KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 102: SENANGNYA BERMAIN BERSAMA


__ADS_3

    Pagi yang indah dan cerah. Matahari bersinar terang, menerangi langit biru, menyingkirkan awan nimbus yang mengganggu pemandangan, hanya tinggal menyisakan awan cirus yang tipis bagaikan coretan-coretan arsiran pada lukisan di lembaran kanvas. Empat sekawan sahabat beserta para keluarganya, sudah asyik menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan di puncak bukit yang berbatasan langsung dengan Pantai Selatan. Kawasan ini dalam istilah morfologi disebut dengan "pantai cliff", yaitu pantai curam yang terdapat di daerah pegunungan yang langsung berbatasan dengan laut. Ya, memang Taman Awang-awang di sisi selatan, berupa tebing curam yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Dan inilah yang menjadi daya tarik Taman Awang-awang, yaitu dibangunnya spot-spot foto yang berada tepat di atas bibir pantai dengan ketinggian sekitar lima puluh meter dari permukaan air laut. Jadi, saat berfoto selfie, seakan-akan kita berada di awang-awang yang bawahnya adalah gelombang laut Pantai Selatan. Sangat indah dan menawan. Maka tidak heran, jika pagi itu empat sekawan para sahabat beserta para keluarganya itu langsung berfoto selfie.


    "Wao .... Luar biasa, Yudi .... Ini merupakan tempat yang sangat indah." kata dokter Handoyo.


    "Siapa dulu arsiteknya .... Mis Yuna, gitu loh ...." sahut Rini yang tentu bangga dengan bangunan yang sudah dikerjakan oleh Yuna.


    "Ayo ..., ayo ..., kita foto bersama dulu." kata istri Alex yang sudah bersandar di pagar pengaman spot foto.


    "Ayo, kumpul semua .... Kita foto bareng!" ajak Yudi.


    Mereka, para sahabat dan keluarganya itu pun berkumpul berfoto bersama. Foto ..., foto ..., dan foto. Ceprat-cepret berkali-kali. Penuh gaya, penuh senyum, penuh kegembiraan. Semua terlihat senang, bisa menikmati foto di bibir pantai dari puncak bukit Taman Awang-awang.


    "Saya tidak menyangka kalau jadinya seperti ini, Mas Yudi. Maafkan saya, yang saat itu sempat menolak proposal Mas Yudi." timpal Hamdan, suami Rini.


    "Memangnya Papah pernah menolak tawaran dari Papah Yudi?" tanya Silvy pada ayahnya.


    "Kita ambil hikmah baiknya, Pak Hamdan .... Jika dulu perusahaan Pak Hamdan menerima tawaran saya, maka saya tentu punya hutang yang besar dan harus membayar setiap bulannya. Tetapi saya bersyukur, dengan ditolaknya proposal itu, ternyata Tuhan punya rencana lain yang lebih baik kepada saya. Terima kasih, Pak Hamdan." kata Yudi pada Hamdan.


    "Iya, Yudi .... Rencana Tuhan itu memang selalu yang terbaik. Buktinya, tidak hanya bangunan Taman Awang-awang saja yang bisa terbangun secara luar biasa, tetapi ada hal yang lebih baik, yaitu kamu bisa mendapatkan bidadari yang cantik .... Kamu hebat, Yudi ...." kata dokter Handoyo yang menimpali.


    Tentu Yuna yang disanjung sebagai bidadari yang cantik, jadi tersipu malu. Saat itu, pipinya langsung memerah, dan tentu semakin menambah kecantikannya.


    "Eh, betul ya .... Ternyata rencana Tuhan itu selalu baik adanya ...." sahut Rini yang baru sadar.


    "Kalau kamu ajukan proposal ke saya, Yud ..., pasti proposalmu tidak saya buka, langsung saya tolak ....  Soalnya saya nggak punya uang .... Hehe ...." Alex mengajak gojekan.


    "Apalagi kalau ke saya, ya .... Paling-paling saya sumbang injeksi .... Hahaha ...." tambah dokter Handoyo yang meledek.


