KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 213: MENYIBAK MISTERI


__ADS_3

    Sepulang Yayan dari rumah Yudi, setelah terselesaikan alih tulisan.


    Yudi langsungmembawa laptop ke ruangannya. Ia menaruh laptop yang masih menyala itu di meja kerjanya. Selanjutnya ia menutup pintu kamar, dan menguncinya. Agar nanti, jika ada Bagas atau siapapun yang datang ke rumahnya, tidak bisa masuk ke ruang Yudi.


    Lantas Yudi duduk di depan meja belajar tersebut, menghadapi laptop. Yudi memindahkan alih tulisan yang sudah dibuat oleh Yayan ke dalam fila tersendiri yang tadi siang sudah dibuatnya saat mengcopy sebagian alih bahasa yang kala itu sudah dibuat oleh Yayan. Kini ia menggabungkan hasil terakhir alih tulisan yang diselesaikan oleh Yayan.


    Yudi memandangi laptop dengan serius. Dalam benaknya, pasti ada sesuatu yang tersembunyi pada file tersebut. Maka ia kemudian mencermati tulisan itu, dari setiap suku kata. Tentu dengan rasa penuh harap, akan menemukan rahasia Yuna.


    "Ah, ternyata benar yang saya duga .... Ini pasti ada kaitannya dengan penangkapan Yuna." gumam Yudi yang sudah mulai memahami sebagian tulisan.


    Memang cukup sulit untuk mengartikan salinan yang dibuat oleh Yayan. Karena memang ada beberapa huruf yang kemungkinan terlewatkan atau memang tidak lengkap dalam penulisannya pada huruf kanji. Maka Yudi cukup sabar untuk mencermati satu persatu kata. Jika ada yang tidak mengandung arti, Yudi mencoba menambah huruf atau bahkan mengurangi, sehingga diperoleh kata yang mengandung makna. Selanjutnya Yudi merangkai kata demi kata. Dalam merangkai kata ini, tentu juga sambil ditata urutannya, sehingga menjadi kalimat yang sesuai dengan makna yang diharapkan.


    "Mas Yudi  ...!! Mas ...!! Mas Yudi ...!!" Bagas berteriak memanggil Yudi.


    "Ya ....!!!" sahut Yudi dari dalam kamar.


    Setelah menutup laptopnya, ia keluar kamar, menemui Bagas.


    "Ada apa, Gas .... Kok dengaren malam-malam begini datang ke rumah?" tanya Yudi yang menyambut Bagas.


    "Iya, Mas .... Ada yang harus saya sampaikan pada Mas Yudi." jawab Bagas, sambil menaruh tas kresek di atas maja makan. Lantas Bagas mengambil piring di rak. Tentu untuk menuangkan jajanan dari tas kresek yang dibawa tersebut.


    "Sini, duduk ...." kata Yudi yang sudah duduk di kursi makan.


    "Nih ..., gorengan dari Mbok Yem ...." kata Bagas sambil duduk berhadapan dengan Yudi.


    Yudi langsung mengambil mendoan, lansung disantap. Maklum ia tentu lapar karena belum sempat makan.


    "Enak, Gas .... Di Jepang tidak ada makanan seperti ini, lho ...." kata Yudi sambil menggigit mendoan.


    "Mosok to, Mas ...? Memang di Jepang tidak ada tempe ya, Mas?" tanya Bagas.


    "Orang Jepang tidak bisa membuat tempe." sahut Yudi enteng saja.


    "Wah ..., kalau Mbok Yem disuruh jualan mendoan goreng di Jepang, laris ya, Mas .... Hehe ...." sahut Bagas yang tentu sambil nyengenges.


    "Kulakannya tempe dari mana?" tanya Yudi.


    "Ya impor dari Indonesia to, Mas ...." sahut Bagas.

__ADS_1


    "Ada apa, kok seperti ada sesuatu yang penting?" tanya Yudi pada Bagas, setelah menelan gigitan mendoan yang terakhir.


    "Begini, Mas Yudi .... Di Taman Awang-awang, orang-orang bilang perlu ditambah wahana, untuk menarik wisatawan agar pada berdatangan lagi. Kata para karyawan, para pengunjung butuh suasana lain, obyek lain yang menarik. Kalau hanya selfi di pinggir laut, itu sudah bosan. Sekali dua kali foto saja sudah tidak mau lagi. Mereka bilang, berkali-kali foto latar belakangnya kok sama terus." jelas Bagas yang tentu menyampaikan keluhan para pengunjung.


    "Lah kan sudah ada wahana permainan .... Yang di gedung piramida itu. Mainannya kan cukup banyak dan menarik." sahut Yudi.


