
Rini dalam kesunyian. Hari-hari sepi tanpa ada yang menemani. Suaminya sudah tidak pernah menelepon lagi. Sedangkan kalau Rini menelepon, suaminya juga tidak pernah mengangkat panggilan istrinya. Tentu Rini kecewa dengan sikap suaminya itu. Ia ingin tahu, kenapa suaminya memperlakukan dirinya seperti ini? Padahal Rini sudah menuruti kata-kata suaminya. Masih kurang apa?
Apa hanya gara-gara menjenguk Yudi yang sakit itu dijadikan masalah yang tidak termaafkan. Padahal Rini menjenguk Yudi karena merasa sebagai sahabat dekat yang harus diasihani saat mengalami musibah, dengan luka yang parah. Masih beruntung Yudi selamat.
Apa salahnya bersimpatik atau sekadar memberi rasa empati kepada sahabat?
Rini tidak habis pikir, kenapa suaminya bisa berubah drastis seperti itu? Apa ada guna-guna yang dilakukan oleh wanita pelakor itu? Guna-guna macam apa? Kenapa juga wanita itu menggaet Hamdan? Bukankah Hamdan sudah tua, sudah tidak punya tenaga, sudah ngos-ngosan kalau gituan, dan juga tidak tahan lama? Kan masih banyak laki-laki muda yang perkasa dan bisa memuaskan.
Tapi bisa jadi pelakor ini hanya mengharap dapat uangnya saja. Zaman gini sudah umum wanita matre mencari sasaran laki-laki tua yang duitnya banyak. Pantas saja pelakor ini menempel terus sama Hamdan, dia tahu kalau suami Rini uangnya banyak, dan pasti bisa dibujuk rayu.
Rini terus melamun. Pikirannya tidak karuan. Takut kalau suaminya kena bujuk rayu pelakor. Ia takut keluarganya yang sudah dibangun selama tiga puluh tahun akan hancur begitu saja. Apalagi kini Rini maupun Hamdan sudah tidak muda lagi, sudah tua, sudah akan menjadi nenek dan kakek. Bahkan suaminya sebentar lagi akan pensiun. Di masa tua ini mestinya mereka lebih rajin beribadah, lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, lebih banyak beramal, mencari pahala untuk bekal di akhirat. Tetapi di akhir-akhir masa kerjanya, Hamdan kok malah aneh-aneh. Benarkah itu semua?
Silvy merasa kasihan pada ibunya. Tentu jika apa yang diceritakan mamahnya itu benar, alamat keluarga orang tuanya akan berantakan. Imbasnya pasti juga akan menimpa dirinya dan suaminya. Tentu Silvy juga sedih memikirkan hal ini. Maka setiap pulang kerja, Silvy selalu mampir ke rumah ibunya. Bahkan beberapa kali suaminya diajak tidur di rumah orang tuanya. Alasannya, untuk menemani ibunya yang sendirian.
Tentu Yayan, suami Silvy tidak keberatan. Toh rumah mertuanya yang sangat besar itu tidak pernah menolak anak-anaknya untuk tidur di situ. Bahkan dulu sebelum Yayan dan Silvy pindah rumah setelah menikah, pernah dilarang oleh orang tuanya untuk beli perumahan, disuruh menetap di rumah itu saja. Maksud orang tuanya agar tidak usah mengeluarkan uang untuk biaya mengisi rumah. Tetapi Yayan yang idealis, tetap ingin punya rumah sendiri, agar tidak diejek oleh teman-temannya, jika ia tinggal di Pondok Mertua Indah, yaitu rumah mertuanya.
