KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 99: INDAHNYA NIRWANA HOMESTAY


__ADS_3

    Senja baru saja tenggelam. Semilir angin samudera yang berhembus dari Pantai Selatan, terasa segar dan menyejukkan. Sambil menunggu datangnya Yudi, Alex bersama istri dan anaknya, dokter Handoyo bersama istrinya, duduk berlima di luar ruangan, di kursi teras yang beratap fiber bening. Orang-orang ini berbincang membahas keindahan penginapan yang mereka tempati.


    "Penginapan ini benar-benar nyaman." kata dokter Handoyo membuka komentarnya.


    "Tidak cuma nyaman, tetapi sangat artistik." sahut Alexander.


    "Saya betah tinggal di sini, Pi ...." sahut istri Alex.


    "Sepi, tapi menyenangkan. Menawan, Pi ...." kata anak perempuan Alex.


    "Seperti tinggal di kerajaan, ya ...." sahut istri Yudi.


    "Konsepnya sangat bagus. Hanya orang-orang yang punya jiwa seni tinggi yang bisa menciptakan arsitektur seperti ini. Selama saya menangani proyek gedung-gedung megah dan mewah, saya belum pernah mengerjakan bangunan semacam ini." kata Alex yang seorang insinyur bangunan.


    "Iya, betul .... Selama ini, saya selalu melihat gedung-gedung bangunan baru, semua menggunakan arsitek modern, tidak ada yang menarik. Walau megah, tetapi tidak ada nilai seninya. Tetapi saya melihat bangunan yang meskipun tampak sederhana, tetapi sentuhan nilai seninya sangat artistik. Benar-benar luar biasa." kata dokter Handoyo.


    "Iya, betul. Tidak hanya hanya artistik, tetapi desain tata letaknya juga indah dan nyaman. Coba kita lihat ruang ini, tempat kita duduk-duduk ini. Tidak butuh material banyak, hanya atap fiber dan lantai batu alam, ditambah kursi-kursi dari besi tempa beserta mejanya. Terlihat sangat luasn walau terhubung dengan empat kamar. Ini kalau di rumah kita, ruangan ini adalah ruang keluarga. Tetapi ruang keluarga yang terbuka ini betul-betul menawan. Kalian merasakan, nggak?" kata Alex yang sangat tertarik dengan desainnya.


    "Iya ya, Papi ..., ternyata ini adalah ruang keluarga, ya .... Saya baru sadar ...." sahut istri Alex.


    "Iya, ruang keluarga yang terbuka, bisa merasakan hembusan angin laut, bisa mendengar suara deburan ombak, bahkan juga bisa melihat gemerlap bintang .... Asyik, ya ...." sahut istrinya Handoyo.


    "Betul, saya di Nusa Tenggara, yang berdekatan dengan pantai saja, tidak bisa menikmati suasana yang seperti ini. Penginapan Nirwana Homestay ini benar-benar menyajikan suasana alam yang sangat komplit." kata dokter Handoyo.


    "Dapurnya juga terbuka .... terlihat lebih asyik saat memasak." kata istri Alex.


    "Kamarnya saja bagus, lho ...." sahut istrinya Handoyo.


    "Iya, betul. Meubelairnya dari kayu-kayu tua, dengan sentuhan desain klasik, terlihat bagus. Kursi kayu yang unik dengan anyaman rotan, betul-betul klasik." sahut istri Alex.


    "Sentuhan hiasan dindingnya juga indah. Ada lukisan aktivitas khas rakyat Jogja, serta foto-foto bangunan bersejarah Kota Jogja. Betul-betul sajian yang mengunggah nilai-nilai tradisi." sahut istri Handoyo.


    "Kamar mandinya juga keren lhoh, Mi .... Mami amati kamar mandi yang lux itu, kayak menginap di hotel berbintang lima. Betul kan, Mi ...?" sahut putrinya Alex, yang tentu sudah menikmati kamar mandi yang lux.


    "Iya, betul .... Kamar mandinya benar-benar lauar biasa. Bikin betah di dalam kamar mandi." sahut istrinya Alex.


    "Penginapan yang luar biasa. Homestay rasa kamar hotel president suite." sahut Alex.


