
Rini sudah tidak bisa mengelak dari telepon suaminya. Setelah berkali-kali ditelepon, akhirnya Rini mengangkat juga panggilan video call dari suaminya. Rini pasrah, apapun yang akan dikatakan oleh suaminya pada dirinya.
"Halo, Pah ...." kata Rini saat mengahadapi wajah suaminya di HP.
"Hai, Mah .... Kok ditelepon berkali-kali tidak diangkat?" tanya Hamdan, suaminya.
"Maaf, Pah ..., HP-nya ada di dalam tas." jawab Rini berusaha mengelabuhi suaminya.
"Kok, di tas? Memang Mamah ada di mana?" tanya suaminya yang langsung curiga.
"Maaf, Pah ..., saya sedang di Jogja .... Saya menjenguk Yudi." jawab Rini berusaha jujur, semoga dengan kejujuran itu suaminya bisa menerima.
"Ya ampun, Mamah .... Saya kan sudah bilang, jangan pergi-pergi selama Papah tidak di rumah .... Mamah ini bagaimana, sih?!" kata suaminya yang jengkel pesannya tidak dituruti istrinya.
"Saya sangat khawatir dengan Yudi, Pah ...." sahut Rini yang berusaha beralasan.
"Mamah itu selalu ngeyel .... Yudi itu kan sudah ada yang ngurusi. Kenapa sih, Mamah selalu Yudi ..., Yudi ..., Yudi melulu yang dipikirkan ...?!" sahut Hamdan yang jengkel mengetahui sikap istrinya.
"Kasihan, Pah ...." jawab Rini memelas.
"Pokoknya Mamah segera pulang!" perintah Hamdan.
"Tapi, Pah .... Pah ...! Pah ...!! Ih ..., kok malah dimatikan." teriak Rini memanggil suaminya, tetapi panggilan dari Hamdan sudah dimatikan.
Lantas Rini menelepon balik suaminya. Tidak diangkat. Rini mengulang, menelepon lagi. Hasilnya sama, suaminya tidak mengangkat panggilan dari Rini. Rini mencoba dan mencoba lagi untuk menelepon suaminya. Berkali-kalai memanggil. Tetapi, suaminya tidak mau mengangkat panggilan tersebut.
Tentu Hamdan menjadi jengkel saat istrinya tidak menuruti kata-katanya, tidak mau menuruti perintahnya. Disuruh untuk menunggu rumah saat suaminya pergi, eh, malah ikut-ikutan pergi. Istri macam apa Rini itu. Tentu Hamdan marah. Makanya, daripada emosinya bertambah, dan akan mengganggu pikirannya saat bekerja, maka lebih baik Hamdan mematikan panggilannya.
Tetapi bagi Rini, menganggap bahwa suaminya marah lagi pada dirinya. Suaminya sudah melarang Rini untuk berdekatan dengan Yudi. Pasti suaminya khawatir kalau Yudi akan menggaet istrinya.
"Dasar laki-laki tua ...." gerutu Rini yang jengkel dengan suaminya.
Walau begitu, Rini tetap istri yang baik. Begitu disuruh pulang oleh suaminya, ia pun ingin bergegas pulang. Namun saat ini ..., dirinya hanya di gazebo seorang diri, tidak ada siapa-siapa yang akan dimintai pertimbangan. Bahkan Yudi yang jauh-jauh dibesuk dari Jakarta, malah meninggalkan begitu saja hanya untuk rapat.
"Uh, Yudi juga keterlaluan .... Masak saya jenguk jauh-jauh dari Jakarta, kok malah ditinggal rapat, apa sudah tidak cinta sama diriku? Mestinya kan berbaring di sini saja, biar bisa aku pijit, biar bisa aku elus-elus, biar bisa merasakan kasih sayangku .... Kok malah ninggalin aku sendirian .... Dasar laki-laki tak tahu diri." gerutu Rini yang jengkel dengan Yudi.
Akhirnya Rini mengangkat HP, menggeser layar, lantas melakukan panggilan.
"Halo, Mas Bagas .... Mas Bagas ada di mana?" Rini menelepon Bagas.
Rini memanggil Bagas, tentu akan dimintai tolong.
__ADS_1
Tentu Bagas yang menerima panggilan itu, langsung menunjukkan pada Mbak Yuna, dan tentu pada saling tertawa. Mereka menduga, pasti Rini suntuk karena sendirian tidak punya teman. Lantas Bagas menjawab.
"Ee ..., anu Ibu Rini .... Ini anu ..., saya sedang mengantar Mbak Yuna. Ada apa ya, Ibu Rini?" jawab Bagas pada Rini. Tentu sambil memberi kode kepada Yuna.
"Masih lama, Mas Bagas?" tanya Rini.
"Ee ..., anu Ibu Rini .... Ee ..., masih agak lama. Memangnya ada apa, Ibu Rini?" kata Bagas.
"Begini, Mas Bagas .... Saya harus pulang ke Jakarta, ada urusan penting." kata Rini.
"Lha terus? Di situ kan ada Mas Yudi ...." kata Bagas yang mengira seolah Rini bersama Yudi.
"Tidak ada, Yudi baru rapat di depan. Ini saya mau pulang ke Jakarta, mau minta tolong diantar ke Bandara." jawab Rini.
"Tapi ini Mbak Yuna masih lama .... Lha terus bagaimana?" kata Bagas yang tentu sambil tersenyum-senyum bersama Yuna yang sedang bersenang-senang dengan calon mertuanya.
Yuna yang tahu kelakuan Bagas ngerjain Rini, malah acung jempol. Itu artinya Yuna setuju dengan kelakuan Bagas. Dan tentu semakin Rini cepat pulang ke Jakarta, Yuna akan semakin senang.
