
Yudi baru saja duduk di kursi tempat dia bekerja, HP-nya berdering. Tangannya langsung merogoh HP dari dalam kantongnya. Siapa tahu yang menelepon Yuna, orang yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Namun setelah diamati, ternyata yang memanggil adalah Rini.
"Selamat pagi, Rini ...." Yudi menjawab telepon.
"Pagi, Yudi .... Bagaimana kabarmu?" tanya Rini dari suara telepon yang terdengar.
"Baik, Rini .... Mohon maaf, apakah pagi ini Rini akan marah-marah lagi pada saya?" tanya Yudi yang ingat tempo hari pagi-pagi sudah dicaci maki oleh Rini.
"Eit, kok begitu, sih? Baru dengar suara kok langsung ngambek." sahut Rini yang merasa diejek.
"Habis, kemarin pagi-pagi sudah marah ke saya, mungkin saja pagi ini akan memarahi saya lagi, dan seterusnya mungkin setiap pagi akan telepon dan marah-marah kepada saya." sindir Yudi.
"Iih, Yudi .... Jangan begitu, dong .... Justru ini saya mau minta maaf, Yudi ...." sahut Rini.
"Katanya kemarin tidak mau memaafkan saya ...?! sindir Yudi lagi.
"Ah, kok Yudi begitu, sih .... Ngambek, ya ...?!" sahut Rini yang tentu malu jika selalu disindir.
"Lah, memangnya kenapa? Ada yang penting buat diriku?" tanya Yudi yang seolah acuh pada Rini.
"Maaf, Yudi .... Kemarin itu saya terbakar cemburu buta .... Mau kan, Yudi memaafkan saya? Ih, Yudi baik, deh ..., makanya aku suka sama Yudi. Maafin Rini ya, Yud ...." Rini berusaha merayu Yudi.
"Makanya, kalau mau bicara itu dipikir dahulu .... Jangan langsung marah-marah. Orang marah itu dikuasai setan, segala ucapannya pasti tidak baik, bahkan perbuatannya pasti akan keliru. Selain itu, orang marah itu emosinya pasti meningkat, yang akan menaikkan tensi darah, dan akhirnya menyerang jantung. Tidak hanya sampai disitu saja, banyak sisi negatif dari marah-marah, terutama hilangnya rasa persahabatan, hilangnya rasa cinta, hilangnya kasih sayang. Kita ini sudah tua, Rini ..., kendalikanlah emosi. Jangan suka marah-marah, nanti cepat mati." Yudi menyeramahi Rini.
"Iya, Yudi .... Rini minta maaf ...." sahut Rini yang pasrah.
"Memangnya ada setan apa sih, kok nyambet di diri Rini sampai marah-marah seperti itu?" tanya Yudi.
"Maaf ya, Yud .... Yudi, sih ..., gak mau masuk ke grup WA alumni SMA. Kalau Yudi ada di grup, pasti tahu masalahnya." sahut Rini.
"Memangnya ada berita apa di WA grup alumni?" tanya Yudi.
"Katanya Yudi mau nikah .... Apa benar itu?" sahut Rini.
"Kata siapa? Nikah sama siapa?" tanya Yudi lagi.
"Nah, kan ...? Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Yang foto-foto sama Yudi siapa?" Rini membalas bertanya dengan nada menyelidik.
"Waduh ..., Rini .... Saya ini kan pegawai wisata. Mengantar turis ke sana kemari adalah pekerjaan saya. Diajak foto di sana sini, mejeng sama cewek sama cowok, tua muda, kakek-kakek nenek-nenek, turis asing atau tetangga sendiri, itu setiap hari, Rini .... Bagaimana saya bisa mengingat?" protes Yudi.
"Iya, Yudi .... Aku minta maaf. Habisnya kemarin itu ..., teman-teman ribut, ramai banget." kata Rini.
"Memangnya meributkan apa?" tanya Yudi.