    "Yah, ini tempat penginapan, dengan konsep masing-masing kamar punya pintu keluar sendiri-sendiri. Penginap bisa bebas untuk menikmati seluruh fasilitas. Ini sangat menyenangkan. Kalau yang menginap di sini sebuah keluarga besar, ini sangat pas. Empat kamar besar, dengan ruang keluarga yang terbuka, serta dilengkapi dapur. Ini sangat pas sebagai tempat beramah-tamah keluarga besar." Kata dokter Handoyo.


    "Kalau kita melihat tamannya, juga menarik dan nyeni. Sangat bagus ya, Yah ...." sahut istrinya Handoyo.


    "Iya, sangat mengesankan. Besok kapan-kapan kalau piknik ke Jogja dengan keluarga besar, akan saya ajak menginap di sini." kata dokter Handoyo.


    "Beli saja, Han .... Kata Yudi masih ada dua unit." usul Alex pada sahabatnya yang jadi dokter itu.


    "Uangnya siapa, Lex .... Kamu saja ambil, besok kalau saya ke Jogja tinggal pinjam kamarnya. Hehe ...." sahut dokter Handoyo.


    "Ala .... Uang tidak keluruk, Han .... Kata Yudi kita bisa keluar tiga ratus juta saja, selanjutnya sudah bisa diangsur dari hasil sewa penginapan." kata Alex.


    "Memang menginap di sini semalam bayar berapa?" tanya istrinya dokter Handoyo.


    "Katanya kalau kita sewa satu kamar semalam cuman lima ratus ribu. Tapi kalau sewa satu unit, cuman bayar satu juta tujuh ratus lima puluh ribu. Murah banget, kan ...?!" kata Alex.


    "Terus, kalau kita punya, teknik pengelolaannya bagaimana?" tanya Handoyo.


    "Wah, kalau itu saya kurang tahu. Tapi dengar-dengar bagi hasilnya tuju lima dua lima. Tanya ke Rini, yang sudah ambil dua unit." jawab Alex.


    "Rini sudah ambil dua unit?! Wao .... Benar-benar orang kaya." decak dokter Handoyo.


    "Lha, itu ... Yang dipakai menginap sekarang itu milik pribadi Rini. Sama depannya. Itu milik Rini semua. Hebat kan ...." kata Alex.


    "Papi ambil, biar kalau kita ke Jogja tidak usah cari hotel. Lumayan, Pi ..., bisa menghemat budget." kata istri Alex.

__ADS_1


    "Iya, Lex ..., kamu ambil satu. Biar nanti kalau reunian bisa di sini saja. Hahaha ...." sahut dokter Handoyo yang menyemangati istrinya Alex.


    "Gak punya uang, Han ...." sahut Alex.


    "Halah .... Mobilnya saja alphard kok bilang gak punya uang ...." ejek dokter Handoyo.


    "Iya, Pak Alex .... Cuman tiga ratus saja, kok ...." timpal istrinya dokter Handoyo.


    "Patungan, Han .... Hahaha ...." sahut Alex yang dibujuk.


    "Mau saja, Lex .... Kamu yang tiga ratus, kan?!" ledek dokter Handoyo.


    "Kita ambil bareng saja .... Dokter Handoyo satu, Papi satu ...." tiba-tiba putrinya Alex usul.


    "Hahaha .... Cocok ...." sahut para laki-laki itu.


    "Bagaimana, Mami?" tanya Alex pada istrinya.


    "Tapi akses perbelanjaannya bagaimana, Pi? Ini masih kelihatan sepi .... Jauh dari pusat jajanan." tanya istri Alex.


    "Iya, ya .... Kalau keindahannya, nilai seninya, kemewahannya, saya sangat senang dengan homestay ini. Tapi bagaimana dengan akses yang lain?" tanya Handoyo.


    "Kalau saya yakin, tempat ini akan berkembang pesat. Nanti kalau obyek wisatanya Yudi sudah diresmikan, pasti banyak pengunjung berdatangan. Apalagi tempat ini sangat dekat dengan banyak obyek wisata, seperti Pantai Parang Tritis, Pantai Depok, Gumuk Pasir, bahkan akses ke Kota Jogja juga enak. Pasti nanti sangat ramai. Ini sangat prospektif." jelas Alex.


    "Seperti itu, ya ...?!" kata dokter Handoyo yang tidak paham dengan prospek wisata.


    Sesaat mereka berbincang, mobil avanza hitam masuk ke halaman parkir penginapan Unit 1. Yudi datang bersama Yuna.


    "Selamat malam semuanya ...." kata Yudi memberi salam kepada para sahabat dan keluarganya.


