KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 246: LUKISAN PENYINGKAP RAHASIA


__ADS_3

    Acara makan pagi di ruang makan keluarga Rini, pagi sangat ceria. Tentu karena semua merasa senang, bisa menerima kehadiran Yunadi secara tulus. Setidaknya, Rini sudah bisa menerima kenyataan, bahwa kehadiran Yunadi memberi arti lain dalam kehidupan Yuni. Yang pasti anaknya punya teman sebaya, yang ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Canda tawa dan senda gurau pun mewarnai acara makan pagi saat itu. Bahkan Yanadi juga ikut tertawa, meski menunggu terjemahan dari Yudi.


    "Pah ..., nanti jadi ...?" tanya Rini pada Yudi.


    "Apanya ...?" tanya Yudi yang kurang paham dengan apa yang dikatakan istrinya.


    "Soal Yunadi ...." kata Rini yang mengingatkan suaminya.


    "O, ya .... Ini langsung, habis sarapan pagi akan saya ajak ke sanggar lukis. Mamah ikut, ya .... Bila perlu Yayan atau Silvy boleh ikut juga ...." kata Yudi.


    "Memangnya gimana sih, Pah ...?" tanya Silvy yang tentu bingung.


    "Ya, kita lihat nanti  ...." kata Yudi, yang langsung mengajak keluarganya ke sanggar lukis.


    Di sanggar lukis, Yudi menunjukkan tempat itu kepada Yunadi. Pasti anak itu keheranan. Baru kali ini ia menyaksikan ada tempat yang khusus untuk belajar melukis. Pantas Yuni pandai melukis. Dan tentu bisa lolos mendapatkan beasiswa kuliah di Prancis.


    "Wao, kakkoī…… koreha o ekaki gakkōdesu ka?" Yunadi berdecak kagum, baru kali ini ia melihat sekolah menggambar.


    "Apa katanya, Pah?" tanya Yuni yang ada di dekat Yunadi dan ayahnya.


    "Yunadi bilang keren .... Ia tanya apa ini tempat sekolah menggambar ...." kata ayahnya menerjemahkan kata-kata Yunadi.


    "Lah, kalau Yunadi bisa pandai melukis, belajar di mana?" tanya Rini yang ingin tahu.


    "Yunadi wa doko de ewokakukoto o manabimashita ka?" Yudi menerjemahkan pertanyaan Rini kepada Yunadi.


    "Watashi wa jibun jishin o kaku koto o manabimashita. Jiin de." jawab Yunadi.


    "Apa katanya, Pah?" tanya Rini yang ingin tahu.


    "Belajar sendiri, di kuil .... Kasihan anak ini." sahut Yudi memberi tahu istrinya.


    "Terus caranya mengetahui orang tuanya, bagaimana?" tanya Rini pada Yudi.


    "Iya, sebentar ...." sahut Yudi, yang kemudian bicara dengan Yunadi, katanya "Yunadi wa anata no okāsan ni atta koto ga arimasu ka?" Yudi menanyakan apakah ia pernah melihat ibunya.

__ADS_1


    "Hon'nosukoshidake au." Yunadi bilang, pernah melihat sepintas.


    "Anata wa sore o setsumei dekimasu ka?" Yudi menanyakan apakah Yunadi bisa mengingat untuk dilukis.


    "Dekiru." jawab Yunadi.


    "Okāsan no kao o kaite mite kudasai." Yudi meminta Yunadi untuk melukis ibunya.


    Ada beberapa kanvas yang sudah berdiri dieasel. Yunadi bebas memilih, ukuran yang dia kehendaki. Sementara Yuni, dengan penuh rasa persaudaraan, ia membawakan cat, valet dan kuas. Semua itu milik Yuni.


    "Pakailah cat dan kuas saya ...." kata Yuni memberikan barang-barang yang dibawanya kepada Yunadi.


    "Yuni no enogu to burashi o tsukau." kata Yudi menterjemahkan kata-kata Yuni.


