
Mobil Yudi langsung masuk garasi di bangunan belakang rumahnya. Lantas Yudi membuka pintu, di tempat duduk laki-laki tua yang dia sudah anggap sebagai calon mertua. Yaitu ayahnya Yuna. Lantas Bagas mengambil koper pakaian yang ada di bagasi belakang. Koper milik calon mertuanya. Sedangkan Yuna turun sendiri. Lantas ketiga orang itu memasuki rumah Yudi.
"Silakan masuk, chichioya .... Ini rumah saya yang sangat sederhana." kata Yudi mengajak tamunya masuk. Ia sudah menganggap ayah Yuna sebagai ayahnya juga, makanya Yudi memanggil dengan sebutan chichioya.
"Yudi lu, yokoso kochira e, chichioya ...." kata Yuna pada ayahnya, menerjemahkan ajakan Yudi untuk masuk ke rumahnya.
"Oow .... Hijo ni utsukushi ...." gumam ayah Yuna, saat masuk ke rumah Yudi.
Laki-laki tua itu sangat kagum dan terkesan dengan indahnya bangunan rumah Yudi. Pandangannya berkeliling mengamati semua yang ada di situ.
"Ayah Yuna bilang apa?" tanya Yudi pada Yuna.
"Rumahmu bagus sekali .... Ayahku terkesan dengan arsitekturnya." kata Yuna menjelaskan.
"Chichioya ..., soto no tatemono o mite mimashou. Motto utsukushikute omoshiroi mono ga arimasu." kata Yuna yang menggandeng lengan ayahnya, mengajak jalan menuju bangunan luar, yaitu di pendopo.
"Namihazureta ...! Hemmmm, ckckck .... Namihazureta ...." berkali-kali ayah Yuna menganggukkan kepala, terkagum dengan keindahan taman, keindahan bangunan pendopo, keindahan kolam dengan ikan-ikan koi yang berenang mengelilingi pendopo.
Tentu Yuna juga ikut senang, saat ayahnya merasakan kenyamanan, ketenangan, dan kebahagiaan berada di rumah Yudi.
"Yuna ..., otosan wa shiawase o kanjite imasu, koko ni ite ." kata ayahnya yang sangat senang tinggal di rumah Yudi.
"Chichioya ..., kore wa watashinochichi no giri no musuko no iedesu. Yorokonde, tokutei Yudi, otosan o mukaete shiawasedarou." Yuna tersenyum memandangi ayahnya yang gembira.
Tentu, ayah Yuna tidak merasa kecewa jika putrinya ingin menikah dengan orang Indonesia. Terutama saat ayah Yuna menyaksikan enaknya hidup di Jogja yang tidak dikejar-kejar pekerjaan, nikmatnya masakan orang Jogja, ramah tamah dan rasa persaudaraan yang kuat dalam kemasyarakatannya, indahnya alam Jogja, dan yang paling tidak mengkhawatirkan adalah calon menantunya sudah mempunyai rumah yang besar dan artistik. Keindahan rumah Yudi sudah menjadi daya tarik bagi laki-laki tua dari Jepang itu, untuk betah tinggal di Indonesia.
Yudi tersenyum senang, tentu karena bisa membuat laki-laki tua ayah Yuna yang nanti pasti akan menjadi mertuanya senang dan terkagum-kagum menikmati keindahan rumahnya. Yudi membiarkan Yuna dan ayahnya berkeliling lebih dahulu, untuk menikmati taman dan ikan yang ada di rumahnya. Sementara ia sudah memasukkan koper milik calon mertuanya itu di ruang ujung depan. Nanti ayah Yuna akan tidur di sana.
Sementara itu, Bagas sudah berangkat dari Magelang, menjemput orang tua Yudi, bapak dan simboknya. Selain itu, Bagas juga sudah memesan masakan untuk acara makan malam di rumah Yudi. Tentu saat mendengar berita ayah Yuna datang dari Jepang ke rumah Yudi, Bagas mengartikan itu adalah lamaran. Setidak-tidaknya kalau orang Jawa, itu adalah adat ndodog lawang, atau menanyakan kesediaan orang yang akan dilamar.
Mendengar berita semacam itu, orang tua Yudi sangat senang. Sangat gembira akan punya menantu. Maka mereka segera bergegas untuk berangkat ke Jogja. Dan tentu, Simbok akan membawa berbagai makanan khas dari Magelang. Ada getuk lindri, tape ketan dan wajik. Nanti semuanya akan disuguhkan untuk tamu yang datang jauh dari Jepang. Calon besan.
