KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 16: DUA HATI DI INDRAYANTI


__ADS_3

    SETELAH closing ceremony acara reuni teman-teman SMA-nya, setelah semua peserta saling berpamitan untuk kembali ke kota masing-masing, Rini memita Yudi untuk diajak jalan-jalan ke obyek wisata yang menarik di Jogja.


    "Yudi ..., ajak aku ke tempat yang indah untuk kita berdua." begitu pinta Rini pada Yudi.


    "Lah, memang tidak pulang ke Jakarta?" tanya Yudi pada wanita yang sudah memegang lengan tangannya.


    "Tiket pulangku besok siang. Aku masih punya waktu seharian bersama pujaan hatiku." jawab Rini.


    "Oo .... Berarti nanti malam masih tidur di hotel ini?" tanya Yudi.


    "Mestinya begitu. Tapi aku berubah pikiran. Aku chek out sekalian, nanti malam aku pindah hotel." jawab Rini.


    "Terus ..., pindah ke hotel mana?" tanya Yudi ingin tahu.


    "Pindah di kamar hotel yang aku pakai tidur semalam ...." jawab Rini dengan senyum yang menggoda.


    "Ah, kamu itu, Rin ...." sahut Yudi.


    "Boleh, gak?!" tanya Rini sambil merajuk.


    "Kalau aku bilang gak boleh, pasti kamunya ngambek .... Tul kan?!" sahut Yudi yang coba menebak.


    "Hehehe .... Emang begitu." kata Rini yang mengayun-ayunkan lengan tangan Yudi yang digenggamnya.


    "Tapi mobilku jelek, lho, Rin. Tidak seperti mobilmu yang bagus-bagus." kata Yudi berkilah.


    "Gak masalah. Aku gak ngrasain mbilnya, tapi ngrasain nikmatnya bersama yang nyopir mobil." sahut Rini sambil tersenyum manja.


    Yudi pasrah. Tidak bisa menolak kemauan wanita yang dulu pernah menjadi idamannya, dan kemudian juga telah membekukan hatinya. Dan kini, ketika rahasia itu sudah saling dibuka, Yudi maupun Rini, ingin memutar kembali waktu yang sudah berjalan tiga puluh tahun silam, tetapi mengganti dengan kenangan yang manis.


    Mobil Avanza hitam keluar dari gedung parkir Grand Hotel, melaju ke arah timur Kota Jogja, menyusuri jalan raya, dan selanjutnya membelok ke arah tenggara, menuju Gunung Kidul. Mobil itu adalah milik Yudi, yang membawa penumpang istimewa, yaitu Rini.


    Ya,Yudi berencana akan mengajak Rini ke Pantai Indrayanti di Gunung Kidul, sisi selatan timur dari Yogyakarta. Yudi menyetir tidak terlalu cepat, agar Rini bisa menikmati pemandangan di kanan kiri jalan yang mereka lewati. Berkali-kali Rini menanyakan apa yang dilihatnya, berkali-kali pula Yudi menjelaskan yang ditanyakan Rini. Rini sangat senang bisa duduk di samping sopir yang didambakan sejak SMA. Yudi pun mulai membuka hatinya untuk bahagia duduk di sisi wanita yang pernah singgah di hatinya, bahkan nama itu tidak bisa dihapus dalam hidupnya. Rini menyandarkan kepalanya di bahu Yudi, menikmati jalanan yang pasti akan menambah kenangan dalam hidupnya. Yudi menghidupkan musik di audionya. Sebuah tembang lawas dari Utha Likumahua yang berduet dengan Trie Utami, terdengar mengalun.


    "Mana mungkin terjadi .... Mana mungkin terjalin .... Terpadu cinta kita berdua ....


    Mana mungkin kudapat .... Mana mungkin kau dapat .... Diriku dan dirimu menjadi satu ....


    Kau ada yag memiliki .... Aku ada yang memilki .... Walau kita masih saling menyayangi ....


