
"Stop! Stop here." kata Yuna meminta Bagas menghentikan mobilnya.
Bagas langsung menepikan mobilnya. Lantas berhenti. Padahal puncak bukit masih sedikit lagi, tinggal beberapa meter saja.
"Why?" tanya Yudi pada Yuna.
"Kita turun di sini. We get down here. Ada yang harus saya jelaskan untuk tempat ini. Look at this area."kata Yuna yang sudah turun dari mobil, lantas menunjuk area lahan.
Yudi juga turun dari mobil, lantas mendekat ke Yuna yang menunjukkan lahan di depannya. Yudi pun mengamati lahan yang ditunjuk Yuna. Kemudian Yuna membuka tas rangsel, mengambil kertas yang terdapat gambar denah.
"Look at this. Di sini. Parking lot plan. Rencana area parkir, model FIFO, or GIGO." kata Yuna yang menunjuk kertas kerja sambil mengamati lahan.
"Bagas ...! Kamu naik duluan, parkirkan kendaraannya di atas. Ini sudah mulai cek lapangan." kata Yudi memerintahkan Bagas yang menyetir mobil.
"O, ya, Mas Yudi. Siap ...." Bagas menyahut, langsung melajukan mobilnya ke puncak bukit.
Lantas Yudi kembali mendekat ke Yuna yang masih mengamati sketsa dan mencocokkan dengan lahan yang dilihatnya.
"How do you mean? Yuna ingin ada tempat parkir di sini?" tanya Yudi pada Yuna.
"Of course. Tentu. Ini untuk mempermudah akses transportasi." jawab Yuna.
"Tapi, bagaimana dengan komunitas VW wisata? Mereka tidak dapat penghasilan? Sorry the drivers don't get money." Yudi berpendapat.
"Oo, no .... Ini wisata terpadu. Jangan berpikir sempit, Yudi. Para sopir jangan diberi uang dari hasil mereka mengantar wisatawan. Tetapi Yudi harus bangun wisata ini menjadi sebuah perusahaan. Tour company. Mereka adalah karyawan Yudi, yang harus dapat uang dari gaji. Semua yang terlibat, adalah karyawan. Kamu yang gaji mereka. Employee salary. Employees must be paid. *Not work to earn money. You know*?" jelas Yuna.
Yudi termenung sejenak. Selama ini belum pernah memikirkan perusahaan wisata. Belum ada angan-angan untuk mensejahterakan masyarakat dengan cara menggaji. Cara seperti itu masih jauh dari angan-angan Yudi. Belum pernah terbayangkan. Maka ketika mendengar rencana Yuna untuk menggaji para sopir, terus terang Yudi terkejut. Belum pernah ia menemukan seperti ini di Indonesia. Bahkan pemerintah pun yakin tidak sanggup. Belum pernah mendengar ada BUMN pariwisata. Jika dirinya harus melakukan seperti ini, uang siapa yang akan dipakai untuk menggaji?
Tetapi masuk akal juga, ketika para pekerja wisata, termasuk sopir-sopir wisata, jika mendapatkan gaji secara tetap, maka hidupnya bisa lebih sejahtera. Termasuk penataan karakternya juga lebih mudah, karena terikat dengan aturan pekerja. Bisa juga dicoba, siapa tahu itu akan lebih meningkatkan kinerja dan kesejahteraan.
"Berat bagi saya untuk melakukan itu, Yuna. I do not have money. Tapi coba, nanti kita bahas bersama. Tentu saya minta banyak masukan dari Yuna. I need your help." kata Yudi pada Yuna.
"Okey, Yudi. Don't worry!" sahut Yuna.
Lantas Yudi dan Yuna meninggalkan area itu, yang oleh Yuna akan didesain menjadi tempat parkir. Kemudian mereka berdua berjalan bersama menuju puncak bukit. Ya, jalannya sedikit agak menanjak. Tentu membuat Yuna sedikit kecapaian.
"Oh, no .... Yudi ..., help me, please. Saya tidak kuat jalan menanjak." kata Yuna yang menjulurkan tangan minta untuk dibantu.
Yudi yang ada di depannya, langsung menoleh, lantas memberikan tangannya. Yuna langsung menggapai tangan Yudi. Dasar Yuna wanita perawan, ia pun menggapai tangan Yudi dengan manja.
"Yudi, I can't walk. Ach ...." kata Yuna yang sudah memegang erat lengan Yudi dengan dua tangannya.
Yudi membiarkan genggaman erat tangan Yuna. Bahkan sambil tertawa ia menariknya, untuk membantu Yuna berjalan naik.
"Hahaha .... Yudi, saya tidak kuat berjalan naik." kata Yuna sambil tertawa.