Dasar Bagas .... Saat ditelepon Yudi agar menjemput bapak dan simboknya di Magelang, karena ada tamu dari Jepang yaitu ayahnya Yuna yang akan datang, maka siang itu Bagas langsung bercerita kepada istrinya, kalau Mas Yudi akan lamaran. Begitu juga istri Bagas, biasa, sebagai perempuan dia langsung bercerita kepada tetangganya. Berita itu pun langsung menyebar di kalangan ibu-ibu, lantas menyebar ke seluruh kampung. Ya, berita tentang Mas Yudi yang akan lamaran dengan Mbak Yuna. Spontan, Kampung Nirwana langsung ramai. Tersebar sudah berita lamaran Yudi dengan Yuna.
Sore hari sebelum bapak dan simboknya datang, di rumahnya, Yudi dikagetkan oleh beberapa ibu-ibu yang berdatangan ke rumahnya, sambil membawa aneka jajanan dan makanan.
"Lhoh, ini ada apa, Bu? Kok pada bawa jajanan begitu banyak?" tanya Yudi pada ibu-ibu yang datang ke rumahnya.
"Lha katanya Mas Yudi mau lamaran?!" jawab ibu-ibu yang pada datang ke rumah Yudi.
"Walah, yang bilang siapa?" tanya Yudi.
"Istrinya Bagas ...." jawab ibu-ibu itu lagi.
__ADS_1
"Walah, Bagas ki encen bocah koplak. Ya, ya, ya .... Terima kasih, Bulek, Bude .... Nanti malam habis magrib ke sini lho, ya ...." kata Yudi sambil memesan agar para ibu datang ke rumahnya nanti malam.
"Yo, Mas Yudi ...." sahut ibu-ibu.
Belum juga para ibu pergi semua, dua orang ibu datang lagi ke rumah Yudi.
"Mas Yudi ..., Mbak Yuna mana? Ini mau saya dandani." kata salah seorang ibu yang mau merias Yuna. Ya, dia adalah perias manten di Kampung Nirwana.
"Walah, Bude ..., kok ya pakai didandani koyo mantenan wae, lho .... Tenanan po iki?!" sahut Yudi.
"Eee ..., ora ilok kalau gak dirias. Ayo cepat dipanggil, suruh mandi langsung saya rias." perintah ibu tersebut.
"Iya ..., iya ..., iya ...." jawab Yudi yang langsung mengundang Yuna.
"Nanti kamu pakai jas. Sudah punya, to?" kata ibu perias.
"Ya .... Bapak juga? Simbok juga dirias?" Yudi balik tanya.
"Ya iya, lah .... Mosok kedatangan tamu dari Jepang kok cuma sarungan .... Saru! Kita harus menghormati tamu. Itu artinya kita juga menghormati diri kita sendiri. Gitu, Mas Yudi." sahut ibu perias itu.
Ibu juru rias, yang dibantu oleh asistennya, langsung merias Yuna dengan pakaian adat Jogja. Ya, mengenakan kebaya baju tradisional khas Jogja. Kain jarik parang sogan membalut bagian bawah tubuh Yuna. Sedangkan baju kebaya yang dikenakan hanya baju encim warna merah muda, dengan bordiran pada bagian pinggir dan kerah warna merah tua. Sangat kontras dengan kulit Yuna yang putih mulus. Rambutnya dipasangi sanggul. Di atas sanggulnya terpasang bunga melati yang dironce. Sapuan bedak tipis serta goresan pensil alis, menambah kecerahan wajah Yuna. Dan yang paling menarik adalah bagian bibir yang diberi lipstik warna merah menyala. Kini, Yuna benar-benar menjadi sangat cantik. Tubuh langsing, kulit putih, dandanan ala adat Jogja, sudah merubah sosok wanita Jepang itu menjadi Putri Jogja yang bagaikan bidadari turun dari kayangan.
Demikian juga Simbok, ibunya Yudi yang juga ikut dirias. Wanita tua itu juga berubah menjadi terlihat lebih muda, terlihat sangat cantik.
Ayah Yuna sudah bersiap sejak sore. Ia juga mengenakan setelan jas, yang dibawa dari Jepang. Tentu kualitas kainnya bagus dan istimewa. Laki-laki tua ini sudah tidak sabar ingin melihat putrinya, yang katanya akan mengenakan pakaian adat Jogja. Ya, memang laki-laki ini agak sedikit kecawa karena tidak tahu kalau acaranya akan sedemikian ini. Jika tahu, pasti Yuna sudah disuruh membawa setelan kimono. Yah, besok lain waktu, saat pernikahan putrinya akan dibawakan kimono, pakaian adat khas Jepang, biar lebih keren dengan menampilkan adat negerinya.
