KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 74: SECRET LOVE


__ADS_3

    Rini masih penasaran dengan sikap Yudi maupun Yuna. Dua orang bujang tua dan gadis tua itu tidak menunjukkan adanya kemesraan hubungan. Benarkah cerita menantunya, yang mengatakan kalau perempuan Jepang yang punya jabatan atau karier tinggi dia tidak mau menikah. Ataukah Yudi yang memang freegid, sehingga tidak punya gairah seksual walaupun didekati oleh wanita cantik.


    Jika mengingat sejarahnya saat SMA, kala itu Rini mendekati Yudi, bahkan saat Rini mencuri-curi untuk mencium Yudi, memang sama sekali Yudi tidak memberikan reaksi membalas cintanya. Yudi hanya saja. Bahkan hari-hari selanjutnya, Yudi juga tidak pernah menunjukkan adanya tanda-tanda membalas cinta kepada Rini. Termasuk saat malam reuni, Yudi yang ditarik ke kamar hotel oleh Rini, ia pun tidak memberikan reaksi cinta selayaknya orang dewasa yang normal. Yudi tidak mau menyentuh Rini. Padahal malam itu di dalam kamar hotel hanya mereka berdua. Kalau pun mau melakukan apa-apa, tidak ada orang yang tahu. Walau semalaman mereka bicara ..., tetapi Yudi tidak mau melakukan apa-apa. Seandainya kala itu Rini berada dalam kamar hotel bersama laki-laki yang normal saja, pasti malam itu mereka sudah melakukan hal yang tidak baik. Demikian juga saat Rini tidur di kamar Yudi. Kalau bukan Rini yang menarik kepala Yudi untuk menciumnya, Yudi pun tidak mau melakukan sentuhan apa-apa. Semuanya Rini, yang bernafsu justru dirinya.


    Rini hanya sanggup merasakan kasih sayang dari Yudi, saat ia pulang dan diantar Yudi ke bandara, saat itulah Yudi mencium kening Rini. Ciuman yang penuh kasih sayang. Kala itu Rini benar-benar terbuai oleh kecupan Yudi. Apalagi saat dirinya terbaring di rumah sakit. Seharian penuh Yudi menunggui Rini di ruang rawat inap, sambil memijit sekujur tubuhnya. Rini benar-benar seperti dimanjakan oleh laki-laki dambaannya itu. Namun kecupan maupun pijatan Yudi hanya sekadar pemberian rasa kasih sayang. Yudi tidak pernah bernafsu untuk memiliki atau menguasai Rini. Tidak pernah bernafsu untuk memperlakukan Rini layaknya melampiaskan rasa cinta yang dipenuhi birahi. Tidak sama sekali. Yudi benar-benar laki-laki yang baik.


    Namun saat bersama Yuna, berbulan-bulan perempuan dan laki-laki lajang itu tinggal dalam satu rumah. Siang dan malam bersama. Bahkan Rini masih ingat, bagaimana cara berpakaian Yuna di depan Yudi yang benar-benar menggoda mata laki-laki. Tetapi waktu itu, Yudi juga tidak terpengaruh. Bahkan Yudi lebih memilih menenangkan dirinya yang cemburu pada perempuan dari Jepang itu.


    Benarkah cinta Yudi sudah mati? Ataukah cinta Yudi memang benar-benar suci hanya untuk Rini?


    Rini kembali mendekati Yudi. Lantas menggandeng tangan Yudi, mengajak berjalan bersama menuju puncak bukit yang sedang dibangun itu. Sementara suaminya, masih berbincang dengan Yuna. Tentu bertukar pengalaman mengenai proyek-proyek yang digarap oleh perusahaan Hamdan maupun desain-desain yang sudah pernah dikerjakan oleh Yuna. Sedangkan Silvy, sudah asyik dengan suaminya menikmati indahnya pemandangan samudera dari puncak bukit. Tentu dengan berbagai gaya selfie yang diambil menggunakan kamera HP.


    "Yudi, kenapa kamu diam saja saat disuguhkan makanan yang nikmat dan lezat di hadapanmu?" tanya Rini pada Yudi yang berada di ujung timur bukit, memisahkan diri dari yang lain.


    "Maksud Rini?" tanya Yudi yang belum paham arah pembicaraannya.


    "Yudi, di rumahmu ada Yuna yang cantik dan masih perawan, apakah dirimu tidak tertarik sama sekali?" tanya Rini yang penasaran.


    "Rini ..., cinta itu unik. Ada yang cantik, malah memilih yang biasa-biasa saja. Ada yang muda, malah memilih yang tua. Ada yang kaya, malah memilih yang miskin. Bahkan ada juga ditawari orang yang baik-baik, dia justru memilih yang berandalan. Itulah cinta ...." balas Yudi yang santai menanggapi pertanyaan Rini.


