KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 87: SENTUHAN CINTA


__ADS_3

    Yuna mengajak ayahnya untuk ikut ke proyek Taman Awang-awang. Tentu bersama Yudi sebagai orang kesayangannya. Sebagai seorang anak, Yuna tentu ingin mendapat koreksi dari ayahnya, terkait hasil pekerjaan proyek Taman Awang-awang yang sudah diselesaikan. Setidaknya, Yuna ingin mendapatkan saran dari ayahnya untuk memperindah pekerjaannya.


    Siang itu, di puncak bukit, di Taman Awang-awang, tiga orang berjalan mengelilingi proyek pembangunan. Yuna yang menjadi pimpinan proyek, menjelaskan semuanya kepada ayahnya. Yudi yang hanya sedikit paham bahasa Jepang, hanya mengikuti langkah kaki kekasihnya dan calon mertuanya itu. Tidak banyak bicara, hanya saat Yuna tanya, maka ia akan menjawab.


    "Chichioya ..., Kono koen wa dodesu ka?" tanya Yuna pada ayahnya, untuk mengomentari taman yang dibangunnya.


    "Kono niwa wa totemo utsukushīdesu. Watashi wa anata o hokori ni omotte imasu." jawab ayahnya yang bangga dengan taman yang indah itu.


    "Mada fusoku wa arimasu ka?" Yuna menanyakan tentang kekurangan pada taman tersebut.


    "Rabutatchi ...." jawab ayahnya.


    "Rabutatchi?!" tanya Yuna yang bingung dengan jawaban ayahnya, yaitu sentuhan cinta, apa maksud ayahnya.


    "Hehem .... Niwa wa shiawase ni naru bashodesu, Utsukushi-sa o tanoshimu basho, ai o hyogen suru basho ....  Soshite, kono basho ni wa ai ga nakereba narimasen." kata ayahnya yang menjelaskan bahwa taman itu tempat untuk berbahagia, untuk berkasih sayang, untuk mengungkapkan cinta, maka taman harus estetis dan harmonis.


    "Hemm .... Ai .... Chichioya ..., dosureba kono niwa de ai o ataeru koto ga dekimasu ka?" Yuna menanyakan bagaimana cara menuangkan sentuhan cinta di taman.


    "Hehem .... Kare ni tazuneru ...." jawab ayahnya sambil menunjuk Yudi.


    Ya, ayah Yuna meminta agar anaknya menanyakan cara memberikan sentuhan cinta di taman yang dibangunnya itu kepada Yudi.


    "Yudi ..., bagaimana cara memberikan sentuhan cinta pada bangunan Taman Awang-awang kita ini?" tanya Yuna pada Yudi.


    "Yuna, saya tidak paham .... Saya belum tahu. Coba saya renungkan dahulu untuk mencari jawabannya, semoga saya bisa mengisi kekurangan taman kita, saya ingin mencari seperti apa sentuhan cinta yang mesti kita lengkapkan di taman kita ini." jawab Yudi yang tentu belum paham tentang sentuhan cinta itu.


    "Iya, Yudi ..., saya maklum. Tetapi saya juga masih merasakan ada kekurangan di proyek kita ini." sahut Yuna yang tentu juga bingung untuk mencari jawabannya.


    Yuna paham apa yang dikatakan oleh ayahnya itu bertujuan untuk menambah kekuatan dalam taman yang ia bangun. Dan ayahnya sudah memberi masukan, yaitu adanya sentuhan cinta. Hanya yang dipertanyakan sekarang adalah, wujud sentuhan cinta itu seperti apa? Itu yang membingungkan.


    "Yuna, sebaiknya kita lanjutkan dulu perjalanan kita untuk mengelilingi seluruh bangunan, sehingga kita akan menerima masukan-masukan dari ayah, secara keseluruhan. Bagaimana?" kata Yudi pada Yuna.


    "Iya, biar lengkap sekalian seluruh masukannya." sahut Yuna.


    "Ayo ...." ajak Yudi.


    "Chichioya ..., Mawarimashou ...." kata Yuna mengajak ayahnya melanjutkan berkeliling melihat bangunan proyeknya.


    "Hehem .... Mawarimashou ...." sahut ayahnya.


    Mereka bertiga melanjutkan perjalanan, mengelilingi bangunan Taman Awang-awang. Satu persatu tempat, diamati oleh ayahnya. Detail bangunan diperiksa secara cermat. Ya, ayah Yuna dahulu memang ahli bangunan, maka pantas jika kini diminta oleh anaknya untuk memeriksa proyeknya, ia melakukan secara cermat. Itulah kelebihan orang tua. Tentu masukan dan saran maupun kritikan untuk perbaikan, diharapkan bisa menambah indahnya taman yang sedang mereka bangun.


