
Pagi yang cerah. Mentari bersinar terang. Burung-burung berkicau menyanyikan lagu riang gembira. Menyambut dua insan yang sedang bahagia.
Bibir merah Yuna tersenyum merekah. Demikian pula Yudi. Tangan perkasanya memeluk tubuh mungil yang halus lembut putih mulus, yang masih merebah di dadanya. Sambil membisikkan kata, "Terima kasih sudah kau berikan kenikmatan sejati."
Selanjutnya, dua insan itu saling pandang, saling tatap, dengan senyum bahagia. Tentu karena keduanya sudah terpuaskan, dalam menjadi pasangan suami istri. Yuna bahagia bisa memiliki Yudi. Yudi pun senang punya pendamping yang cantik dan baik hati.
Namun tentu harus disadari, bahwa kebutuhan hidup dalam berumah tangga bukanlah sekadar memenuhi hasrat biologis saja. Tetapi juga begaimana mengatur rumah tangga, memenuhi kebutuhan rumah, bahkan juga mengatur bagaimana bersosialisasi dengan para tetangga. Apalagi Yudi adalah salah satu tokoh masyarakat di Kampung Nirwana yang sangat dibutuhkan oleh para tetangganya. Terutama untuk mengatur kesejahteraan ekonomi.
Yudi bergegas mandi. Membersihkan peluh yang sudah membasahi sekujur tubuh. Lantas bersiap, untuk berangkat kerja ke kantor. Mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Sementara Yuna, sudah menyiapkan sarapan di meja makan.
"Wah ..., wah ..., wah .... Sang permaisuri sudah menyiapkan makan pagi." kata Yudi yang langsung duduk di ruang makan.
"Iya, lah .... Kan untuk sarapan sang raja yang akan berangkat kerja." jawab Yuna yang terus ikut duduk di samping suaminya.
"Wah ..., wah ..., wah .... Sang permaisuri kini sudah bisa menggoreng telur dan memasak bakmi." kata Yudi yang memuji istrinya.
"Eh ..., eh .... Jangan menghina, ya .... Kalau cuma menggoreng telor, itu keahlian saya .... Apalagi masak bakmi, rasanya pasti enak .... Kalau tidak percaya ayo dicoba." kata istrinya.
"Okey .... Ayo, kita sarapan bersama." kata Yudi yang langsung membuka dua piring, pasti untuk dirinya dan istrinya.
Dua orang pengantin baru yang sedang belajar hidup berumah tangga itu, mulai menikmati masakan yang diolah sendiri.
Ya, meski pernikahan Yudi dan Yuna sudah seminggu lamanya, tetapi kemarin-kemarin, yang menyiapkan makan adalah Simbok. Bahkan juga ibu-ibu tetangga Yudi yang sengaja datang membantu. Namun setelah acara 'sepasaran', yaitu selamatan hari hitungan Jawa yang ada lima hari setelah acara pernikahan, maka orang tua Yudi sudah pulang ke Magelang. Mau tidak mau, Yudi dan Yuna sendiri yang mengurusi segala pekerjaan rumah tangganya. Termasuk menyiapkan masakan.
Tetapi bagi Yudi yang sudah biasa hidup mandiri, apalagi Yuna yang sudah terlatih hidup di apartemen seorang diri, maka hidup bersama Yudi bukanlah masalah yang berarti.
"Bagaimana rasanya ...?" tanya Yuna pada suaminya.
"Enak .... Tetapi agak asin." sahut suaminya.
"Agak asin ...? Masak sih ...? Perasaan biasa saja, tidak terlalu asin ...." sahut Yuna yang tentu merasa agak kecewa dengan hasil masakannya yang masih dinilai suaminya kurang sesuai.
__ADS_1
"Hehehe .... Kata orang Jawa, kalau bilang masakan agak asin itu artinya yang masak minta kawin ..., pengin digituin .... Hehehe ...." kata Yudi yang tentu sambil menggoda istrinya.
"Minta digituin apaan ...?" tanya istrinya yang makin bingung.
"Ya, gitu-gitu ..., gituan. Kayak tadi malam .... Hehehe ...." sahut Yudi yang sambil mencolek istrinya.