    Yunadi langsung memegang valet. Ia mencairkan cat dalam valet itu. Lantas tangan kanannya sudah menggoreskan kuas pada kanvas yang dihadapinya. Ia memilih kanvas ukuran sedang. Pasti agar cepat selesai dan tidak terlalu besar untuk melukis wajah ibunya. Goresan demi goresan terus mengusap di kanvas. Warna demi warna. Hingga terwujudlah bentuk lukisan itu.


    Yudi menyaksikan gerakan tangan anak itu, yang sangat piawai menggoreskan kuas di kanvas. Ia ingat dirinya waktu kecil, yang sering diajak ayahnya untuk melukis tonil, gambar-gambar di pementasan wayang orang atau ketoprak. Saat itu Yudi berusia hampir sama seperti Yunadi. Orang-orang di kelompok kesenian ayahnya, sudah memuji lukisan Yudi yang katanya bagus. Kini, Yudi menyaksikan Yunadi, yang sudah pandai melukis seperti dirinya saat kecil.


    Tidak hanya Yudi. Rini juga melihat hasil lukisan anak Jepang itu. Melihat cara melukisnya, gerakan tangan maupun kepalanya yang naik turun, Rini sudah memastikan, anak laki-laki itu pasti anak Yudi. Semua gaya dan logatnya, persis plek sama dengan Yudi. Walau Yudi tidak tahu, tapi Rini yang sering mengamati suaminya saat melukis, anak itu tidak berbeda dengan Yudi. Yakin, Yunadi adalah anak Yudi yang lahir dari rahim Yuna.


     Demikian juga Silvy dan Yayan. Bahkan Yayan mengakui, sebenarnya lukisan Yuni kalah hebat dengan lukisan Yunadi. Anak ini melukis sangat cepat dan benar-benar lihai. Seperti pelukis profesional. Bahkan menurut pendapat Yayan, pelukis-pelukis Jogja yang sering datang ke sanggar lukis, atau yang menitip lukisan di Yudi's Gallery, tidak ada yang sebagus lukisan Yunadi.


    Yudi yang berdiri dengan tangan yang bersedekap di dada, memandangi lukisan itu tanpa berkedip. Ia diam tanpa ada suara. Namun napasnya, berkali-kali terdengar menghembus kencang. Ada beban dari dadanya yang harus didorong keluar. Dan tanpa disadari, Yudi sudah mengucurkan air mata.


    "Owarimashita ...." kata Yunadi, yang artinya lukisan sudah selesai.


    Tidak ada yang menjawab atau mengatakan sesuatu. Yunadi memandangi Yudi yang ada dua langkah di belakangnya. Tentu Yunadi bingung, saat melihat laki-laki tua itu menangis menyaksikan lukisannya. Yunadi tidak bergerak, heran dengan sikap laki-laki yang sudah mengajak ke rumahnya itu.


    Yuni yang dari tadi menemani Yunadi, begitu melihat ayahnya bercucuran air mata, juga menjadi bingung. Ada apa sebenarnya dengan lukisan yang dibuat oleh Yunadi? Mengapa ayahnya sampai menangis melihat lukisan itu?


    Yayan dan Silvy hanya bisa berpegangan tangan. Bahkan Silvy memeluk lengan suaminya. Ia juga mencucurkan air mata. Silvy lebih terlihat sangat sedih.


    Rini melangkah mendekati suaminya. Yudi dipeluk erat. Kepala Rini dibenamkan pada dada Yudi, lantas menangis sesenggukan.


    "Nande ...?" kata Yunadi, yang tentu bingung saat melihat orang-orang menangis. Ada apa ini?

__ADS_1


    Yudi mendekat ke Yunadi. Ia berjongkok, lantas dua tangannya memegang pundak Yunadi. Lantas Yudi menanyakan wanita yang ada dalam lukisan itu kepada Yunadi, apakah benar wanita itu adalah ibunya? Ya, wanita yang dilukis oleh Yunadi, perempuan berparas cantik, rambutnya terburai seperti tidak pernah disisir, dengan pakaian lusuh yang tidak compang-camping, di pipinya ada lukisan tetesan air mata. Lukisan itu persis dengan Yuna. Tetapi kondisinya sudah sangat berubah, bukan Yuna yang cantik dan berseri seperti dahulu. Tetapi Yuna yang mengalami penderitaan. Tentu Yudi menangisi keadaan istrinya yang terlihat sangat menderita tersebut.