    "Yuna ..., Yudi ..., kono niwa wa totemo utsukushidesu. Kono niwa wa totemo sodaidesu. Subete yoi, hon'nosukoshi no ai ga kakete iru." kata ayahnya yang mengatakan bahwa proyeknya semua sudah bagus, sudah indah, hanya perlu sentuhan cinta saja, sehingga taman itu menjadi lebih asri dan menarik.


    "Arigatogozaimasu ..., Chichioya." kata Yuna yang berterima kasih kepada ayahnya, tentu sambil membungkukkan badannya.


    "Arigatogozaimasu ..., Chichioya." Yudi ikut berterima kasih dan juga membungkukkan badannya, tanda menghormat kepada calon mertuanya.


    Yudi pusing seribu keliling, otaknya belum pernah menerima pelajaran tentang sentuhan cinta. Seperti apa wujud bangunan itu, seperti apa bentuk sentuhan cinta tersebut.


    Ya, memang membangun taman itu mudah. Seperti yang banyak dilakukan oleh para pejabat, yang terkenal dengan sebutan Bugiman dan Wagiman .... Bupati gila taman dan Walikota gila taman, mereka memang senang dan gampang membangun taman-taman kota, tetapi itu hanya sekadar bangunan fisik saja, sekadar taman. Tetapi hakekat taman itu belum tersentuh. Sehingga taman itu hanyalah tempat hampa, tidak memiliki daya pikat. Meskipun bangunan taman, dalam laporannya menghabiskan dana milyaran, tetapi itu hanya proyek penghabisan uang. Setahun kemudian, bahkan baru beberapa bulan, taman itu sudah dipenuhi rumput lalang dan perdu liar serta tumpukan sampah. Yang duduk di taman itu pun paling-paling para gelandangan atau anak-anak punk yang tidak keruan. Hilang sudah makna taman yang sesungguhnya.


    Yudi mulai bisa berfikir. Mungkin seperti itu yang dimaksud oleh ayahnya Yuna. Sebuah bangunan harus mempunyai makna seperti hakekat yang sebenarnya. Taman bukanlah sekadar perwujudan fisik dari tumpukan material, bukan sekadar rimbunnya tanaman yang tumbuh tak terawat, bukan sekadar gemerlapnya lampu-lampu yang menghabiskan listrik. Tetapi taman harus menjadi tempat yang menyenangkan, tempat yang bisa memberikan kemesraan, tempat yang asri, tempat yang bisa memberikan kebahagiaan, dan lebih khusus lagi taman itu bisa memberikan cinta.


    Yudi merasa lega. Sedikitnya ia sudah mendapatkan gambaran tentang bagaimana taman yang memperoleh sentuhan cinta, dan yang tidak memiliki hakekat sebuah tempat untuk bersenang-senang. Setidaknya, Yudi sudah dapat mengurai pelajaran dari calon ayah mertuanya, yaitu mencari makna dari sebuah sentuhan cinta di Taman Awang-awang.

__ADS_1


    Sore hari, setelah pulang dari Taman Awang-awang bersama Yuna dan ayahnya, Yudi bermaksud ingin menemui teman-temannya yang biasa nongkrong di Taman Budaya Yogyakarta. Tentu ia ingin mendiskusikan dengan teman-temannya, masalah makna sentuhan cinta yang membikin pikirannya penasaran. Inginnya berangkat sendiri, namun ternyata Yuna ikut. Akhirnya, Yudi mengajak Yuna nongkrong di Taman Budaya Yogyakarta, berkumpul bersama para seniman Jogja.


    "Yuna, nanti setelah kita makan malam, saya akan pergi ke Taman Budaya, ingin mencari jawaban tentang makna sentuhan cinta yang diminta oleh Chichioya." kata Yudi pada Yuna.


    "Boleh saya ikut?" tanya Yuna.


    "Jika Yuna mau, saya akan senang ada yang menemani diriku." jawab Yudi.


    "Iya, Yudi .... saya ingin sekali berjalan-jalan ke Jogja sama Yudi ...." kata Yuna.


    "Ini bukan jalan-jalan, Sayang .... Saya mau diskusi dengan teman-teman. Belajar itu kan tidak boleh berhenti, kita harus terus mengasah otak. Apalagi kita masih punya PR yang belum terselesaikan, yaitu tambahan sentuhan cinta pada taman kita. Betul begitu, Sayang?" kata Yudi pada Yuna.


    "Iya .... Aku tahu. Tapi boleh kan, saya ikut ketemu teman-teman Yudi?" tanya Yuna.


    "Boleh .... Tapi jangan cemburu lagi, ya ...." kata Yudi.


    "Ih, tidak lah .... Yudi saja yang suka bikin cemburu. Memang teman Yudi pada naksir?" ledek Yuna.