    "Ya ..., ya .... Itulah sebabnya, kita harus selalu bersyukur. Meski permohonan kita ditolak, kenyataannya Tuhan justru memberikan yang lebih baik." kata Yudi.


    "Eh, Yudi ..., kalau proposal yang kamu ajukan ke Jepang itu, Yudi ngangsurnya berapa duit?" tanya Alex yang ahli proyek bangunan.


    "Hehe ..., mau tahu aja. Ini semuanya gratis, Lex ...." jawab Yudi.


    "Gratis ...?! Wah ..., wah ..., wah .... Sudah dibantu, gratis, tanpa bayar, tanpa mengembalikan modal, masih diberi bonus bidadari secantik Mis Yuna ini? Beruntung sekali kamu, Yud ...!" kata Alex yang masih saja meledek.


    "Gak usah ngiri .... Rejeki anak soleh ...." sahut Yudi.


    "Hebat kamu, Yud!" kata dokter Handoyo yang menepuk pundak Yudi.


    "Eh, jangan nongkrong di sini saja .... Ayo kita bermain bersama di ruang piramida." kata Yuna mengajak menuju ruang permainan.


    "Bagus, nggak  mainannya?" tanya istri Alex.


    "Mainan tradisional, untuk mengenang masa lalu. Ayo kita berlomba adu ketangkasan." tantang Yudi.


    "Beneran, nih ...?!" sahut dokter Handoyo.


    "Ayo .... Siapa takut ...?!" kata Rini.


    Mereka pun pada berlarian menaiki tangga berundak, menuju gedung piramida, tempat game center yang menyajikan aneka permainan tradisional. Dan sebentar saja, mereka sudah memasuki ruang permainan. Yudi memborong koin, dan dibagikan kepada para sahabat dan keluarganya, untuk bermain.


    "Nah, ini namanya permainan sodamanda. Mainan jaman kita kecil. Tapi oleh Yuna, di tempat ini semua permainan tradisional sudah diubah dengan sistem digital. Kita bermain berkompetisi dua orang. Caranya, masukkan koin ke dalam mesin. Lantas saat musik berbunyi tanda mulai, kotak-kotak sodamanda ini akan menyalakan gambar telapak kaki. Kita melompat menginjak telapak kaki tersebut, dari kotak ke ketoak sesuai gambar telapak kaki yang menyala. Jika di kotak itu ada gambar dua telapak kaki, ya kita harus menginjak dengan dua telapak kaki. Ayo ..., siapa berani?! Kita mulai ...." jelas Yudi pada teman-temannya.

__ADS_1


    Lantas Yudi memasukkan koin ke mesin. Musik pun berbunyi. Yudi memberi contoh cara bermain, melompat menginjak gambar telapak kaki yang menyala, seperti saat kecil bermain sodamanda. Melompat ..., melompat ..., dan melompat. Yudi berhasil. Lantas mesin itu pun selain menyuarakan musik yang indah, juga mengeluarkan kata-kata, "Selamat .... Anda berhasil ...." begitu bunyinya.


    "Aah .... Cuman seperti itu ...?! Kecil ...! Saya akan coba!" kata Alex yang langsung memasukkan koin ke kotak mesin.


    Musik pun berbunyi. Alex meloncat, berusaha menginjak kotak yang menyala dengan gambar telapak kaki. Satu kali loncatan ..., berhasil. Dua kali loncatan ..., berhasil. Dan, tiga kali loncatan ..., "Tet ..., tot .... Maaf, Anda kalah ..." Mesin itu keluar suara yang mengatakan bahwa pemain kalah. Loncatan yang ke tiga, Alex gagal.


    "Hahaha ...." semua menertawakan Alex.


    "Aku mau coba ...." kata yang lain.


    "Aku juga ...." yang lain juga ikut ingin mencoba.


    "Masak cuman mainan kayak begini aku kalah ...?! Bikin penasaran saja ...." Alex menggerutu.


    "Ayo, yang lain silakan mencoba permainan-permainan yang lain. Masih banyak permainannya." Kata Yudi yang memberi tahu banyaknya jenis permainan yang ada di situ.


    "Ayo Rini, kita bermain tarik tambang ...." Yuna mengajak Rini.