    Kau di sana, aku di sini .... Satu rasa dalam hati .... Namun hanya kau yang kusayangi ....


    Mungkinkah terjadi ...."


    "Kok lagunya kayak gini?" tanya Rini yang risau dengan lagu itu.


    "Yah, memang begitu realitanya .... Kau sudah ada yang memiliki ...." jawab Yudi.


    "Aku gak mau ...." sahut Rini yang mulai sewot.


    "Lah, terus maunya yang seperti apa?" taya Yudi.


    "Aku maunya yang pasti terjadi." sahut Rini sambil memonyongkan bibirnya.


    "Hahaha .... Ya udah, nyanyi sendiri saja." kata Yudi sambil menertawai Rini.


    "Maunya nyanyi bareng ...." Rini merajuk Yudi.


    "Ok ...." sahut Yudi yang tidak mau repot.


    Mereka berdua pun bernyanyi, merubah syair lagu dengan "Mungkin saja terjadi". Di sepanjang perjalanan, Rini dan Yudi layaknya anak muda yang sedang berpacaran. Mereka terlihat sangat bahagia.


    "Nah, ini kita sudah mulai masuk wilayah Gunung Kidul." kata Yudi.


    "Mana, Yud?" tanya Rini yang menegakkan tubuhnya melihat ke depan.


    "Ini. Tandanya jalanan mulai naik. Kan kita ke Gunung, ya tentu jalannya naik. Nah, lihat itu di sisi kanan jalan, ada kafe-kafe yang menjajakan menu plus pemandangan. Orang-orang bisa menikmati makan minum sambil menyaksikan keindahan pemandangan alam jauh di bawah lereng sana. Tuh, ada tulisan Gunung Kidul. Itu tugu selamat datang, ada tamannya yang dibangun indah. Nanti ada tanjakan yang mengasyikkan, tapi harus hati-hati. Tidak hanya menanjak, tetapi juga berkelok-kelok. Namanya tanjakan Irung Petruk, karena menikungnya sangat tajam seperti hidungnya Petruk. Tanjakan ini yang paling bahaya, dulu sering terjadi kecelakaan, maka harus hati-hati. Lihat kanan kirinya, pemandangannya bagus, kan. Inilah Gunung Kidul." jelas Yudi.


    "Wao .... Keren. Hati-hati Yud, jalannya ramai." kata Rini.


    "Iya, sayang ...." sahut Yudi.


    "Iih .... Pakai sayang-sayang segala." timpal Rini sambil mencolek pipi Yudi.


    "Biar kelihatan mesra ...." sahut Yudi.


    "Kita belok ke situ sebentar, Yud." pinta Rini yang ingin menikmati pemandangannya.

__ADS_1


    "Jangan disini. Aku tunjukkan tempat yang istimewa. Sabar sebentar ya, sayang ...." jawab Yudi sambil berlagak mesra.


    "Iiich ...!" Rini gemas. Tangannya mencubit pinggang Yudi.


    Di pertigaan Patuk, Yudi membelokkan mobilnya ke kanan, melintas ke jalan Dlingo. Yudi berhenti memarkirkan mobilnya. Lantas mengajak Rini turun dari mobil.


    "Lihatlah sekelilingmu, Rin." kata Yudi yang menunjukkan keindahan alam Jogja.


    "Wao .... Wao .... Wao .... Amazing .... Luar biasa .... Indah sekali .... Apa nama tempat ini, Yud?" Rini menggeleng-gelengkan kepala, takjub dengan keindahan alam yang dilihatnya.


    "Tempat ini namanya HeHa Sky View. Bagaimana?" kata Yudi.


    "Aku nggak mau pulang, Yud. Aku mau tinggal di sini terus." kata Rini yang memegang lengan Yudi semakin erat.


    "Perutku sudah lapar. Kita makan siang di sini, sambil menikmati indahnya ciptaan Tuhan." kata Yudi.


    "Hooh. Aku juga sudah lapar." sahut Rini.


