KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 114: PENCARIAN


__ADS_3

    Bagas langsung menelepon Pak Lurah, untuk menyampaikan berita terkait hilangnya Yudi yang hingga petang belum ketemu. Tentu meminta saran masukan dari Pak Lurah, bagaimana sebaiknya langkah yang harus dilakukan.


    Pak Lurah yang menerima telepon tentang hilangnya Yudi, tentu langsung bingung, kelabakan, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak bisa mengambil keputusan, tetapi malah mondar-mandir di kamar. Kemudian berlari ke kamar kecil, katanya kebelet pipis. Lantas masuk kamar lagi, jalan ke sana kemari bolak-balik.


    "Bapak ada apa?" tanya istrinya yang menyaksikan Pak Lurah bingung.


    "Anu ..., Bu .... Sebentar, saya mau ke kamar kecil ...." sahut Pak Lurah yang langsung berlari ke kamar kecil lagi. Kali ini ia mau buang air besar.


    Selanjutnya, Pak Lurah keluar lagi. Di ruang tamu, kembali ia mondar-mandir.


    "Bapak ini kok kelihatan bingung, ada apa, to ...?!" tegur istrinya lagi.


    "Ee .... Anu ..., Bu .... Ee .... Anu ...." Pak Lurah tidak bisa bicara, bingung.


    "Anu apa ...?! Bicara yag ceto gitu lho ...!" bentak istrinya.


    "Yudi, Bu ...." jawab Pak Lurah.


    "Mas Yudi kenapa ...?" tanya istrinya.


    "Yudi hilang ...!" jawab Pak Lurah.


    "Hah ...?! Hilang bagaimana ...?" tanya istrinya lagi.


    "Yudi terperosok dari puncak bukit jatuh ke jurang dan hilang." jawab Pak Lurah.


    "Lhah, hayo cepat dicari ...! Kok malah muser-muser koyo bebek memeti ...." kata istrinya yang segera menyuruh mencari.


    "Anu ..., Danang .... Danang mana? Tak suruh ngantar ...." kata Pak Lurah yang menanyakan anaknya untuk disuruh mengantarkan ke puncak bukit Taman Awang-awang.


    Pak Lurah pun diantar oleh anaknya menuju Taman Awang-awang.


    Di Taman Awang-awang, Bagas sudah didesak oleh para karyawan dan orang-orang yang ada di situ, untuk segera melaporkan ke Kepolisian dan SAR. Tentu untuk meminta bantuan pencarian dari yang berwajib. Berkali-kali Bagas meminta bersabar, untuk menunggu Pak Lurah. Tetapi rupanya orang-orang yang ada di situ sudah tidak sabar menunggu kedatangan Pak Lurah. Bagas pun akhirnya harus memenuhi tuntutan orang banyak. Ia langsung menelepon petugas BASARNAS Parang Tritis. Selanjutnya menyuruh dua orang karyawan, berboncengan sepeda motor untuk melapor ke Kepolisian dan langsung ke Koramil untuk meminta bantuan.


    Malam itu juga, bertepatan dengan malam Minggu, yang tentu Taman Awang-awang ramai pengunjung, tim SAR, petugas Kepolisian dan petugas Koramil berdatangan ke puncak bukit. Berita hilangnya Yudi langsung menyebar ke seluruh Kampung Nirwana. Tentu warga Kampung Nirwana langsung berdatangan ke Taman Awang-awang. Demikian juga para sopir wisata yang parkir di lapangan, langsung menuju puncak bukit. Ya, mereka semua ingin tahu kepastiannya, dan tentunya ingin membantu ikut mencari Yudi.


    Tim SAR langsung meminta informasi kepada lima orang karyawan yang saat siang tadi ikut menuruni tebing mencari Yudi. Demikian juga dari petugas aparat keamanan, ikut ingin mengetahui permasalahannya.


    Dengan disorot lampu sokle yang cukup besar, untuk menerangi lereng bukit sisi timur, selanjutnya, malam itu tim SAR langsung bergerak menuju tebing. Berusaha memastikan tempat jatuhnya Yudi.


    Bagas merasa kasihan melihat Rini dan anak-anaknya. Dari pagi hingga malam, mereka menantikan berita Yudi. Bahkan menangis berkali-kali. Ibaratnya Yudi seperti keluarganya sendiri. Bahkan Rini mungkin sudah menganggap Yudi sebagai kekasihnya.


    "Ibu Rini ..., apa tidak sebaiknya jika Ibu bersama anak-anak pulang dahulu ke penginapan untuk istirahat?" kata Bagas yang memberi usul kepada Rini.


    "Tidak, Mas .... Saya mau menunggu di sini saja, sampai Yudi ketemu." jawab Rini tanpa ekspresi. Tentu karena masih sedih.


    "Tapi Ibu Rini kecapaian .... Saya khawatir nanti Ibu Rii terkena angin malam, bisa masuk angin." kata Bagas lagi.