Malam itu, di pendopo rumah Yudi penuh sesak orang-orang yang berdatangan. Mereka adalah para tetangga yang ingin menyaksikan lamaran Yudi dengan Yuna. Tua muda, bahkan anak-anak, ikut berdesakan. Masyarakat Kampung Nirwana sangat senang dengan berita lamaran Yudi dengan Yuna. Hal ini karena masyarakat sudah menganggap Yudi adalah orang yang sudah berjasa memajukan kampungnya. Demikian juga dengan Yuna, masyarakat tahunya kalau pembangunan Taman Awang-awang adalah bantuan dari orang Jepang, yaitu Yuna. Maka orang se kampung, semua merasa berhutang budi, baik dengan Yudi maupun Yuna. Tentu hal ini yang membuat masyarakat sangat senang, jika nanti Yudi menikah dengan Yuna. Orang baik dapat orang baik, pasti Kampung Nirwana akan menjadi lebih baik. Begitu kepercayaan orang-orang di Kampung Nirwana. Maka tanpa diminta, tanpa dipesan, tanpa dibayar, masyarakat berbondong-bondong membawa jajan dan makanan untuk acara lamarannya Yudi dengan Yuna. Ya, malam itu di pendopo rumah Yudi suasananya sangat meriah.
Dua laki-laki dan seorang perempuan tua sudah duduk di gelaran tikar yang sudah terpasang memenuhi pendopo. Mereka bertiga duduk di tempat tersendiri. Sedangkan warga yang berdatangan sudah pada duduk lesehan di pendopo. Tentu mereka ingin segera melihat Yuna si gadis Jepang yang mengenakan kebaya.
Dan yang ditunggu-tunggu, masuk ke pendopo bersama dua wanita juru rias.Yuna berjalan di depan, sedangkan Yudi berjalan di belakang Yuna, yang diikuti juru rias.
"Walah, lha kok ramai sekali ini? Warga se kampung pada datang semua?!" Yudi keheranan.
"Halah ..., wong lamaran cuma sekali, disaksikan orang banyak ya harus disyukuri to, Mas Yudi." jawab tukang rias.
"Lha terus, makanan atau jajanan untuk suguhan orang sebanyak ini bagaimana?" tanya Yudi lagi.
"Tidak usah khawatir .... Sumbangan dari warga untuk Mas Yudi banyak sekali .... Tenang, Mas Yudi." sahut ibu itu.
"Terima kasih ya, Bu .... Wah, kok malah ngrepotkan warga kampung." kata Yudi.
Yuna yang berjalan bersama Yudi, langsung menjadi sorotan mata para tetangga yang berdatangan, Terutama para remaja, yang tentu langsung mengambil HP untuk memotret Yuna. Memotret orang yang sangat cantik. Gadis Jepang yang mengenakan kebaya. Tetapi memang Yuna benar-benar terlihat cantik. Pantas kalau setiap orang mengamati tanpa berkedip. Yuna tidak lagi terlihat sebagai gadis Jepang, tetapi sudah menjelma menjadi Putri Jogja.
__ADS_1
Ayah Yuna tentu pangling. Baru kali ini ia melihat wanita dengan pakaian adat Jawa. Dia tidak yakin kalau yang dilihat itu adalah anaknya. Sangat berbeda dengan Yuna yang setiap hari ia lihat.
Acara pun dimulai. Ada seorang pranotocoro, pembawa acara adat jawa, yang memberikan kata-kata pembuka dengan bahasa Jogja. Ini benar-benar acara yang luar biasa. Tentu bagi warga Kampung Nirwana, itu sudah biasa. Tetapi bagi Yuna dan ayahnya, benar-benar tidak tahu artinya sama sekali. Walau demikian, Yuna maupun ayahnya tetap tersenyum terus, Tentunya senyum senang, karena merasa terhormat sudah disambut dengan adat tradisi yang sangat meriah.
