KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 202: DEWA PENOLONG


__ADS_3

    "Kore ga watashinoiedesu. Selamat datang di rumahku." kata Yudi kepada para tamunya, yang menyampaikan jika ini adalah rumahnya.


    "Hijō ni geijutsu-teki." Laki-laki yang kemungkinan besar seorang pejabat itu memuji rumah Yudi yang sangat artistik, sangat unik dan nyeni. Demikian juga dua orang laki perempuan tua itu, maupun istri dari laki-laki yang memberikan pujian. Mereka mengangguk-anggukkan kepala, tanda senang dan tertarik.


    Yudi mengajak masuk para tamunya. Kemudian menunjukkan dua kamar untuk tamunya.Satu kamar yang dahulu dipakai oleh Yuna, dan satu kamar lagi yang ada di ujung berhadapan dengan ruang milik Yudi.


    "Koko wa anata no heya, soshite, sore wa anata no tame no heyadesu." Yudi mengatakan, kamar yang di dekat gazebo itu untuk tuan dan nyonya Papa Mama. Sedangkan kamar yang ada di ujung untuk tuan muda bersama istrinya.


    Bagas sudah memasukkan koper milik orang tua yang dipanggil Papa Mama itu di kamarnya. Demikian juga koper yang satu lagi, di kamar ujung. Namun dua orang tua itu lebih senang melihat-lihat rumah Yudi yang unik. Mereka lantas berkeliling melihat semua bangunan yang ada di tempat Yudi. Demikian juga anak dan menantunya. Maka Yudi harus mendampingi, setidaknya bisa menjawab jika ada yang ingin diketahui oleh tamu-tamu itu.


    Hingga sampai depan, di pendopo, empat orang itu senang menyaksikan ikan-ikan koi yang sudah lumayan besar, yang berenang mengelilingi pendopo. Mereka heran, sementara di Jepang, tempat asal ikan koi itu berkembang biak, justru sudah jarang dan tidak banyak orang yang pelihara. Namun di rumah Yudi, di pendopo luar, ikan-ikan koi itu langsung menghampiri mereka, seakan menyambut kedatangan para tamu.


    "Utsukushī koi …." kata para tamu, yang kagum dengan keindahan ikan koi milik Yudi.


    Yudi membungkukkan badan sambil mengucapkan, "Arigatōgozaimashita." Yudi berterima kasih sudah dipuji.


    Setelah berkeliling menyaksikan keasrian rumah Yudi, serta ke kamar kecil untuk pipis, lantas laki-laki tua itu menanyakan kepada Yudi, di mana letak peninggalan para tentara Jepang yang kalah perang pada Perang Dunia ke dua. Tentu laki-laki tua itu ingin segera melihat tempat yang mungkin di situ ada kuburan saudara-saudaranya.


    "Bagas ..., tolong teleponkan mobil wisata dua. Bilang diminta untuk mengantar ke Gua Jepang." kata Yudi kepada Bagas untuk memesan mobil wisata.


    "Siap, Mas Yudi .... Nanti saya ikut?" kata Bagas yang tentunya ingin juga diajak berkeliling bersama orang Jepang itu.


    "Ya ...." sahut Yudi yang tentu sangat membuat hati Bagas menjadi senang.


    Tentu Bagas masih sangat rindu dengan Yudi. Setidaknya ia ingin ngobrol dan ingin tahu bagaimana kisahnya mencari Mbak Yuna di Jepang, dan yang jelas ingin tahu kenapa Mbak Yuna tidak diajak pulang. tapi malah mengajak orang lain.


    Bagas langsung menelepon pangkalan mobil wisata. Menyampaikan kalau Mas Yudi pesan dua mobil untuk keliling mengantar tamu dari Jepang.


    Begitu mendengar kata Mas Yudi sudah pulang, spontan orang-orang yang ada di pangkalan mobil wisata langsung bergembira, bahkan bersorak kegirangan. Maka semuanya langsung menawarkan diri untuk mengantarkan Mas Yudi bersama tamu-tamunya yang dari Jepang itu. Setelah berebut ingin mengantar, akhirnya, empat unit mobil VW antik dengan warna yang berbeda berangkat menuju rumah Yudi.


    "Din ..., din ...." suara klakson mobil di depan rumah Yudi.


    "Sāikō .... Kita berangkat sekarang." Yudi mengajak tamu-tamunya untuk berangkat menuju Gua Jepang.


    Para tamu itu pun langsung mengikuti ajakan Yudi.


    "Sate, ikimashou ...." Papa dan Mama itu mengatakan ayo kita berangkat. Tentu orang-orang tua itu penuh harap untuk bisa menemukan di mana saudaranya dikuburkan.


    Lantas mereka keluar dari pendopo. Yudi yang membuka pintu gerbang. Dan ternyata, di depan pintu gerbang sudah ada empat mobil antik yang siap menjemput.