    "Iya, Mah .... Kita pulang dahulu, nanti biar Mas Bagas yang mengabari kita." Silvy ikut membujuk ibunya.


    "Silvy ..., Mamah pengin menunggui Papah Yudi .... Mamah sangat khawatir." sahut Rini yang masih belum mau dibujuk.


    "Kalian tidak tahu perasaan saya. Saya sangat sedih, tahu .... Huk ..., huk ..., huk ...." Rini kembali menangis.


    "Sudah, Mamah ..., jangan menangis terus." bujuk Silvy sambil mengelus-elus pundak ibunya.

__ADS_1


    "Mamah mau tunggu di sini saja ...." Rini tetap masih ingin menunggui pencarian Yudi.


    "Tapi, Ibu ..., Mas Yayan kecapaian .... Tadi sepanjang hari Mas Yayan sudah mencari di dasar jurang sana, Ibu ..., " jelas Bagas lagi.


    "Iya, Mah .... Tubuh saya pegal semua. Terus terang Yayan ingin menyelonjorkan tubuh dahulu, Mah ...." kata menantunya.


    Rini terdiam. Ia mulai sadar kondisi dirinya sejak pagi sudah terforsir. Apalagi menantunya yang ikut turun ke dasar jurang, mencari ke sana kemari. Pasti capai. Apalagi hingga malam mereka belum makan. Habis sudah tenaganya. Belum lagi juga harus menjaga dirinya yang sering sakit. Akhirnya, Rini setuju dengan ajakan anaknya, untuk pulang ke Nirwana Homestay.


    "Ibu Rini ..., demi kesehatan Ibu dan Mas Yayan, saya sarangkan Ibu istirahat dahulu. Nanti akan kami sampaikan kabar semuanya." kata Bagas lagi, sambil menyembah Rini.


    "Ya sudah, ayo kita pulang dahulu, Silvy, Yayan." kata Rini pada Yayan dan Silvy.


    "Iya, Mah .... Nanti biar Mas Bagas yang selalu menghubungi kita." sahut Silvy.


    "Mas Bagas, tolong disimpan nomor HP Silvy dan Yayan .... Nanti tolong kami dihubungi." kata Rini pada Bagas.


    "Iya, Ibu Rini. Pasti akan kami hubungi setiap ada perkembangan terkait pencarian Mas Yudi." jawab Bagas.


    Lantas Bagas memanggil salah satu sopir mobil wisata, untuk mengantar keluarga Rini ke penginapan. Sang sopir pun siap sedia untuk mengantarkan keluarga Rini.


    Dalam waktu tidak lama, mobil wisata VW kodok yang mengantar Rini bersama anak dan menantunya, sudah sampai di Nirwana Homestay.


    "Unit 4, Pak ...." kata Yayan memberi tahu Pak Sopir.


    "Siaap ...." sahut sang sopir yang langsung membelokkan mobilnya ke halaman penginapan Unit 4.


    Sang sopir langsung turun, lantas membukakan pintu mobilnya, untuk memberikkan servis kepada penumpangnya.


    "Ini ongkosnya, Pak ...." kata Rini sambil memberikan uang ke sopir wisata.


    "Tidak usah, Ibu .... Kami sudah dipesan oleh Mas Bagas. Ini malah saya dititipi bungkusan untuk makan malam Ibu sekeluarga." kata sang sopir itu yang menolak diberi ongkas, dan memberikan bungkusan tas kresek berisi makan malam untuk Rini.


    "Ini sop iga, Ibu .... Nanti bisa dipanasi dulu, untuk menghangatkan tubuh." kata sang sopir itu.


    "Terima kasih ya, Pak ...." kata Rini yang menerima bungkusan itu.


*******


    Di puncak bukit Taman Awang-awang, suasana semakin ramai. Penuh sesak warga yang berdatangan, tentu ingin ikut mencari Yudi yang hilang. Tua muda, laki-laki perempuan, bahkan anak-anak, memadati puncak bukit.


    Lampu sorot sudah dipasang di beberapa titik. Terutama di lereng sisi timur. Tim SAR dan beberapa orang yang tadi siang ikut turun ke lereng bukit, sudah menyusur ke pinggir tebing. Akan melakukan pencarian dan pertolongan. Lantas menyorot ke bawah jurang dengan lampu baterai yang cukup terang. Melihat situasi pantai yang langsung berbatasan dengan samudera.


    "Di sebalah mana lokasinya?" tanya salah satu petugas SAR.


    "Di bawah, sebelah timur. Tadi siang pelepah-pelapah pisang yang dibuat tulisan untuk tanda, sudah kami seret ke pinggir, tempat tulisan di ikat ke batu karang." jawab orang yang tadi siang sudah turun ke dasar jurang.


    "Selain pelepah pisang, tanda apa lagi yang ditemukan?" tanya petugas SAR.


    "Kami hanya menemukan sobekan kecil kain dan lengan baju Mas Yudi." jawab karyawan yang menemukan sobekan baju Yudi.