    "Mana? Mainnya bagaimana?" tanya Rini pada Yuna.


    "Ini .... Rini pernah bermain tarik tambang? Ini ada tambang yang harus kita tarik secara bersamaan, cuman dengan arah yang berlawanan. Rini tarik ke arah belakang, bermusuhan dengan saya." jelas Yuna.


    "Oo ..., seperti lomba tarik tambang itu, ya?" tanya Rini.


    "Iya, betul. Memang ini untuk lomba tarik tambang. Ini maksimal bisa ditarik oleh dua orang di satu sisi dan dua lainnya sebagai musuh. Jadi kita bermusuhan dua lawan dua." kata Yuna sambil memberikan tambangnya. Tentu bukan tambang dadung yang kasar seperti kalau lomba tarik tambang tujuh belasan, ini tambangnya dari serat nilon yang halus, sehingga tidak membuat tangan jadi lecet.


    "Silvy ...! Yayan ...! Ayo sini. Kita lomba tarik tambang." kata Rini memanggil anak dan menantunya.


    Sebuah kotak setinggi satu meter itu, yang terdapat dua utas tali di sisi yang berlawanan, dimasuki koin oleh Yuna. Musik pun berbunyi, dan cahaya warna-warni menyala. Utas tambang yang satu dipegang oleh Rini dan Yayan. Tambang lawannya sudah dipegang oleh Yuna dan Silvy.


    "Siaaap .... Sedia .... Tariiik ....!" suara aba-aba keluar dari kotak mesin ajaib itu.


    "Ayo tarik, Silvy .... Yang kuat!" Yuna meminta kepada Silvy.


    "Iya, Mis Yuna .... Ini sudah kencang!" sahut Silvy yang menarik tambang hingga tubuhnya miring.


    "Ayo, Yan .... Tarik terus ...!" kata Rini menyuruh menantunya.


    "Iya, Mah .... Mamah tarik yang kenceng!" sahut Yayan.


    "Ngek ..., ngok .... Ngek ..., ngok .... Ngek ..., ngok .... Ngek ..., ngok ...." kotak ajaib itu mengeluarkan suara dan lampu kedap-kedip warna-warni.


    Empat orang itu terus tarik menarik. Silvy yang berpasangan dengan Yuna melawan Rini yang berpasangan dengan menantunya. Cukup lama. Dan akhirnya ....


    "Nguwiiik .... Nguwiiik .... Tooot ..., tooot .... Horee ...." suara dari kotak mesin itu berbunyi.


    Pada layar yang dihadapi oleh Yuna dan Silvy, menyala terang ada letusan-letusan kembang api, dengan mengeluarkan tulisan, "Horee .... Kamu menang ...." menunjukkan bahwa pasangan Silvy dan Yuna menang.


    Sedangkan pada layar yang dihadapi oleh Rini dan Yayan, keluar cahaya merah dengan tulisan, "Kamu kalah."


    "Yaa ..., kalah ...." kata Rini lemas karena kecapekan menarik tambang.


    "Horee ..., aku menang .... Horee ..., aku menang ...." Silvy bersenang-senang karena menang, bisa mengalahkan suami dan ibunya.

__ADS_1


    Menyaksikan Silvy yang senang-senang itu, Hamdan langsung mendekat. Penasaran.


    "Main apa, ini? Kok ramai sekali ...?!" tanya Hamdan.


    "Tarik tambang, Pah .... Asyik, menantang." jawab Silvy.


    "Ayo, Papah coba ...." kata Rini mengajak suaminya.


    Akhirnya Yuna diganti oleh Hamdan. Rini berpasangan dengan suaminya, Silvy berpasangan dengan suaminya. Anak melawan orang tua, bertanding tarik tambang. Ramai sekali.


    Yuna tepuk tangan dan berteriak menyemangati. Yudi ikut mendekat. Berjejer dengan Yuna, ikut berteriak dan menyemangati.


    "Ayoo ..., ayoo ..., ayoo ...." teriak Yuna dan Yudi memberi semangat.


