KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 203: TAMU KEJUTAN


__ADS_3

    Betapa senangnya para tamu dari Jepang yang sudah menemukan kubur keluarganya itu. Yudi yang sudah membantu, berkali-kali dipeluk oleh Papa Tua itu. Pasti ia sangat bangga dan senang sudah bertemu dengan Yudi, yang dianggap sebagai dewa penolong tersebut. Demikian juga Mama Tua, berkali-kali ia juga memeluk Yudi, sambil mencium pipinya. Sebenarnya Yudi merasa tidak enak, namun demi menghormati orang yang sudah menolongnya bisa pulang ke Indonesia, Yudi tetap menerima pelukan serta ciuman si nenek tua tersebut. Anggap saja mereka itu adalah ayah dan simboknya.


    Tidak hanya kakek nenek itu yang memeluk Yudi. Tetapi anaknya, orang pantas disebut Tuan Muda itu juga ikut memeluk Yudi. Cukup lama. Lantas setelah melepas pelukan, laki-laki itu memegang kedua pundak Yudi, memandangi Yudi dengan pandangan tajam.


    "Watashi wa anata ga motomeru mono wa nani demo anata ni agemasu. Chūcho shinaide, tada itte kudasai." Tuan Muda itu mengatakan, akan memberikan apa saja yang akan diminta oleh Yudi, sebagai hadiah sudah menolong orang tuanya.


    Namun Yudi bukanlah orang yang gila pemberian. Yudi bukan orang yang suka diberi macam-macam. Dia bukan orang matre, bukan orang yang mudah tergiur dengan iming-iming. Maka meski ditawari seperti itu, meski orang itu mengatakan akan memberikan apa saja yang diminta Yudi, ia tidak bergeming. Yudi diam saja, tidak mengatakan apa-apa, hanya tersenyum manis membalas tatapan Tuan Muda itu.


    "Arigatōgozaimasu ...." kata Yudi sambil menyalami laki-laki itu dan membungkukkan badannya.


    "Mas Yudi ..., kita ke Taman Awang-awang?" tanya Bagas yang tahu kalau kunjungan ke Gua Jepang sudah akan selesai.


    "Ya ..., kita ajak keliling ke seluruh tempat di Kampung Nirwana. Biar para tetangga dapat cipratan rejeki."jawab Yudi santai.


    "Ya, Mas .... Betul. Saya setuju, biar para tamu ini memborong hasil kerajinan Kampung Nirwana." sahut Bagas yang tentu ikut senang dengan datangnya tamu-tamu dari Jepang tersebut.


    Empat mobil itu melaju meninggalkan Gua Jepang. Lantas melanjutkan perjalanan menuju Taman Awang-awang. Jalan menanjak yang lumayan. Namun bebannya tidak terlalu berat, karena hanya mengangkut satu orang. Maka dalam waktu sekejap, mobil-mobil wisata antik itu sudah sampai di halaman parkir taman awang-awang. Para penumpang pun turun dari mobil.


    "Mobilnya jangan pergi. Tunggu di sini saja. Sopirnya ikut masuk ke tempat makan. Saya yang nraktir." kata Yudi kepada para sopir mobil wisata itu.


    "Asyik .... Terima kasih, Mas Yudi ...." kata para sopir yang tentu senang mendapat traktiran dari Yudi.


    Lantas Yudi mengajak jalan


    "Go resseki no minasama, koreha Taman Awang-awang. Kono kōen wa watashitachi no omona kankō meishodesu." Yudi mengatakan kepada para tamunya, jika ini adalah Taman Awang-awang yang merupakan objek wisata andalan Kampung Nirwana.


    Lantas Yudi mengajak tamunya menuju tangga berundak, ke pinggir sisi selatan, di tepi pagar pengaman. Tentu menyaksikan indahnya samudera biru mengalunkan gelombang yang terus berkejaran menuju pantai.


    "Uwa, sugoi ...." para tamu itu mengatakan keindahan yang sangat luar biasa, saat ia menyaksikan indahnya Samudera Hindia yang terkenal keganasannya itu.


    Tentu para tamu itu terkagum-kagum saat menyaksikan indahnya alunan gelombang samudera, seakan mereka berada di ujung kapal yang menerjang gelombang besar. Sangat menakjubkan. Apalagi saat mereka berada di tepa pagar pengaman itu, lantas mendongakkan kepala ke arah laut. Seakan mereka berada di atas laut. Di saat gelombang besar itu menerjang tebing pantai dan menghempaskan air laut hingga menerpa wajahnya, mereka terkagetkan oleh terpaan gelombang tersebut.  Benar-benar pemandangan yang luar biasa.


    Tamu-tamu itu terlihat senang. Tentu puas menyaksikan keindahan Laut Selatan yang luar biasa itu.


    Yudi mengajak keliling tamunya, untuk menyaksikan semua objek yang ada di Taman Awang-awang. Termasuk ke piramida, tempat aneka permainan. Dan yang tidak kalah, Yudi menunjukkan tempat pertemuan yang didesain dengan arsitek model Jepang. Tentu para tamu itu heran dengan bangunan itu.