    Rini tahu bahwa yang dilukis anak itu adalah Yuna. Demikian juga Silvy dan Yayan. Berarti Yunadi memang benar-benar anaknya Yuna.


    "Okāsan no namae wa Yunadesu ka?" Yudi menanyakan apakah ibu Yunadi bernama Yuna.


    Yunadi menggelengkan kepala. Sebagai tanda bahwa ia tidak tahu. Mungkin saja nama Yuna dirahasiakan untuk menyelamatkan Yunadi.


    Lantas Yudi menanyakan, kepada anak itu kapan terakhir kali ia ketemu ibunya.


    Yunadi menjawab, kala itu ia masih sangat kecil. Masih berusia dua tahun,saat ibunya diam-diam datang di kuil, dan menemui Yunadi secara sembunyi-sembunyi.


    "Kare wa watashi ni yubiwa o kureta." Yunadi mengatakan bahwa wanita itu memberikan cincin kepadanya.


    "Hontōni? Ringu wa dokodesu ka?" seketika itu, Yudi menanyakan cinci yang diberikan oleh wanita.


    Yunadi merogoh kalung yang melingkar di lehernya. Lantas menunjukkan cincin yang dimasukkan dalam kalung itu. Ya, cincin yang pernah dicurigai Yudi. Kini cincin itu diperlihatkan.


    "Mah ..., coba Mamah lihat cincin itu ...." kata Yudi yang tidak sanggup melihat cincin yang sudah ditunjukkan oleh Yunadi.


    Rini menuruti kata suaminya. Ia mengamati cincin yang menggantung di kalung Yunadi. Memagang, meraba dan benar-benar meneliti kalung itu. Ya ..., cincin yang benar-benar sama dengan milik Yudi. Cincin kembar yang menurut cerita Yudi adalah pemberian Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul. Benar. Berarti Yunadi adalah anak keturunan Yuna.


    Rini langsung memeluk Yunadi. Langsung menciumi anak itu. Tentu dengan suara tangis yang memecah sejadi-jadinya. Rasa kasihan Rini muncul, saat menyaksikan anak yang tidak pernah bertemu dengan orang tuanya. Dan anak itu adalah anak suaminya sendiri.


    "Yudi ....!!! Yuna ..., Yudi ...!!! Auh ..., huk ...., uh ..., uuh ..., huk ...." Rini berkali-kali berteriak sambil menangis, memanggil Yudi karena kasihan menyaksikan Yuna dan anak itu. Keras hati Rini sudah luruh saat menyaksikan penderitaan Yuna dan anaknya.


    Lagi-lagi, Yudi hanya diam. Namun air matanya sudah membanjiri pipinya. Laki-laki setegar Yudi, tentu tidak sanggup menyaksikan penderitaan Yuna maupun anaknya.


    "Ada apa, sih ...?" Yuni yang mendekat pada ibunya yang masih memeluk erat tubuh Yunadi, bertanya karena bingung.


    "Yuni ..., Sayang .... Yunadi ini kakak kamu, Sayang ..., yang hilang di Jepang dicari Papah tidak ketemu .... Huk ..., huk ..., huk ...." kata Rini yang juga langsung memeluk Yuni. Dua anak itu, yang dua-duanya bingung, kini dipeluk bersama oleh Rini.


    Lantas Yudi yang sudah mulai bisa menerima, ia pun ikut memeluk dua anak itu sekaligus bersama istrinya.


    "Yunadi ..., Anata wa watashi no musuko." kata Yudi kepada Yunadi yang memberitahu kalau ia adalah anaknya.

__ADS_1


    Tentu Yunadi yang tahu itu, langsung balik memeluk Yudi dan menangis keras. Hingga akhirnya, Yuni juga ikut menangis sampai terisak-isak. Demikian juga Yayan dan Silvy, yang juga mendekat dan ikut menangis pula. Mereka menangis bersama, terharu dan tentu sangat tidak menyangka dengan semuanya itu.


    Lukisan Yunadi, sudah menemukan kembali antara anak dan ayahnya.


__ADS_2