    Mereka berdua menikmati menu makan siang dengan menyaksikan keindahan pemandangan yang sungguh luar biasa. Menyaksikan keindahan kota dari puncak gunung. Memandang alam yang mempesona. Serta mengagumi arsitek yang membangun obyek tersebut, yang dilengkapi dengan uniknya gedung, indahnya jembatan udara, warna-warni balon udara, serta ornamen-ornamen yang unik. Ya, HeHa Sky View, di situ kita tahu, betapa Maha Kuasanya Sang Pencipta.


    "Rin, mau selfie, nggak?"


    "Mau, dooong ...." sahut Rini yang langsung memajang diri.


    "Kau lihat indahnya pemandangan itu, Rin?" tanya Yudi sambil menikmati hidangan.


    "Iya, betul-betul luar biasa. Indah sekali." jawab Rini yang juga menikmati makannya.


    "Mimpiku membangun Taman Awang-awang juga seperti ini. Menyajikan keindahan alam samudera dan langit untuk menyaksikan ciptaan Tuhan di malam hari. Tapi aku gak mungkin bisa. Aku gak punya modal." kata Yudi yang seakan pasrah.


    "Sabar sayang .... Niat baik pasti terkabulkan." kata Rini sambil mengelus pundak Yudi. Rini tahu, untuk membangun obyek wisata seperti HeHa Sky ini pasti dibutuhkan biaya yang sangat besar. Apalagi mewujudkan mimpi Yudi, yang pasti seleranya lebih tinggi dari sekedar HeHa Sky. Ia ingin membangun Taman Awang-awang, sebuah taman yang seakan berada di atas awan, tentu bukan sembarangan, arsitekturnya pasti lebih menarik. Dan jika Taman Awang-awang itu jadi, pasti akan menjadi destinasi wisata yang paling menawan. "Semoga terwujud." begitu harapan Rini.


    Setelah sejenak menikmati hidangan makanan khas Jogja dan melepas pandangan mata di HeHa Sky View, Yudi mengajak Rini untuk melanjutkan perjalanan. Yudi kembali menyetir mobilnya ke jalan raya.


    "Kita mau ke mana lagi?" tanya Rini.


    "Ke tempat yang lebih indah dan legendaris." jawab Yudi.


    "Aku ngikut saja, Yud. Aku mau kau bawa ke mana saja, silakan. Ajak aku masuk dalam mimpi-mimpimu. Aku pasrahkan diriku kepadamu sepenuhnya." kata Rini yang langsung merebahkan kepalanya di bahu Yudi.


    Dua orang itu terdiam. Membawa angannya sendiri-sendiri. Angan yang berlika-liku, seperti lika-likunya jalan Gunung Kidul yang ia lewati. Banyak tikungan, banyak tanjakan. Tetapi angan itu tentunya sama, yaitu mengangankan hidup bersama yang penuh kemesraan.


    "Ada apa, Yud? Kok berhenti di pinggir hutan?" tanya Rini.


    "Ayo turun." kata Yudi.


    "Aku jangan diperkosa di sini, lho!" kata Rini.


    "Gak .... Aku gak mau memperkosa orang tua." sahut Yudi santai.


    "Trus ..., mau ngapain?" tanya Rini yang sudah ikut turun.


    Yudi menggandeng Rini, menghampiri seorang wanita separoh baya yang duduk menunggui meja kecil berisi stoples-stoples kecil dagangannya. Di meja kecil sederhana itu terpampang MMT kecil bertuliskan "Jual Belalang Goreng Dadakan". Yudi langsung mengambil satu stoples, memberikan toples yang sudah ada isinya kepada Rini.


    "Apa ini, Yud ...?" tanya Rini yang bingung mengamati stoples yang diberikan Yudi.


    "Belalang goreng .... Hehe ...." jawab Yudi.


    "Iih ..., jijik ...!" Rini menolak.


    "Enak .... Cobalah. Hmm, enak kok." kata Yudi sambil memakan hidangan aneh itu.