"Kamu kurang olah raga, Yuna. Let's exercise. Come on, Yuna." sahut Yudi yang juga ikut tertawa.
Dua orang itu, Yudi dan Yuna, sudah bergandengan tangan saat menaiki bukit. Tentu dengan gembira, sambil tertawa riang.
Bagas yang sudah memarkirkan mobilnya, membuka bagasi dan menurunkan barang-barang peralatan milik Yuna maupun barang-barang yang lain, ditaruh di pendopo sederhana yang sudah dibangun di puncak bukit . Pasti alat-alat ini nanti akan digunakan untuk pengecekkan rancangan gambar dengan data lapangan.
Setelah selesai menurunkan barang-barang, Bagas menuju gubug-gubug kecil tempat orang berjualan.
"Ee ..., Mas Bagas .... Sama siapa?" tanya ibu-ibu bakul yang jualan di warung itu. Mencari rejeki dari para turis yang ingin minum ataupun makan masakan khas Jogja. Bahkan ada juga yang jual ciplukan. Katanya untuk obat asam urat.
"Ngantar Mas Yudi. Mau mencocokkan rancangan gambar. Ini lho untuk rencana bangunan obyek wisata kita." jawab Bagas yang langsung duduk di bangku panjang terbuat dari kayu. Di daerah Bantul, bangku itu disebut dengan istilah dingklik.
"Lha mana, Mas Yudi?" tanya ibu-ibu itu, yang belum ada pengunjung. Masih terlalu pagi.
__ADS_1
"Itu, masih di bawah. Masih melihat lokasi. Ngecek gambar." jawab Bagas sambil menunjuk tempat Yudi berada.
Dan orang yang dibicarakan, ternyata sudah terlihat. Muncul dari jalanan yang menanjak.
"Hah, Gas ..., itu Mas Yudi. Sama siapa itu, Gas? Cantik sekali? Pacarnya, ya?" tanya beberapa ibu di warung yang otomatis langsung mengamati keberadaan Yudi bersama gadis di sampingnya.
"Oo ..., itu .... Mbak Yuna, itu orang Jepang yang mau membantu kita membangun obyek ini." jawab Bagas.
"Walah, itu orang Jepang, to ..., cantiknya .... Kulitnya putih, halus, mulus .... Masaallah ...." kata seorang ibu penjual nasi pecel.
"Berarti dia kaya raya, ya .... Alhamdulillah .... Berarti nanti tempat ini jadi ramai ya, Gas." kata yang lain.
"Iya, doakan saja usaha Mas Yudi bisa berhasil." sahut Bagas.
"Eh, Gas, itu Mbak Yuna yang dari Jepang itu sudah nikah belum? Punya suami nggak?" tanya ibu-ibu lagi.
"Dengar-dengar sih, belum .... Masih perawan." jawab Bagas.
"Serasi. Cocok. Pantes. Pas .... Wis, ndang disuruh nikah. Nunggu apa lagi, nanti biar kampung kita lebih ramai." kata salah satu pedagang.
"Iya .... Lihat itu, Mas Yudi kelihatan bahagia, seneng, bergandengan tangan sama ceweknya. Tertawa berdua." kata yang lain sambil menunjuk pada arah dua sejoli yang sedang berjalan naik.
"Eh, iya .... Syukur alhamdulillah .... Mas Yudi mau nikah .... Wis, pokoknya saya seneng."
"Iya, ya .... Gak kayak biasanya, Mas Yudi sekarang kelihatan hepi. Tertawa-tawa. Baru kali ini lho, saya lihat Mas Yudi tertawa." kata yang lain.
"Iya, betul .... Tadi di dalam mobil juga gojekan terus, kok. Mas Yudi kelihatannya seneng sama Mbak Yuna." Bagas ikut-ikutan menimpali kasak-kusuk ibu-ibu, mulai menyebar isu.
"Hooh, to .... Weealah ..., wis Gas, ndang disuruh nikah. Kasihan Mas Yudi sudah keburu tua." kata salah satu ibu.
"Bagas! Kamu dimana?!" teriak Yudi memanggil Bagas dari samping mobilnya yang terparkir.
Lantas Yudi dan Yuna berjalan menuju gubug-gubug warung di puncak bukit. Tidak sekedar menghampiri Bagas, tetapi juga mau minum di warung itu, untuk menghilangkan dahaga.
"Monggo, Mas Yudi .... Walah, Mas Yudi kok tidak kabar-kabar, ya." kata seorang ibu penjaja kuliner.
"Kabar apa, Mbok?" sahut Yudi.
"Halah, Mas Yudi, pura-pura tidak tahu. Itu, tu .... Wah, Mas Yudi pinter milih cewek. Cuantik sekali lho, Mas ...." kata ibu yang lainnya.