"Itu .... Si Yayuk, katanya mau menikah sama Yudi." jawab Rini.
"Hah ...?! Yudi terkejut.
"Kok kaget?!" sahut Rini.
"Siapa yang bilang seperti itu ...?!" tanya Yudi.
"Yayuk .... Bahkan sudah minta doa restu pada teman-teman .... Makanya aku cemburu, tahu ...!" jawab Rini.
__ADS_1
"Ya ampun, Rini .... Kok bisa-bisanya seperti itu? Ada apa ini sebenarnya?" Yudi menjadi bingung.
"Mohon maaf ya, Yudi .... Waktu itu saya benar-benar cemburu buta. Tapi setelah aku pikir-pikir, masak Yudi kok mau nikah sama Yayuk? Tidak mungkin lah .... Betul nggak, Yud? Hehehe ...." sahut Rini yang meminta maaf lagi.
"Oo .... Makanya kemarin waktu Silvy telepon ke saya, Rini sudah tidak marah lagi, malah nimbrung, dan merebut HP anaknya, kan ...." ledek Yudi.
"Iih .... Suka-suka, lah ...." sahut Rini yang mulai enjoi.
"Kirain mau marah sama anak perempuannya ...." kata Yudi.
"Eh, berarti kemarin Silvy telepon itu atas perintah Yudi, iya?!" Rini merasa dipermainkan.
"Iya, kami mau bersandiwara, tapi gagal .... Apes!" sahut Yudi.
"Ee .... Ternyata, anak dan bapak sama saja ..., sukanya ngerjain mamahnya. Awas, ya!" tukas Rini.
"Anaknya siapa?" tanya Yudi.
"Anak kamu lah, Yud .... Persis seperti papahnya." sahut Rini.
"Ih, ya ampun Rini .... Kok bisa bilang kalau Silvy anak saya .... Sejak kapan saya dapat mamahnya Silvy?" bantah Yudi.
"Hehehe .... Dalam angan-angan, Yudi ...." sahut Rini nyengenges.
"Huff .... Terus kalau papahnya pengin cium mamahnya, juga di angan-angan, gitu?" goda Yudi.
"Hehehe .... Kalau mau gituan juga di angan-angan, ya? Seperti lagunya Gombloh, ya ...." sahut Rini menggoda lagi.
"Gituan apaan sih?" Yudi coba menanya yang dimaksud.
"Yaa, mau tahu banget, lah ...!" sahut Yudi.
"Kalau mau tahu banget, besok ya, aku mau ke Jogja, aku ajak masuk kamar berdua, pintunya aku kunci, Yudi akan aku kasih tahu banget .... Hehehe ...." goda Rini yang semakin menjengkelkan Yudi.
"Huff ..., kelamaan. Kapan rencana ke Jogja lagi?" tanya Yudi.
"Dua tiga minggu lagi. Nunggu kami berempat longgar semua." sahut Rini.
"Lhoh, kok berempat? Katanya mau berdua saja?!" debat Yudi.
"Ya iya, lah .... Mas Hamdan, saya, Silvy sama suaminya. Nanti yang nyopir gantian. Gak mau ngrepotin Mas Jo. Libur-libur kok disuruh kerja terus." jawab Rini.
"Berarti liburan keluarga?" tanya Yudi.
"Rencana mau kirim berkas pemesasanan homestay, sekalian piknik. Sama Mas Hamdan mau lihat model homestay yang sudah mulai dibangun. Bagaimana?" jelas Rini.
"Oo .... Bagus itu. Ini dua unit pesanan teman-teman paguyuban sudah mulai di bangun. Progresnya sudah sepuluh persen. Sudah mulai nampak bentuknya. Paling tidak, dua minggu lagi sudah bisa ditonton wujud arsiteknya. Boleh, boleh, boleh ...." jelas Yudi.
"Wao .... Asyik ...." Rini kelihatan bahagia.