    Rini mengambil seekor. Ingin mencoba memakan, tetapi belum sanggup untuk memasukkan ke mulutnya.


    "Ach ..., gak, Yud. Perutku langsung mual." kata Rini yang mengembalikan belalang yang sudah dipegang.


    "Hahaha .... " Yudi menertawakan sikap Rini yang mulai ketakutan dengan belalang goreng.


    "Ini makanan khas Gunung Kidul, Rin .... Tidak ada di tempat lain. Turis-turis asing saja kalau ke sini, yang dicari belalang goreng ini. Sensasi makan belalang goreng ini ..., waoo ...." jelas Yudi.


    Setelah melihat belalang goreng, mereka melanjutkan perjalanan, menuju Pantai Indrayanti. Tidak lama, mobil sudah sampai di tepi pantai. Ada seorang pemuda yang melambaikan tangan, mengatur parkir, menunjukkan arah tempat parkir yang kosong. Maklum, di liburan akhir tahun, Pantai Indrayanti selalu ramai. Yudi memarkirkan mobilnya. Lantas mengajak Rini turun, untuk menyaksikan keindahan alam Samudera Hindia. Rini langsung menggandeng lengan Yudi, mengikuti langkah kakinya menuju tepi pantai.


    Yudi langsung menuju tempat duduk yang terbuat dari bilah kayu, yang berada di bawah pohon pinus. Lantas mereka duduk berdua di situ, menikmati indahnya hamparan samudera biru. Yudi melepas sepatunya di taruh di pinggir pantatnya, melingkis celananya hingga bawah lutut, agar tidak basah saat diterpa gelombang yang datang menghampiri. Demikian juga Rini. Ia mengikuti seperti yang dilakukan Yudi. Mereka berdua membiarkan kakinya yang berkali-kali diterpa air gelombang samudera yang membawa butiran-butiran kecil pasir putih. Yudi menyandarkan punggungnya di batang pohon pinus yang tepat berada di belakangnya. Tangan kirinya memeluk pinggang Rini. Sementara Rini merebahkan tubuhnya di dada Yudi. Dua tangannya menggenggam erat jemari tangan kanan Yudi. Tidak mau melepaskan, seperti cintanya yang tidak ingin terlepas lagi.


    "Pantai apa ini namanya, Yud?" tanya Rini, yang tentunya sudah memanja di tubuh Yudi.


    "Pantai Indrayanti. Ini salah satu pantai yang menjadi legenda di Gunung Kidul." jawab Yudi.

__ADS_1


    "O, ya ...? Legenda apa?" tanya Rini


    "Legenda Nyai Roro Kidul, ratu penguasa Laut Selatan." jawab Yudi.


    "Oooo ...." Rini melongo, kagum.


    "Kayak apa Nyai Roro Kidul itu, Yud?" tanya Rini.


    "Cantik .... Seperti yang duduk di sisiku ini." jawab Yudi.


    "Ich ...!" Rini mencubit pinggang Yudi.


    "Lah, kan aku bilang Nyai Roro Kidul itu cantik, cantiknya seperti Rini. Kamu cantik, gak?" Yudi menggoda.


    "Ya iya, lah .... Kalau gak cantik, kenapa ada laki-laki yang tidak mau menikah gara-gara aku?!" Rini membalas.


    "Ach, nggak juga ...." kata Yudi.


    "Ach, yang bener ...?!" sahut Rini.


    Mereka berdua pun saling balas cubit mencubit, sampai akhirnya Yudi terjatuh dari tempat duduk, berguling di pasir putih yang ada di bawahnya. Saat bersamaan, datang ombak bergulung menerpa tubuhnya. Yudi pun basah kuyup.


    "Hahaha ...." Rini menertawakan Yudi.


    Yudi berdiri, menghampiri Rini, kemudian memeluk tubuh Rini.


    "Ach ...! Yudi ...! Kamu nakal!" Rini berteriak, tubuhnya ikut basah karena dipeluk Yudi yang basah kuyup.