    "Dare ga kore o tsukutta no?" tamu itu menanyakan siapa yang membangunnya, tentu ia penasaran dengan arsitek yang tidak asing di negerinya.


    "Watashi no tsuma. Shikashi, kare wa mō koko ni imasen." Yudi menjawab kalau yang membangun gedung itu adalah istrinya, tetapi orangnya sudah tidak berada di sini lagi.


    Tentu Yudi menunduk sedih. Teringat pada Yuna yang hilang saat menikah baru dapat seminggu.


    "Watashitachi wa kanashī .... " orang tua itu menyatakan turut bersedih. Tentu mereka bersimpati dengan hilangnya istri Yudi.

__ADS_1


    "Ah, sudahlah .... Itadakimasu .... Mari kita makan siang, Jogujakaruta no tokubetsu ryōri menyū o tanoshimu." Yudi mengajak makan siang kepada para tamunya, yang pasti akan diajak menikmati menu-menu masakan khas Kota Jogja. Ia pun mengajak para tamunya memasuki Food Hall.


    Begitu memasuki Food Hall, para penjual dan orang-orang yang kerja di situ, langsung berlarian menyambut kedatangan Yudi. Semua pada menyalami Yudi. Dan pasti banyak yang merangkul dan menciumi Yudi. Ya, tentu semua itu rasa kangen dan khawatir kepada Yudi. Tidak sedikit yang menanyakan Mbak Yuna. Itu semua karena rasa cinta mereka kepada Yudi dan Yuna. Dan yang jelas, mereka bisa berjualan seperti itu juga karena Yudi dan Yuna yang sudah membangunkan tempat yang bagus dan menawan tersebut.


    Yudi yang mendapat sambutan seperti itu, tentu merasa senang, tetapi juga bingung dan risih.


    "Ya ..., ya .... Terima kasih semuanya ...." hanya itu yang bisa dikatakan oleh Yudi.


    Sebagai rasa syukurnya Yudi sudah kembali, para pedagang kuliner itu menyuguhkan masakan-masakannya dengan berbagai menu yang berbeda kepada Yudi dan tamu-tamunya yang dari Jepang tersebut. Demikian juga para pramusaji, langsung menata meja dan kursi, melingkar untuk enam orang.


    Mereka pun asyik menikmati masakan khas Yogjakarta. Berbagai menu di sajikan, hingga meja itu penuh dengan bermacam-macam makanan.


    Setelah puas menikmati makan di puncak bukit Taman Awang-awang, Yudi mengajak para tamunya untuk melanjutkan perjalanannya berkeliling ke Kampung Nirwana. Tentu menuju tempat belajar membatik, tempat pembuatan kerajinan tangan, serta ke sentra penjualan hasil produk Kampung Nirwana. Demikian juga untuk menyaksikan kesenian-kesenian tradisional yang dilakukan oleh anak-anak, yaitu kuda lumping.


    "Mas Yudi ..., kita ke Taman Anggrek Nirwana, nggak?" tanya Bagas pada Yudi.


    Yudi terperangah kaget.


    "Taman Anggrek Nirwana ...? Di mana itu?" tanya Yudi yang tentu penasaran. Baru kali ini ia mendengar. Setelah enam bulan ia meninggalkan Kampung Nirwana, ternyata ada Taman Anggrek Nirwana.


    "Tempatnya di sebelah timur rencana Pasar Rakyat." jawab Bagas.


    "Bagus, tidak ...?" tanya Yudi lagi.


    "Bagus banget, Mas Yudi ...." sahut Bagas. Sengaja Bagas tidak mau memberitahukan pemiliknya, agar nanti menjadi kejutan bagi Yudi.


    Empat mobil wisata itu pun melaju menuju Taman Anggrek Nirwana. Namun hanya dua mobil yang berisi penumpang. Karena tamunya ingin duduk bersamaan suami istri. Si kakek bersama nenek tetap meminta didampingi Yudi. Sedangkan tuan muda itu duduk bersama istrinya.


    Bagas berada naik mobil yang berada di depan. Ia diminta untuk mengambil video perjalanan dua mobil yang ditumpangi para tamu itu. Tentu sangat mengasyikkan. Dan video itu nanti pasti akan viral di Jepang.


    Tidak begitu lama perjalanan mobil wisata tersebut untuk menuju Taman Anggrek Nirwana. Hanya sekitar lima menit lebih sedikit, mobil-mobil wisata itu sampai di tempat yang tertata rapi dan menarik.


    "Taman Anggrek Nirwana ...." Begitu Yudi membaca tulisan nama yang terpampang di dinding bangunan.


    Para tamu itu turun dari mobil wisata, lantas menuju pendopo yang bangunannya terbuat dari batu alam. Seperti berada di sebuah candi. Bahkan pintu gerbangnya terlihat bagus, seperti milik Yudi.