    "Mas Yudi ...!!" empat orang sopir itu berlarian, dan langsung merangkul Yudi. Tentu mereka juga merasa kangen.


    "Gimana kabarnya, Mas ...?" tanya mereka.

__ADS_1


    "Baik .... Kok ini empat mobil yang datang ...? Saya kan pesan dua ...." kata Yudi pada para sopir.


    "Tidak apa, Mas Yudi .... Kami rindu .... Kami sangat khawatir pada Mas Yudi. Syukurlah Mas Yudi baik-baik saja." kata salah satu sopir itu.


    "Terima kasih atas perhatian kalian. Saya juga berterima kasih sudah didoakan, sehingga saya sehat dan selamat. Ini tamunya dua pasang suami istri, berarti hanya butuh dua mobil. Siapa yang berangkat ...?" kata Yudi ingin meyakinkan yang mau berangkat.


    "Kami berangkat semua, Mas .... Demi merayakan kepulangan Mas Yudi .... Hehe ...." kata para sopir.


    "Tapi yang dua kosong lho ...." kilah Yudi.


    "Mas Yudi yang bisa bicara Jepang mendampingi tamu. Bagas yang cuman cas cis cus, biar bersama saya." kata para sopir.


    "Ya sudah ..., terserah kalian, lah ...." akhirnya Yudi menuruti kehendak para sopir mobil antik itu.


    "Sugoi ..., sugoi ...." para tamu dari Jepang itu berdecak kagum, mengatakan mobil-mobil wisata ini luar biasa. Unik dan antik.


    "Sā,-sha ni notte kudasai ...." Yudi mempersilakan para tamunya untuk naik ke mobil.


    Namun ternyata, karena ada empat mobil, empat orang itu memasuki satu-satu tiap mobil. Yudi bersyukur mereka senang dan tiap orang naik ke satu mobil. Tentu dengan senyum dan tawa ceria, karena merasa senang bisa naik mobil antik. Yudi menemani Papa Tua yang berjalan paling depan. Sedangkan Bagas menemani Mama Tua yang berada di belakangnya. Sedangkan tuan muda berada pada mobil paling belakang. Tentu sambil selalu memotret keceriaan Papa dan Mama serta istrinya.


    Memang unik. Di Jepang, mobil-mobil semacam ini pasti sudah menjadi barang rongsokan. Tetapi di Indonesia, mobil-mobil kuno ini justru bisa diubah menjadi barang yang sangat menarik. Mobil antik.


    Tidak butuh waktu lama. Mobil-mobil antik itu pun sudah sampai di Gua Jepang. Yudi turun lebih dahulu, lantas membukakan pintu Papa Tua. Demikian juga Bagas, turun dan membukakan pintu untuk Mama Tua. Tuan muda dan istrinya membuka pintu sendiri. Tentu sebelum turun, ia berfoto dengan istrinya terlebih dahulu, mengabadikan kenangannya naik mobil antik.


    Selanjutnya Yudi menceritakan sejarah Gua Jepang tersebut, yang digunakan sebagai benteng pertahanan oleh tentara Jepang saat pertempuran melawan sekutu pada Perang Dunia ke dua. Diceritakan pula, banyak tentara Jepang yang meninggal menjadi korban perang. Oleh masyarakat setempat, para korban perang itu dikubur di dekat gua tersebut. Namun kala itu zaman perang, tidak sanggup untuk memberi nama pada setiap kuburnya. Rakyat hanya sanggup mengubur. Itu pun bercampur dengan jenazah-jenazah dari rakyat yang juga berguguran saat berperang.


    Beruntung saat membangun Taman Awang-awang, Yuna sempat memikirkan untuk membangun Gua Jepang. Makanya pelataran Gua Jepang kini terlihat bagus. Bahkan pada pintu masuk gua tersebut, sudah dipugar dan dibangun gerbang yang bagus, serta diberi tulisan dengan huruf kanji atau tulisan Jepang. Yuna yang membuatnya.


    Lantas Papa Mama Tua itu berdiri di depan pintu masuk Gua Jepang. Ia diam dan membaca dalam hati tulisan yang tertera di gerbangnya. Lantas dua orang tua itu meneteskan air mata. Pasti kata-kata dalam tulisan itu sangat menyedihkan.


    "Hairimashou ...." kata Papa Tua mengajak anak dan menantunya untuk masuk ke dalam gua.


    Mereka berempat masuk ke bagian dalam gua. Yudi mengikuti di belakangnya. Hnya sebentar. Tidak sampai dalam. Lantas mereka keluar lagi.


    Tentu orang-orang tua itu tidak kuat untuk masuk terlalu dalam. Karena udara yang pengap dalam gua membuat napas mereka tersengal.