    "Malam Yud .... Sini ..., duduk sini ...." sahut Alex dan Handoyo.


    Yudi dan Yuna langsung nimbrung duduk bersama mereka. Tak lupa, Yudi membuka bungkusan berisi jajanan. Ada macam-macam gorengan. Dan tidak lupa, ada singkong dan pisang rebus. Yuna juga menurunkan bungkusan. Ada dua kardus kue martabak kacang. Yang satu pakai cokelat, dan yang satu lagi pakai keju. Manis dan lezat. Jajanan-jajanan itu langsung digelar di meja taman, yang dihadapi para sahabatnya itu.


    "Eh, ambil piring ...." kata dokter Handoyo pada istrinya.


    Istri dokter Handoyo langsung melangkah menuju rak piring yang ada di dapur. Mengambil piring dan sendok yang disediakan oleh layanan penginapan. Lantas membawanya ke meja, dan menata jajanan tersebut di piring.


    "Where is Rini?" tanya Yuna pada Yudi.


    "Eh, iya .... Rini mana dan keluarganya, mana?" tanya Yudi pada para sahabatnya.


    "Dari tadi belum keluar. Panggil saja." kata Alex.


    "Kita ngumpulnya di sini dulu .... Sebab yang penginapannya Rini bagian luarnya belum jadi." kata Yudi.


    "Sebentar, saya teleponnya dulu." kata dokter Handoyo yang langsung mengangkat HP.


    Di tempat penginapan unit sebalahnya, Rini menerima telepon.


    "Halo, Han .... Bagaimana?" suara Rini menerima telepon dokter Handoyo.


    "Halo, Rin .... Ayo, kemari ..., ke penginapanku. Ini teman-teman kumpul di sini. Ramai ...." kata dokter Handoyo mengundang Rini.


    "Oh, iya, Han .... Yudi sudah sampai?" tanya Rini.


    "Baru saja sampai. Ajak Pak Hamdan sama anak-anak, ya ...." kata dokter Handoyo.


    "Oke, Han .... Tunggu sebentar ...." jawab Rini.


    Hanya tinggal melangkah. Penginapan Rini bersebelahan dengan penginapan teman-temannya. Jika tidak ada pagar pembatas, tentu bisa menyeberang begitu saja. Tetapi pagar pembatas ini adalah untuk keamanan dan tentunya untuk keindahan.


    Rini bersama Hamdan, Silvy dan Yayan, berjalan kaki menuju tempat penginapan Unit 1, di mana teman-temannya sudah menunggu.

__ADS_1


    "Hai, semuanya ...." sapa Rini pada teman-temannya.


    "Hai .... Ayo, kemari .... Ini ada banyak jajanan." kata Alex menyambut Rini bersama keluarganya.


    "Ayo, Pak Hamdan .... Silakan duduk sini. Ini ada singkong rebus sama pisang. Non kolesterol ...." kata dokter Handoyo mempersilakan Hamdan, suami Rini.


    "Iya ..., iya .... Terima kasih." jawab Hamdan.


    Mereka langsung berkumpul, duduk bersama menikmati makanan jajanan. Asyik dan menyenangkan. Tentu ramah tamah kecil ini sudah membuat mereka senang.


    "Kita nikmati makanan kecil ini dahulu, nanti makan malamnya saya sediakan di puncak bukit. Saya akan ajak teman-teman untuk menyaksikan keindahan malam di Taman Awang-awang." kata Yudi pada para sahabatnya beserta keluarganya.


    Tentu teman-temannya sudah penuh harap bisa menikmati keindahan karya Yudi bersama Yuna, yaitu Taman Awang-awang di malam hari.


    "Eh, Bu Rini ..., denger-dengar kamu beli tempat penginapan di sini, ya?" tanya Alex yang masih penasaran dengan Nirwana Homestay itu.


    "Bukan saya, ya .... Itu papahnya anak-anak yang pesan." jawab Rini.


    "Betul begitu, Pak Hamdan? Bagaimana caranya?" tanya Alex pada suami Rini.


    "Hehe .... Itu Mas Yudi yang membantu semua. Saya hanya ngikut seleranya anak-anak." jawab Hamdan.


    "Iyu, Yud ...?! Bagaimana, Yud?!" tanya Alex semakin menggebu.


