
Kasus penusukan Hamdan sudah mengarah pada satu tersangka. Setelah menerima keterangan dari Mak Mun dan Mang Udel, yang diperjelas dengan foto-foto yang diberikan oleh Rini, serta berbagai media sosial yang disampaikan oleh Silvy. Ya, wanita pelakor itu sudah mengusik ketenteraman rumah tangga Hamdan dan Rini.
Wanita memang selalu menjadi korban. Apakah pelakor itu kesalahan wanita? Kenapa wanitanya yang dikatakan pelakor? Kenapa bukan pria yang disebut sebagai 'lapenta', laki-laki penggoda wanita? Ya, dalam kasus ini seakan ada kesan bahwa laki-laki itu pasif, diam saja, lalu digoda oleh si wanita, selanjutnya direbut dari istrinya. Sedangkan wanita yang menjadi pelakor, yang merebutnya adalah perempuan hiper dan agresif, lantas mencuri suami orang.
Mestintya, hubungan antara wanita "pelakor" dan laki-laki pasangannya merupakan hubungan perselingkuhan dari wanita dan laki-laki yang sama-sama aktif dan sama-sama memiliki peran yang sama. Tentu dilandasi rasa saling butuh dan saling suka. Perselingkuhan itu sama sekali tidak ada unsur pemaksaan dalam berhubungan. Perselingkuhan berlangsung secara dua arah. Dua-duanya saling butuh, saling minta dan saling memberi. Butuh cinta yang masih kurang dalam kehidupannya, meminta cinta kepada pasangannya, dan memberi apa yang diharapkan oleh selingkuhannya. Tentu semua dilakukan dengan niatannya sendiri-sendiri.
Namun pada kenyataannya, dalam kasus pelakor, selalu pihak wanita yang dituduh sebagai perusak rumah tangga dan perebut suami orang. Perempuan ditempatkan dalam posisi yang salah dan harus bertanggung jawab atas hancurnya perkawinan si laki-laki. Wanita yang ditetapkan sebagai pelakor itu yang dianggap paling berperan dalam hancurnya rumah tangga laki-laki pasangannya. Sedangkan pihak laki-laki yang sudah ikut menikmati perselingkuhan, dianggap tidak bersalah, dinyatakan tidak berdosa, tidak memiliki tanggung jawab apa pun.
Pembedaan penyandang kesalahan antara laki-laki dan perempuan pada masalah perselingkuhan ini, tidak saja penyebutan label wanita pelakor, tetapi nantinya juga terjadi pada pemberian hukuman di pengadilan. Apalagi posisi Hamdan yang saat ini menjadi korban, tentu Lina yang menjadi tersangka sudah melakukan penusukan.
Tidak berganti hari, tidak butuh waktu lama, dan tidak butuh banyak orang, pihak Kepolisian dengan mudah menangkap Lina, wanita yang disebut-sebut sebagai pelakor tersebut. Dan kini, wanita itu sudah tidur nyenyak di hotel pordeo.
*******
Sudah tiga hari Hamdan tergeletak di ruang ICU, belum sadar. Dengan setia, Rini menunggu suaminya di ruang jaga pasien. Tentu dengan wajah yang kusut dan lelah. Rini benar-benar sangat kelelahan. Sejak berangkat ke rumah Yudi untuk mengikuti pesta pernikahan, seharian pada malam midodaren, Rini sudah tidak tidur. Ia bersama anak-anaknya, dan juga ada teman-temannya, menyaksikan setiap acara di pesta pernikahan Yudi. Rini hanya bisa tidur di mobil, saat perjalanan pulang dari Jogja hingga Jakarta. Itu saja masih terganggu, karena berkali-kali ditelepon oleh Mak Mun.
Dan kini, meski jengkel dengan suaminya, meski benci dengan kelakuan suaminya, namun saat Hamdan terkapar tidak sadar di ruang ICU, tentu Rini tidak tega untuk meninggalkan sejenak saja, walau hanya sekadar memejamkan mata.
Mak Mun ikut bersedih. Ia merasa bersalah, karena saat perempuan itu datang, Mak Mun tahu, tetapi tidak mengingatkan Hamdan. Tidak melarang kedatangan wanita yang bukan apa-apanya itu. Bahkan Mak Mun sudah membiarkan wanita itu berdua bermesraan di kamar majikannya bersama Hamdan. Tentu Mak Mun sangat menyesal dengan semua peristiwa yang telah terjadi itu.
"Ibu ..., saya mohon maaf, ya Ibu ...." kata Mak Mun yang sudah menempel di tubuh Rini. Mak Mun yang setia menemani majikan perempuannya, tentu tidak tega melihat Rini yang sudah sangat kecapaian di rumah sakit. Tentu Mak Mun datang saat jam besuk, untuk mengantar makan dan pakaian ganti buat Rini.