"Iya, Mas Yudi, kapan ramai-ramainya? Ayo jangan terlalu lama." sahut yang lain.
"Ini pada ngomongin apa sih?" kata Yudi santai.
"Kenalkan dong, Mas .... Pacar Mas Yudi cantik, lho." kata ibu yang lain lagi.
"Eh, Yudi .... What is this?" tanya Yuna yang tentunya masih bingung dengan yang dibicarakan ibu-ibu.
"Ah ... tidak apa-apa. They say, you're beautiful. Yuna Cantik." jawab Yudi.
"Oh, thank you." sahut Yuna sambil tersenyum lebar.
Para ibu pedagang pun ikut tertawa riang. Senang dengan sikap Yuna yang periang. Kalaupun wanita ini menikah dengan Yudi, pasti masyarakat Kampung Nirwana akan merasa senang.
"Sudah, Mas Yudi ..., ayo cepetan kawin. Ya to, ya to ...." kata salah satu pedagang sambil memprovokasi ibu-ibu yang lain.
"Iya, betul. Setuju. Kami siap bantu, Mas Yudi. Pokoknya beres." sahut ibu-ibu yang lain.
"What hapen?" tanya Yuna pada Yudi, tentu dua tangannya sambil memegang lengan Yudi.
__ADS_1
"Hahaha .... Gak usah dipikirin. Ibu-ibu pengacau. Don't worry." kata Yudi yang tiba-tiba telunjuknya mencolek hidung Yuna yang mungil.
"Ah, nakal kamu, Yudi .... You are naughty." Yuna membalas Yudi dengan mencubit pinggangnya.
"Auh ...!" Yudi pura-pura kesakitan.
"Eh, Jeng Yuna .... Coba bilang sama Mas Yudi, aku tresno sliramu ...." kata salah satu ibu.
"What?" tanya yang bingung tidak tahu artinya.
"Coba bilang: aku ...." kata ibu itu mendekte Yuna.
"Aku ...." tiru Yuna.
"Tresno ...." kata ibu itu lagi.
"Trisnu ...." tiru Yuna.
"No, no .... No trisnu .... Tresno ...." kata ibu itu membenarkan ucapannya.
"Teresno ...." tiru Yuna.
"Sliramu ...." ibu itu masih mendekte.
"Seliramu ...." tiru Yuna.
"Nah, betul .... Coba diulang .... Aku tresno sliramu." kata ibu yang mendekte.
"Aku teresno seliramu ...." tiru Yuna.
"Hahaha .... Betul ...." kata ibu tadi sambil tertawa, karena Yuna bisa mengucap bahasa Jawa.
Tiba-tiba ada ibu yang agak muda mendekati Yuna. Lantas meminta untuk mengulang kata-kata itu lagi, sambil memegang tangan Yuna untuk memperagakan gerakan.
"Ayo diulangi lagi." kata ibu muda itu.
"Aku teresno seliramu ...." kata Yuna.
Tangan Yuna saat mengucapkan kata-kata itu digerak-gerakkan oleh sang ibu muda. Saat bilang "aku" kedua tangan Yuna digerakkan menunjuk ke dadanya. Saat bilang "tresno" kedua tangan Yuna digerakkan membentuk daun waru. Dan saat mengatakan "sliramu" kedua tangan Yuna digerakkan menyentuh dada Yudi.
"Ayo, diulang sendiri kata-kata dan gerakannya." kata ibu-ibu.
Lantas Yuna mulai mengulang kata-kata itu yang disertai peragaan gerakan tangan.
"Aku tresno seliramu." kata Yuna dengan peragaannya.
"Horee ...." sorak ibu-ibu sambil bertepuk tangan. Selanjutnya mereka tertawa riang, sudah berhasil mengerjai cewek Jepang.
Yudi yang dipakai sasaran juga ikut tertawa, karena melihat logat bahasa Yuna serta gerakannya yang lucu.
"Apa artinya, Yudi? What does it mean?" tanya Yuna.
"I love you. Haha ...." jawab Yudi.
"What?!" Yuna terbelalak.
"Ya .... Aku cinta padamu. I love you." ulang Yudi.
"I love You .... Watashi wa, anata o aishiteimasu .... Aku tresno seliramu." sahut Yuna yang mengucap kata cinta dengan bahasa Inggris, Jepang dan Jawa.
__ADS_1
Yuna tertawa. Bagas ikut tertawa. Ibu-ibu yang ada di warung itu juga ikut tertawa terbahak-bahak. Yudi pun juga tertawa. Semuanya tertawa. Hari itu, betul-betul membahagiakan bagi Yudi, Yuna serta seluruh orang yang ada di puncak bukit, yang akan dijadikan Taman Awang-awang. Hari yang membahagiakan.