    "Maksud Yudi, kamu tidak tertarik dengan yang cantik-cantik ..., seperti itu?" tanya Rini minta penegasan.


    "Bukan seperti itu, Rini. Jangan pernah memaksakan cinta. Karena cinta itu mengalir dengan sendirinya, datang dari kebiasaan-kebiasaan, lantas muncul secara tiba-tiba setelah mereka lama memahami daya tarik yang ada pada orang yang dicintai. Jadi tidak bisa dipaksakan dalam sesaat." jawab Yudi.


    "Jadi butuh waktu lama untuk menerima cinta?" tanya Rini lagi.


    "Sekarang saya balikkan kepada Rini .... Ingatkah masa-masa kita SMA dahulu, apakah saat pertama kita bertemu, Rini langsung berhasrat untuk mencintai diriku?" tanya Yudi mengingatkan Rini di masa SMA.


    "Tidak, Yudi. Bahkan saya kala itu tidak pernah memikirkan dirimu. Tapi entah ada apa, saya tiba-tiba tertarik pada dirimu." jawab Rini.


    "Itu karena kebiasaan. Benar seperti yang dikatakan dalam pepatah Jawa "witing tresno jalaran soko kulino", cinta itu datang karena kebiasaan, karena sering bersama. Rini sering mengajak saya mengerjakan PR, sering mengajak saya pergi bersama, sering memberi suguhan minuman kepada saya, sering dekat dengan saya, bahkan sering menyentuh tangan saya saat membuat tugas-tugas. Itulah kebiasaan-kebiasaan yang menyebabkan munculnya rasa lain, datangnya rasa yang berbeda. Bukan sekedar teman, melainkan sudah memunculkan perasaan yang lebih dalam. Tidak hanya simpati, tetapi melebihi rasa empati. Ia akan merasakan kasihan, ingin berusaha membantu jika ada kesulitan, bahkan mulai muncul rasa kasih sayang. Itulah awal dari datangnya cinta.Bukankah seperti itu yang dialami Rini saat bersama saya?" ungkap Yudi yang mengingatkan Rini.

__ADS_1


    "Benar Yudi .... Kala itu memang diriku benar-benar mendambakan dirimu. Aku merasa sangat kagum dengan sikapmu. Aku sangat bangga dengan kepandaianmu. Bahkan aku terpesona dengan diammu yang menunjukkan ketidak-sombongan dirimu. Maka itulah aku berani mencium dirimu. Karena cinta, Yudi ...." ucap Rini.


    "Yah, aku tahu itu. Hanya sayangnya, Rini tidak bisa membaca pikiranku saat itu. Seandainya dirimu bisa membaca pikiranku, hatiku sudah menorehkan kata cinta untuk seorang gadis bernama Rini." jawab Yudi.


    "Iya, Yudi .... Diriku terlalu bodoh untuk memahami perasaan seseorang yang bernama Yudi. Kamu terlalu pendiam dan tidak pernah menunjukkan perubahan sikap. Dan sampai hari ini, saya merasa sulit untuk bisa menebak isi hatimu. Kamu terlalu merahasiakan perasaan cintamu, Yudi ...." kata Rini yang memegang erat tangan Yudi.


    "Rini ..., lihatlah pemandangan yang ada di lembah itu." kata Yudi yang menunjukkan lembah hijau di bawah bukit kepada Rini.


    "Iya, Yudi .... Indah sekali. Hijau lebat, enak dipandang mata." sahut Rini.


    "Dari puncak bukit ini, kita hanya sanggup menyaksikan rimbunnya daun-daun pepohonan yang menutupi lembah itu, Hijau dan segar. Tetapi kita tidak tahu, apa sebenarnya yang ada di bawah rerimbunan pepohonan itu. Karena semua tertutup oleh hijaunya dedaunan. Bahkan carang dan ranting dahan pun kita tidak sanggup melihatnya. Seperti itulah cinta yang ada dalam diri manusia. Hanya terlihat bagian atasnya, tetapi sulit untuk memahami bagian dalamnya. Karena cinta yang sesungguhnya bukanlah kata-kata, bukanlah janji-janji, melainkan perbuatan kasih sayang dan rasa tanggung jawab. Bukan pelampiasan nafsu, melainkan rasa syukur sudah memiliki." jelas Yudi pada Rini.


    "Seperti itu ya, Yud ,,,?! Diriku tidak pernah memikirkan hal itu. Aku hanya bisa menuntut dan memaksa. Semoga saya bisa lebih memahami makna cinta ya, Yud." balas Rini.