"Tidak apa-apa, Mak Mun .... Kamu tidak salah .... Toh pelakornya sudah ditangkap." kata Rini menenangkan hati Mak Mun.
"Iya, Ibu .... Tapi saya takut ...." kata Mak Mun lagi, yang jelas terlihat ketakutan.
"Tidak usah khawatir .... Kalau kita benar, kalau kita tidak melakukan kesalahan, jangan takut Mak Mun ...." kata Rini yang masih ingin membuat Mak Mun tidak ketakutan.
"Takut ditangkep pulisi ...." kata Mak Mun lagi, yang tentu masih trauma kemarin waktu dibentak-bentak oleh polisi.
__ADS_1
Bagi orang seperti Mak Mun atau Mang Udel, tentu bentakan, ancaman, bahkan ditakut-takuti akan dimasukkan penjara, oleh polisi, merupakan kata-kata yang sangat menakutkan. Seumur hidup jangan sampai ketema-ketemu, dengan yang namanya dipenjara. Bukan sekadar menakutkan, tetapi juga memalukan bagi anak keturunan.
"Iya, namanya juga polisi .... Tugasnya mencari kebenaran. Karena Mak Mun yang waktu itu tahu, yang ada di rumah, makanya Mak Mun yang ditanyai. Bahkan ndak cuman Mak Mun ..., Mang Udel juga, lhoh ...." kata Rini sambil mengelus bahu pembantunya itu.
Tentu Rini sangat berterima ksaih, karena setiap hari Mak Mun sudah menemani berjaga di rumah sakit. Setidaknya ada orang yang bisa diajak bercerita. Apalagi Mak Mun terkadang juga memijit-mijit tubuh Rini. Tentu walau hanya sekadar pijatan sekenanya, tetapi bisa mengendurkan otot-otot yang kaku karena capai. Syukurlah, Rini punya pembantu yang baik. Setidaknya bisa meringankan beban moralnya.
"Saya mohon maaf juga, Ibu .... Waktu itu terus terang saya tidak berani. Saya dibentak Pak Hamdan, disuruh masuk kamar dan mengunci pintu. Bapak galak, Bu ...." lapor Mak Mun pada Rini.
"Yah ..., namanya juga baru kerasukan setan, Mak Mun .... Apa-apa jadi gelap mata, lupa daratan, lupa aturan .... Itulah jadinya. Sekarang, Bapak sendiri yang jadi korbannya. Coba kalau misalnya kemarin hari itu mau saya ajak ke Jogja ..., nggak bakal terjadi seperti ini. Orang diajak kondangan aja malah marah-marah, malah cemburu, malah nuduh istrinya yang nggak keru-keruan .... Anaknya dimarahi, istrinya dimarahi .... Ternyata ...." kesah Rini yang ingat kala mau berangkat ke Jogja, dimarahi habis-habisan oleh suaminya.
"Iya, ya ..., Bu .... Saya juga dengar waktu itu .... Sampai-sampai, saya itu merasa kasihan pada Ibu ...." kata Mak Mun.
"Iya ya, Mak Mun .... Saya kok gak abis pikir .... Sebenarnya ada apa dengan Bapak .... Padahal seingat saya, selama kami menikah, tiga puluh tahun, Mas Hamdan itu gak pernah marah pada saya. Bahkan gak pernah berkata kasar sedikitpun. Adanya mesra, dan penuh kasih sayang .... Tapi kenapa kok tiba-tiba berubah, justru di masa tuanya. Di masa Bapak mau pensiun .... Heran saya, Mak Mun ...." keluh Rini yang sudah deleweran air mata.
"Iya, Ibu .... Saya ingat semua .... Saya sudah ikut Ibu dan Bapak lebih dari dua puluh lima tahun, saat Neng Silvy bayi .... Selama ini saya belum pernah melihat Pak Hamdan marah, bahkan berkata kasar saja tidak pernah. Pak Hamdan itu orang baik .... Dengan saya saja sangat baik, Ibu .... Baru kemarin itu, saya dibentak Bapak .... Sakit, Bu ..., rasanya .... Saya juga heran, kok Bapak bisa seperti ini ...." Mak Mun juga berkesah.
"Maafkan Bapak ya, Mak Mun .... Mungkin waktu itu Bapak sedang kerasukan setan ...." kata Rini pada Mak Mun, tentu dengan wajah memelas.
"Kenapa Mak Mun menuduh seperti itu ...?!" tanya Rini.
"Iya, Bu .... Polah tingkahnya, persis kayak setan. Mulutnya juga kayak setan .... Ngeri, Bu ..., saya melihat takut ...." sahut Mak Mun.