    Demikian juga dengan yang lain. Mereka berdatangan, ikut berteriak memberi semangat. Terutama putrinya Alex. Ia penasaran juga dengan permainan tarik tambang ini, ingin mencoba tarik tambang. Akhirnya, semua mencoba bermain tarik tambang. Saling berpasangan, melawan pasangan sahabatnya. Tentu semakin ramai dan bersorak-sorak, seperti saat lomba tarik tambang pada acara agustusan.


    Puas dengan tarik tambang, dilanjutkan dengan permainan-permainan yang lain. Ada yang bermain ular tangga, ada yang bermain dakon, ada pula yang mencoba lompat tali. Semua dikemas dengan mesin digitalisasi. Mengasyikkan dan menyenangkan. Walau usianya sudah tua-tua, mereka merasa terhibur dan bisa melepas segala beban pikiran.


    "Siapa yang berani naik permainan Jaran Negar?" tanya Yudi pada para sahabatnya.


    "Jaran Negar ...?! Apa itu?" tanya dokter Handoyo.


    "Ini permainan paling menantang. Orang Texas menyebut ini dengan istilah 'Rodeo'. Tapi di sini, kami mengadopsi permainan mengendalikan kuda binal yang susah dikendalikan. Masyarakat Jogja menyebut dengan istilah jaran negar. Bisa juga disebut kuda mengamuk. Ini permainannya. Lihat anak itu .... Dia berusaha bertahan di atas punggung kuda." jelas Yudi sambil menunjukkan permainan jaran negar.


    "Wah, kalau ini saya takut." kata dokter Handoyo.


    "Saya menyerah ...." sahut Alex.


    "Ya ..., tidak apa-apa, maklum sudah pada tua. Kalau yang muda disuruh mencoba, bagaimana? Ayo, Mas Yayan mencoba ...." kata Yudi sambil tersenyum meminta Yayan, suami Silvy untuk mencoba.


    "Ya, ayo Mas Yayan ...!" sahut Silvy.


    "Yayan ..., Yayan ..., Yayan ...!" yang lain ikut menyemangati.


    Dengan rasa takut, Yayan akhirnya maju, menaiki jaran negar. Awalnya perlahan, tetapi lama-kelamaan kuda yang ditunggangi Yayan bergerak semakin kencang. Yayan terlihat berpegangan kuat. Wajahnya terlihat tegang. Yayan ketakutan.


    Dan akhirnya, gerakan jaran negar itu mulai melambat. Perlahan dan selanjutnya berhenti. Yayan sukses menunggang jaran negar.


    "Horeee ...!!" semua bersorak, senang menyaksikan Yayan yang berhasil mengendalikan jaran negar.


    "Nah, sekarang ..., kita bersenang-senang naik bom-bom dokar. Yang perempuan naik duluan. Yang laki-laki menonton. Nanti gantian." kata Yudi yang mengajak teman-temannya ke tempat permainan bom-bom dokar.


    Semaua berlari. Lantas yang perempuan masuk ke arena semacam bom-bom car, tetapi di Taman Awang-awang ini bentuk mobilnya dimodifikasi seperti dokar, alat transportasi tradisional khas Jogja. Mengasyikkan. Semuanya senang dan bergembira. Hingga mereka lupa waktu. Dan bermain terus hingga sore hari, saat gedung piramida itu akan ditutup.


    "Hah, sudah tutup?"


    "Ya ampun .... Tanpa terasa kita bermain hingga sore."


    "Seperti kembali menjadi anak-anak lagi. Hehe ...."


    "Lhoh, kok sudah tutup ...?! Masih pengin main ...."


    Yah, waktu memang tidak bisa dihentikan. Waktu terus berputar. Waktu juga yang harus mengakhiri orang-orang tua yang sedang senang-senangnya bermain bersama itu. Tentu kebahagian sudah mereka temukan. Persahabatan pun semakin akrab. Tidak hanya empat sahabat, tetapi keluarga dari empat sahabat itu semakin akrab. Senang dan gembira bisa bermain bersama. Bisa meluapkan emosi dalam jiwanya. Bisa mengeluarkan semua beban yang ada dalam dirinya. Senangnya bisa bermain bersama.

__ADS_1


__ADS_2