    "Iya, Rin .... Kita perlu lebih bijak dalam memahami arti kata cinta." sahut Yudi.


    "Tetapi bagaimana hubungan antara dirimu dengan Yuna?" tanya Rini kembali.


    "Ya, tentu." jawab Rini.


    "Apakah dalam hatiku masih diijinkan terpahat kata-kata cinta seorang wanita yang bernama Rini?" tanya Yudi yang membuat hati Rini jadi bingung.


    "Aku harus menjawab bagaimana, Yudi?" tentu Rini kesulitan untuk menjawab.


    "Rini ..., seandainya suatu saat ada wanita yang hadir dalam hidupku, menawarkan cinta yang aku pesan, apakah mungkin ada dua nama dalam hatiku?" tanya Yudi yang mendesak Rini.


    "Kenapa tidak mungkin, Yudi? Lihatlah diriku. Lihat Mas Hamdan itu. Sekarang aku justru membiarkan Mas Hamdan berbincang dengan orang lain, sementara diriku malah membahas cinta bersamamu. Ini karena aku sayang kamu, Yudi." jawab Rini sambil memperlihatkan suaminya yang asyik mengobrol dengan Yuna.


    "Apakah Mas Hamdan tahu, jika Rini pernah mencintaiku? Apakah Mas Hamdan tahu jika diriku sampai saat ini masih mencintai istrinya?" tanya Yudi lagi.


    "Tentu tidak, Yudi. Cinta kita adalah rahasia kita. Aku tidak mau keluargaku hancur gara-gara semua ini. Itulah sebabnya, aku ingin Yudi menikah dengan Yuna, agar cintamu tidak terfokus pada diriku. Aku yakin, jika Yudi mau menikah dengan Yuna, pasti pandangan dirimu tentang cinta kita akan berubah. Seperti diriku yang sudah punya Mas Hamdan." Jawab Rini.

__ADS_1


    "Mungkin mudah bagi Rini untuk mengatakan itu. Tetapi bagi saya, itu sangat sulit Rini." sahut Yudi.


    "Cobalah Yudi .... Permasalahannya saat ini, kamu belum mencoba." kata Rini.


    "Apa aku bisa, Rini ...?" pertanyaan tersulit bagi Yudi.


    "Pasti bisa. Jangan takut. Jangan patah semangat. Gapailah cintamu bersama Yuna." jawab Rini.


    "Tapi aku takut, Rini ...?!" sahut Yudi.


    "Jangan khawatir, kami akan membantumu, Yudi." jawab Rini tegas.


    "Rini .... Walau bagaimana jua, apapun nanti yang yang terjadi. Seandainya Yuna sanggup membawa cinta untuk ditawarkan pada diriku, walau kami bisa memadukan cinta, ijinkanlah diriku tetap menaruh secuil cinta dalam hatimu." kata Yudi yang tetap penuh harap kepada Rini.


    "Jangankan secuil cinta, saat ini pun, sebesar apapun bongkahan cintamu tetap aku taruh dalam lubuk hatiku, Yudi." jawab Rini yang berterus terang.


    "Aku mohon Rini bisa merahasiakan cintaku padamu. Kepada siapa saja. Termasuk kepada Silvy, anakmu itu." pinta Yudi pada Rini.


    "Iya, Yudi. Jangan khawatir, aku akan merahasiakan cinta kita sampai akhir menutup mata. Aku mohon Yudi juga demikian. Cinta kita ini adalah cinta rahasia." jawab Rini, sambil mengacungkan jari kelingking kanannya kepada Yudi, tanda mengajak berjanji.


    Yudi menerima. Jari kelingking miliknya diangkat dan diacungkan ke Rini. Mereka saling berjanji untuk merahasiakan cintanya.


    Sedang asyik-asyiknya membahas cinta, tiba-tiba Silvy datang mengejutkan ....


    "Hayoo ..., Mamah Rini sama Papah Yudi ngapain berdua-duaan di sini ...?!" Silvy langsung mengajukan pertanyaan menyelidik.


    "Lihat pemandangan, ya .... Sini, lihat itu! Lembah nan menghijau luas bagai hamparan permadani." sahut Rini yang langsung merangkul anak perempuannya sambil menunjukkan pemandangan yang indah.


    "Wao .... Indah sekali ...." kata Silvy yang terkagum dengan pemandangan indah tersebut.


    Silvy hanya melihat bagian atas hamparan dedaunan yang rimbun. Tentu tidak tahu seperti apa isi yang ada di dalamnya. Demikian juga saat menyaksikan kebersamaan mamahnya dengan Yudi, Silvy tidak tahu rahasia-rahasia yang sudah mereka sembunyikan bersama.

__ADS_1


    Rahasia cinta.


__ADS_2