    "Tidak ada tanda lain?" tanya petugas SAR lagi.


    "Tidak ada. Kami sudah cari di sekitar situ, tetapi tidak ketemu." jawab karyawan itu lagi.


    "Oke, siap turun!" kata petugas itu.

__ADS_1


    Salah seorang petugas menyoroti tempat yang ditunjukkan oleh karyawan tadi. Lantas petugas yang lain langsung mengulurkan tambang, salah satu ujungnya diikatkan pada batang pohon, selanjutnya tambang yang tidak terikat dilemparkan ke bawah tebing, persis di tempat yang ditunjuk. Dua orang petugas SAR dengan baju warna oranye langsung melompat menuruni tebing, hanya dengan berpegangan tambang. Hanya sekejap, dua orang itu sudah menginjak batu karang tempat diikatkannya gedebog-gedebog pisang yang dijadikan tanda.


    "Turunkan perahu karet!" kata orang yang mungkin sebagai pemimpin tim SAR.


    Lantas petugas yang lain membuka barang berwarna oranye, kemudian digelar, dan tiba-tiba bisa mengembang sendiri. Menjadi perahu karet yang cukup besar. Semacam perahu rafting. Selanjutnya perahu karet itu diturunkan ke dasar jurang dengan dikatrol dengan tali tambang.


    Ya, untuk malam hari air laut sudah pasang. Bagian dasar tebing sudah tertutup air laut. Bahkan jika gelombangnya tinggi, dasarnya sama sekali tidak terlihat. Oleh sebab itu, untuk menelusuri dasar tebing itu perlu menggunakan perahu.


    Empat orang dari SAR sudah menaiki perahu karet, lantas menelusuri tebing-tebing, mencari keberadaan Yudi. Baterai yang terpasang di kepala, menyorot dengan jelas ke arah yang dilihat. Perlahan perahu karet itu mengitari lokasi tempat tali dari pelepah pisang itu diikatkan. Cukup lama mereka memeriksa tempat itu. Terutama pada dinding tebing dan batu-batu karang yang ada di sekitarnya.


    "Coba lihat ini ...!" teriak salah satu anggota SAR.


    "Baju robek .... Mungkin itu bajunya korban." sahut anggota SAR yang satu.


    "Diambil .... Untuk bukti." kata yang lain.


    "Roger ..., roger ...." salah seorang yang ada di perahu karet memanggil timnya dengan menggunakan Handy Talky.


    "Monitor ...." sahut yang di atas. Mungkin komandannya.


    "Instruksi ...."


    "Instruksi ..., dimonitor ..., masuk ...."


    "Ditemukan baju korban. Baju dirobek untuk dilepas paksa. Bagian punggung hancur tergesek tanah, ada bekas darah. Break ...."


    "Lanjutkan pencarian.... Break ...."


    "Delapan enam .... Siap ...."


    Lantas mereka melanjutkan pencarian. Cukup lama .... Namun nihil, tidak ada yang ditemukan lagi.


    "Roger ..., roger ...." kembali HT berbunyi


    "Dimonitor ...." sahut komandannya.


    "Gelombang tinggi. Pencarian terkendala."


    "Pencarian ditunda karena gelombang tidak bersahabat. Lanjutkan besok. Segera naik."


    "Delapan enam .... Siap, Komandan ...."


    Tim SAR yang ada di bawah langsung naik. Hanya membawa bukti baju Yudi yang sudah robek-rebek. Lantas di pendopo sisi timur, baju yang ditemukan langsung diperiksa. Ada tim SAR, Kepolisian dan Koramil. Beberapa karyawan ditanya untuk memastikan kebenaran baju yang ditemukan adalah baju Yudi.


    Ya, benar. Baju yang ditemukan itu baju yang dikenakan oleh Yudi saat hilang. Bagian punggung rusak parah. Ada bercak-bercak darah yang menempel di baju itu. Dipastikan kalau Yudi terjatuh dan meluncur di lereng, punggunggnya yang dijadikan tumpuan. Jika baju itu robek dan kena darah, berarti punggung Yudi mengalami luka parah.


    Sedangkan pada bagian leher, ada bekas dirobek secara paksa. Berarti Yudi atau orang lain sudah sengaja melepas baju itu. Pertanyaannya, jika ada orang lain yang membantu merobek baju itu, siapa?


    "Apakah kemarin saat Saudara Yudi hilang, ia bersama orang lain?" tanya petugas Polisi.


    "Iya, bersama Mbak Yuna." jawab salah satu karyawan.


    "Berarti, Saudara Yudi hilang bersama Saudara Yuna?" tanya Polisi itu lagi.


    "Ya, betul. Mas Yudi dan Mbak Yuna tidak ada semuanya." jawab para karyawan hampir bersamaan.

__ADS_1


    "Baik, saudara-saudara ..., pencarian kita lanjutkan besok pagi!"


    Dan kini, Yudi dan Yuna belum diketemukan. Adakah kemungkinan lain?


__ADS_2