    "Ya kalau mainan kan memang tempat bermain, Mas .... Katanya, kalau sudah main satu kali juga sudah. Wong namanya juga mencoba. Paling yang sering main kan hanya anak-anak. Lah kalau yang orang tua ..., mereka butuh suasana yang lain dari objek-objek wisata yang lainnya." kata Bagas lagi.


    Yudi merenung. Benar apa yang dikatakan Bagas. Memang yang namanya objek wisata harus selalu up to date. Harus mengikuti perkembangan zaman serta selera pengunjung. Paling tidak harus bisa bersaing dengan objek-objek wisata lainnya.


    "Kira-kira apa yang perlu ditambahkan ke sana, Gas ...?" tanya Yudi pada Bagas.


    "Lhah ..., lah .... Kok tanya saya, Mas Yudi? Biasanya Mas Yudi kan cling ..., cling ..., cling .... Begitu ...." jawab Bagas yang justru mengejek Yudi.


    "Kok cling ..., cling ..., cling .... Apa itu?" tanya Yudi membalikkan kata-kata kepada Bagas.


    "Lhah ..., biasanya kan Mas Yudi yang punya ide cemerlang. Orang se kampung di sini nggak ada yang top kayak Mas Yudi. Apa-apa kan selalu diserahkan pada Mas Yudi .... Mosok sekarang malah saya yang disuruh mikir .... Sekolah saja gak tamat SD, Mas ...." kata Bagas.


    "Ya, saya kan butuh masukan dari kalian-kalian to, Gas .... Dari Pak Lurah, dari para pedagang, dari para karyawan, bahkan mungkin juga dari para pengunjung. Setidaknya memberi ide masukan apa, gitu .... Paling tidak bisa untuk tambah-tambah bahan pemikiran." sahut Yudi yang tentu memberi wawasan kepada Bagas.


    "Oo .... Begitu ya, Mas ...." sahut Bagas yang tentu mulai harus berpikir.


    "O, ya ..., Mas Yudi .... Saya dapat pesan dari Pak Lurah ..., katanya Mas Yudi disuruh cepat-cepat menikah sama Ibu Rini .... Hehe ...." kata bagas selanjutnya, yang tentu sambil tersenyum malu untuk menyampaikan.


    "Bagas ..., Ibu Rini itu kan baru saja ditinggal meninggal suaminya. Belum ada setahun. Ibarat orang-orang di kampung kita mengatakan belum mendak .... Terlalu dini, gas .... Kurang baik." Yudi menjelaskan keadaan Rini.


    "Loh, pakai acara mendak segala to, Mas ...? Saya kira kalau orang Jakarta tidak mengenal acara-acara kayak gitu ...." sahut Bagas.


    "Ya ada to, Gas .... Itu kan adat istiadat. Di mana-mana pasti ada. Lha wong di Jepang saja juga ada banyak tradisi, kok ...." sahut Yudi.


    "Lha mendaknya, kapan, Mas?" tanya Bagas lagi.


    "Hitung sendiri .... Kan yang dikasih tahu waktu Pak Hamdan meninggal itu kamu." sahut Yudi yang tidak mau menghitungkan.


    "Iya, ya .... Ya, paling kurang sekitar lima bulan lagi. Berarti setelah itu Mas Yudi mau menikah dengan Ibu Rini ...?" lanjut Bagas.


    "Ya ampun, Bagas .... Orang menikah itu kan banyak syaratnya. Kok koyo pitik wae ...." sahut Yudi yang gemas dengan Bagas.


    "Lha ..., tapi Ibu Rini kan senang sama Mas Yudi .... Dan dahulu ..., Mas Yudi kan juga pernah dekat dengan Ibu Rini .... Berarti kan sudah senang sama senang. Sudah klop to, Mas ...." kata Bagas tanpa dosa.

__ADS_1


    "Iya ..., tapi ...." Yudi mau menjelaskan tapi langsung dipenggal.


    "Halah ..., tapi-tapi apa lagi .... Yang penting senang sama senang, suka sama suka, cinta sama cinta .... Itu sudah pas untuk mantenan, Mas Yudi." kata Bagas yang memotong penjelasan Yudi.


    "Kalau tidak punya uang, anaknya mau diberi makan apa? Mbayar sekolahnya pakai apa?" sergah Yudi.


    "Hussalaah .... Mas Yudi itu beralasan terus. Anaknya Bu Rini saja sudah besar, sudah bisa cari uang sendiri. Eh, Mas ..., tapi kalau wanita seusia Ibu Rini masih bisa punya anak, nggak?" tanya Bagas lebih aneh lagi.


    "Ya saya tidak tahu, lah .... Masak saya disuruh ngurusi yang kayak gitu ...." Yudi membantah Bagas.


    "Ngomong-ngomong, Mas Yudi ..., Ibu Rini itu kok masih cantik, seperti anak-anak perawan di kampung kita, usianya berapa to, Mas ...?" tanya Bagas lagi yang semakin detil.