"Tapi, maaf sebelumnya, Rini .... Besok kalau menginap di rumah saya, terpaksa Rini sama Mas Hamdan tidurnya di ruang bangunan simbok saya." kata Yudi menyampaikan dulu kondisinya.
"Aku maunya tidur sama Yudi .... Hehe .... Eh, enggak, Yud .... Cuman bercanda. Kami tidur di mana saja bisa. Memang kenapa?" tanya Rini.
__ADS_1
"Soalnya, minggu depan rencananya Yuna mau balik ke Jogja. Jadi, kamar yang kemarin ditempati oleh Yuna, nantinya untuk tempat tinggal gadis Jepang itu lagi. Sehingga ruangan bangunan rumah hanya tinggal dua kamar." jelas Yudi.
"Apa? Yuna mau ke Jogja lagi? Syukurlah, Yudi .... Aku turut senang, akhirnya Yudi ...." sahut Rini.
"Memang kenapa, Rin?" tanya Yudi yang bingung.
"Yudi akan menikah dengan Yuna .... Aku bahagia, Yudi ...." lanjut Rini.
"Bukannya biasanya kalau ada perempuan yang dekat dengan saya, Rini langsung cemburu?" goda Yudi.
"Tidak, Yud .... Kami sudah bertekad mau melamarkan Yudi untuk Yuna. Aku senang kalau Yudi dapat menikah dengan Yuna. Silvy sangat berharap begitu, Yudi .... Anak perempuanmu itu selalu merengek pada papah mamahnya agar membantu Yudi bisa nikah dengan Yuna .... Bener, Yud. Yakin. Aku juga pernah janji, kan ..., kalau Yudi menikah dengan Yuna, aku yang akan membiayai semua kebutuhan pesta pernikahanmu." Rini bicara menggebu-gebu.
"Rini ..., aku sebenarnya bingung sama dirimu. Barusan kemarin Rini marah-marah gara-gara Yayuk minta doa restu. Tapi hari ini Rini justru mau menikahkan saya. Apa maksudmu, Rin?" Yudi jelas kebingungan.
"Sebenarnya kami sekeluarga sudah mendiskusikan hal ini, Yudi .... Anak perempuan yang kamu sayangi itu menghendaki Yudi mau menikah. Silvy menilai, Yuna itulah wanita yang paling cocok untuk disandingkan dengan dirimu. Jika kamu bisa bersanding dengan Yuna, aku bahagia, Yud. Jangan khawatir tentang cinta kita. Aku sudah punya Mas Hamdan. Yudi harus punya Yuna." jelas Rini yang menyenangkan.
"Rini .... Kamu jangan ngacau. Yuna ke Jogja itu dalam rangka kerja. Proyeknya, proyek warga Kampung Nirwana, proyek Taman Awang-awang, disetujui oleh yayasan penyandang dana untuk pemberdayaan masyarakat di Kampung Nirwana. Yuna sendiri yang akan menjadi pelaksana pembangunannya. Daripada kontrak rumah untuk tidur selama pembangunan, kan lebih baik Yuna tinggal di rumah saya. Yuna itu teman baik saya, apa salahnya saya memberi tumpangan tidur, seperti halnya sebulan yang lalu saat dia survei. Jadi, saya mohon Rini jangan seperti itu, apalagi saat nanti ketemu Yuna. Mohon jaga reputasi saya, Rin ...." jelas Yudi untuk menghindari kata-kata Rini yang seakan memaksa.
"Iya, saya tahu, Yudi .... Mohon maaf. Tapi seandainya ...." Rini mencoba untuk bicara lagi, tapi langsung dipotong oleh Yudi.
"Jangan berandai-andai, Rini .... Lakoni saja kenyataan hidup yang kita alami. Urip kuwi mung sakdermo. Hidup itu hanya sekadar menjalani titah dari Yang Maha Kuasa, Rin. "
"Kalau kenyataan hidupnya pahit ...?" tanya Rini mencoba mematahkan kata-kata Yudi.