"Iih .... Ngacau ...! Ayo kalau mau lagi, masuk ke kamar ...!" sahut istrinya yang tentu justru langsung memeluk, mencubit dan menggoda suaminya.
"Saya mau berangkat kerja, Sayang .... Nanti ya ..., tunggu aku pulang dari kantor." kata Yudi yang langsung bersiap berangkat kerja.
Yudi sangat gembira punya istri Yuna. Tentu karena Yuna bisa memahami pekerjaan Yudi, disamping sebagai pegawai negeri di Dinas Pariwisata, juga sebagai seniman lukis. Tentu hidupnya tidak seperti warga Kampung Nirwana pada umumnya, yang banyak tinggal di rumah atau bekerja non formal di dekat rumah, sehingga bisa disambi dengan kegiatan yang lain. Demikian juga pekerjaannya sebagai pegawai negeri, tentu berbeda dengan teman-temannya di kantor. Kalau teman-teman Yudi, biasanya hanya bekerja berdasarkan perintah atasan. Kalau ada perintah baru melakukan pekerjaan. Jika yang dikerjakan sudah selesai, maka ia pun berhenti bekerja. Di kantor hanya nongkrong, paling-paling main HP atau game untuk menghabiskan waktu, dari pagi sampai sore saat pulang. Yang ditunggu hanya tanggal satu, tentu mengharap gajian. Herannya, uang bayaran yang diterima selalu kurang, karena potongan bank dan koperasi. Pegawai-pegawai seperti ini, tentu amat sangat tidak produktif. Anehnya, pemerintah masih saja mengangkat pegawai-pegawai seperti ini.
Tetapi Yudi, sebagai PNS, ia berbeda. Tidak pernah menyia-siakan waktu. Meski hanya pegawai rendahan, dengan ijazah Diploma, sebagai staf biasa, Yudi tidak mau menyia-siakan waktu. Meski di kantornya sepi, tidak ada proyek, teman-temannya pada menganggur, Yudi tetap memanfaatkan waktu luangnya itu untuk menuangkan ide-ide cemerlangnya. Maka, ia selalu membawa laptop sendiri, milik pribadi. Tentu untuk mengisi waktu luangnya. Jika teman-teman di kantornya asyik dengan main HP, Yudi justru asyik membuka laptop. Bahkan saat ini, Yudi malah tidak punya HP, setelah HP-nya hilang sampai saat ini belum beli lagi. Kalau disentil Bagas, "Mbok beli HP to, Mas ...." jawabnya enteng, "tidak penting."
Tapi benar juga, apalah artinya HP kalau hanya sekadar untuk telepon. Toh di rumah Yudi juga sudah ada telepon kabel. Jadi, untuk komunikasi, masih bisa dilakukan.
Setelah suaminya berangkat kerja, Yuna langsung membersihkan rumah. Terutama mengangkat seprai kasur untuk dimasukkan dalam mesin cuci.
Pagi itu, sekitar pukul sepuluh, di lapangan parkir ada dua mobil sedan mewah buatan Jepang berhenti. Mobil yang depan berhenti di dekat pos parkir. Kemudian penumpangnya turun, disopiri oleh orang Indonesia, membawa penumpang dua orang laki-laki, jika dilihat dari fisiknya, semuanya orang Jepang. Dua orang Jepang itu mengenakan setelan jas yang sangat bagus. Sang sopir yang memang orang Indonesia, menemui petugas pos dan bertanya, "Maaf, Pak ..., numpang tanya, kalau mau ke rumah Ibu Yuna, yang baru saja menikah, ada di sebelah mana, ya?" tanya sang sopir.
"Oo ..., Mbak Yuna .... Lewat jalan situ, lurus terus saja, nanti ada bangunan gapura, itu rumah Mas Yudi, suami Mbak Yuna." jawab sang petugas pos parkir.
"Baik, Pak .... Terima kasih." kata si sopir itu yang langsung kembali ke mobilnya. Demikian juga dua orang Jepang yang mengenakan setelan jas, langsung masuk ke jok belakang.
Dua mobil itu selanjutnya melaju beriringan menuju rumah Yudi. Si petugas pos parkir sempat melihat mobil yang belakangnya, hanya ditumpangi oleh dua orang. Dua mobil itu pun menghilang di tikungan jalan.