    "Bagas ..., kamu silakan ke rumah Ibu Rini .... Tanya sendiri pada Ibu Rini. Cepetan pergi .... Saya lama-lama jengkel menfdengar pertanyaan-pertanyaan kamu yang nggak mutu itu ...." kata Yudi yang sebenarnya jengkel dengan Bagas.


    "Ngusir .... Ya sudah, saya pulang dulu .... Yang penting itu tadi ya, Mas .... Tolong dipikirkan untuk menambah daya tarik objek wisata kita ...." kata Bagas yang sudah berdiri, mau pulang.


    "Hlo .... Kamu itu disuruh mikir kok malah balas nyuruh orang .... Bagas ..., Bagas .... Payah, kamu itu ...." kata Yudi yang juga berdiri mengikuti langkah Bagas, tentu melepas kepergian Bagas sampai di pintu garasi.


    Bagas langsung menutup pintu garasi, dan langsung menguncinya dari dalam. Khawatir nanti ada Bagas dang dan masuk lagi. Padahal untk saat ini Yudi ingin menyendiri untuk melihat rahasia yang ditulis oleh istrinya. Makanya, Yudi tidak ingin terganggu dahulu. Ia kembali ke ruangannya, dan menutup pintu serta menguncinya. Kali ini ia benar-benar ingin menyelesaikan dalam memahami tulisan istrinya.


    Yudi kembali membuka laptopnya, yang tadi hanya sekadar ditutup layarnya. Ia duduk kembali menghadapi laptop tersebut. Tentu langsung mencermati kata-kata hasil alih tulisan yang dibuat oleh Yayan. Meski sudah pudar gara-gara kedatangan Bagas, namun Yudi kembali bersemangat saat menemukan kata-kata dalam file tersebut yang menyebutkan nama-nama tempat, serta nama-nama lain yang mungkin ini adalah tempat yang dirahasiakan oleh Yuna. Atau bisa jadi ini adalah nama-nama perusahaan tempat Yuna bekerja. Mungkin saja memang ini rahasia yang disembunyikan oleh istrinya, bahkan tidak pernah diceritakan kepada Yudi.


    Ya, ada beberapa kata yang merupakan sebuah nama tempat, seperti Honsu, Nagoya, Sapporo .... Itu adalah nama beberapa daerah atau bahkan kota di Jepang yang tidak asing dan mudah dikunjungi oleh siapa saja. Tetapi Yudi merasa aneh dengan sebutan Ise Grand Shrine.


    "Ise Grand Shrine ..., ini hanyalah kuil kuno yang dikeramatkan oleh orang-orang Jepang. Ada apa Yuna menulis nama kuil Ise Grand Shrine ini ...? Apa hubungannya? Apakah Yuna ada di sana? Tetapi kenapa waktu itu Pendeta Agung tidak memberitahukan kepada saya? Kalau memang Yuna ada di kuil, pasti Pendeta Agung tahu." tanya Yudi dalam hatinya.


    Ya, Ise Grand Shrine merupakan Kuil Sinto kuno, yang dibangun bertahun-tahun jauh sebelum Masehi. Kuil ini sangat dikeramatkan dan dianggap kuil paling suci oleh penduduk Jepang karena historisnya. Tempat paling suci di Jepang ini hanya dapat diakses oleh para imam dan anggota keluarga kekaisaran. Kuil ini terletak di kawasan Ise dekat dengan Kota Osaka maupun Nagoya.


    "Ada apa di kuil Ise Grand Shrine ini ...?" Yudi bertanya-tanya dalam hatinya.


    Selanjutnya Yudi membaca lagi tulisan itu, ada yang tertulis "Hijō ni himitsu", yang artinya sangat rahasia. Tentu Yudi sangat penasaran. Lantas ia mencermati tulisan yang ada di bawahnya. Tentu ia kaget, setelah membaca tulisan "Aum Shinrikyo".


    Yudi melenggong. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Baru membaca tulisan itu, seperti ada daya magis yang langsung melemaskan seluruh persendian di tubuh Yudi.


    "Ada apa sebenarnya dengan Yuna? Apa kaitannya dengan Aum Shinrikyo? Apakah Yuna menjadi bagian dalam aliran kepercayaan ini?" batin Yudi mulai berkecamuk.


    Yah, walau sebenarnya setiap orang punya hak untuk menganut kepercayaan yang diyakininya, tetapi bagi Yudi, sebenarnya tidak rela jika istrinya masuk dalam kelompok-kelompok seperti itu. Paling tidak, Yuna sudah berada dalam lingkaran orang-orang kelompok garis keras.


    Yudi lemas. Tidak sanggup untuk melanjutkan membaca tulisan rahasia tersebut. Apapun isinya, saat ini Yudi belum bisa berpikir lagi. Misteri istrinya belum terungkap.

__ADS_1


__ADS_2