Meski Yayan dan Silvy sudah beli rumah sendiri, tetapi orang tuanya tetap berpesan agar sering datang menengok bapak ibu. Setidaknya bisa ikut meramaikan makan malam bersama. Itu sebabnya, bagi Yayan dan Silvy, mampir maupun menginap di rumah orang tuanya adalah hal yang biasa. Bahkan pakaian Silvy maupun Yayan, masih banyak yang ditinggal di lemari kamarnya yang ada di rumah orang tuanya. Demikian juga Mak Mun, yang momong Silvy sejak bayi, sudah hafal dengan makanan kesukaannya. Tentu kalau Silvy pulang ke rumah orang tuanya, tanpa diminta, Mak Mun langsung membuatkan telor ceplok mata sapi kegemaran Silvy.
Dan kini, di saat-saat ibunya sedang bersedih, ketika ibunya sedang mengalami persoalan yang sangat berat, Silvy seakan tidak rela melihat ibunya menderita. Ia pun sering menjenguk ibunya, bahkan sering tidur di rumah masa kecilnya itu. Setiap pulang kerja, menyempatkan diri untuk menemani ibunya, sekalian menunggu suaminya.
"Mamah ...! Mamah ...!" teriak Silvy saat masuk ke rumah ibunya.
"Iih ..., anak ini .... Ngapain sih, pakai teriak-teriak segala ...?!" kata ibunya yang menemuinya.
"Eh, Mah ..., Silvy punya kabar baru .... Mamah harus tahu ...." kata Silvy yang tergesa ingin cerita.
"Kabar apaan, sih ...? Sana cuci kaki, cuci tangan dulu, salin baju, baru cerita." kata Rini yang meminta anaknya agar membersihkan dirinya lebih dahulu.
"Iya, Mah ...." Silvy langsung berlari ke kamar. Tentu mau mandi sekalian ganti baju. Kebiasaan yang selalu ditanamkan oleh ibunya.
Rini menunggu anaknya di meja makan. Tentu ada beberapa makanan kudapan yang bisa dinikmati. Nanti akan dimakan bersama anaknya.
__ADS_1
"Maaf, Ibu .... Mau dibuatkan minum teh lemon? Biar segar .... Hehe ...." Mak Mun menawari minum kepada Rini.
"Mau, Mak Mun .... Saya teh lemon hangat, kalau Silvy mau pakai es apa nggak, nanti tanyai sendiri kalau sudah selesai mandi." jawab Rini.
"Siap, Ibu ...." sahut Mak Mun yang langsung ke dapur untuk membuat lemon tea.
Karena tergesa ingin segera memberi tahu ibunya, tentang berita yang menurutnya sangat penting, maka Silvy mandi kilat. Sebentar saja sudah selesai, dan sudah berganti daster. Lantas anak dan ibu itu duduk mengobrol di ruang makan.
"Ini teh lemonnya, Ibu ..., Neng Silvy ...." kata Mak Mun yang menyuguhkan lemon tea.
"Terima kasih, Mak Mun ...." kata Rini, yang tentu langsung menyeruput lemon tea hangat tersebut.
"Neng Silvy mau pakai es apa tidak?" tanya Mak Mun pada Silvy.
"Sudah, ini saja Mak Mun ..., nanti kalau pengin dingin aku ambil es sendiri. Makasih, Mak Mun ...." sahut Silvy, yang tentu ingin Mak Mun segera pergi, karena ia ingin menunjukkan sesuatu pada ibunya.
"Ayo tehnya diminum dahulu .... Ini kue samarinda ..., yang bikin Mamah sendiri lho, ayo dicoba ...." kata Rini yang memberikan kudapan kepada anaknya.
"Iya, lah ..., daripada melamun terus, mikirin pelakor yang kurang ajar itu, lebih baik cari kesibukan sama Mak Mun .... Hehe ...." sahut ibunya.
"Eh, Mah ..., ada berita penting." kata Silvy yang langsung menempel ibunya, sambil membuka HP.
"Berita penting apa, sih ...? Kok kayak nemu uang semilyar ...." kata ibunya penasaran.
Silvy membuka HP, lantas membuka menu instagram. Lantas mencari apa yang akan ditunjukkan pada ibunya. Dan, ketemu.