"Hoi ..., Pak Lik ...!!" tiba-tiba Bagas yang naik sepeda motor lewat di tempat parkir dan menyapa laki-laki yang menjaga di pos.
"Hai ..., Bagas ...! Berhenti sebentar ...!!" teriak orang itu, yang langsung keluar mau menemui Bagas yang lewat.
Bagas mengerem, menghentikan sepeda motornya. Lalu menoleh ke arah laki-laki yang memanggilnya.
__ADS_1
"Ada apa, Pak Lik?" tanya Bagas.
"Gas, tadi ada dua mobil mewah dengan penumpang orang Jepang, mencari rumah Mbak Yuna. Kamu tahu?" tanya petugas pos parkir tersebut.
"Tidak, itu ..., Pak Lik. Lha memang siapa?" tanya Bagas.
"Apa mungkin tamu dari Jepang yang mau kondangan, ya?" tanya si penjaga parkir.
"Waduh ..., ya saya tidak tahu, Pak Lik." jawab Bagas.
"Lhah mbok kamu ke rumah Mas Yudi, nengok Mbak Yuna .... Siapa tahu Mbak Yuna butuh bantuan kamu." kata si penjaga parkir.
"Ya, sudah ..., kalau begitu saya mau ke rumah Mbak Yuna. Siapa tahu butuh bantuan saya." kata Bagas yang langsung menyetarter motornya, lantas berbalik arah menuju rumah Yudi, tentu lewat pintu belakang.
Sesampai di rumah Yudi, Bagas langsung masuk dari garasi belakang. Seperti yang diceritakan oleh si penjaga pos parkir, Yuna kedatangan tamu dari Jepang. Maka pasti di ruang pendopo depan ada tamu yang disambut oleh Mbak Yuna. Begitu pikir Bagas. Maka tanpa memanggil ataupun bertanya, Bagas langsung mencoba menengok tamu yang ada di pendopo.
Namun saat sampai di belakang pintu pendopo, Bagas agak ragu. Ia mendengar suara Mbak Yuna yang cukup keras, berbalas dengan suara laki-laki tamu yang datang di situ. Suaranya juga keras. Suara perdebatan yang saling berbalas. Terdengar suara Mbak Yuna yang membantah. Lantas suara dua laki-laki yang juga tidak mau kalah. Tetapi Bagas tidak tahu maksudnya, karena mereka berdebat dengan bahasa Jepang.
"Waduh .... Ada apa, ini?!" Bagas yang bingung, tentu takut untuk keluar. Kalau Bagas Keluar, pasti akan diusir. Atau setidaknya ikut dibentak oleh laki-laki yang marah-marah itu.
Bagas yang cukup cerdas, ia mengambil HP. Lantas merekam peristiwa itu dengan HP-nya, melalui celah pintu. Walau dengan jantung berdebar karena takut, karena menyaksikan dua orang yang duduk berhadapan dengan Yuna itu, pastilah bukan orang sembarangan.
Yuna terlihat terus membantah setiap kata-kata yang disampaikan oleh dua laki-laki yang mengajak bicara. Tetapi para lelaki itu rupanya tidak mau kalah. Sudah terlihat, laki-laki itu mulai berdiri, untuk menyuruh Yuna ikut bersamanya. Bahkan yang satu lagi sudah memegangi tangan Yuna, bahkan menyeret.
Yuna terlihat menolak ajakan dua orang laki-laki itu. Walau tangannya sudah diseret, Yuna berusaha memberontak, ingin melepas pegangan laki-laki itu. Suasana terlihat tegang. Yuna terus membelot, berusaha ingin masuk ke rumah. Tetapi tangan laki-laki yang kekar itu tetap memegangi. Walau diseret oleh Yuna yang berusaha melepas.
Dan, saat Yuna sudah dekat dengan pintu masuk, Bagas kaget. Ia baru sadar kalau dirinya sedang merekam peristiwa itu. Akhirnya ....
"Brak ...!!!"
Pintu belakang pendopo itu sudah menghantam tubuh Bagas. Tidak hanya pintu yang mengenai tubuh Bagas, tetapi juga ada lengan besar perkasa, yang juga ikut memberi sentuhan pada perutnya.
__ADS_1
Bagas terjungkal. Bagas pingsan.