    "Asyik-asyik .... Ada yang akan punya homestay di sini lagi. Besok saya bisa pakai .... Hehe ...." ledek dokter Handoyo pada Alex.


    "Besok siang kita lihat-lihat dulu. Jika senang, cocok, sesuai, baru pesan. Jangan sampai nanti pesan, besoknya langsung dijual lagi ...." jawab Yudi memberi kesabaran pada Alex.


    "Tapi bagus, kok .... Ini buktinya. Istri saya bilang bagus, anak saya juga mengatakan cakep, istrinya Handoyo juga bilang sangat istimewa ..., berarti kan penginapan ini memang bagus. Siapa lagi yang mau kasih penilaian?" kata Alex yang berargumentasi.


    "Coba, Yaya kasih penilaian. Ini menantuku yang paham kebudayaan, mungkin bisa menilai. Ayo, Mas Yayan." kata Rini menyuruh menantunya berpendapat.


    "Maaf, Om dan Tante .... Jika boleh saya berpendapat, tempat ini, penginapan ini, jika dijual dengan harga lima miliar tiap unitnya, itu sangat murah. Apalagi dengan model pembayaran yang memakai sistem pakai inap, ini betul-betul tidak masuk akal. Terlalu murah." jawab Yayan, menantu Rini.


    "Iya, betul .... Maksud saya juga seperti itu." sahut Alex yang justru lebih bersemangat untuk beli setelah mendengar paparan menantu Rini.


    "Kalau dari segi nilai seninya, bagaimana?" tanya Handoyo pada Yayan.


    "Sangat artistik. Amazing ....! Ini sebuah penginapan yang luar biasa dari segi nilai seni. Indah dan mempesona." kata Yayan, anak muda yang sudah menggeluti dunia budaya.


    "Iya, aku setuju. Nirwana Homestay memang keren!" sahut dokter Handoyo.


    "Tapi untuk akses-aksesnya dengan fasilitas umum, bagaimana?" tanya istri dokter Handoyo.


    "Iya, Yud ..., bagaimana akses sarana lainnya? Kalau mau belanja, mau makan atau mau beli jajanan, bagaimana?" tambah Handoyo.


    "Hehe .... Ini kan belum jadi. Nantinya, tempat penginapan Nirwana Homestay ini akan terkoneksi dengan berbagai obyek. Di sisi timur, nanti akan kami bangun pasar seni, yang menjajakan semua hasil kerajinan rakyat. Kemudian di sisi utara ada area kuliner, yang menjajakan berbagai jenis makanan tradisional hingga makanan-makanan internasional. Terus nantinya, koneksi transportasi akan mencapai seluruh daerah wisata di Pantai Selatan. Jadi, tidak perlu khawatir dengan akses semua hal. Ini permulaan. Ibarat kata, saya baru menyelesaikan lima puluh persen. Yang lima puluh persen berikutnya, menunggu uluran tangan kalian semua. Hehehe ...." jelas Yudi yang meyakinkan.


    "Waah, keren banget, Yud .... Kamu memang manusia setengah dewa, Yud .... Aku bangga padamu." kata Alex sambil menepuk-tepuk pundaknya.


    "Ya, sudah .... Ambil satu, Lex." kata Rini menyemangati Alex.


    "Iya, Pi .... Aku suka tinggal di sini, Pi ...." abak perempuan Alex ikut nimbrung membombong papinya.


    "Papi nggak punya uang, Sayang ...." maminya membisiki putrinya.


    "Ayo, dilanjutkan jajanannya .... Nanti kita akan bersama menuju Taman Awang-awang." kata Yudi.


    "Ya, ayo ...." sahut yang lain.


    Mereka kembali menikmati jajanan, sambil menikmati keindahan Nirwana Homestay yang artistik dan menawan. Ya, sebuah penginapan dengan konsep arsitek jaman kuno, jaman kerajaan Majapahit yang dikemas dengan sentuhan seni, sungguh bisa memberikan kepuasan jiwa.


    Nirwana Homestay, menjadi sebuah ikon di Kampung Nirwana, yang indah, yang menarik, yang menawan. Tentu, besok akan sering masuk di media sosial, karena banyaknya orang yang berselfi ria, berfoto-foto di tempat yang menawan ini. Nirwana Homestay, menjadi trending topic di setiap media sosial.

__ADS_1


    Dan selanjutnya, malam itu, mereka akan menikmati keindahan langit di Taman Awang-awang.


__ADS_2