"Lihat, Mah ...!" kata Silvy sambil menunjukkan gambar di instagram.
"Hahk ...?!" Rini kaget. Jantungnya hampir saja copot. Beruntung Silvy langsung memeluk ibunya sambil menutup mulut ibunya yang akan menjerit.
Rini sadar, maka ia juga langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Lantas berdiri, merangkul Silvy, menyeretnya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Kamu dapat foto itu dari mana?!" tanya ibunya setelah berada di dalam kamar dan menutup pintunya. Tentu agar tidak ada yang tahu.
"Saya cari instagram wanita pelakor itu, Mah .... Pikir saya kalau memang cerita Mamah benar, pasti pelakor itu berswafoto sama Papah, dan fotonya pasti dipamerkan ke teman-temannya. Dan benar, kan ...." jawab Silvy.
"Kok bisa ...?!" Rini penasaran.
"Tadi pagi saya telepon Mas Jo, tanya ke dia, Papah pergi ke Jerman ngajak siapa .... Mas Jo ngasih tahu, karyawan yang ngeyel mau ikut itu Lina. Lantas aku cari nama itu di IG, dan ketemu .... Ini Mah, foto-foto yang di-upload oleh wanita yang bernama Lina itu." jawab Silvy.
"Anak cerdas ...." puji Rini pada anaknya.
"Lihat, Mah .... Kayak gini ini lho, Mah .... Masak pelakor itu narsis peluk-pelukan sama Papah, malah gak cuman pelukan lho, Mah .... Ini ada yang kayak gini, foto memalukan kok di-upload di instagram .... Ini gila, Mah ..., perempuan ini sudah gila ...." kata Silvy yang mulai emosi.
"Gila bagaimana?" tanya Rini yang belum paham maksudnya.
"Ya gila lah, Mah .... Masak foto-foto in secret kok di-upload. Kalau disimpan sendiri masih mending, lhah ini, di-upload di medsos, semua orang bisa lihat, Mah .... Fotonya tidak cuman satu lhoh, Mah .... Foto segini banyak, Mah .... Semua foto mesra, foto gila .... Ini kan menjatuhkan kredibilitas nama Papah! Ini pasti di kantornya Papah sudah jadi bahan perbincangan. Papah itu keterlaluan!" kata Silvy yang marah-marah.
"Kurang ajar betul pelakor itu ...! Berarti ia memang sengaja mau merusak keluarga kita!" Rini memendam amarah. Ingin rasanya memukul perempuan itu maupun suaminya.
"Iya, Mah .... Nanti kalau Papah pulang, kita bisa menyidang Papah. Mau Papah apa sih ...!" kata Silvy yang sudah mengancam ayahnya sendiri.
"Foto-foto ini bisa kita simpan nggak? Sebagai bukti, biar Papah kamu nggak bisa ngelak lagi. Ini namanya skakmat." kata Rini yang ingin menyimpan sebagai bukti.
"Iya, Mah ..., betul. Kita harus punya bukti. Ini jebakan untuk Papah ...." sahut Silvy.
"Bisa di download?" tanya Rini pada anaknya.
"Gak usah download, Mah .... kita screenshot saja. Sehingga kelihatan inisial IG yang meng-upload, biar Papah gak bisa berkutik." jawab anaknya.
"Ya ..., ya ..., ya .... Cepetan di screenshot, nanti keburu dihapus." kata ibunya yang menyuruh Silvy.
Silvy yang didampingi ibunya segera melakukan screenshot, foto-foto yang ada dalam IG wanita yang sudah berani menginjak-injak kehormatan rumah tangga keluarga Hamdan tersebut. Lantas Silvy menyimpan foto tersebut dalam folder yang diberi judul "Pelakor". Demikian juga Rini, yang sudah dikirimi foto-foto itu, lantas disimpan secara rahasia.
__ADS_1
Inilah bukti, yang besok akan digunakan sebagai alat untuk memarahi suaminya. Dan bukti itu, nyata adanya.