    "Sama-sama basah, kan?!" kata Yudi tersenyum memandangi Rini yang ikut basah.


    Lantas mereka berdua yang pakaiannya sudah basah itu, kembali duduk di kursi semula. Posisinya pun sama seperti tadi, kembali saling peluk.


    "Yudi .... Akankah kita bisa seperti ini terus, ya?" tanya Rini sambil mencium jemari Yudi yang ia genggam.


    "Rini, aku mengajakmu kemari, ingin membuktikan cerita masyarakat, yang konon katanya jika kita meminta kepada Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul dari Pantai Indrayanti ini, permintaan kita akan terkabul." kata Yudi.


    "Ih, nggak logis." sahut Rini.


    "Ya itu kan legenda. Jika Rini gak percaya, ya sudah. Gak usah dipikirin." tukas Yudi.


    "Eh, tapi ada baiknya juga kita coba, siapa tahu benar." sahut Rini lagi.


    "Ya, kalau mau dicoba, silakan. Gak ada yang melarang kok." kata Yudi.


    "Trus, ngomongnya gimana?" tanya Rini.


    "Lah, Rini maunya apa? Itu yang kamu sampaikan." jawab Yudi.


    "Aku mau, kita berdua bersama terus untuk selamanya." kata Rini.


    "Ya sudah, bilang saja." Sahut Yudi.


    "Bilangnya bagaimana?" tanya Rini yang semakin manja.


    "Begini, dengerin. Kanjeng Ratu, saya mohon kabulkan pinta saya, agar saya bisa selalu bersama Mas Hamdan selamanya." kata Yudi.


    "Okey .... Kanjeng Ratu, saya mohon kabulkan pinta saya, agar saya bisa selalu bersama terus dengan Mas Yudi selamanya." kata Rini.


    "Eit, kok berubah?" tanya Yudi.


    "Ya, iya lah. Kan mauku berdua sama kamu. Yudi mau, kan " sahut Rini.


    Yudi terdiam. Tidak sanggup menjawab. Takut antara salah dan menyakiti. Maka bagi Yudi dirasa sebaiknya tidak usah menjawab.


    "Kok diam?! Kamu gak cinta ya sama aku?!" gugat Rini.


    "Ya ampun, Rini .... Masih kurang bukti apa lagi yang harus aku beritahukan ke kamu? Rini sudah lihat, kan. Hiasan dinding di kamarku yang terpampang, semuanya lukisan dirimu, sampai tua aku tidak mau menikah juga karena cintaku pada dirimu, bahkan jika kamu belah dadaku, hanya ada namamu yang terukir di sana." kata Yudi yang meyakinkan cintanya kepada Rini.


    "Yayayah, aku percaya. Seratus persen percaya." kata Rini yang menyesal telah menanyai Yudi masalah itu.


    "Kalau tidak percaya, mana jari kelingkingmu, mari kita ikat janji, saling mencinta walau tidak memiliki." pinta Yudi pada Rini.


    "Iya. Aku tidak bisa bilang, bagaimana rupa hatiku. Aku sudah sangat begitu mengagumimu sejak SMA, dan kini ketika ketemu dirimu yang tidak berubah, pribadimu yang aku kagumi, sudah meluluhkan seluruh dinding cintaku. Berjanjilah padaku, Yudi, bahwa kamu mencintaiku untuk selamanya. Aku pun berjanji dalam hatiku, aku akan mencintaimu selamanya." kata Rini.


    "Ombak Laut Selatan yang menjadi saksi, Rini. Semoga cinta kita abadi." sahut Yudi.


    Rini menunjukkan kelingkingnya, lantas mengkait ke kelingking Yudi. Mereka pun mengikat janji di Pantai Indrayanti.

__ADS_1


    Mentari mulai menyembunyikan diri di cakrawala barat, meninggalkan semburat warna jingga di langit barat. Malam pun mulai datang, menyelimuti dua insan yang sedang memadu janji, di Pantai Indrayanti.


__ADS_2