    "Kore wa o hakadesu .... Ini kuburannya." kata Yudi menunjukkan kuburan yang digunakan untuk memakamkan para tentara Jepang maupun rakyat Indonesia yang saat itu dibombardir oleh tentara sekutu dari Samudera Hindia. Tentu Yudi juga menjelaskan, pada hari-hari tertentu, biasanya malam Jumat Kliwon, banyak warga yang berkirim bunga dan berdoa di kuburan ini. Setidaknya mereka, para penduduk, khususnya orang-orang tua berterima kasih karena waktu itu mereka bisa terhindar dari serangan sekutu.


    Yudi juga menjelaskan, jika pada bulan agustus, yaitu pada peringatan kekalahan Jepang dalam Perang Dunia ke dua, banyak penduduk Jepang yang datang ke tempat ini untuk berziarah dan berdoa bersama. Makanya kuburan itu tetap terlihat bersih dan terawat, walau nisannya hanya berupa bongkahan-bongkahan batu tanpa ada namanya.


    Lantas Papa Tua itu berjalan perlahan ke kuburan. Ia mengamati batu-batu yang menjadi tanda. Sangat lama. Tentu ingin meyakinkan, yang mana kuburan saudaranya.


    "Sore wa indoyōdesu ka?" Papa Tua menanyakan kepada Yudi, apakah lautan yang tampak itu Samudera Hindia.

__ADS_1


    "Sōdesu, soreha indoyōdesu. Benar, itu adalah Samudera Hindia." jawab Yudi yang membenarkan pernyataan Papa Tua.


    Tiba-tiba Papa Tua itu merogoh kantong. Lantas ia mengeluarkan selembar kain, semacam sapu tangan kuno. Sudah lusuh dan jelek. Tetapi di situ ada benang yang terjahit tangan. Semacam sulam. Ternyata itu adalah tanda, semacam peta. Mungkin saja itu peta yang dibuat oleh ayah atau saudara-saudaranya yang menunjukkan tempat keberadaannya saat di Indonesia. Atau bisa juga dari teman saudaranya yang selamat, kemudian membuatkan peta keberadaan keluarganya.


    Yang jelas kain sapu tangan yang terdapat simbol-simbol itu diberikan oleh tentara Jepang yang lain kepada ibunya. Waktu itu Papa Tua masih berumur sekitar delapan tahun. Dan saat ibunya menerima kain itu, langsung menangis sejadi-jadinya. Ternyata setelah Papa Tua itu tahu, ayah dan kakak-kakaknya sudah meninggal saat pertempuran Perang Dunia ke dua. Tentu itu adalah kain sapu tangan wasiat untuk menemukan keberadaan kuburan keluarganya.


    Tentu istri, anak serta menantu Papa Tua, baru kali ini melihat kain yang dikeluarkan oleh suami atau ayahnya tersebut. Selama ini orang tua itu tidak pernah memberi tahu. Mereka pun heran dengan rahasia itu.


    Yudi tentu paham dengan apa yang dibawa oleh Papa Tua itu. Yudi pun paham bagaimana perasaan Papa Tua beserta istri, anak dan menantunya. Mereka pasti bersedih saat mengingat keluarganya yang menjadi korban perang. Lantas ia mendekat, dan hendak membantu Papa Tua mengamati peta yang dibawanya.


    Laki-laki tua itu pun memberikan lembaran kain peta semacam sapu tangan tadi kepada Yudi untuk dibantu membaca. Lantas Yudi mencari tempat yang baik, yang tepat untuk bisa membaca peta. Yudi membukanya di pelataran gua. Selanjutnya Yudi menata posisinya, seperti yang terdapat dalam sulaman.


    "Pasti yang ini adalah bibir pantai ..., di sebelah Samudera Hindia. Ini pasti Gua Jepang yang dimaksud. Lantas, tanda silang. Mungkin ini lambang kuburan. Ya, betul." kata Yudi yang membaca peta pada sapu tangan tersebut.


    "Papa, migi, koreha rokēshonmappudesu .... Mitekudasai ...." kata Yudi kepada empat orang tamu itu, tentang peta itu adalah peta lokasi.


    Yudi pun menyuruh para tamunya untuk melihat kain peta sapu tangan yang sudah digelar di pelataran gua. Empat orang Jepang itu langsung mendekat. Ikut mengamati kain sapu tangan tersebut. Tentu dengan rasa penasaran.


    Yudi menjelaskan, gambar yang melengkung-lengkung itu adalah simbol gelombang laut. Ada tulisan Hindia Ocean, berarti Samudera Hindia.


    "Itulah lautan maha luas Samudera Hindia." kata Yudi sambil menunjukkan Samudera Hindia yang oleh orang Jogja lebih dikenal dengan istilah Segoro Kidul atau Laut Selatan.