    "Iya, lah .... Kan diriku handsome .... Hehe ...." sahut Yudi menggoda.


    "Ih, sudah tua tidak tahu malu .... Bersyukur dapat diriku ...!" olok Yuna.


    "Iya, Sayang .... Terima kasih, ya ...." kata Yudi.


    Malam itu, Taman Budaya Yogyakarta yang terletak di Ngupasan Gondomanan Yogyakarta, malam itu kebetulan ramai. Penuh sesak dengan muda-mudi yang menyaksikan musik malam dari genre kawula muda. Namun Yudi yakin, jika teman-temannya tidak bakal mengikuti tontonan musik remaja seperti itu. Maka Yudi langsung mengajak Yuna masuk ke bagian dalam, tempat di mana teman-temannya sering nongkrong. Yudi sudah paham betul tempat itu. Sehingga dengan mudah ia menemukan teman-temannya.


    "Yudi ...!!" seorang wanita berteriak dari ruangan kerja, saat melihat kelebat Yudi masuk Taman Budaya.


    "Hai .... Di mana teman-teman kita?" tanya Yudi pada wanita yang berteriak tadi.


    "Siapa ini, Yud?" tanya wanita pegawai di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata itu.


    "Oh, iya .... Kenalkan ini Yuna, calon istriku." kata Yudi mengenalkan Yuna.


    "Calon istri kamu, Yud? Kapan pesta pernikahannya? Aku diundang lho, ya ...." tanya wanita itu. Langsung wanita itu menyalami Yuna, sebagai tanda perkenalan.


    "Pasti. Di mana teman-teman?" Yudi mengulang pertanyaannya.


    "Ada di dalam, di ruang atas. Kebetulan ada Pak Prof. Katanya mau ngobrol bareng." jawab wanita pegawai itu. Pak Prof adalah panggilan akrab dari seorang guru besar seni budaya ISI Yogyakarta, yang sering nongkrong bersama para seniman di Taman Budaya.


    "Ah, pas .... Ini namanya rezeki. Saya langsung naik, ya ...." sahut Yudi yang langsung menuju tempat yang dimaksud.


    Yudi melangkah pasti, Yuna mengikuti. Harapannya untuk mendapatkan jawaban, akan ditemukan di Taman Budaya. Lantas Yudi dan Yuna masuk ke ruang yang ditunjukkan tadi. Ada sekitar tujuh orang yang sedang ngobrol di ruangan itu.


    "Yudi ...?!" Yuna agak kaget melihat teman-teman Yudi. Tentu, karena Yuna menyaksikan orang-orang yang ada di ruangan itu hampir semua berambut gondrong, serta mengenakan pakaian yang terlalu norak. Seakan tidak beraturan. Lebih terlihat seperti pamer pakaian tetapi tidak indah, bahkan agak kotor. Amburadul.


    "Tenang, Yuna .... Mereka semua teman-temanku. Tidak usah khawatir." kata Yudi menenangkan Yuna.


    "Mereka ini teman-teman Yudi?" tanya Yuna.


    "Iya .... Bahkan yang ada di depan itu, yang rambutnya dikuncir, dia itu profesor. Teman-teman memanggilnya Pak Prof. Dia itu lulusan dari Academi Julian di Perancis. Seperti itulah teman-temanku." kata Yudi.


    "Hai, Yudi .... Ayo masuk, kemari ...." seseorang menyuruh Yudi segera masuk.


    Yudi langsung mengajak Yuna masuk. Duduk di kursi yang kosong agak di depan. Tentu ingin mendekat Pak Profesor, karena ada hal yang ingin ditanyakan.

__ADS_1


    "Iya, terima kasih teman-teman, maaf mengganggu." kata Yudi.


    "Aah .... Tidak ada yang diganggu. Ayo, diskusi bareng. Biar lebih meriah." kata teman yang lain.


    "Tumben mampir kemari? Ada angin surga apa ini yang mau disampaikan?" sahut yang lain.


    "Sengaja mencari kalian. Kebetulan ada Pak Prof, sekalian mau tanya. Boleh kan, Pak Prof?" sahut Yudi.


    "Boleh saja .... Memang ada apa?" sahut Pak Prof.


    "Ini, saya kan sedang membangun Taman Awang-awang, namun ada satu hal yang dipesankan oleh orang tua, tentu dia ahli bangunan, meminta agar saya memberikan sentuhan cinta pada taman tersebut. Ini yang saya risaukan. Sentuhan cinta itu apa, wujudnya seperti apa, bentuknya bagaimana .... Terus terang saya bingung." kata Yudi menyampaikan permasalahannya.


    "Ya ampun Yudi ..., hal kayak begitu kok ditanyakan. Wah, kurang gaul kamu, Yud ...!" sahut Pak Prof.