Yuna dan ayahnya, mengikut saja dengan apa yang diacarakan. Dia hanya mengikuti perintah Yudi, dan juga Simbok yang sering menjelaskan kepada Yuna. Saat pranotocoro mengatakan "katuran jumeneng", maka Yudi atau simbok meminta kepada Yuna dan ayahnya untuk berdiri. Namun saat diminta untuk memberi sambutan, Yuna maupun ayahnya menyampaikan tidak usah, tidak sanggup, pokoknya mengikut saja. Yang penting kata ayah Yuna dalam bahasa Jepang, yang diterjemahkan oleh Yuna dengan bahasa Indonesia, mengatakan bahwa dirinya senang karena putrinya, yaitu Yuna bisa diterima oleh Yudi untuk dijadikan istri, dan diterima oleh masyarakat untuk hidup bersama dalam bertetangga.
Mendengar arti kata itu dari ayah Yuna, semua yang hadir langsung bertepuk tangan meriah. Senang dan haru. Ada orang jepang yang akan menikah dengan warga kampungnya.
Lantas sang pranotocoro melanjutkan acaranya, yaitu liru kalpiko, atau dalam bahasa Indonesia adalah tukar cincin.
"Hah ..., ada tukar cincin?!" Yudi kaget. Wajahnya langsung memerah karena malu. Tentu karena belum berfikir untuk tukar cincin. Makanya ia kaget, karena memang belum membeli cincin.
"Ada apa, Yudi?" Yuna tnaggap kalau Yudi kaget, pasti ada sesuatu yang kurang.
"Kita diminta saling mengenakan cincin .... Saya belum pesan." bisik Yudi kepada Yuna.
"Kita pakai cincin yang dulu itu saja, yang kita temukan di puncak bukit." Yuna membisikkan solusi.
"Dimana?" tanya Yudi.
"Di kamarku. Di tas kecil." sahut Yuna.
"Bagaimana, Mas Yudi? Ada apa?" tanya pranotocoro pada Yudi.
"Anu ..., cincinnya masih tertinggal di kamar. Maaf, saya ambil sebentar." jawab Yudi.
"Oh, injih .... Nyumanggaaken ...." sahut pranotocoro.
Yudi langsung berlari ke kamar Yuna. Mencari tas kecil, yang khusus dipakai Yuna kalau acara resmi. Tas itu ada di lemari. Yudi mencari, dan ketemu. Yuna sudah mengemas sepasang cincin yang ia yakini sebagai pemberian dari Kanjeng Ratu itu ke dalam sebuah tempat cincin unik yang terbuat dari kayu ukir. Tidak berpikir lagi dan tidak ingin malu, Yudi langsung cepat-cepat kembali ke pendopo, menyerahkan sepasang cincin itu kepada juru rias.
Acara dilanjutkan oleh pranotocoro. Yaitu tukar cincin.
"Poro rawuh sedoyo, kawulo aturi jumeneng sekedap, paring hormat dumateng Mas Yudi kalian Mbak Yuna, anggenipun bade liru kalpiko. Nyumanggakaken." begitu kata sang pembawa acara.
Dengan disaksikan ayah Yuna, simbok dan bapaknya Yudi, serta seluruh warga kampung yang hadir di situ, dan diatur oleh juru tata rias, Yuna dan Yudi melaksanakan tukar cincin. Cincin pengikat cinta mereka berdua. Yudi mengambil cincin yang kecil, lantas mengenakan cincin tersebut di jari manis tangan kiri Yuna. Demikian juga Yuna, yang memasangkan cincin satunya ke jari manis tangan kiri Yudi.
Semua bertepuk tangan. Senang menyaksikan Yudi dan Yuna bertukar cincin. Terutama ayah Yuna, yang langsung mencium anaknya. Demikian juga Simbok, yang memeluk Yudi sambil menangis, tentu tangis bahagia. Lantas Yudi mencium tangan bapaknya, dan sungkem di kaki bapak dan simboknya. Yuna juga ikut-ikutan. Tidak hanya sungkem kepada bapak dan simboknya, Yudi juga sungkem di kaki ayahnya Yuna. Selanjutnya, para tamu yang hadir di situ, satu persatu memberikan ucapan selamat kepada Yudi dan Yuna. Satu persatu bersalaman dengan Yudi dan Yuna, bapak ibu Yudi, serta ayahnya Yuna.
"Adicoro ingkang pungkasan inggih puniko gembul bujono. Makan bersama .... Monggo silakan semuanya." Pembawa acara mengakhiri rangkaian cara lamarannya Yudi.
Pendopo rumah Yudi ramai dan penuh sesak, tentu sesak dengan orang-orang yang bahagia, orang-orang yang gembira menyaksikan Yudi dan Yuna bahagia.
Makan bersama pun menjadi sangat meriah. Nikmat bersama kerabat, lezat didampingi sahabat.
__ADS_1