    Lantas Yudi menunjuk garis pantai, tentunya itu adalah Pantai Selatan. Ia menunjukkan pantai itu dari puncak bukit. Ya, terlihat jelas Pantai Parang Tritis yang indah dan menawan.


    Setelah itu, ada sulaman benang melengkung. Ada tulisan "cave". Pasti ini yang dimaksud adalah Gua Jepang tempat mereka berada sekarang ini. Yudi menunjukkan tanda itu. Mereka semua mengangguk percaya.


    Satu lagi simbol yang ada dalam sapu tangan itu adalah tanda silang. Tanda itu berada di sisi kanan gua. Yudi tidak paham simbol tanda silang dalam peta. Tetapi ia yakin, tanda silang itu biasanya menunjukkan lokasi sebuah tempat. Mungkin inilah yang dimaksud dengan kuburan keluarganya. Maka Yudi pun menyampaikan kepada para tamunya, "Tabun kore wa hakadesu." kata Yudi yang menyampaikan kepada para tamunya, kalau ini adalah kuburannya.


    Para tamu itu pun yakin. Lantas menuju ke tempat kuburan lagi. Tentu untuk memastikan makam keluarganya. Tapi benar, seperti yang dikatakan oleh Yudi kalau makam-makam itu tanpa nama. Namun setidaknya mereka sudah menemukan tempat di mana ayah dan kakak-kakaknya dikubur.


    Lantas Papa Tua itu berusaha membanding-bandingkan batu-batu yang dijadikan sebagai tanda nisan. Ia berjalan ke sana kemari, berusaha mencari perbedaan. Sekilas semuanya memang sama. Tetapi kalau diamati secara saksama, ternyata ada yang beda. Ya, ada sederet makam yang hanya menggunakan batu kecil-kecil sebagai tanda nisannya. Tetapi ada deretan yang menggunakan batu lebih besar. Ini pasti mempunyai arti. Orang tua itu kembali berpindah-pindah tempat lagi. Masih mengamati nisan-nisan yang hanya terbuat dari batu tersebut.


    Yudi yang mulai paham, juga menyaksikan perbedaan tersebut. Selama ini ia tak pernah mengamati. Namun begitu Papa Tua itu bisa membedakan, Yudi juga sanggup melihat perbedaan itu.


    "Kore wa shirei-kan no hakadenakereba narimasen." kata Yudi yang menyebut kalau kuburan yang ada di tengah itu adalah kuburan komandannya. Itu dibuktikan dengan batu bulat paling besar yang dikelilingi makam lain dengan batu lebih kecil.


    Laki-laki tua itu mendatangi makam yang ditunjukkan oleh Yudi. Makam yang oleh Yudi diyakini sebagai makam komandan kala itu. Lantas ia bersimpuh di tempat itu dan menangis sejadi jadinya. Istrinya mendatangi, lantas memeluk pundak Papa Tua itu. Demikian juga anak dan menantunya, tuan muda itu ikut mendekat ke nisan tersebut, menunduk lama, tentunya untuk berdoa.


    Selanjutnya, Papa Tua itu berpindah menuju nisan yang ada di kanan dan kirinya. Ia juga menangis sambil menepuk-tepuk batu nisan yang ada di situ. Menurut cerita dari ibunya dahulu yang ia ingat, ayahnya adalah komandan perang. Kakak-kakanya ikut menjadi pasukan perang, yang akhirnya ayah dan kakaknya itu meninggal saat berperang. Oleh pembawa pesan, ayahnya dikubur di wilayah Indonesia bersama kakak-kakaknya. Ayahnya berada di tengah, kakak-kakaknya ada di sisi kanan dan kiri. Itulah yang diyakini oleh Papa Tua itu.


    Setelah lama menangis dan berdoa di makam tersebut, tentu melepas kerinduannya kepada ayah dan kakak-kakaknya, Papa Tua itu bangun dan berdiri. Ia menoleh mencari Yudi. Lantas menghampiri Yudi yang berdiri tidak jauh dari mereka. orang tua itu memeluk erat tubuh Yudi. Tentu sambil menangis.


    "Anata wa watashi no suketto no kamidesu." laki-laki tua yang memeluk erat tubuh Yudi dan cukup lama tidak dilepaskan, sambil mengatakan kalau Yudi adalah dewa penolongnya, yang sudah menemukan makan ayah dan kakak-kakaknya.

__ADS_1


    Betapa bahagianya laki-laki tua itu. Demikian pula istri serta anaknya. Apa yang dia minta dalam setiap doanya di Kuil Kifune, akhirnya sang dewa sudah menjawab doa-doanya. Tentu orang tua itu sangat berterima kasih kepada Yudi, dan pasti akan memberikan hadiah untuk Yudi. Karena Yudi dianggap sebagai dewa penolongnya.


__ADS_2