    "Benar, Pak Prof .... Saya sudah mencari ke mana-mana, tidak ketemu." sahut Yudi.


    "Oh, iya .... Maaf, Yudi belum berkeluarga kok, makanya belum tahu yang namanya sentuhan cinta .... Hehe ...." sahut Pak Prof lagi.


    "Jangan mengejek begitu, Pak Prof. Sebentar lagi saya mau menikah, nih ...." sahut Yudi yang tentu sambil menunjuk Yuna.


    "Kapan?!" tanya teman yang lain.


    "Pokoknya kita-kita harus diundang!" sahut yang lain lagi.


    "Pasti .... Jangan khawatir. Nanti setelah saya bisa membangun sentuhan cinta itu." jawab Yudi.


    "Nah, Yudi .... Sentuhan cinta itu hanya bisa dirasakan, dinikmati, dan diceritakan. Wujudnya abstrak. Bentuknya juga abstrak. Tetapi ada. Dampaknya sangat besar. Pengaruhnya bisa mengalahkan segala-galanya." awal penjelasan Pak Prof.


    "Absurt sekali, Pak Prof ...?!" tanya Yudi. Tentu yang lain ikut mendengarkan.


    "Sederhananya begini, Yudi bisa membangun taman. Jika taman kamu itu membuat orang betah, senang, nyaman, tenteram, damai ..., berarti dalam taman yang kamu bangun itu ada sentuhan cinta. Tetapi sebaliknya, jika taman yang kamu bangun itu tidak ada orang yang mau ke sana karena membosankan, menakutkan, menjemukan, itu berarti di taman yang kamu bangun belum ada sentuhan cinta." penggambaran Pak Prof yang lebih konkret.


    "Iya, saya paham Pak Prof. Tetapi apa yang harus saya lakukan agar di taman itu ada sentuhan cinta?" tanya Yudi yang masih penasaran.


    "Saya mau katakan yang agak vulgar, tetapi ini bahasa dewasa, jangan berkonotasi negatif." kata Pak Prof.


    "Iya, Pak Prof. Siap menerima penjelasan." sahut salah satu teman yang ikut menyimak.


    "Seorang istri akan bahagia bila suaminya perkasa. Begitu sebaliknya, seorang suami akan bahagia bila istrinya bisa memuaskan. Itu konsep dasar cinta. Setuju?!" kata Pak Prof.


    "Setuju ...!" sahut yang ada di situ serentak.


    "Saya lanjutkan. Tetapi seorang istri akan lebih berbahagia jika suaminya perkasa dan duitnya banyak. Betul?!" kata Pak Prof.


    "Setuju ...!" sahut mereka bersama.


    "Nah, sama ..., seorang suami akan lebih berbahagia jika istrinya memuaskan, pintar masak, pintar macak, dan pintar yang lain-lainya lagi. Betul?!"


    "Setuju ...!" lagi-lagi sahut mereka serentak.


    "Nah, sebuah rumah tangga yang memiliki sentuhan cinta, bukan sekadar suami perkasa dan istrinya memuaskan, bukan sekadar suaminya punya uang banyak, bukan sekadar istrinya pintar memasak, tetapi semua kebutuhan dalam rumah tangga itu terpenuhi. Itulah keluarga yang sejahtera, yaitu keluarga yang memiliki sentuhan cinta. Seperti itu pula, ketika Yudi membangun sebuah taman, bukan sekadar besar, megah, mewah, tetapi taman yang kamu bangun harus bisa menyejahterakan semua orang yang terlibat dalam keluarga taman kamu, yaitu orang-orang yang ikut terlibat dalam mengelola taman. Sehingga mereka semua senang. Dan yang lebih penting lagi, pembangunanmu itu bisa memberikan dampak dan manfaat bagi setiap orang. Seperti itu Yudi .... Semoga Anda paham." kata Pak Prof menjelaskan arti sentuhan cinta yang harus dibangun di tamannya.


    "Terima kasih, Pak Prof .... Luar biasa penjelasannya. Semoga saya bisa mewujudkannya. Besok saat peresmian, kalian semua saya undang, dan harus hadir." kata Yudi yang senang sudah menemukan jawaban itu.


    Ternyata, yang namanya sentuhan cinta, mudah untuk diucapkan. Namun makna yang terkandung di dalamnya, sungguh sangat luas dan dalam. Bukan sekadar untuk melengkapi tamannya, Yudi barjanji pada Yuna ingin memberikan sentuhan cinta dalam keluarganya kelak. Yuna tersenyum, senyum cinta yang penuh makna. Yudi juga tersenyum, ingin membuktikan sentuhan cintanya untuk Yuna.

__ADS_1


__ADS_2