"Anggap saja kita sedang meminum jamu. Walau pahit, bisa digunakan untuk menyehatkan badan yang pegal-pegal." sahut Yudi santai.
"Ya sudah, terserah Yudi saja .... Ngomong sama kamu itu susah, dasar keras kepala." kata Rini yang merasa kalah.
"Maafkan saya, Rini. Kalau masalah prinsip hidup, setiap orang punya pendirian sendiri-sendiri. Saya juga punya prinsip sendiri, yang berbeda dengan orang lain. Terima kasih, Rini sudah berniat baik untuk saya. Namun saya berharap cinta yang sudah tertanam dalam ladang hatiku ini, jangan kamu cabut. Biarkan hidup meski gersang karena tak pernah disiram." kata Yudi pada Rini.
"Iya, Yudi .... Aku paham tentang sikapmu. Walau kasih sayangku sudah terlanjur menjadi milik orang lain, tapi cinta pertamaku yang pernah aku tawarkan padamu, tidak pernah pudar dari sanubariku. Semoga Yudi juga paham tentang keadaanku saat ini. Namun terus terang, aku ikhlas jika Yudi mau bersanding dengan Yuna. Hanya dengan Yuna .... Bukan dengan yang lain. Itu pinta saya." kata-kata Rini kembali menggoyahkan tembok kesetiaan Yudi.
"Jika boleh saya tahu, kenapa mesti Yuna?" tanya Yudi.
"Feeling, Yud. Naluriku mengatakan hanya Yuna yang bisa menerima prinsip hidup Yudi. Demikian juga Silvy, anak kesayanganmu itu merasa cocok menerima prinsip Yuna. Cobalah sewaktu-waktu Yudi minta pendapat Silvy, untuk menilai Yuna. Anak itu cerdas, Yud. Persis seperti dirimu. Makanya aku suka iri dengan Silvy, kenapa Tuhan menitipkan semua sifat-sifatmu kepada Silvy. Yah .... Mungkin memang Tuhan ingin menunjukkan kepada diriku, bahwa Yudi adalah orang terbaik yang pernah saya kenal." kata Rini.
"Iya, Rin .... Terima kasih segala perhatianmu kepadaku. Tapi naluriku justru mengatakan, kalau jodohku itu dirimu, Rini ...." sahut Yudi.
"Iih .... Ngacau kamu, Yud!" sahut Rini. Padahal hati Rini berbunga saat Yudi mengatakan itu.
*******
"Yudiii ...!!! Dasar perjaka tua gemblung! Dicari ke mana-mana tidak ketemu, nggak tahunya malah mojok telpon-telponan!" bentak Mak Ndut, perempuan super gemuk teman sekantor Yudi.
Ya, saat menerima telepon dari Rini, Yudi memang sengaja mencari tempat sepi yang tidak terlihat temannya, takut suaranya mengganggu orang-orang di kantor. Maka Yudi mojok di belakang kantor.
"Maaf, Mak Ndut .... Ini telepon penting." sahut Yudi yang dimarahi rekan sekantornya itu.
"Kamu itu ke kantor mau kerja apa mau telpon-telponan?! Sana balik ke ruang kerjamu!" bentak wanita super gemuk itu lagi, dan kali ini mencubit pinggang Yudi.
"Aduh ..., aduh ..., aduh ..., Maaf, Mak Ndut .... Iya ..., iya .... Ya .... Ampun ...."
Yudi diseret oleh Mak Ndut dengan cara ditarik pinggangnya dengan cubitan. Yudi yang kesakitan langsung menurut saja. Mak Ndut baru melepaskan cubitannya saat Yudi sudah sampai di kursinya. Yudi duduk sambil meringis kesakitan. Dasar, Mak Ndut.
__ADS_1
Rini di Jakarta, yang mendengar ada keributan dari suara telepon Yudi, malah tertawa geli. Pasti Yudi dimarahi atasannya, lantas dijewer sampai dower. Hehehe ....