"Tidak bisa ditinggal dulu, ya?" tanya Rini pada Bagas.
"Waduh, ya kasihan Mbak Yuna, tidak ada yang membantu. Bagaimana kalau Ibu Rini ke Pak Lurah yang sedang rapat bersama Mas Yudi, minta tolong kepada anak buahnya Pak Lurah .... Nanti biar Pak Lurah yang nyuruh." kata Bagas memberi alternatif.
"Tidak apa-apa .... Nanti ada yang bantu Ibu Rini." sahut Bagas meyakinkan.
"Ya sudah, Mas Bagas .... Saya mau coba minta tolong ke Pak Lurah." kata Rini yang mengakhiri teleponnya dengan Bagas.
Di Taman Awang-awang, Bagas dan Yuna tertawa geli. Pasti menertawakan Rini yang saat ini di tinggal sendirian, lantas tidak betah, dan kemudian kebingungan akan pulang. Bagas sangat senang, karena strateginya berhasil dan lancar.
Demikian juga Yuna, yang senang karena tidak terganggu oleh kehadiran Rini, yang tentu akan selalu mendekati Yudi. Padahal Yuna ingin melakukan perawatan secara baik untuk mengobati luka-luka Yudi yang ada di punggungnya. Kalau Rini masih ada di situ, dan nanti Rini mengatakan akan merawat Yudi .... Waduh, bisa geger lagi. Setidaknya akan mengurangi rasa cemburu Yuna.
"Kalian ini pada kenapa to, kok cekikak-cekikik ...?" tanya Simbok pada Bagas dan Yuna yang terlihat tertawa-tertawa gembira.
"Anu .... Ini, anu ...." kata Bagas yang bingung menjawab atau memberi alasan.
"Ini, Simbok .... Bagas merasa geli lihat Bapak dan Simbok pengin bermain seperti anak-anak itu ....Hahaha ...." kata Yuna yang mengalihkan perhatian, dengan berbaur di aneka permainan yang ada dalam gedung piramid.
"Iya, Mbok .... Kalau Bapak dan Simbok main tarik tambang, pasti seru .... Hehehe ...." kata Bagas yang mengejek kedua orang tua Yudi.
"Oo ..., bocah gemblung .... Wong tua-tua kok disuruh main tarik tambang ...." sahut Simbok sambil memukul Bagas.
*******
__ADS_1
Sementara itu, di pendopo rumah Yudi, sedang berlangsung rapat. Ada Pak Lurah serta beberapa orang dari pemimpin paguyuban, serta orang-orang yang dipandang punya kemampuan bisa menjalankan usaha kepariwisataan. Yudi yang memimpin rapat tersebut. Meski sakitnya belum sembuh total, tetapi masih bisa menyelenggarakan pertemuan dengan para penggiat wisata di Kampung Nirwana.
Rini berjalan perlahan, menuju tempat rapat, takut mengganggu orang-orang yang ada di situ. Walau demikian, saat Rini sampai di pendopo, tentu orang-orang berhenti bicara. Lantas perhatiannya berubah, tertuju pada wanita yang datang, masuk ke pendopo tersebut, yaitu Rini.
Demikian juga Yudi, yang langsung ikut menoleh ke arah perhatian orang-orang. Ternyata ada Rini yang datang.
"Lhoh, Rini ...? Ada apa?" tanya Yudi pada Rini.
"Maaf mengganggu ..., saya mau minta tolong, mohon izin Pak Lurah, apakah boleh ada yang bisa mengantar saya ke bandara?" kata Rini yang mau meminta tolong untuk diantar ke bandara.
"Lhah, kok mau pulang? Tidak jadi tidur di sini?" tanya Yudi yang kaget mendengar kata-kata Rini.
"Iya, ada hal penting yang harus saya urus di Jakarta." kata Rini.
"Kan Pak Hamdan ada di Jerman?" tanya Yudi lagi.
"Justru karena Mas Hamdan ada di Jerman, maka saya yang harus mengurusnya." jawab Rini.
"Oo ..., baiklah kalau begitu, biar nanti diantar." kata Yudi.
"Terima kasih, Yudi ...." sahut Rini.
"Tolong, siapa yang bawa mobil, ini Ibu Rini minta diantar ke bandara ...." kata Yudi dengan para peserta rapat.
"Mas Jamal, bawa .... Pak Lurah juga bawa ...." kata orang-orang yang ikut rapat di pendopo.
"Kalau begitu, Mas Jamal saja yang mengantar Ibu Rini, biar Pak Lurah tetap di sini menyaksikan rapat sampai selesai." kata Yudi.
"Siap, Mas .... Monggo, Ibu Rini saya antar ke bandara." sahut orang yang dipanggil Jamal tersebut.
"Terima kasih, Bapak-bapak .... Terima aksih Yudi .... Saya mohon pamit pulang dahulu." kata Rini berpamitan.
"Njih, monggo-monggo .... Silakan." sahut orang-orang yang ada di ruang pendopo.
"Maafkan saya, belum bisa mengantarkan kamu, Rini ...." kata Yudi saat disalami Rini.
"Iya, tidak apa-apa, Yudi .... Toh kamu lagi sakit. Cepat sembuh ya ...." sahut Rini.
"Terima kasih, Rini .... Kamu sangat baik." kata Yudi melepas kepergian Rini.
Lantas Rini berjalan mengikuti Jamal, sambil menyeret tas kopernya, akan berangkat ke bandara. Rini melangkah dalam kebingungan.
__ADS_1