    Yudi tertegun menyaksikan tempat itu. Mulai dari halaman parkir yang dibuat mozaik, indah dan menarik, bangunan pendopo yang klasik, serta pintu gerbang yang menawan.


    "Siapa yang membangun tempat ini?" tanya Yudi dalam hati.


    Para tamu itu sudah memasuki Taman Anggrek Nirwana. Yudi mengikuti di belakangnya. Demikian juga Bagas. Sedangkan para sopir memilih duduk dan beristirahat di pendopo.


    Begitu melangkah masuk dari pintu, betapa kagetnya Yudi. Ada Rini yang menyambut para tamu itu. Demikian juga Rini, ia sangat terkejut dengan kehadiran Yudi di Taman Anggrek Nirwana.

__ADS_1


    "Rini ...?!" kata Yudi yang tentu membelalak.


    "Yudi ...?!" Rini hampir tidak percaya dengan kehadiran Yudi.


    Lantas mereka berdua langsung berpelukan. Tentu saling melepas rindu, setelah enam bulan tidak mendengar kabar beritanya, Pasti banyak kisah yang mereka jalani, baik suka maupun duka.


    "Kok Rini berada di sini?" tanya Yudi setelah melepas pelukan Rini.


    "Ini kebun anggrek saya ..." kata Rini, yang langsung menanyai Yudi, "Kapan kamu pulang? Bagaimana kabarnya? Yuna mana?"


    "Ini baru sampai tadi pagi, langsung mengantarkan para tamu dari Jepang yang kemari bersama saya. Untuk kabar saya dan Yuna, kita bicarakan besok. Masih banyak waktu untuk bercerita." kata Yudi yang tentu ingin mengutarakan kerinduannya kepada Rini.


    "Bener lho, ya ...." sahut Rini sambil tersenyum


    "Yakin .... Mas Hamdan mana?" tanya Yudi menanyakan suami Rini.


    Rini terdiam. Matanya berkaca-kaca ingin menangis. Lantas katanya, "Mas Hamdan sudah meninggal ...."


    Akhirnya air mata itu jatuh juga dari pelupuk. Rini kembali teringat peristiwa yang menimpa suaminya.


    "Saya turut prihatin. Saya turut berduka." kata Yudi sambil memeluk Rini yang sudah menangis.


    Rini pasrah oleh pelukan Yudi. Bahkan ia seakan menikmati pelukan laki-laki yang pernah ia kagumi itu. Namun hanya sebentar Yudi memeluk dirinya. Kurang rasanya bagi Rini, dan ingin rasanya untuk dipeluk lagi.


    Tapi, saat ini banyak tamu. Tamu Yudi yang datang dari Jepang. Tentu ia harus tahu diri. Ia harus profesional, melayani pelanggan yang akan membeli anggrek.


    "Mari tuan-tuan ..., silakan menyaksikan anggrek-anggrek yang ada di Taman Anggrek Nirwana." kata Rini pada tamu-tamunya.


    "Ran o mi ni ikou." Yudi mempersilakan para tamunya untuk menyaksikan anggrek, seperti yang dikatakan Rini.


    "Kono josei wa daredesuka?" Kakek tua itu menanyakan kepada Yudi, siapa wanita yang akrab denga dirinya itu.


    "Watashi no shin'yū. Kanojo no otto wa chōdo shinda." Yudi mengatkan kalau Rini adalah sahabat masa kecilnya dan baru saja ditinggal meninggal suaminya.


    "*Okuyamimōshiagemas*u ...." kata kakek itu sambil membungkukkan badannya, dan diikuti oleh istri dan anaknya yang juga membungkukkan bada.


    Rini membalas membungkukkan badan, meski tidak tahu artinya.


    "Mereka mengatakan ikut berduka cita ...." kata Yudi berbisik kepada Rini.


    "Oh, ya .... Terima kasih." sahut Rini.


    Mereka pun akhirnya berkeliling menyaksikan anggrek-anggrek yang ada di kebun anggrek milik Rini. Cukup lama, dan tentu para tamu itu terkesima dengan keindahan anggrek-anggrek yang bermekaran. Ingin rasanya untuk membeli anggrek-anggrek itu. Namun kemungkinan tidak bisa membawa karena ada cukai, maka mereka pasrah. Saat bertanya kepada Rini apakah bisa dikirim ke Jepang, yang tentunya diterjemahkan oleh Yudi, Rini mengatakan belum sanggup. Akhirnya para tamu itu pulang dengan tangan hampa.

__ADS_1


    Tidak apa-apa. Rini senang sudah dikunjungi tamu dari Jepang. Bahkan berkali-kali ia berfoto dengan para tamu itu. Tentu nanti akan di-upload pada media sosialnya. Pasti akan menambah daya tarik bagi pelanggan-pelanggannya.


    Walau tidak jadi beli, Rini senang mendapat tamu yang mengejutkan. Yudi sudah datang dan senang dengan usaha Rini. Besok pasti setiap hari, tamu kejutan itu, Yudi akan datang kembali menemui Rini.


__ADS_2