"Iih ..., ngeri bagaimana ...?" tanya Rini pada Mak Mun yang kelihatan seperti orang ketakutan.
"Pokoknya ngeri, Buk .... Seperti perempuan nakal yang di kompleks itu, lho ...." jelas Mak Mun.
"Masak, sih ...?! Bukannya cantik ...?" tanya Rini yang tentu pura-pura menanyakan penilaian Mak Mun.
"Iya, Ibu .... Saya takut." jawab ak Mun.
__ADS_1
"Kenapa takut ...? Kan Mak Mun di dalam kamar ...." tanya Rini lagi.
"Waktu ia datang, Bu .... Masuk bergandengan dengan Bapak ..., malah pakai gitu-gitu itu .... Begitu tahu ada saya, wanita itu langsung menunjuk saya, matanya membelalak lebar melihat saya, seakan menyala merah, melotot, sambil mengancam saya ...." kisah Mak Mun.
"Masak seperti itu?" Rini tidak percaya.
"Betul, Ibu .... Malah Bapak terus membentak saya ..., yang wanita itu memelototi saya. Ngeri, Bu ...." kisah Mak Mun.
"Terus ...?" tanya Rini yang ingin tahu kelanjutannya.
"Ya ..., saya masuk kamar, terus saya kunci pintunya. Terus saya tidur." kata Mak Mun yang lepas penatnya.
"Apa Mak Mun tidak dengar ada ribut-ribut, sebelum kejadian itu?" tanya Rini yang ingin tahu asal mula keributan.
"Tahu, Ibu .... Keributan itu sudah terjadi minggu pagi. Bahkan Mang Udel sudah ada di kebun. Waktu itu malah saya kira Mang Udel yang ribut. Setelah saya keluar, ternyata keributan itu berasal dari kamarnya Bapak, yang ribut Bapak dengan wanita itu." Kata Mak Mun.
"Mak Mun tahu, apa yang diributkan?" tanya Rini yang tentu penasaran.
"Kurang jelas, Ibu .... Tapi kelihatannya yang perempuan itu minta dinikah, Bu .... Katanya hamil. Tapi saya tidak tahu selanjutnya, karena saya takut menguping, takut kalau ketahuan bisa dimarahi Bapak. Terus saya ke dapur, Bu .... Dan tahu-tahu, Bapak sudah berteriak kesakitan. Waktu saya ke luar dari dapur, wanita itu sudah berlari ke luar rumah. Saya tidak ngurusi wanita nakal yang lari itu, orang wanita itu pakaiannya juga belum betul. Saya berlari ke kamar, menengok Bapak yang berteriak kesakitan. Begitu tahu Bapak memegangi perutnya yang bersimbah darah, saya ganti yang berteriak dan berlari mengundang Mang Udel. Oleh Mang Udel, saya tidak boleh pegang, tidak boleh masuk dahulu, tapi lapor ke polisi. Mang Udel telepon polisi. Sebentar saja polisi sudah datang, dan Bapak langsung diangkut ke rumah sakit. Kami tidak boleh ikut, Bu ..., ditahan oleh polisi dan ditanya-tanyai. Ya tentu kami ketakutan. Makanya saya langsung bilang, ada wanita kurang ajar yang sudah mau membunuh Bapak. Begitu, Bu ...." cerita Mak Mun.
"Wanita itu kok jahat ya, Mak Mun .... Kok tega mau membunuh Bapak .... Keterlaluan betul. Pasti wanita itu tidak hanya minta dinikah, pasti juga minta harta warisan." kata Rini.
"Iya, Bu ..., betul .... Wanita itu bilang minta rumah ...!" sahut Mak Mun yang tentu menggebu, karena diingatkan.
"Pelakor itu memang jahat, Mak Mun ...." kata Rini yang tak berdaya melihat nasib suaminya yang sudah diserang oleh pelakor.
"Dasar pelakor, ya ..., Ibu .... Pelakor itu apa sih, Bu ...? Apa seperti wanita nakal gitu? Kayak WTS, gitu ...?" tanya Mak Mun yang tidak tahu arti pelakor.
"Pelakor itu wanita yang suka jadi pengganggu laki-laki, penggoda laki-laki, perampas laki-laki orang, pencuri suami orang. Pokoknya wanita jahat." jelas Rini pada Mak Mun.
__ADS_1
"Ooo .... Jadi pelakor itu perampok ya, Bu .... Waduh ..., berarti kemarin rumah kita itu mau dirampok ya, Bu .... Wah, berarti jahat sekali wanita itu." kata Mak Mun.
"Pokoknya yang namanya pelakor itu jahat ...!" tegas Rini.