seorang sopir wisata langsung ikut mendatangi sang tamu. Tentu harapannya mereka akan naik mobil wisata keliling Kampung Nirwana. Lumayan rejeki pagi hari. Maka sang sopir wisata langsung ikut menimbrung pembicaraan di situ.
"Maaf, apa benar ini desa Kampung Nirwana?" tanya laki-laki tua yang gagah itu.
"Betul, Pak .... Mau piknik naik mobil wisata keliling, Pak?" tanya sang sopir wisata.
"Tidak. Ini kami dari Kampung Karang, mau menyampaikan pesan. Ini ada surat." jawab laki-laki sang tamu itu.
"Pesan apa, ya?" tanya penjaga pos.
"Kami disuruh menemui orang di Kampung Nirwana, yang bernama Mas Bagas. Apakah sampeyan ini kenal dengan Mas Bagas?" kata orang tua yang gagah itu.
__ADS_1
"O ya, tentu kenal. Ada apa dengan Mas Bagas?" tanya sang sopir yang penasaran.
"Anu ..., tadi malam kami menolong orang yang terdampar di Pantai Kampung Karang, orangnya terluka parah, langsung kami larikan ke RSUD di daerah Saptosari. Orang itu masih dirawat di rumah sakit, ditunggui oleh istrinya. Namanya Mas Yudi." kata orang yang membawa pesan tersebut.
"Hah ...?! Mas Yudi ...?! Yang benar, Pak?" tanya sang sopir wisata yang kaget mendengar laki-laki gagah itu menyebut nama Mas Yudi.
"Benar .... Ini surat pesannya untuk Mas Bagas." sahut sang tamu dari Kampung Karang tersebut.
"Ooe .... Mas Yudi ketemu ...!!!" teriak sang sopir itu memberitahukan kepada sopir-sopir lain yang sedang duduk di tempat istirahat para sopir.
"Ha ...?! Mas Yudi ketemu ...?!" mereka langsung berlarian menghampiri dua laki-laki yang membawa kabar tentang Yudi tersebut.
"Mas Bagas yang mana?" tanya laki-laki tua yang gagah itu.
"Tolong telepon Mas Bagas!" kata salah seorang sopir wisata.
"Ya ..., ya ..., ya ...." sahut sopir yang lain, yang langsung mengambil HP untuk menelepon Bagas.
"Tolong kamu telepon Pak Lurah." kata sopir yang tadi.
"Halo ..., Mas Bagas .... Tolong segera ke lapangan parkir. Ini ada orang yang membawa kabar, Mas Yudi sudah ditemukan. Orangnya mau memberikan surat dari Mas Yudi ke Mas Bagas. Cepetan, ya ...!" telepon sang sopir wisata itu kepada Bagas.
"Halo, Pak Lurah .... Mas Yudi sudah ditemukan, Pak. Pak Lurah cepat ke lapangan parkir." telepon sopir yang lain menghubungi Pak Lurah.
Dalam sekejap, Bagas yang naik sepeda motor sudah sampai di lapangan parkir. Ia tidak sabar untuk mendengar berita tentang Yudi. Maka sesampai di lapangan parkir wisata, Bagas langsung melepas motornya begitu saja, sehingga motor yang ditumpangi itu roboh begitu saja. Dia langsung berlari menuju ke tempat dua laki-laki dari Kampung Karang yang kerumuni para sopir wisata tersebut.
"Mana Mas Yudi ...?!" tanya Bagas yang baru datang.
"Lha, ini yang namanya Mas Bagas ...." kata salah satu sopir wisata.
"Ini, Mas Bagas .... Bapak-e yang menolong Mas Yudi." kata yang lain.
"Mas Bagas, ya ...?!" tanya laki-laki gagah itu.
__ADS_1
"Betul, Pak. Di mana, Mas Yudi dan Mbak Yuna?" tanya Bagas pada laki-laki itu.
"Masih dirawat di rumah sakit. Lukanya cukup parah. Ini ada surat dari Mas Yudi untuk Mas Bagas." lantas laki-laki itu menyerahkan lipatan kertas, yang berisi pesan dari Yudi untuk Bagas.
Bagas menerima surat itu, lantas membaca isinya.
"Bagaimana, Mas Bagas?" tanya orang-orang yang ada di situ.
"Alhamdulillah ..., Mas Yudi selamat, Mbak Yuna juga selamat. Tapi saat ini luka-lukanya harus dirawat di rumah sakit." jawab Bagas setelah membaca isi surat.
"Kalau begitu, kita menyusul ke rumah sakit." kata salah seorang.
"Ya, kita pastikan Mas Yudi dan Mbak Yuna tidak apa-apa." sahut yang lain.
"Ya, kita jenguk ke rumah sakit." sahut yang lain lagi.
"Ya ..., ya ..., sabar .... Nanti kita jenguk bersama." sahut Bagas.
Dan pada saat orang-orang merasa gembira saat mendengar kabar tentang diselamatkannya Yudi dan Yuna tersebut, Pak Lurah datang. Tentu Pak Lurah yang sok bingung itu langsung nimbrung. Tentu juga dengan kebingungannya.
Namun Bagas yang sudah lama hidup bersama Yudi, bisa berfikir jernih dan lebih bijak dalam membuat keputusan. Itulah manfaat berkumpul dengan orang pintar, bisa ikut ketularan pintar.
"Maaf, Bapak .... Jika tidak keberatan, mohon kami diantar ke rumah sakit tempat Mas Yudi dirawat. Saya belum paham jalannya." kata Bagas kepada orang yang mengantarkan pesan untuk Bagas.
"O, ya .... Nanti bersama saya. Sekalian saya pulang." jawab Laki-laki yang gagah itu.
"Pak Lurah, bonceng saya nengok Mas Yudi sama Mbak Yuna. Yang lain nanti sore, menunggu berita dari saya, ya ...." kata Bagas yang akan ke rumah sakit duluan.
"Lhoh ..., lah .... Dengan saya ...?!" Pak Lurah yang diajak Bagas malah bingung.
"Iya, Pak Lurah. Ayo bonceng saya, kita berangkat sekarang." kata Bagas yang sudah menghidupkan motornya.
Lantas dua motor melaju beriringan, yang satu dikendarai oleh orang yang telah menolong Mas Yudi, orang dari Kampung Karang, dan satu lagi dikendarai oleh Bagas yang berboncengan dengan Pak Lurah. Motor-motor itu menuju RSUD di Saptosari, daerah Gunung Kidul.
__ADS_1
Para sopir wisata tentu tidak diam begitu saja. Mereka langsung mengabarkan tentang Yudi yang sudah diselamatkan, ditemukan di daerah Pantai Karang. Ada yang menelepon istrinya, ada yang menelepon tetangganya, ada yang menelepon karyawan-karyawan yang ada di Taman Awang-awang. Berita diselamatkannya Yudi dan Yuna langsung tersebar ke seluruh Kampung Nirwana. Ada juga sopir wisata yang langsung mengabari Polsek dan Koramil. Demikian juga Badan SAR Parang Tritis, yang langsung gembira menyambut berita itu.
"Doa kita semalam sudah dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa." begitu kata orang-orang di Kampung Nirwana yang telah menggelar doa semalam di puncak bukit Taman Awang-awang.